
Setelah beberapa hari...
"Kapan keluarnya dah, lama lama bosen, suntuk suasananya, susah latihan, buku ga ada. Tapi, teleportasi, aku dah hapal caranya, hanya tinggal praktek, akan bagus kalau bisa teleportasi", ujar Mayla.
"Nak"
Tiba-tiba terdengar suara kakek dari penjara sebelah. Mayla menengok ke arah penjara di sebelahnya, dan mendekat ke arah sana.
"Apa tadi kamu yang memanggilku?", tanya Mayla.
"Apa yang membuatmu berada disini?", tanya sang pria.
"Bukan masalah, aku hanya berbicara lancang terhadap Raja, padahal itu sebuah fakta", jawab Mayla sambil menatap kosong ke depan.
"Hampir sama sepertiku ternyata", ujar pria itu. Mayla hanya diam dan menarik napasnya.
"Duduklah di dekat pembatas penjara ini, aku akan menceritakan sebuah kisah."
Saat itu, perang perbatasan negara Belugart dengan negara tetangga. Jendral Rougrish memimpin perang itu, semua berjalan lancar dan mereka pun berhasil menguasai medan perang. Hari sudah malam, Jenderal Rougrish berencana kembali ke istana esok hari, namun tiba-tiba tenda yang ia tempati terbakar habis. Para prajurit melaporkan ke istana tentang hal itu namun mereka melaporkan bahwa jenderal gugur saat perang, lalu pihak istana mengumumkan bahwa Jenderal Rougrish gugur dalam perang meski membawa kemenangan. Saat itu ada seorang prajurit mengatakan bahwa Jenderal Rougrish tidak mati karena gugur, namun tendanya sengaja di bakar. 2 prajurit itu melihat sendiri bagaimana sang pelaku yang saat itu adalah seorang Jenderal sama seperti Jenderal Rougrish membakar tendanya. Namun, ia tidak memiliki bukti kuat untuk mendukung pengakuannya. Akhirnya ia dimasukkan ke penjara karena menudingkan tuduhan tanpa bukti kepada seorang Jenderal. Untunglah salah satu dari mereka berdua terlepas, namun ia diancam kalau ia mengumbar fakta, maka keluarganya akan dibunuh. Sejak diancam, ia pergi dari wilayah kerajaan dan tidak pernah kembali.
"Karena itu aku berada disini", ujar sang pria.
Mayla membulatkan matanya mendengar ini, jenderal itu tak lain adalah ayahnya. Meski Verick bukanlah ayah kandungnya, namun ia membuat Mayla tetap merasakan hadirnya seorang ayah.
"Siapa yang membakar tenda Jenderal Rougrish?", tanya Mayla tegas.
"Dia adalah...mayor jenderal militer istana yang sekarang, sepupu ayahmu, Vorges Rougrish. Setelah ia naik jabatan, posisi jenderal di kosongkan, tetapi jika keturunan Verick Rougrish tak muncul dalam waktu dekat, maka posisi Jenderal diturunkan ke putra Vorges Rougrish, yaitu Geannor Rougrish."
"Ayah..."
"Ayah?! Siapa kamu?", tanya pria itu kaget.
"Aku putri angkat dari Verick Rougrish"
"Apa?!! Kamu?!! Legenda itu...", pria itu kaget dengan ucapan Mayla.
"Sudahlah, sekarang harus pikirkan bagaimana caranya aku keluar dari sini."
"Ada satu cara, kamu mintalah kepada Raja untuk mengasingkanmu ke danau Emily, tetapi cara ini akan percuma", ujarnya lesu.
"Kenapa percuma?", tanya Mayla.
"Rumornya, aroma danau itu bisa menarik makhluk yang mencium aromanya masuk ke dalam dan air danaunya bisa membunuh makhluk apapun yang masuk kemana, setiap orang yang dihukum ke Danau Emily akan dihapus catatan dosanya, karena jika orang itu bertahan, ia akan terlahir sebagai jiwa baru, jiwanya bersih dari dosa. Tetapi kalau tidak bisa bertahan, orang itu akan mati, jadi lupakan saja cara ini. Kamu hanya warga lemah, takutnya kamu akan mati dalam hitungan detik."
"Lupakan? Hanya karena rumor aku harus menunggu lama di penjara ini sampai bebas? Kamu meremehkanku karena aku hanya berumur 14 tahun,huh! Itu membuang waktuku, aku akan coba cara itu. Bisa saja kan aku bertahan hidup?"
"Hei kamu jangan main-main! Dasar anak bosan hidup."
"Aku ini tidak takut mati, aku bahkan pernah mati sekali lalu hidup lagi dengan cara yang sama, jadi untuk apa takut mati?"
"Dasar tidak waras!"
