About Time

About Time
Bertemu Kembali



"Belugart...aku kembali".


- - - - - -


Suasana pasar kerajaan sangat ramai, mengingat malam ini adalah malam festival sungai biru. Semua orang antusias menunggu malam untuk berendam di sungai.


"Apa yang mereka harapkan dengan berendam malam-malam? Bodoh sekali", tukas seorang yang sedang mengamati suasana sungai.


"Ini tradisi May, mereka menganggap bahwa jika berendam di sungai ini saat bulan purnama saat festival, dosa mereka akan dihapus dan mereka menjadi murni."


"Jika hanya dengan berendam bisa menghapus dosa, untuk apa ada neraka? Setelah mereka berbuat dosa, dengan enaknya mereka berendam lalu dosa terhapus begitu saja? Itu tidak mungkin, karma tidak pernah hilang dari pemiliknya meski ia berendam seratus ribu tahun. Sudahlah, sekarang pikirkan bagaimana caranya dapat makanan, aku sangat lapar".


"Aku bisa saja mengambil makanan dari pembeli tanpa terlihat, namun itu bisa menguragi kuaitas rohku, nanti aku jadi tak bisa berubah wujud jadi manusia."


"Sudahlah, sekarang aku jadi ingin tidur, ayo kerumah ibuku saja!"


"Rumah ibumu? Ku pikir kau itu sebatang kara."


"......."


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


'Sudah lama aku tidak ke sini, bagaimana keadaan ibu sekarang ya..'


"Dimana ibuku? Kenapa tidak dirumah? Sepanjang jalan desa ini juga sangat sepi.", ujar Mayla.


"Aku hanya melihat tanda-tanda kedatangan Ryon Rougrish. Ngomong-ngomong, ada hubungan apa kamu sama Ryon?"


"Dia kakekku".


"Berarti aku ini? Nenekmu, tak ku sangka aku sangat tua."


"What? Ah kenapa aku punya nenek buyut pendendam."


"......"


"Hei, maaf...aku ga bermaksud kayak gitu. Oke oke, aku tahu kamu dendam karena dibunuh ayahmu buat selamatin adikmu. Jangan marah oke?"


"Hei aku tidak marah, hanya sedih saja. Mana bisa aku marah padamu?"


"......"


"Hei ayolah, kenapa aku selalu ditinggal pergi. Dasar bocah menyebalkan."


"Emily! Cepat kesini! Ini....ini....ada bercak darah banyak sekali, ayo ikuti jejaknya."


Saat mereka sampai di akhir jejak darah itu, mereka menemukan pintu beser menuju ke dalam hutan yang ditutup. Karena penasaran, mereka mencoba membuka pintu tersebut namun terkuci. Mayla membuka pintu menggunakan sihir, setelah terbuka, mereka di kagetkan dengan lubang besar yang didalamnya terdapat....mayat penuh darah. Namun ada satu dari mereka yang masih bisa sadar saat Mayla disana.


"Tolong......"


"Ini perbuatan Ryon dan Vorges, aku bisa melihatnya lewat darah di tanah tadi."


"Ibu....", Mayla menutup mulutnya dan menahan tangis. Tanpa sadar Mayla meneteskan air matanya, dia tidak lain adalah Larry, ibunya. Sedih, terpukul, marah, dendam, semua bercampur menjadi satu dalam dirinya. Namun ia kembali menghapus air matanya, mencoba menahan sesak dalam hatinya.


"Mayla...kemari...", Emily memeluk Mayla karena keadaan Mayla saat ini hancur.


"Kenapa aku selalu kehilangan orang tuaku...., dulu ibuku pergi meninggalkanku dan ayahku bersama lelaki lain karena harta, lalu ayahku di bunuh karena harta, bahkan Tuhan tidak melepaskanku meski aku hidup di masa lalu, aku selalu bertanya padanya, kenapa dia begitu tidak adil terhadapku, kenapa?"


