
Sore harinya di suatu hotel bintang lima
Seorang pria dan seorang wanita yang sudah tua baru saja selesai melakukan hubungan suami istri mereka, mereka pun berbincang-bincang untuk merencanakan sesuatu.
"Sayang, kapan kau akan melakukan rencana mu? Apa kau tahu Meng Yiran kita belakang ini sangat terlihat sekali?" Ucap wanita itu yang tidak lain adalah ibu Meng Yiran
"Kau tenang saja sayang ku, aku pasti akan menikahkan Meng Yiran dengan putra ku!" Ujar pria itu yang tidak lain adalah ayah Gao Huang
"Apakah kau tidak bisa menjalankan rencana dengan sekali tebas saja sayang ku?" Ujar ibu Meng Yiran dengan nada manja
"Fuzi ke sayang ku yang cantik. Jika kita ingin mendapatkan hasil yang sangat memuaskan untuk rencana ini, kita harus membuat rencana matang-matang, kita tidak boleh bertindak gegabah!" Ujar Gao Zigang kepada Meng Fuzi
"Kalau begitu sampai berapa lama kita harus melakukannya? Ini sudah enam tahun Zigang, tapi kita belum bisa menguasai harta keluarga Gao!" Ujar Meng Fuzi dengan nada kesal
"Bersabarlah sayang, kau tahu bukan aku saja menjalani perusahaan Gao masih selalu diawasi oleh kakek tua dari keluarga Gao itu. Lalu bagaimana cara ku untuk menggulingkan posisi presdir kakek tua itu?" Ujar Gao Zigang sambil menatap Meng Fuzi dengan nada meyakinkan
"Zigang aku punya rencana untuk menggulingkan kakek busuk keluarga Gao itu!" Ujar Meng Fuzi sambil tersenyum kecut
"Rencana apa?" Tanya Gao Zigang merasa penasaran
Meng Fuzi pun langsung membisikkan sesuatu ke telinga Gao Zigang tentang rencananya, setelah Meng Fuzi selesai membisikkan rencananya Gao Huang langsung tersenyum jahat akan rencana dari Meng Fuzi.
********
Hari pun sudah malam Gao Huang pun mengajak Lu Shansan yang masih asyik bermain dengan anak panti untuk segera pulang kerumahnya, sebenarnya Lu Shansan belum ingin pergi dari panti itu, tapi dia tiba-tiba teringat tentang telpon tadi siang akhirnya dia pun pulang kerumah.
"Terima kasih kak Huang, untuk hari ini!" Kata Lu Shansan sebelum turun dari mobil
"Apa hanya terima kasih saja?!" Ujar Gao Huang menatap Lu Shansan dengan tatapan menggoda gadis itu
"Maksudnya?" Lu Shansan menatap Gao Huang tidak mengerti
"Kau tidak mengerti maksud ku?" Ujar Gao Huang
"Tidak" Ucap Lu Shansan sambil menggelengkan kepalanya dengan tampang polos
"Sudahlah jika kau tidak mengerti. Sudah sana cepat masuk dan istirahat!" Ujar Gao Huang lagi sambil membuang mukanya kearah lain.
Lu Shansan yang memang tidak mengerti dengan maksud Gao Huang dia pun langsung turun dari mobil begitu saja.
"Dasar kelinci putih itu. Masa dia tidak mengerti maksudnya ku!" Ujar Gao Huang dengan wajah cemberut lalu dia tersenyum senang ketika mengingat wajah Lu Shansan yang imut.
Gao Huang pun kembali menyetir mobilnya untuk menuju ke kediamannya, saat diperjalanan tiba-tiba ponsel Gao Huang berdering rupanya itu telpon dari Gao Zigang.
Wajah Gao Zigang yang tadinya merasa senang akan Lu Shansan kini dia langsung memasang wajah kesal ketika mendapat panggilan telpon dari ayahnya itu.
*******
Lu Shansan setelah sampai dirumahnya dia langsung masuk kamar, tadinya dia masih ingin berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya itu, tapi karena dia sudah merasa lelah akhirnya dia pun langsung masuk kamar untuk membersihkan diri dan setelah itu dia ingin istirahat.
