
"Aku ada disini kakek ku tersayang!"
Belum sempat kepala pelayan itu menjawab pertanyaan dari tuannya dan semua orang masih dengan perasaan heran, tiba-tiba saja suara wanita menyahut pertanyaan kakek Gao dari balik pintu ruangan istimewa itu.
Gadis itu pun langsung masuk keruangan istimewa dengan sikap anggun, semua orang yang ada diruangan itu sangat terkejut terkecuali kakek Gao.
"Lu Shansan?"
"Lulu?"
Gumam semua orang yang ada diruangan itu merasa sangat heran sekali, mereka semua bertanya-tanya dalam pikiran mereka sendiri untuk apa gadis itu ada disini.
"Hei... Cucu menantu ku. Untuk apa kau berdiri di sana? Ayo, ayo kemari duduk disebelah kakek!" Ucap kakek Gao tersenyum sambil mempersilahkan gadis itu yang tidak lain adalah Lu Shansan untuk duduk di kursi yang ada disampingnya dan bersebelahan juga dengan Gao Huang.
Lu Shansan pun langsung menuju kursi di samping kakek Gao, Meng Yiran dan ibunya langsung terlihat sangat kesal ketika melihat sikap lembut kakek Gao kepada Lu Shansan.
"Kakek, siapa dua wanita yang duduk disebelah ibu Gao?" Tanya Lu Shansan merasa penasaran.
"Oh... Mereka adalah Meng Yiran dan ibunya" jawab kakek Gao sambil tersenyum.
"Meng Yiran?" Gumam Lu Shansan merasa heran.
"Oh... Iya aku ingat sekarang. Kau adalah senior Meng Yiran dari jurusan kecantikan di kampus sebelah ku bukan?" Ucap Lu Shansan dengan wajah polos.
Semua orang yang ada diruangan itu pun merasa heran dengan ucapan dari Lu Shansan, terkecuali Gao Huang dan ibunya yang mengerti perkataan Lu Shansan.
"Ibu ada apa dengan gadis tidak tahu diri itu?" Ujar Meng Yiran sambil berbisik kepada ibunya dengan perasaan heran.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu!" Ucap Meng Fuzi.
"Apa yang kau katakan nak?" Tanya kakek Gao merasa heran.
"Hemm... Kakek, kue bunga ini enak sekali!" Ucap Gao Huang mengalihkan pembicaraan sambil mencicipi camilan.
"Hahaha.... Iya tentu saja, ini adalah kue kesukaan ku yang dibuat Shansan. Sudah pasti makanan yang dibuat oleh cucu menantu ku sangat enak!" Puji kakek Gao kepada Lu Shansan.
"Terima kasih kakek atas pujiannya" ujar Lu Shansan sambil tersenyum manis.
"Oh ya kakek, dimana cucu kakek yang satu lagi?" Tanya Lu Shansan merasa penasaran.
"Cucu ku yang satu lagi?" Gumam kakek Gao merasa heran.
"Kakek, apa aku punya saudara?" Tanya Gao Huang merasa heran.
"Iya ayah, sejak kapan kau mempunyai satu cucu lagi? Bukankah kau hanya punya aku dan Gao Huang saja?" Sambung nyonya Gao merasa heran sekali.
"Cucu menantu, apa maksud mu ini? Bukankah kau tahu aku hanya punya satu cucu saja dan dia adalah anak nakal ini!" Ujar kakek Gao sambil menunjuk Gao Huang.
"Benarkah?"
"Iya benar, cucu menantu!" Ucap kakek Gao lagi sambil tersenyum.
"Kalau begitu, siapa laki-laki yang menghampiri ku di dapur?" Kata Lu Shansan merasa bingung.
Kakek Gao terdiam sejenak memikirkan siapa yang dimaksud oleh Lu Shansan, dan tiba-tiba dia teringat kepada Long Hau.
"Oh... mungkin saja itu asisten ku" ujar kakek Gao.
"Tunggu sebentar ya cucu menantu, biar aku panggil dia" sambung kakek Gao lagi.
"Pelayan Red!" Panggil kakek Gao kepada kepala pelayan Red.
"Iya tuan besar. Apa ada yang anda perlukan?" Tanya kepala pelayan Red.
"Tolong panggil Long Hau kemari" perintah kakek Gao.
"Baik tuan besar" ucap pelayan Red dan dia langsung pergi untuk memanggil Long Hau.
"Ayo... kita makan camilan dulu" ucap kakek Gao kepada semua orang.
Lima belas menit kemudian orang yang dimaksud oleh kakek Gao pun masuk keruangan itu.
"Ada apa kakek? Apa kakek butuh bantuan?" Tanya Long Hau saat masuk keruangan itu.
Saat Long Hau masuk ke ruangan istimewa itu Meng Yiran merasa terkejut akan kehadiran Long Hau.
"Long Hau? Kenapa kau ada disini?" Tanya Meng Yiran dengan nada terkejut.
Semua orang yang ada diruangan itu kini langsung menatap Meng Yiran dengan perasaan heran.
"Kau..."
Meng Yiran mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Long Hau ketika ibunya menahan lengannya.
"Tidak, aku tidak mengenal mu sama sekali. Hanya saja aku mengenal nama mu, dan kau mirip sekali dengan teman ku!" Meng Yiran mengarang cerita.
"Teman? Senior Meng, bukankah kau terlihat jelas mengenal dirinya. Buktinya saja tadi kau terlihat sangat terkejut ketika dia masuk keruangan ini!" Ucap Lu Shansan dengan nada heran.
