
Sofia' POV
Cara, Scarlett dan Riley berhasil menyeretku ke klub malam. Sejujurnya aku tidak ingin pergi, aku hanya ingin menunggu Ace pulang dan kemudian pergi tidur, tetapi sebaliknya aku harus minum, menari dan mungkin berakhir terlihat bodoh.
Kami menunjukkan ID palsu kami dan masuk. "Guys, aku pikir gaun ini terlalu pendek, jik Ace tahu, ia akan membunuhku." Gumamku cemas pada mereka.
"Jangan biarkan Ace mengatur apa yang kamu kenakan Sofia! Kamu memiliki tubuh yang luar biasa, pamerkan itu." Ucap Cara yang membuatku bersemangat.
"Ya Tuhan, lihat dia." Pekik Riley pada kami. Kepala kami otomatis menoleh ke arah meja yang di tunjuk Riley, terdapat sekitat empat laki-laki duduk di sana, sedang merokok dan mungkin sudah mabuk.
Ada tanda dilarang merokok di dinding depan mereka. Bajingan bodoh.
"Ayo cari perhatian mereka!" Scarlett terkikik nakal, menarik kami ke lantai dansa.
"Tidak guys, aku sudah bertunangan dan akan menikah, aku tidak ingin menarik perhatian pria lain." Aku mengingatkan mereka.
"Kalau begitu menarilah untuk dirimu sendiri, bersenang-senanglah." Cara terkikik, mengambil vodka dari pelayan yang berjalan di samping kami. Ini akan menjadi bencana, aku sudah bisa merasakannya.
Cara memberiku satu dan aku berpikir untuk mengambilnya.
"Minumlah." Tuntut Riley dan anehnya aku melakukannya. Setidaknya itu akan membuat malam berlalu lebih cepat.
Kami semua menari dengan lagu yang sangat seksual, dan aku merasa orang-orang menatap kearah kami seperti kami santapan lezat untuk mereka. Aku tahu aku tidak seharusnya datang.
Aku melihat orang-orang itu menuju ke arah kami, aku sudah ingin pergi dari lantai dansa ini, tetapi terhenti ketika aku merasakan sebuah tangan meraih pergelangan tanganku, menghentikan aku untuk bergerak.
"Hei." Suara yang pelan dan dalam berbisik di telingaku, aku berbalik dan melihat seorang pria yang tampak berusia awal 20-an dengan potongan rambut yang rapih dan wajah yang dicukur bersih. Dia memiliki rambut pirang dan kulit yang sedikit pucat, aku memperhatikan tato yang membentang dari pergelangan tangannya ke lehernya, dan kurasa sampai ke pergelangan tangannya yang lain.
Itu mengingatkan aku pada Ace dan bagaimana lengan bajunya tergulung sampai siku, benar-benar mengingatkan ku pada seorang Ace.
"Apakah kau menyukai tatoku?" Pria itu menarik lebih tinggi lengan bajunya, menunjukkan lebih banyak tato.
"Ya, itu terlihat keren." Komentarku seadanya, tidak mencoba untuk terlihat genit.
"Do you wanna dance?" Tanyanya, dengan logat Spanyolnya yang kental. Sebelum aku bisa menjawab, dia sepertinya memperhatikan gelang di pergelangan tanganku.
"Kamu sudah memiliki seorang kekasih?" Dia bertanya padaku, mengangkat pergelangan tanganku dan menatap gelang itu.
"Ya." Jawabku singkat, yang sebenarnya aku tidak tahu apakah aku dan Ace adalah sepasang kekasih. Yang aku tahu adalah jika aku mengatakan tidak maka Ace akan marah dan aku tidak menginginkan itu. Ace sangat menyeramkan.
"Come on baby, spend the night with me. I'm sure I can change your mind about him." Bisiknya dengan sensual di telingaku sambil meletakkan tangannya di pinggangku.
"No Thanks, I'm okay." Aku mencoba melepaskan tangannya, berusaha menyembunyikan rasa jijik yang terpampang di wajahku. Sungguh, aku merasa ketakutan tetapi berusaha mati-matian untuk tidak menunjukkannya.
"Dengan kau menolak ku, hanya akan membuatmu semakin menarik." Dia menggodaku, perlahan mendekat.