Setelah selesai membersihkan diri Lu Shansan tidak bisa langsung istirahat melainkan dia bolak-balik memandang ponselnya dengan perasaan ragu, entah apa yang sedang dia ragukan ketika memandang ponsel itu.
Tiba-tiba saja notifikasi pesan di ponsel Lu Shansan berbunyi, Lu Shansan langsung membuka pesan itu dan rupanya pesan itu dari Gao Huang.
๐"Kelinci putih, apa kau sudah tidur?" {Gao Huang๐๐}
'Kelinci putih? Sejak kapan kak Huang memanggil ku kelinci putih?' Batin Lu Shansan
๐"Sejak kapan kakak memanggil ku kelinci putih?" {Kelinci putih๐ฐ}
๐"Sejak mulai hari ini" {Gao Huang๐๐}
๐"Kau belum menjawab ku tadi. Apa kau sudah tidur?" {Gao Huang๐๐}
๐"Kak Huang, jika aku sudah tidur. Aku tidak akan menjawab pesan mu๐" {Kelinci putih๐ฐ}
๐"Hahaha, kau itu lucu sekali Lulu" {Gao Huang๐๐}
๐"Aku memang lucu dari dulu๐๐" {Kelinci putih๐ฐ}
๐"Lulu kelinci putih ku. Besok aku akan pergi ke tempat kakek jadi mungkin besok aku tidak bisa bertemu dengan mu, jadi jaga dirimu baik-baik ya!" {Gao Huang๐๐}.
Lu Shansan pun tidak langsung membalas pesan dari Gao Huang, melainkan dia terdiam sejenak dan berpikir akan sesuatu entah apa yang dia pikirkan lagi saat ini, karena hanya dirinya dan tuhan yang tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.
๐"Baiklah kak Huang, Aku pasti akan menjaga diriku baik-baik. Kakak tenang saja lagi pula jika aku tidak baik-baik saja di sini masih ada kedua sahabat ku yang akan menjaga diriku. Hihihihihi๐๐" {Kelinci putih๐ฐ}
๐"Baiklah, hari sudah malam. Kau harus istirahat dan jaga kesehatan mu" {Gao Huang๐๐}
๐"Baiklah kak, good night" {Kelinci putih๐ฐ}
๐"Good night too, my white rabbit" {Gao Huang๐๐}.
Setelah selesai Lu Shansan langsung membuka riwayat panggilan di ponselnya, dan dia langsung menghubungi nomor telpon yang tadi siang menghubungi dirinya.
Lima belas menit setelah Lu Shansan menelpon orang itu dia tidak bisa tidur melainkan dia mencari-cari sesuatu yang sudah lama tidak dia temui.
"Dimana kalung ku?" Gumam Lu Shansan sambil terus mencari kalung yang selama ini tidak lepas dari dirinya.
*******
Keesokan harinya keluarga Gao bersiap untuk pergi ke kediaman kakek Gao, tapi Gao Huang merasa heran kenapa ibu Meng Yiran dan putrinya juga ada disana untuk ikut pergi ke kediaman kakek Gao.
"Ma, untuk apa mereka ikut ke rumah kakek?" Tanya Gao Huang kepada ibunya
"Mama juga tidak tahu nak. Sepertinya papa mu yang menyuruh mereka untuk ikut ke rumah kakek!" Ujar nyonya Gao
"Istriku, ayo kita berangkat!" Ucap Gao Zigang kepada nyonya Gao
Nyonya Gao hanya mengangguk mendengar perkataan dari Gao Zigang, dan dia langsung masuk di mobil pertama bersama Gao Zigang dan juga ibu Meng Yiran, sedangkan Gao Huang diperintahkan oleh ayahnya untuk duduk di mobil kedua bersama Meng Yiran, Gao Huang mau tidak mau pun masuk ke mobil itu.
Satu jam sudah lamanya diperjalanan menuju kediaman kakek Gao, Gao Huang dan Meng Yiran hanya diam saja.