"Terkejut? Hahahaha... Shansan, kau ini bercanda ya. Aku saja tidak kenal dengan orang itu, jika aku tidak mengenalnya untuk apa aku terkejut dengan kehadirannya?!" Meng Yiran mengelak perkataan Lu Shansan
"Oh... Iya juga ya" ucap Lu Shansan singkat dan dia pun mengambil camilan untuk dia makan.
"Oh ya kakek, untuk apa kakek memanggil ku kemari? Apa kakek butuh bantuan ku?" Tanya Long Hau lagi kepada kakek Gao.
"Tidak ada apapun yang bisa membantu ku. Sekarang cepat kau duduk disebelah cucu ku itu!" Ucap kakek Gao sambil memerintahkan Long Hau untuk duduk disebelah Gao Huang.
Long Hau pun langsung duduk disebelah Gao Huang yang letaknya bersebelahan dengan Meng Yiran.
"Kakek boleh kah aku bertanya?" Ujar Lu Shansan kepada kakek Gao.
"Silahkan saja cucu menantu, kau boleh bertanya apapun kepada ku apa yang kau mau" jawab kakek Gao sambil tersenyum.
"Untuk apa kakek menyuruh Long Hau menjemput diriku untuk datang ke rumah kakek? Dan untuk apa pula aku diperbolehkan masuk keruangan ini? Bukankah ini adalah ruangan khusus untuk menyambut calon menantu keluarga Gao?" Tanya Lu Shansan sedikit penasaran.
"Hahahaha.... Cucu menantu kau masih saja polos seperti lima tahun lalu!" Kata kakek Gao sambil tertawa.
"Lima tahun lalu? Memang kenapa aku lima tahun lalu kek? Bukannya aku baru dua---"
"Lulu sayang, kau ini polos sekali. Tentu saja kakek meminta mu datang kemari untuk menyambut dirimu sebagai istriku!!" Ujar Gao Huang memotong pembicaraan Lu Shansan sambil mengelus rambutnya.
"Menyambut diriku sebagai istri mu?" Wajah Lu Shansan langsung bersemu merah merona.
"Hei.... Hei... Coba lihat wajah mu itu calon menantu" Ledek kakek Gao kepada Lu Shansan.
"Wajah ku, ada apa dengan wajah ku kek?" Lu Shansan merasa salah tingkah.
"Dasar kelinci putih bodoh. Wajah mu itu sekarang berubah menjadi merah merona" Goda Gao Huang.
"Apa?"
Gao Huang dan kakek Gao beserta Long Hau langsung tersenyum puas ketika melihat wajah Lu Shansan yang merah merona.
Sedangkan Gao Zigang, Meng Yiran beserta ibunya merasa kesal dengan kejadian di depan mereka itu, nyonya Gao hanya bisa tersenyum sekilas ketika melihat kebahagiaan didepannya saat ini.
*********
Setelah selesai menemani kakek Gao menikmati camilan, Gao Huang mengajak Lu Shansan mengelilingi taman bunga yang ada di kediaman kakeknya itu.
"Lulu, apa ada yang ingin kau katakan kepada ku?" Ucap Gao Huang.
"Tentang apa kak Huang?" Lu Shansan balik bertanya dengan perasaan bingung.
"Bagaimana tiba-tiba kau ada dirumah kakek?" Tanya Gao Huang lagi.
"Oh tentang itu, jadi dua setengah jam yang lalu ada seorang pria yang datang ke tempat ku. Awalnya aku tidak tahu jika pria itu adalah suruhan kakek" ucap Lu Shansan.
"Awalnya kau tidak tahu? Lalu bagaimana selanjutnya kau bisa tahu dia adalah orang suruhan kakek?" Tanya Gao Huang lagi sambil memetik bunga.
"Pria yang bernama Long Hau tadi dia yang menjemput ku, dan dia mengatakan kalau dia adalah orang-orang kakek. Dan mereka juga menunjukkan benda yang menunjukkan identitas keluarga Gao, jadi aku percaya dan aku langsung ikut dengannya" Lu Shansan menjelaskan.
"Dasar kelinci bodoh. Lain kali jangan sembarang ikut dan percaya dengan orang lain begitu saja. bagaimana jika dia punya niat jahat pada dirimu?" Ucap Gao Huang sambil menyematkan bunga yang dia petik tadi di telinga Lu Shansan.
"Tidak ada yang bisa berbuat jahat kepada diriku selama ada kak Huang di dekat ku!" Ucap Lu Shansan dengan wajah malu-malu.
"Benarkah?"
"Ehem"
Lu Shansan hanya mengangguk dengan wajah tertunduk tersipu malu, Gao Huang yang melihat sikap Lu Shansan hanya bisa tersenyum kecil dan dia langsung memeluk gadis itu di dalam pelukannya yang terasa hangat.
Dari kejauhan Meng Yiran memperhatikan gerak-gerik Gao Huang dan Lu Shansan, dia pun mengepalkan tangannya karena merasa sangat marah sekali melihat kejadian itu.
Dan dari sudut lain juga nyonya Gao memperhatikan putranya bersama Lu Shansan sambil tersenyum penuh kebahagiaan, lalu seketika pandangannya melihat kearah Meng Yiran yang terlihat sedang marah.
"Kau tidak akan bisa merebut kebahagiaan putra ku bersama orang yang dicintainya.
Karena jika kau merebut semua kebahagiaan putra ku, ada seseorang yang tidak bisa diam saja!" Gumam nyonya Gao sambil menatap kearah Meng Yiran.