Aku perlahan mundur dengan ekspresi ketakutan.
Aku bisa melihat raut wajahnya mulai frustrasi. "Aku seorang jutawan, akupemilik klub ini dan masih banyak lagi." Pria itu mencoba membujukku dengan harta kekayaan nya.
"Aku juga seorang pemimpin Mafia." Ucapnya sambil mengedipkan mata padaku. Aku membeku. Orang ini pasti bercanda, kenapa harus aku?
"What's the name then. Saya yakin, saya akan mendengarmu di berita jika itu benar?" Aku berpura-pura tidak percaya padanya.
"We're called the Scar Bloods." Pria itu menyeringai bangga.
"Wow, kedengarannya menakutkan." Godaku dengan nada sinis.
"Mafia terbesar ke-4 di dunia." Katanya, dan aku bisa mencium bau alkohol dari napasnya yang membuat tulang punggungku merinding. Ace juga memiliki Mafia terbesar dan kontrol yang lebih besar.
Aku pernah mendengar tentang Scar Bloods, mereka tidak sekejam yang dibayangkan, tetapi mereka memiliki beberapa metode penyiksaan yang aneh. Aku langsung tahu bahwa Scar Bloods membenci Mafia Ace. Hanya karena Ace memiliki Mafia terbesar yang pernah ada.
"Siapa namamu?" Aku menanyainya, menatapnya dengan curiga.
"Kau masih tidak percaya padaku?" Dia terkekeh.
"Tidak, saya tidak tahu jika kelompok seperti itu masih ada." Aku mengangkat bahu. Aku bisa merasakan bahaya darinya. Dia bukan pria yang bisa diganggu.
"Namaku Santiago tapi singkatnya Santi." Pria itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Lexi." Aku tersenyum sopan, memberinya nama palsu. Bajingan ini tidak perlu untuk mengetahui nama asliku.
"Jadi siapa pria itu?" Dia bertanya.
"Ah, kau tidak akan mengenalnya." Aku mengangkat bahu seadanya, membuatnya lebih tertarik.
"Katakan padaku." Santi hampir menuntut.
"Namanya..... Alejandro." Jawabku ragu-ragu.
"Kenapa kamu terlihat ragu-ragu?" Dia bertanya dengan curiga.
"Apakah kau tidak ragu jika seorang pemimpin Mafia yang ingin berhubungan **** denganmu ingin tahu nama pacarmu?" Aku berbicara dengan nada nakal tapi bercanda, berusaha menyembunyikan rasa takutku.
Sekarang aku menyadari bahwa tidak ada jalan keluar untukku saat ini. Dia tidak akan membiarkanku pergi kecuali keinginan nya tercapai, dan Ace? Tuhan, bagaimana jika aku tidak bisa melihat Ace lagi? Bagaimana jika aku tidak pernah bisa melihat absnya yang menawan itu lagi? Mata aku tidak akan pernah diberkati dengan keindahan seperti itu lagi.
Jika dia mengetahui bahwa Ace adalah pacarku, dia akan menggunakanku sebagai pancingan untuk Ace. Bukan berarti Ace akan menyerahkan Mafianya untukku. Santiago menatap wajahku yang dengan jelas menunjukkan bahwa aku sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa sayang, apakah fakta bahwa aku dari Mafia membuatmu takut?" Tanya Santiago, menarik pinggangku mendekat dan berbisik di telingaku.
"Tidak." Aku mencoba menghindari tubuhnya menjauh dariku, tetapi aku ditarik kembali oleh 'sentuhannya' yang tiba-tiba.
"Dia juga mempunyai salah satunya." Riley yang mabuk menghampiri kami dengan nada terkesan. Awas saja kalau Riley memberitahunya bahwa aku memiliki seorang pria yang juga seorang pemimpin Mafia.
"Tidak - tidak aku tidak." Elak ku sedikit panik, merespon dengan cepat.
"Sayang, jika priamu mencoba menyakitimu, aku akan menyakitinya untukmu." Cerca Santiago sambil mengecup punggung tanganku, membuatku hampir tersedak tapi aku menahan diri. Aku melihat tanda Mafia-nya, terbakar di sisi lehernya. Membakar simbol ke kulitmu agak ekstrim untuk seleraku.