"HEI!! TOLONG PERTEMUKAN AKU DENGAN RAJA! HEI?! KALIAN TIDAK DENGAR ATAU PURA-PURA TIDAK DENGAR?! HEI! AKU TAHU KALIAN DENGAR!! KU SUMPAHIN KALIAN BENAR-BENAR TULI!! Dasar tuli, huhh!", Mayla berusaha teriak dan meminta kepada penjaga di depan namun dihiraukan, itu membuatnya kesal.
"Kenapa kamu ingin bertemu Raja?"
Suara itu membuat Mayla terkejut dan memutar badannya, terlihat pangeran Sean sedang berdiri di depan penjaranya.
"Bawa aku bertemu Raja, aku ingin memohon sesuatu."
"Kamu ingin memohon untuk dilepaskan? Percuma saja."
"Siapa bilang aku mau minta dilepaskan? Jangan sok tahu kamu, sekarang tolong bawa aku menghadap Raja."
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Apa yang membuatmu ingin menemuiku?", tanya Raja melihat Mayla kini sudah ada dihadapannya.
"Tolong bebaskan hamba dari penjara, dan sebagai gantinya, Yang Mulia bisa mengasingkanku ke Danau Emily."
"Apa kamu bosan hidup? Bagaimana jika kamu mati? Kemungkinan hidup disana sangat sedikit, sangat sangat sedikit, bahkan sampai sekarang tidak ada dari mereka yang bisa bertahan hidup. Kamu sudah memikirkannya dengan baik pilihanmu itu?", tanya Raja yang sedikit kaget dengan permintaan Mayla.
"Hamba sudah yakin, Yang Mulia."
"Baiklah, semoga kita bisa bertemu lagi. Prajurit, antarkan dia ke pinggir perbatasan danau."
"Hei, bagaimana jika kamu menjadi selirku saja? Tetapi kamu tidak akan menjadi permaisuri, sebatas selir saja. Hanya tinggal menuruti perkataanku, kamu akan hidup senang, bagaimana?", tiba-tiba Sean berbicara dan membuat semua yang ada disana terkejut. Mayla yang saat ini di dekat pintu menuju keluar berhenti saat mendengar itu.
"Maaf pangeran, itu menyimpang dari prinsip hidup saya. Hidup saya ditangan saya sendiri, saya tidak hidup dibawah kendali orang lain, saya hidup dan berdiri di atas kaki saya sendiri. Dan saya juga tidak suka menjadi selir jika akhirnya hanya menuruti semua perkataanmu, bukankah sama saja hidup seperti boneka mainan? Saya tidak diperintah tetapi memerintah. Saya permisi dulu pangeran, semoga kita berjumpa lagi.", ujar Mayla dengan menatap mata Sean yakin sambil tersenyum tipis, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu. Keputusan Mayla itu membuat pelayan istana merasa kasihan, karena ia sudah menolak tawaran yang berharga.
'Tatapan matanya, tajam dan cantik. Sebenarnya kenapa ia menutupi mata indahnya itu dengan kacamata? Tetapi dia dapat kacamata darimana? Disini mana ada kacamata?'
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Mayla mulai memasuki kawasan danau, ia mencium aroma sejuk yang berasal dari danau. Ia pun menyusuri jalan hingga sampai dipinggir danau.
'Yang dirumorkan itu benar, aroma ini bisa membuat orang tidak sadarkan diri, semacam hipnotis, sayangnya aroma ini tidak bisa mempengaruhiku, yang bisa mengendalikanku hanya diriku sendiri, tidak ada yang lain', ujar Mayla dalam hatinya.
Ia mulai menyentuh air danau itu, awalnya air itu berwarna putih bersih, namun setelah disentuh air itu berubah menjadi darah panas yang mendidih. Saat ia menatap air itu, tiba-tiba keluar sebuah roh yang penampilannya menyeramkan. Dibagian dadanya terlihat organ dalam, yang artinya bagian itu habis di bedah namun tidak ditutup kembali, dibiarkan terbengkalai begitu saja. Kulitnya dipenuhi urat hitam, matanya hitam penuh, dan tangannya memegang sebuah jantung manusia. Makhluk itu mendekati Mayla, namun Mayla tidak takut sedikit pun terhadap penampilan makhluk itu. Ketidak takutan Mayla membuat roh itu diam dan keheranan.
"Kenapa diam? Tidak menyerangku?", ujar Mayla namun makhluk itu hanya diam.
"Kenapa? Kamu tidak mau membunuhku? Atau jangan-jangan kamu tidak ada kemampuan untuk membunuhku? Lalu bagaimana caranya kamu membunuh jasmani dari roh yang ada di belakangmu itu?"