"Menangislah....jangan menahan air matamu lagi, sekarang aku mengerti apa yang ada dibalik sifat dinginmu itu. Tuhan mungkin ingin membuatmu jadi perempuan kuat, kamu tidak sendiri, kan ada aku, benar kan?"


"Hiks..."


'Kau tahu, setelah 5 tahun bersamamu, melewati hari-hari bersamamu, kini aku tahu kamu seperti apa, aku pasti akan melindungimu.'


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


"Perhatian! Pemberitahuan dari kerajaan langsung diperintah oleh Pangeran. Yang Mulia Pangeran sedang mencari pengawal pribadi, tidak mebatasi jenis kelamin ataupun usia, yang terpenting ia bisa mengalahkan Pangeran saat sayembara. Pemberitahuan selesai."


"Mungkin memberi pemberitahuan ini adalah sia-sia, bagaimana kita bisa mengalahkan Pangeran?"


"Benar"


"Sayang sekali, aku bahkan sudah menyerah begitu mendengar Pangeran yang akan menjadi lawan saat sayembara."


"Kenapa mereka begitu memuji Pangeran?", Mayla yang kebingungan sedikit bergumam, namun gumamannya itu terdengar.


"Nak, kamu tidak tahu? Pangeran itu bertarung sudah bisa menggunakan tenaga dalam tingkat pembentukan diri ke-3 saat umurnya 19 tahun kemarin. Dan ia sudah naik ke tingkat pembentukan diri ke-4 saat umurnya genap 20."


'Apa yang perlu dipuji? Aku bahkan sudah tingkat pengendalian roh saat ini.'


"Ayo ke istana besok saat sayembara berlangsung, sepertinya sudah waktunya bertemu kambali."


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Esoknya.....


"Selamat datang para peserta, sayembara akan dimulai sebentar lagi. Silahkan bersiap dan mengambil nomor giliran."


Sayembara dimulai dan mempersilahkan peserta pertama untuk melawan Pangeran. Semua gerakkan bertarung dari berbagai keluarga bangsawan sudah dikeluarkan, membuat satu orang yang mengamati mereka tersenyum senang. Namun dari sekian banyak peserta, tidak ada satupun yang ilmunya melebihi Pangeran. Pada saat bertarung, mereka akan langsung jatuh saat Pangeran mengeluarkan tenaga dalamnya.


'Tak kusangka banyak sekali gerakkan yang baru kutemui disini.', ujar Mayla dalam hatinya. Iabiasa bercakap dengan Emily dalam hati.


'Ku akui bakatmu mempelajari gerakkan dengan sekali lihat sangat memgesankan.'


'Oh Emily, sekarang aku bangga pada diriku sendiri.'


'........'


'Oh my god, lihat perempuan itu, itu Ghezee, ternyata ia masih terobsesi dengan Pangeran sampai mengikuti sayembara untuk jadi pengawal pribadinya.'


'Kau kenal dia? Ghezee? Dari keluarga mana? Atau dari kalangan bawah?'


'Dia itu dulu teman sekolahku, mungkin sudah lulus sekarang, Ghezee Lorraine, dari keluarga Lorraine, bangsawan tingkat 3. Dia dulu mengejekku gadis miskin, kumal, dan jelek. Bisakah kau tidak mengucapkan kalimat 'kalangan bawah'?', ujar Mayla sambil menyipitkan matanya di akhir kalimat.


'Tunggu setelah ini selesai, aku akan membuangmu ke danau itu sampai rohmu hancur.'


'Ehh..., oke ku akui ancamanmu itu menyeramkan, tapi aku percaya kamu tidak akan melepasku.'


'Kau terlalu percaya diri. Sekali aku bilang maka aku pasti menepatinya.'


'Benar. Sekali kamu bilang, kamu akan menepatinya.'


'.....'


