ACE

ACE
Nothing



Ace's POV


Sofia tertidur cukup cepat setelah percakapan kami, aku tidak menyalahkannya. Sofia mendengkur halus membuatku tertawa pelan. Hal-hal kecil tentang dia yang aku suka, seperti warna rambutnya atau cara matanya bersinar ketika dia bahagia, dia cantik untuk dilihat dan aku bisa melakukannya sepanjang hari.


Sofia mulai bergerak, jelas mengalami mimpi buruk. "Sofia " bisikku, mencoba membangunkannya.


"Hentikan." Sofia menyuruhku diam sebelum meraih lenganku dan memaksku untuk memeluknya.


Sebagian dari diriku berpikir, aku tidak akan pernah menemukan diriku di ranjang perempuan dengan begitu bahagia walau hanya memeluknya. Aku menyadari dia perlahan-lahan merayap masuk ke dalam hatiku, tetapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku hanya berharap, tidak merusaknya seperti caraku menghancurkan yang lainnya.


"Aku mungkin orang yang paling kamu suka tapi kamu satu-satunya orang yang aku suka." Gumamku pelan di telinganya, menanamkan ciuman di dahinya sebelum aku tertidur.


***


Aku terbangun sebelum Sofia dan mengambil jurnal aku dari kamarku sebelum naik kembali ke tempat tidur di sampingnya.


Aku membuka jurnal ku, dan mulai menulis di lembar yang kosong.


"Dia terlihat sangat damai. Aku mengatakan kepadanya bahwa dia adalah satu-satunya orang yang aku sukai tadi malam. Sayang sekali dia tertidur, walaupun Sofia tertidur tetapi aku tetap mengatakan kepadanya. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku adalah orang yang paling dia sukai. Aku tidak bisa membayangkannya, menjadi orang favorit siapa pun tapi ternyata aku miliknya dan dia milikku."


"Apa yang kamu tulis?" Tanyanya pelan, meringkuk ke arahku.


"Tidak ada....." Helaan nafas keluar dari bibirku.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya mengerjap pelan.


"Jam 8 pagi." Aku menatap jam.


"Oh." Gumamnya tanpa emosi.


Napasnya tercekat seperti ingin memberitahuku sesuatu tapi dia tidak mengatakan apapun.


"Terima kasih karena tidak menjadi Ace yang brengsek." Akhirnya dia bergumam.


"Aku memang brengsek." Gumamku bingung.


"Tidak padaku, tapi kenapa aku?" Sofia hampir berbisik.


"Kenapa apa?" Jawabku bingung lagi, dia tidak masuk akal ditambah aku tidak tahu apa yang akan dia tanyakan.


"Mengapa kamu ingin menikahiku dari semua orang?" Dia menjawab dengan ekspresi sedih di wajahnya.


Aku memikirkan hal ini. Kenapa dia? Jika dilihat-lihat penampilannya biasa saja, tapi entah mengapa dia memiliki pesona yang menakjubkan.


"Aku melihat cara ayahmu memperlakukanmu." Akhirnya aku angkat bicara, Sofia langsung menatapku dengan mata cokelatnya yang besar.


"Bagaimana?" Dia berbicara dengan nada lembut sambil memainkan tanganku.


Sofia tidak menjawab tetapi aku melihat senyum kecil terpampang di wajahnya setelah kalimat terakhir saya.


"Dia membunuhku secara perlahan dan merusak mentalku." Ucapnya dengan mata terpejam sambil berbaring di dadaku.


"Apakah hanya kamu?" Tanyaku ragu-ragu untuk membuatnya kesal.


"Ya, sebagian besar." Sofia menutup matanya, berusaha untuk tidak mengingat kenangan menyakitkan itu.


"Ayahmu tidak akan pernah bisa menyentuhmu bahkan pria mana pun, selama kamu bersamaku." Kataku protektif. Sofia duduk, memutuskan kontak fisik kami. Aku langsung merasa perlu untuk menjaga dia di sisiku, aku menginginkan sentuhannya. Aku sangat takut untuk menciumnya karena tahu ketika aku melakukannya, wanita lain tidak akan pernah bisa menggantikannya.


"Jadi dengan kata lain, hanya kamu yang aku butuhkan?" Dia bergumam sinis sambil tersenyum.


"Tepat sekali." Aku menariknya kembali ke tempat tidur, mengukungnya dibawah ku dan Sofia tertawa lepas, membuat aku tersenyum.


Aku mengusapkan jariku di sepanjang perutnya, aku memejamkan mata, merasakan sentuhan kami. Aku meletakkan tanganku di pinggulnya dan dia menatapku dengan mata polosnya, bersinar dengan keinginan.


"Tidak." Aku memelototinya.


"Kenapa tidak?" Dia cemberut.


"Aku tidak pantas mendapatkan ini semua." Aku mengakui, jariku menyusuri bibir bawahnya.


"Belum saatnya." Aku mengelus pipinya. Sofia tampak sedikit kecewa saat dia bersandar ke dadaku, senang mengetahui dia menginginkanku.


"Oke." Sofia mengangguk.


"Untuk saat ini, kita hanya bisa melakukan ini." Aku mencium lehernya kasar sambil memegang pinggangnya. Erangan lolos dari bibirnya, dia sedikit tersipu saat tanganku bergerak ke atas t-shirtnya. Saat itulah aku menyadari dia tidak memakai bra.


"Kita tidak boleh melanjutkannya." Aku menatapnya dengan mata penuh nafsu.


"Tapi kita harus." Sofia menyeringai sambil menungguku melanjutkan.


"Aku merasa kamu lebih menginginkan nya daripada aku." Aku menanyainya dengan tatapan tajam sambil menggelengkan kepalaku.


Seringai jahat muncul di wajahnya. "Apa yang membuatmu bergairah?" Tanyaku penasaran, masih dengan posisi ku di atas tubuhnya.


Sofia hanya terdiam, tersipu sambil tersenyum. "Katakan padaku!" Aku menggeram mendekat ke arahnya, hampir menuntut.


"Dominasi. Seperti yang sedang kamu lakukan sekarang." Ucapnya dengan pelan. Aku tersenyum dengan memuaskan.


"Apa lagi?" Aku mengernyitkan alisku penasaran.


"Menggigit bibir, mencium leher, kamu menggerakkan tanganmu di sepanjang bagian dalam pahaku, menggigit telingaku." Katanya.


Sial, sofia bisa terangsang dengan cukup mudah. Biasanya butuh waktu lama, tetapi dengan Sofia hanya memikirkan keberadaannya- aku bahkan tidak bisa memikirkannya tanpa terangsang. Kami mengobrol sebentar sebelum aku harus berurusan dengan pekerjaanku.