
Saat mereka sampai di garis perbatasan, ternyata pasukan Vorges sudah bersiap dengan ratusan ribu pasukannya.
"Mata-mata itu bekerja dengan baik, dengan begini akan seru", ujar Mayla santai menyiapkan panahnya.
"Maksudmu seru apa?! Kalau begini apa kita bisa menang?!", tanya Sean kesal.
"Sebenarnya ada 3 mata-mata dalam prajurit perbatasanmu, aku mencegah mereka masuk istana dengan menggunakan sihir proyeksi, jadi mereka berpikir kalau sedang latihan biasanya, dengan begitu kegiatan kita tidak ketahuan mereka, jadi pola latihanku tidak diplagiat", jelas Mayla.
"Latihan apanya, kita hanya main-main kan 30 hari itu, aku mau latihan sendiri pun kau pukuli. Aku lebih banyak menerima rasa sakit dari pada ilmu. Meski aku sudah menembus banyak tingkat, ini akan percuma jika aku berperang sendiri. Prajuritku juga banyak yang terluka karena di hukum, aku tidak tahu hasilnya apa nanti, kau lah yang bertanggung jawab jika kalah nanti! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti. Aku menyesal menyerahkan semuanya padamu!", Sean marah dan meninggalkan Mayla sendiri di belakang formasi. Mayla hanya menghela nafasnya panjang melihat Sean marah padanya, padahal ia punya rencananya sendiri.
"Aku tidak memberi hukuman secara cuma-cuma, aku tidak menyuruh kalian melakukan itu untuk bermain-main.......nanti kalian juga akan tahu dengan sendirinya....."
Perang akan segera dimulai, masing-masing pihak akan membentuk formasi perang. Mayla tidak menghampiri Sean ke dalam formasi karena ia bertugas mengatur strategi.
'Sekarang bukan saatnya untuk marah, kau dengarkan perkataanku nanti!', perintah Mayla kepada Sean melalui telepati.
'Aku hanya bisa percaya padamu sekarang.'
"SERANG!!", suara dari kedua pihak terdengar tanda perang sudah dimulai.
'Mereka menggunakan formasi perisai, prajurit sisi samping sedikit namun semuanya prajurit tingkat perak yang menggunakan pakaian prajurit perunggu, mereka melakukannya untuk mengelabui kita. Tempatkan jenderal berbintang di garis depan dan menyerang duluan, serang sisi samping!'
Setelah mendengar perkataan Mayla, Sean awalnya tidak yakin, ia berpikir mana mungkin prajuritnya bisa melawan sisi samping yang isinya prajurit tingkat perak, dan ia juga menyuruh jenderal berbintang untuk menyerang terlebih dahulu, Sean berpikir bagaimana jika mereka terluka atau bahkan mati sebelum menang. Namun ia hanya bisa mempercayai Mayla saat ini dan tidak ada pilihan lain. Ia langsung memerintahkan pajuritnya mengikuti arahan Mayla. Setelah pihak Sean maju, setengah prajurit perak musuh telah dihabisi, namun para jenderal berbintang kini sudah dalam keadaan terluka parah.
'Suruh para prajurit menyerang dan menggantikan jenderal berbintang, urusan luka serahkan padaku.' -Mayla.
Sementara perang berlanjut, Mayla memberikan pil obat ajaib kepada para jenderal dan menyembunyikannya dalam ruang sihir tersembunyi. Sisi samping formasi lawan sudah ditembus, membuat prajurit musuh yang menjaga ditengah berpencar ke samping. Tak lama kemudian hampir seluruh prajurit Vorges dikalahkan, ini membuat Sean senang karena ia merasa berhasil memenangkannya. Namun saat ia melihat banyak prajurit yang datang dari belakang mereka, ia kaget karena mereka adalah.......rombongan prajurit kerajaan Thanderos yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah pasukan Belugart.
"Hahahaha, apa kabar Pangeran Sean? Padahal jika kamu menikah, kerajaanku bisa menguasai Belugart lewat pernikahan, sayangnya kamu menolak dan memilih untuk mati di medan perang", ujar sang panglima perang yang tak lain adalah kakak Roselie Venofit, kakak dari wanita yang harusnya ia nikahi, Zayn Venofit. Sean mulai panik karena ia berpikir saat ini keadaan mereka sedang dirugikan. Jenderalnya terluka parah dan hampir semua prajuritnya juga terluka.
'Bagaimana ini? Kita akan benar-benar kalah kah?', pikir Sean frustasi.
"Sayang sekali ya pangeran, kali ini kamu yang dirugikan, semua jenderalmu dan prajuritmu yang akan menemui ajal mereka tidak lama lagi, terimalah kenyataan kalau hari ini adalah hari kematianmu dan hancurnya Belugart", ujar Zayn dan tertawa keras karena puas melihat Sean terpojokkan.