'Dasar gadis jelek, aku memahamimu lebih dari dirimu sendiri'


'Sedikit membuatku terharu'


"Wahh, meski nona Ghezee kalah, pertandingan nona Ghezee dengan Pangeran nampaknya berubah menjadi sebuah adegan romantis, sangat mengharukan. Mereka terjatuh bersama dan hampir berciuman, sangat romantis."


"Hoekk...", tiba-tiba Mayla muntah di tempat dan membuat orang-orang menjauhi tempatnya.


'Si*l, beri aku penutup wajahmu Emily, cepat!'


'Ehh, bentar, ini...'


"Hei jangan muntah disini!"


"Jorok sekali"


"Hei apa kau gila? Dasar jorok!"


"Maaf maaf, adegan Pangeran dan Nona Ghezee sepertinya membuat kakakku muntah."


"Hei! Apa maksudmu menghina bangsawan?!"


"Eh maaf maaf, bukan itu maksudku"


'Dasar si*lan, kenapa kau tidak bicara? Aku sampai disangka menghina bangsawan.'


'Aku kan harus pura-pura bisu, kalau mengeluarkan suara nanti ketahuan.'


'........'


"Baiklah, ayo lanjut saja, giliran peserta terakhir, silahkan maju ke tempat bertarung."


Tiba giliran Mayla sekarang, akibat tragedi muntahnya, ia menjadi pusat perhatian sekarang.


"Coba perkenalkan dirimu dan keahlian apa yang kau miliki?", tanya Sean.


'Emily, katakan kalau aku ahli berpedang.'


"Maaf menyela, namanya adalah Dregarsa, kami berasal dari wilayah perbatasan, kakakku ahli dalam berpedang Pangeran."


"Kenapa kau yang biacara?"


"Kakakku bisu sejak lahir, Pangeran."


"Oh baiklah, sekarang keluarkan pedangmu."


Mayla hanya diam menunggu Sean mengeluarkan pedangnya, namun Sean tak kunjung mengeluarkannya.


"Kenapa tidak mulai?"


"Maaf pangeran, kakakku tidak akan memulainya sebelum anda mengeluarkan pedang anda."


"Oh, apa kamu yakin ingin bertarung denganku saat aku memegang pedang?"


'Hmph, dia meremehkanku.'


Mayla hanya mengangguk, dan Sean segera mengeluarkan pedangnya. Mereka mulai bertarung dengan awalan yang tenang, pertarungan berlangsung agak lama karena keduanya tidak menggunakan tenaga dalam. Sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk mengeluarkan tenaga dalam, akhir dari pertarungan sudah ditentukan. Saat pertarungan berlangsung, mata mereka bertemu.


'Aku pernah melihat matanya, tapi dimana?', ujar Sean dalam hatinya.


Brakk...


"Kau..., kau sudah ditingkat mana?", ujar Sean saat ia kalah bertarung.


'Bilang kalau aku di tingkat pembentukkan diri ke-5.'


"Kakakku sudah di tingkat pembentukkan diri ke-5, Pangeran.", ucap Emily menurut.


"Berapa umurnya?"


"19 Tahun."


"Wow, itu mengaggumkan, aku saja sulit untuk naik tingkat."


"Anda terlalu memuji, Pangeran."


"Baiklah, dia yang akan jadi pengawal pribadiku sekarang."


Mayla membungkukkan badannya lalu turun dari arena bertarung. Saat ia bertemu Sean untuk menyematkan gelar 'Pengawal Pribadi', ia memberi beberapa syarat, salah satunya adalah Sean tidak boleh membuka penutup wajah milik Mayla.


"Baiklah Dregar, sekarang kamu pengawalku, ini ada token pengawal pribadi, gunakan ini untuk masuk ke istana sewaktu-waktu.", ujar Sean dan di sambut anggukan Mayla.


"Oh iya, bagaimana dengan adikmu?"


"Oh itu, Pangeran tenang saja, aku tidak bersama kakakku nanti, aku akan pulang ke perbatasan dan tinggal bersama ibuku."


"Oh begitu, yasudah aku masuk duluan."


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -