ACE

ACE
Without you



Cara tiba-tiba bergabung bersama kami.


"Dia benci perhatian." Gumam Cara sambil meminum vodka nya, menunjuk ke arahku.


"Cara bersantailah dalam meminum." Tegur Riley saat Cara mengambil minumannya.


"Singkirkan mereka." Santi menjentikkan jarinya, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa teman-temanku ke salah satu meja lainnya.


"Sofia, Ace akan menjadi gila." Teriak Riley. Aku langsung merasa jantungku berhenti saat dia menyebut nama Ace; Orang paling terkenal di Mafia.


"Siapa Ace dan kau bilang namamu Lexi?" Wajah Santiago menjadi marah, alisnya berkerut dan rahangnya terkatup.


"Oh Ace adalah saudaraku, dan untuk namaku, aku menggunakan nama tengah ku ketika aku sedang berpesta." Kataku berbohong, hanya itu alasan yang muncul di kepalaku.


"Ace...." dia menunggu jawaban.


"Hernandez." Teriak Scarlett sambil mengedipkan mata ke arahku. Bagaimana dia tahu nama belakang Ace? Mungkin aku sudah memberitahunya saat mereka menginap, entahlah akupun lupa.


Santiago sepertinya menyadari siapa yang dibicarakan Scarlett, terlihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat marah saat dia menatapku.


"Ace Hernandez!" Dia berteriak padaku tetapi karena musiknya sangat keras, hanya aku dan dia yang benar-benar bisa mendengar satu sama lain.


"Dia bercanda, dia hanya mengatakan itu karena dia tahu kamu berada di Mafia." Aku mencoba untuk tidak memperdulikannya. Tiba-tiba dia meraih pergelangan tanganku.


"Lepaskan aku!" Aku mendesis padanya, mencoba memaksanya melepaskan cengkeramannya.


"Ace tidak punya saudara perempuan." Bentak Santiago padaku. Oh ****.


"Kalau begitu aku bukan siapa-siapa nya." Jawab ku.


"Ayo habiskan malam bersamaku baru aku akan melepaskanmu." Usul Santiago lagi, kemarahannya mereda saat dia mengira aku akan tidur dengannya.


"Tidak." Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku akan memberi bayaran satu juta untuk kau kalau begitu."


Emosi Santiago berubah dalam hitungan detik. Dia meraih lenganku dan menarikku paska melewati pintu belakang klub ini. Dia mengunci pergelangan tanganku di belakang punggung dan mengikatnya dengan dasi.


"Lepaskan aku Bajingan!" Ucapku marah, meronta mencoba melepaskan ikatan di tanganku, tapi ikatannya terlalu kuat.


Santiago menyeret ku ke jalan kosong yang gelap dan lembab, tiba-tiba sebuah mobil berhenti.


Santiago mengeluarkan pistol yang ada di jaketnya, mengarahkannya ke orang yang baru saja keluar dari mobil itu.


"Ace." Aku terkejut.


Itu Ace dan Santiago mengincar kepalanya, aku segera berdiri di depan pistol yang di arahkan ke Ace, walaupun tahu itu akan membunuhku.


"Jangan berani kau menembak nya." Desisku pada Santiago.


"Kau ingin wanita ini bebas? Kau harus membayar sebesar 1juta Ace." Teriak Santiago padanya. Aku melihat Ace mengarahkan pistolnya kearah Santiago.


"Kamu benar-benar terlilit hutang sebanyak itu, bagaimana kamu bisa menghisap semua obat itu?" Goda Ace masih mengacungkan senjatanya, berpura-pura tidak takut.


"Ini, ambilah," Ace menunjukkan tumpukan besar uang di tangannya yang bebas. Santiago tampak terkejut bahwa Ace menyerahkannya dengan mudah.


"Serahkan dia dan kamu akan mendapatkan uangnya, aku tidak akan membuat penawaran dua kali." Ace mengangkat bahu tanpa peduli. Aku bisa melihat Santiago tengah berpikir.


"Deal." Santiago mendorongku dengan keras, membuatku jatuh karena aku memakai heal. Aku mengerang kesakitan dan melihat lutut ku sedikit terluka, aku melirik Ace yang tampak marah dengan tindakan Santiago.


Santiago pergi untuk mengambil uang itu tetapi Ace menembaknya, tepat di kepalanya. Aku terkejut, menatap tubuh Santiago yang jatuh tak bernyawa ke tanah dalam waktu kurang dari satu detik.


"Fucking Scar Bloods, such a stupid Mafia name." Cemooh Ace dengan nada yang sangat dingin sebelum mengambil uangnya dan berjalan ke arahku. Ace melepaskan dasi yang mengikat tanganku dengan mudah dan membantuku berdiri.


"Kau baik-baik saja." Gumamnya, menatap pipi dan kepalaku sebelum meraih wajahku dengan lembut.


"Ya, I'm oke." Desahku, menikmati sentuhannya.


Ace tersenyum kecil setelah mendengar jawabanku.


"Come on love birds." Aku melihat Dante berteriak dari dalam mobil.


"Kenapa kau berdiri di depan pistol itu?" Tanya Ace menghentikanku.


"Aku tidak tahu..." gumamku, baru sekarang menyadari apa yang kulakukan.


"Kurasa aku rela mati untukmu." Jawabku jujur, membuatnya lengah dan kemudian berjalan melewatinya menuju mobil.


Ace's POV


"Kurasa aku rela mati untukmu."