"Siapa bilang kami tidak memiliki jenderal dan prajurit kami akan mati?", tiba-tiba suara Mayla memecahkan tawa Zayn, ia berjalan mendekati Sean dan Zayn.
"Seorang Mayla tidak pernah membiarkan muridnya kalah dan mati di medan perang sekalipun ia adalah seorang prajurit biasa, karena mereka sudah menerima latihan dariku, mereka adalah muridku, maka tidak akan kubiarkan satu pun muridku mati hari ini. SEMUANYA!! MAKAN PIL KALIAN!!", perintah Mayla kepada para prajurit Belugart, mereka pun langsung memakan pil yang ada di dalam saku di sabuk pinggang.
"Kamu pikir mereka selemah itu? Aku memberi mereka latihan khusus, bagaimana mungkin mereka akan kalah?", Mayla tersenyum puas.
Swishhh.....
Seketika para jenderal yang tadi terluka parah di awal perang muncul dengan keadaan sangat baik. Tidak ada luka sedikitpun, energi mereka pun terisi penuh saat ini. Mayla menciptakan ruang hampa rahasia di area para prajurit Belugart agar mereka bisa memulihkan diri.
"Aku membuat mereka berlatih sambil bekerja, dengan begitu mereka bisa sedikit bersantai namun latihan mereka tidak pernah berhenti, meski hanya salah sedikit, aku menghukum mereka dengan pukulan yang sakit, aku menjemur mereka dibawah terik matahari seperti saat perang. Aku menyuruh mereka bermain tarik tambang dan balap karung, dan jika kalah, aku akan memukul mereka, mereka berlatih sambil bermain dan membuat mereka tidak frustasi dengan latihan. Setiap aku memukul mereka, aku membuat mereka merasakan sakit berkali-kali dan membuat mereka merasakan sakit seperti saat perang. Aku menyuruh mereka menangkap ikan dengan tangan, membuat mereka memiliki kesabaran. Aku menghukum mereka dengan menyuruh mereka menyelam dalam air dalam waktu lama, agar mereka bisa merasakan bahwa inilah akibatnya jika mereka tidak sabar saat perang, mereka tidak akan bisa bernapas dengan mudah. Aku melatih mereka menggunakan teori sekaligus memberi mereka pengalaman, meski banyak dari prajurit berpengalaman kami yang dicuri Vorges dan terpaksa melatih rakyat biasa untuk berperang, aku membuat rakyat Belugart merasakan pengalaman perang yang sesungguhnya. Kamu pikir kamu sudah sehebat apa mau membunuh muridku? Aku membuat ratusan pil obat selama mereka latihan karena aku tahu kita akan kalah jumlah dengan munculnya kalian. Taktik muncul tiba-tiba kalian tidak akan mengejutkanku, kau pikir aku tidak akan mengamati Thanderos? Aku tidak sebodoh itu. Strategiku lebih kuat dari seluruh pionmu itu.", jelas Mayla sambil tersenyum puas. Perkatannya membuat Sean berpikir dan mengingat semua latihannya. Zayn dan Vorges pun kaget mendengar ini.
"Siapa kamu?", tanya Zayn.
"Aku? Kau penasaran ya karena mata-matamu itu tidak memberitahukan apapun tentang latihan kami kan? Mataku ini selalu mengintai mereka, tidak ada yang akan memberitahumu kalau perhatianku melekat pada mereka", jawab Mayla.
"Kamu berpikir ini akan membuatku takut? Tidak akan!"
"Siapa bilang untuk membuatmu takut? Aku hanya ingin berterima kasih padamu karena memberi waktu untuk prajuritku pulih", tukas Mayla puas.
Mayla memberitahukan ini kepada mereka untuk mengulur waktu agar para prajuritnya bisa memulihkan diri sepenuhnya setelah memakan pil obat mereka. Saat disadari, para prajurit Belugart kini sudah sembuh sepenuhnya dan berenergi seperti saat memulai perang. Hal itu membuat Sean, Vorges, Zayn dan Ryon kaget.
"Mau melawanku? Belajarlah seratus tahun lagi!", ujar Mayla sambil menekankan kalimat 4 kata terakhir.
"Cihh, kalian kalah jumlah saat ini, lebih baik kita mengakhirinya, lagian kami memiliki 3 orang tingkat pembentukan diri level akhir, meski Sean sudah mencapai tingkat pengendalian akhir, kau hanya tingkat pembentukan diri level ke-7, dan para jenderal itu bahkan tidak sampai tingkat pembentukan diri level 5, kalian akan kalah", ujar Zayn sambil memandang remeh.
'Benar kata Zayn, apa benar-benar akan kalah?', keluh Sean dalam hatinya dan merasa putus asa.
"Kau meremehkanku? Ingatlah! Aku bisa membunuhmu hanya dengan mengedipkan sebelah mata."
"Baiklah, kita lihat saja nanti, mari kita mulai saja."
"SERANG!!", sorakkan dari kedua belah pihak yang menandakan bahwa perang sudah dimulai.
Saat ini Sean melawan Vorges dan Emily muncul secara tiba-tiba dan menyerang Ryon, sedangkan Mayla saat ini masih terdiam ditempatnya dan berhadapan dengan Zayn.
"Mayla...., nama yang cantik, bagaimana jika aku mengampuni nyawamu dan memberikanmu kesempatan untuk memohon untuk menjadi selirku, sejujurnya kamu ini sangat menarik, akan sangat disayangkan jika aku membunuhmu haha", ujar Zayn dengan tatapan menggoda.
"Jangan bermimpi", sahut Mayla dingin.
"Huhh sombong sekali, lagian aku juga tidak akan kalah, aku masih punya satu kejutan rahasia, aku akan menunggumu memohon nanti", ujar Zayn santai.
Mayla mendekatkan wajahnya ke telinga Zayn dan saat ini bibir Mayla sudah hampir menyentuh telinga Zayn. Zayn berpikir bahwa wanita didepannya ini mulai luluh dengannya.
"Sihir Roselie tidak akan berfungsi selama aku disini, Zayn sayang", bisik Mayla sambil menyeringai. Hal itu membuat Zayn sangat terkejut karena Mayla bisa mengetahui pion rahasianya. Ia melihat ke arah Roselie dan menyadari bahwa saat ini Roselie sedang kesusahan menggunakan sihirnya. Zayn mulai bertanya-tanya soal Mayla yang misterius, bertanya-tanya seberapa kuat wanita didepannya ini. Disisi lain, Sean yang melihat mereka menjadi tidak fokus dan memikirkan hal lain saat bertarung.
'Apa yang wanita itu pikirkan?! Bagaimana dia bisa bermesraan saat perang?!', gerutu Sean dalam hatinya dan melihat mereka terus-menerus. Buyarnya fokus Sean membuat Vorges berhasil melukainya di bagian punggung.
'Bodoh! Kau jangan gagal fokus saat perang', ujar Mayla saat telepati dengan Sean.
'Kau yang bodoh! Lagi perang malah bermesraan, huhh!', Sean kesal dan akhirnya ia kembali fokus pada pertarungannya dengan Vorges.
'Ada apa dengannya?......', pikir Mayla setelah memutus telepatinya. Dan ia baru sadar bahwa ia melupakan satu hal, Emily. Tujuannya membantu perang ini adalah untuk membantu Emily membalaskan dendamnya. Ia hendak pergi ke tempat Emily dan Ryon, namun Zayn belum menyerah dan menghadang Mayla. Ia bersiap menggerakan pedangnya ke arah Mayla, namun terjadi hal tidak terduga lagi.
'Ada apa ini? Aku merasa kehilangan kendali atas diriku sesaat, dan dia tiba-tiba sudah pergi', pikir Zayn dalam hatinya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ditempat lain.......
"Lama tidak berjumpa Ryon, harusnya kamu ingat aku karena penampilanku masih sama seperti saat kita terakhir bertemu", ujar Emily.
"Kau?! Emily?! Kenapa kau ada disini? Aku ingat kau sudah mati, bagaimana bisa?!", ujar Ryon kaget.
"Aku menjadi roh gentayangan di danau Emily, sampai ia menemukanku dan membuat kontrak denganku. Dengan energinya, akubisa membentuk wujud manusiaku meski hanya sebuah proyeksi,", jelas Emily.
"Siapa dia?!"
"Dia? Dia adalah cucumu, putri dari Verick Rougrish, anakmu yang dibunuh oleh saudaranya sendiri, Maylareen Rougrish."
"Bagaimana bisa?! Verick tidak pernah memiliki anak!"
"Verick mengadopsinya dan menyatukan darahnya dengan Mayla".
"Bagaimana bisa?!"
"Sudahlah, jangan banyak omong kosong lagi. Bagaimana? Apa kamu nyaman hidup menggunakan jantungku yang ada disini?", ujar Emily sambil menyentuh dada Ryon dan menunjuk bagian jantung.
"Huhh, ternyata kamu masih belum bisa merelakan jantungmu, mengapa? Lagian aku lebih pantas hidup daripada dirimu kan, kakak?", sahut Ryon sambil tersenyum santai.
"Kau masih tidak tahu diri!! Hari ini aku sendiri yang akan mencabut jantungku dari dalam tubuhmu!", emosi Emily meningkat dan tangannya itu hampir merobek kulit Ryon, sedangkan Ryon masih terjebak dengan ilusi yang diciptakan Emily.
"Tunggu Emily!", tiba-tiba terdengar suara yang membuat Emily menghentikan aksinya itu, tidak salah lagi, itu adalah Mayla.
"Kamu sudah matipun masih ingin mengotori tanganmu dan berbuat dosa?"
"Tapi ini alasanku masih didunia ini, bagaimana aku melewati kesempatan ini?"
"Biar aku saja, lagian aku sendiri sudah menampung banyak dosa, jadi sekalian saja."
Mayla mendekati Ryon, ia merobek kulit dan mematahkan tulang yang menghalangi jantungnya. Dengan tanpa perasaan, ia mencabut jantungnya dari dalam tubuh Ryon dan membawa jantung itu ke Emily. Emily yang saat ini sedang memegang jantung yang seharusnya berdetak untuknya, merasa tenang saat ini. Saat itu, ia juga merasa sedih karena ia harus pergi ke akhirat dan meninggalkan Mayla untuk reinkarnasi, karena jika tidak, ia akan mengambil daya hidup Mayla terus.
"May......, aku akan pergi."
"Pergilah."
"Apa kamu tidak bersedih?"
"Aku tidak ingin rohmu hancur disini dan tidak bisa reinkarnasi, aku masih ingin bertemu denganmu di kehidupan selanjutnya."
"Aih....., kalau begitu sampai jumpa, kamu harus hidup! Nikmati saja dunia ini, jangan kehilangan tujuan hidup lagi......", ujar Emily sedih, perlahan rohnya pun mulai menghilang.
"Sampai jumpa.......", ujar Mayla sambil tersenyum miris.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Mari kita akhiri saja permainan ini."
'Pengendalian darah, aktif', Mayla mengaktifkan sihir yang mampu mengendalikan darah yang ada dalam seseorang.
"Pecah!"
Seketika para prajurit Thanderos yang masih hidup meledak. Pembuluh darah mereka dipecahkan oleh Mayla dan sekarang daging para prajurit itu hancur berkeping-keping. Mereka yang hidup dan melihat itu seketika merasa takut, ini adalah kejadian yang memang menakutkan untuk dilihat
"Vorges....., ingatlah aku sebelum penderitaan datang padamu! Aku adalah Maylareen Rougrish, putri Verick Rougrishdan Larry Rougrish. Aku adalah anak yang orang tuanya dibunuh olehmu. Rasakan saja penderitaan ini, aku bersumpah kau akan hidup dalam seratus tahun kedepan, tetapi kau akan mengalami penderitaan terbakar api setiap malamnya hingga kau ingin matipun tidak bisa. Itu adalah sumpahku pada dewa, jika mereka tidak mendengarkan sumpahku, maka aku akan menjadi dewa agar bisa mewujudkan keinginanku. INI ADALAH SUMPAHKU!! INI ADALAH KUTUKAN DARIKU MESKI AKU SEORANG PENDOSA!! Jika kalian para dewa tidak mendengarkanku, aku sendiri yang akan menjadi seperti kalian dan menghukum Vorges."
Seketika tubuh Vorges saat ini berubah menjadi warna gelap, di dahinya muncul juga tanda x yang merupakan tanda kutukan, yang artinya.....kutukan itu berhasil.
"Dan kau Zayn......pulanglah ke negerimu, hiduplah dengan tenang dan buat rakyatmu makmur. Mereka tidak salah, tidak seharusnya dihukum."
Mayla pun pergi menjauhi medan perang. Sean pulang membawa kemenangan untuk Belugart. Hal ini disambut baik oleh seluruh rakyat. Saat seluruh prajurit kembali, mereka tidak kekurangan obat-obatan ataupun makanan karena panen lahan sangat besar akibat hasil dari latihan para prajurit. Akhirnya Belugart pun menang tanpa mengalami krisis dalam pangan dan obat-obatan meski mereka baru selesai perang.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Maafkan aku karena sempat meragukanmu....", ujar Sean.
"......"
"Raja menawarimu posisi mayor jenderal, apakah kau mau?"
"Tidak, aku bukan orang yang ingin memiliki kekuasaan dan tanggung jawab, aku lebih suka menjelajahi dunia luas ini, jadi besok aku akan pergi dari sini."
"Kenapa harus pergi?! Apakah disini tidak bagus?! Kau sangat dihormati disini, kenapa masih ingin pergi?!"
"Aku tidak ingin dihormati, aku lebih suka hidup sendiri, kau harus mengerti", tukas Mayla dan langsung pergi setelahnya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sekarang....aku hidup sendiri lagi......