"Kenapa kau tidak ketakutan? Apa penampilanku kurang menyeramkan?", tanya makhluk itu. Mayla hanya diam melihatnya, lalu melipat tangannya di dada seakan ia hanya mengamati makhluk itu.
"Aku sudah biasa melihat yang seperti ini, bahkan aku melihat sendiri proses pembongkaran tubuh manusia, hal seperti ini tidak akan menakutiku. Kenapa jika aku tidak ketakutan? Sepertinya.....ketakutan musuhmu adalah senjatamu ya, aku baru mengerti setelah mengamati caramu menakutiku, namun saat kau melihatku tidak ketakutan, kau malah bergetar ketakutan. Ada apa denganmu?", Mayla tersenyum sambil menatap makhluk itu, membuat makhluk itu berubah wujud menjadi gadis biasa dan menangis. Mayla hanya terdiam melihatnya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Aku sudah mati, namun aku menyimpan dendam dalam hatiku, aku tidak bisa reinkarnasi sebelum dendam di hatiku hilang......tetapi jika terlalu lama disini dan tidak reinkarnasi, aura kehidupan", gadis itu berkata sambil mengeluarkan air mata. Namun dalam sekejap ia berubah menjadi marah.
"Tetapi aku tidak akan rela jika dendam itu hilang begitu saja, aku tidak akan reinkarnasi sebelum dendamku terbalaskan!"
"Kamu nampaknya sangat peduli akan dendamu itu, tetapi jika kamu hanya disini menunggu orang yang kamu benci masuk dalam ilusi ketakutanmu, rohmu akan hancur sebelum saat itu datang. Ikutlah denganku ke dunia luar, temui orang yang kamu benci lalu balaskan dendam itu. Tetapi aku tidak tahu caranya agar kamu bisa keluar dari danau ini."
"Benarkah? Sebenarnya aku bisa membuat perjanjian denganmu, tetapi energimu sepertinya tidak cukup untuk melakukan prosesnya. Bahkan aku lihat, kamu tidak memiliki aura pelatihan tahap pemurnian diri, sedangkan untuk membuat perjanjian dengan roh, kamu harus ditingkat pembentukan jiwa pertama. Jadi bagaimana kita membuat perjanjian roh sedangkan kamu bahkan terlihat seperti manusia biasa? Aku jadi malu dengan kemampuanku, bagaimana aku bisa kalah dengan manusia biasa padahal aku sudah ditingkat pembentukan diri ke-2, bikin malu saja".
"Memang ada berapa tahap petapa silat? Coba jelaskan padaku."
"Sebelum ia memulai pelatihannya, ia berada di tingkat jiwa biasa. Tahap pertama adalah pemurnian diri, setelah itu pemurnian jiwa, pembentukan diri 1-7, pembentukan jiwa 1-10, pengendalian jiwa, lalu yang tertinggi adalah kesucian. Saat kamu ditingkat kesucian, kamu pasti dipuja-puja oleh para manusia. Tetapi, saat ini yang mencapai tingkat kesucian hanya beberapa, bahkan bisa dihitung jari, bisa dibilang 1 dari milyaran orang. Saat kamu ditahap pengendalian jiwa, kamu bisa mengendalikan roh sepertiku tanpa adanya perjanjian, bahkan kamu bisa mengendalikan jiwa seseorang yang tubuhnya masih hidup. Untuk mencapai satu tingkat, biasanya sesorang membutuhkan waktu 1 tahun, tetapi jika sudah memasuki tahap pembentukan jiwa, peningkatan berjalan sesuai kualitas pelatihan. Kamu bisa langsung naik ke tahap pemurnian jiwa saat kamu masuk ke danau ini, namun ini sangat menyiksa, kamu akan merasa tubuhmu itu meleleh saat airnya berubah menjadi darah mendidih, tetapi jika kamu tetap sadar dan bertahan hingga tubuhmu terbentuk kembali, saat itulah kamu mencapai tahap pemurnian jiwa. Biasanya mereka yang sudah meleleh tidak mampu bertahan secara sadar hingga tubuhnya terbentuk kembali, maka dari itu mereka mati saat itu juga. Bagaimana caramu mengejar waktu sedangkan waktuku hanya tinggal 10 tahun, lihat tubuhmu itu, kau hanya gadis berumur 14 tahun yang lemah dan tidak berenergi."
"Mari mulai berlatih", ujar Mayla sambil mengembangkan senyumnya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
5 Tahun kemudian........
"Bagaimana penampilanku?", ujar seorang laki-laki kepada seorang roh.
"Terlihat seperti pria cantik yang gagah, master.", kata roh itu sambil mengancungkan jari jempolnya.
"Ayo kita kembali."
"Tutupi dulu auramu, nanti terlalu mencolok."
"Dasar Emily, aku jadi lupa kan, huhh!"