Ucapan Sofia membuat Aku membeku, tidak pernah ada yang berkata seperti itu sebelumnya. Sofia membuatku merasakan sesuatu dengan kata-kata itu, aku tidak tahu apa itu tapi itu terasa berbeda.


Aku berdiri diam saat teriakan Dante membuyarkanku dari lamunanku. Sofia membuatku merasa diinginkan bukan dibutuhkan, berbeda ketika Anda dibutuhkan, mereka menggunakan Anda untuk keuntungan mereka tetapi ketika mereka menginginkan Anda, mereka bersedia menghabiskan waktu mereka dengan Anda dan tidak ingin Anda terluka. Dan sekarang aku juga takut kehilangan dia.


Kami akhirnya sampai di mansionku. Kami masuk dan Sofia langsung menuju kamarnya, sedangkan aku menuju ke ruang kerja ku.


Tok..tok..tok..


Aku menutup dokumen yang baru saja ku tandatangani saat mendengat ketukan di pintu.


"Masuk."


Aku mendesis saat melihat Dante membuka pintu dan menutupnya kembali dengan tenang.


"Ada apa?" Dengusku sambil melanjutkan menandatangani dokumen yang tersisa.


"Ada apa denganmu?" Tanya nya dengan nada kesal.


"Kenapa kau balik bertanya! Menurutmu dengan siapa kau berbicara seperti itu!" Aku berdiri dengan nada menuntut.


"Yang jelas bukan dengan orang yang sama beberapa bulan yang lalu." Dante menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi kecewa padaku. Aku terdiam, tidak mengerti apa yang dia maksud.


"Dia benar-benar mengubahmu dan aku tidak menyukai itu." Jelas nya, mengangkat tangannya ke udara.


"Mengapa semua orang memiliki semacam masalah dengan Sofia?" Aku berteriak padanya dengan frustrasi. "She is kind, kepada kau, kepada aku, kepada semua orang. Dia peduli tentang segalanya. Jadi katakan padaku masalah mu dimana, kau tidak suka aku yang seperti ini." Aku berteriak tepat di depan nya.


"Kau membuat keputusan yang mengerikan karena dia." Dante balas berteriak padaku. Dante adalah tangan kananku. Jika tidak, mungkin dia sudah terkapar tidak bernyawa beberapa saat yang lalu. Walaupun aku tidak dapat menyangkal, kalau aku merasakan perbedaan dalam diriku ketika Sofia datang di hidupku.


"Kau akan membuat peperangan dengan scar bloods hanya karna seorang gadis, kau adalah Ace Hernandez sialan, pemimpin Reapers, mulailah bertingkah seperti dulu." Dante mendorongku.


Aku dengan tajam mengalihkan pandanganku padanya. Aku meraih lengannya dengan kasar. "Kau ingin melihat Ace yang dulu?" Desisku padanya. Aku meraih lengannya mematahkan sikunya dengan lututku.


"Akkkhhhh." Dante berteriakan saat dia jatuh ke lantai.


"Bukankah kau ingin melihat Ace yang dulu, Dante?!" Teriakku sambil mencengkram kerah kemejanya sebelum menendangnya dengan keras.


Dante mengerang, terbatuk-batuk tak terkendali karna tendanganku. "Kai ingin yang lebih kejam, kau akan merasakannya." Geramku dengan dingin.


Aku menendangnya lagi dan lagi. "Tolong, maafkan aku." Dante memohon padaku. Aku mengatupkan rahangku dengan telapak tangan terkepal erat.


"Persetan!!" Aku meludah padanya.


"Menyingkir dari pandanganku." Perintahku padanya, aku berjalan kembali ke kursiku.


"Dia hanya akan membuatmu lebih buruk." Gumam Dante sambil terpincang-pincang keluar dari ruanganku.


Aku masih marah, berdiri dan berjalan ke dinding, memukulkan tinjuku lurus ke sana, mencoba meredakan amarahku. Mungkin lebih baik jika aku menjaga jarak dari Sofia.


Sofia's POV


Aku sedang menggambar mawar, membiarkan waktu berlalu begitu saja. Aku merasa Ace memperlakukanku dengan dingin sejak kejadian itu.


Tok..tok..tok..


Lamunan ku buyar karna mendengar suara pintu kamarku di ketuk.


"Masuk." Jawabku berteriak.


"Ace bilang kau bisa memiliki ini." Terry masuk, membawa sesuatu di tangan nya. Itu telepon ku.


"Oh my god." Teriakku bahagia, mengambil ponsel dari tangan Terry dan melompat ke tempat tidurku. Aku mengecek nya dan melihat Ace sudah memasukkan kontaknya.


Aku mencoba berbicara dengannya selama beberapa hari terakhir ini dan dia hanya mengangkat bahu seadanya dan berjalan pergi tanpa menjawabku. Aku tidak tahu ada apa dengannya.


Setelah Terry pergi, aku mulai menonton YouTube dan berpikir tentang apa yang aku inginkan, aku tidak bisa duduk-duduk sepanjang hari disini. Aku selalu ingin menjadi dokter atau perawat saat masih kecil. Aku sangat ingin bisa menyelamatkan nyawa anak-anak, tetapi aku tahu bahwa jika aku ingin kuliah, aku harus menyelesaikan sekolah. Aku seorang siswi teladan jadi mendapatkan nilai tidak akan menjadi masalah, tetapi aku mungkin harus pindah sekolah, lagipula sekolah tinggal 5 bulan lagi. Aku akan bertanya kepada Ace dan kita lihat, respon apa yang ia berikan.