"Apa kau tidak mau berbicara dengan ku, tunangan ku?" Ucap Meng Yiran terlebih dahulu kepada Gao Huang sambil tersenyum
Gao Huang hanya diam saja, dia hanya asyik memandang ke luar kaca mobil
Gao Huang tetap diam saja dia benar-benar tidak menggubris perkataan dari Meng Yiran
"Gao Huang aku ini sedang berbicara dengan mu, seharusnya kau menanggapi perkataan ku!!" Kata Meng Yiran benar-benar kesal sekali
Gao Huang benar-benar seperti orang bisu dia sama sekali tidak menanggapi perkataan dari Meng Yiran, Meng Yiran merasa marah sekali karena Gao Huang tidak menanggapi dirinya, akhirnya dia memutuskan untuk diam kembali.
Akhirnya tidak beberapa kemudian mereka pun sampai di kediaman kakek Gao, Gao Huang langsung turun dari mobil dan dia langsung masuk kedalam rumah itu.
Meng Yiran yang masih kesal dia pun turun dari mobil dan langsung masuk ke kediaman kakek Gao dengan rasa amarah.
********
"Tuan muda Gao, selamat datang di kediaman kakek!" Sambut kakek Gao kepada Gao Huang sambil memeluk cucunya itu
"Halo kakek, apa kakek sehat-sehat saja?" Sapa Meng Yiran kepada kakek Gao
"Eh... Siapa ini?" Tanya kakek Gao kepada Gao Huang
"Dia adalah tunangan Gao Huang, ayah!" Sahut Gao Zigang menjawab pertanyaan dari kakek Gao
"Tunangan?" Kakek Gao merasa terkejut sambil menatap Gao Huang dan Meng Yiran secara bergantian
Gao Huang hanya memasang wajah datar ketika kakeknya melihat dirinya
"Apa kau benar tunangan cucu ku?" Tanya kakek Gao kepada Meng Yiran
Meng Yiran tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakek Gao melainkan dia menatap Gao Huang sesaat dan dia langsung merangkul lengan Gao Huang.
"Benar kakek, aku adalah tunangan Gao Huang. Dan tidak lama lagi kita akan segera menikah!" Ucap Meng Yiran merangkul lengan Gao Huang sambil tersenyum
Gao Huang merasa risih dengan sikap Meng Yiran kepada dirinya, dia pun berusaha melepaskan Meng Yiran dari dirinya tapi Meng Yiran makin mengeratkan rangkulannya.
Kakek Gao hanya bisa tersenyum penuh arti melihat tingkah Meng Yiran kepada cucunya itu, dan dia juga melihat jelas sikap Gao Huang kepada gadis itu.
"Ayah kita kan sudah lama tidak bertemu, ayo kita berbincang-bincang sebentar di taman bunga!" Ajak Gao Zigang kepada kakek Gao.
Kakek Gao terdiam sesaat mendengar ajakan dari Gao Zigang, seakan dia mengerti akan ada bahaya yang menimpa dirinya.
"Maaf menantu ku, untuk saat ini dokter menyarankan ku untuk tidak boleh terlalu lama diluar rumah, jadi bagaimana jika kita berbincang-bincang didalam saja sambil menikmati camilan? Karena kebetulan sekali seseorang yang tidak lama bertemu dengan ku hari datang dan dia membuatkan camilan untuk kita!" Kata kakek Gao sambil berpura-pura tersenyum kepada Gao Zigang
"Benarkah?" Apa ada orang lain lagi yang datang hari ini?" Tanya nyonya Gao kepada kakek Gao
"Siapa kakek?" Tanya Gao Huang penasaran
"Kalian akan tahu nanti. Sekarang ayo kita masuk ke ruangan khusus untuk menyambut kedatangan calon menantu keluarga Gao!" Ajak kakek Gao kepada mereka semua
"Ruangan khusus untuk menyambut calon menantu?" Ucap Meng Yiran merasa heran
"Ada apa nak Meng Yiran?" Tanya kakek Gao kepada Meng Yiran
"Tidak kek, aku merasa heran saja. Apa itu ruangan khusus untuk menyambut calon menantu?" Ujar Meng Yiran
"Itu adalah ruangan khusus untuk menyambut calon menantu keluarga Gao, calon menantu ku!" Jawab Gao Zigang sambil tersenyum kepada Meng Yiran
Meng Yiran yang mendengar perkataan dari Gao Zigang pun langsung tersenyum penuh kesenangan dia merasa senang sekali, karena Meng Yiran beranggapan jika kakek Gao sudah menerima dirinya menjadi calon menantu untuk keluarga Gao.
Kakek Gao yang melihat senyuman dari Meng Yiran dia hanya bisa tersenyum simpul kepada gadis itu, lalu kakek Gao langsung mengajak mereka untuk keruangan yang disebutkan tadi.
"Kalian masuklah dulu" Ucap kakek Gao setelah sampai didepan ruangan itu
Mereka semua pun langsung masuk keruangan itu, Meng Yiran dan Meng Fuzi yang baru pertama kali masuk keruangan itu pun merasa takjub akan keistimewaan dari ruangan itu.
Sedangkan diluar ruangan tiba-tiba saja seorang pria menghampiri kakek Gao
"Kakek, kenapa anda masih disini?" Tanya pria itu
"Long Hau, dimana gadis itu?" Tanya kakek Gao balik kepada pria itu yang bernama Long Hau
"Dia masih ada di dapur, sebentar lagi juga selesai" Jawab Long Hau
"Baiklah, kalau begitu aku akan masuk saja dan menunggu cucu menantu didalam" Ucap kakek Gao sambil tersenyum dan dia langsung masuk keruangan itu.
"Cucu menantu?" Long Hau merasa agak bingung
"Oh.... Aku mengerti sekarang" Ucap Long Hau tersenyum ketika dia mengerti apa yang dimaksud oleh kakek Gao.
"Kakek dimana orang yang kau maksud?" Tanya Gao Zigang kepada kakek Gao
"Iya ayah dimana orang yang kau maksud?" Tanya nyonya Gao lagi
"Sabar... Sabar. Dia akan datang setelah selesai membuat camilan untuk kita!" Ucap kakek Gao sambil tersenyum.
"Yiran, aku dengar ruangan ini hanya khusus untuk menyambut calon menantu keluarga Gao dan kau sudah masuk keruangan ini, jadi bisa disimpulkan kau sudah mulai diterima menjadi calon menantu Gao. Dan ibu berharap kau tidak mengecewakan ibu!" Ucap Meng Fuzi sambil berbisik kepada Meng Yiran
Dari kejauhan kakek Gao menatap Meng Fuzi dan putrinya sambil tersenyum
"Iya ibu, aku pasti tidak akan mengecewakan ibu. Coba saja ibu lihat, kakek Gao tersenyum kepada ku pasti dia menerima diriku untuk menjadi istri Gao Huang!" Jawab Meng Yiran kepada ibunya.
Dan tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan beberapa pelayan masuk keruangan itu sambil mendorong troli makanan berisi camilan berserta teh dan kopi, para pelayan itu meletakkan camilan beserta kopi dan teh itu di meja, dan setelah para pelayan itu selesai meletakkan dan menyajikan makanan kepada mereka, semua para pelayan itu pun langsung keluar.
"Tunggu sebentar kepala pelayan Red!" Kakek Gao menghentikan kepala pelayan dirumahnya yang dia panggil dengan sebutan Red
"Ada apa tuan besar? Apa ada yang anda butuhkan lagi?" Tanya kepala pelayan itu
"Tidak, tidak ada. Aku hanya ingin bertanya dimana cucu menantu ku?" Tanya kakek Gao kepada kepala pelayan Red
"Cucu menantu?"
Semua orang yang ada diruang itu pun merasa heran dengan apa yang disebutkan kakek Gao bahkan termasuk Gao Huang dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh kakeknya.
"Aku ada disini kakek ku tersayang!"
Belum sempat pelayan itu menjawab pertanyaan dari tuannya dan semua orang masih merasa heran, tiba-tiba saja suara wanita menyahut jawaban kakek Gao dari balik pintu ruangan istimewa itu.