
Babak selanjutnya yaitu memanah sambil menunggangi kuda akan dilaksanakan minggu depan. 2 peserta yang berhasil masuk ke final adalah Ghezee dan Mayla. Pertarungan mereka minggu depan akan menjadi pertarungan puncak dari perlombaan Amune tahun ini.
"Dikarenakan hari sudah mulai malam, kita akan melanjutkan kompetisi ini minggu depan, dan, minggu depan kita juga akan menambahkan satu kompetisi, yaitu kompetisi antarpenyihir."
Setelah penguman selesai, semua murid ramai membicarakan tentang kompetisi antarpenyihir. Sudah 7 angkatan tidak ada kompetisi sihir karena biasanya yang berhasil di ilmu sihir hanya satu atau bahkan tidak ada. Namun tahun ini, pasti lebih dari satu karena diumumkannya kompetisi ini.
Minggu depan.....
"Kompetisi memanah dan berkuda akan segera dimulai, peserta finalis dimohon bersiap dan memasukki arena pertarungan", ujar kepala sekolah.
Hehh.., aku akan melepas kain hitammu itu agar mereka bisa melihat wajah burukmu, ujar Ghezee sambil tersenyum miring.
Pertarungan akhirnya dimulai, saat ini Mayla menempati posisi dibelakang Ghezee. Sasaran pertama adalah panah di samping arena, Ghezee menembak panah tepat sasaran, disusul oleh Mayla. Mereka terus seperti itu hingga Mayla menyusul Ghezee dan berada di paling depan, ia memanah setiap sasaran dengan tepat, membuat para penonton terkejut dan terkesima.
Dasar gadis miskin....., aku akan melakukannya sekaran dan ini akan mengacaukan konsentrasimu, ujar Ghezee memasang tampang kesalnya.
Ghezee mulai membidik sasarannya ke wajah Mayla dan ia langsung menembakan panah itu.
Srettt...
Panah itu membuat penutup wajah Mayla sobek dan juga melukai wajah Mayla. Setelah penutup wajah itu terbuka, Ghezee langsung menyusul Mayla dan berada di garis depan.
Semua orang melihat wajah Mayla yang tifak tertutup seperti dulu, yang dilihat sekarang adalah wajah dengam proporsi sempurna.
Diantara ramainya penonton, ada pemuda yang melihat wajah Mayla terkejut dan terpesona akan wajah cantiknya itu, Seandrick. Mata yang menatap tajam dengan bulu mata yang lentik, alis yang rapih, kulit putih dan mulus, bibir berwarna merah muda alami, hidung yang mancung, pipi yang sedikit merona dengan goresan luka berdarah di pipi kanan, dia terlihat seperti wanita cantik yang tangguh dan terlihat seperti petarung wanita didukung oleh pakaian dan proporsi tubuhnya.
"Kenapa pipimu merona?", tanya Allen.
"Siapa yang merona, aku baik-baik saja", ujar Sean mengelakmengelak sambil mengondisikan wajahnya.
Sementara itu, Ghezee yang tidak melihat wajah Mayla tetap berkuda dan hampir sampai pada rintangan terakhir yaitu menembak apel yang di atas kepala seorang pelayan. Mayla langsung lanjut berkuda menyusul Ghezee. Saat Ghezee akan menembakan panahnya, Mayla melihat bahwa sasaran tersebut bukan mengarah ke apel melainkan ke kepala sang pelayan. Ia mulai mempercepat pergerakannya dan mulai menyusul Ghezee. Saat Mayla menyusul Ghezee dan berada di garis depan, Ghezee terkejut melihat wajah Mayla dan itu membuatnya geram, ia langsung menembakan panah agar tidak didahului oleh Mayla. Mayla yang melihat itu langsung menggerakan kudanya ke arah sang pelayan yang terdapat apel di atas kepalanya, para penonton menyadari bahwa panah itu sedikit tidak pas dan bisa mengenai kepala pelayan itu, namun mereka hanya diam saja karena bagi mereka pelayan hanyalah pelayan. Tetapi mereka heran dengan pergerakan Mayla yang malah menunggangi kuda ke arah pelayan itu.
Mayla yang sudah dekat dengan sang pelayan melemparkan dirinya dari kudanya dan menghadang panah itu.
"Akh"
Panah itu menancap di punggung Mayla dan terdengar suara Mayla yang kesakitan saat panah itu menancap dipunggungnya. Para penonton, pengurus sekolah, hingga pihak kerajaan yang melihat itu terkejut dan bangun dari tempat duduk. Mayla yang jatuh tergelepak di tanah bangun dan mencabut panah itu. Terlihat wajahnya yang menahan sakit dengan keringat mengucur di dahinya.
Setelah panah itu tercabut, darahnya mengucur deras. Mayla mulai mengeluarkan sihir berwarna hijau dan mengarahkan sihir itu kedadanya yang bercucuran darah. Setelah beberapa saat, darah yang bercucuran mulai berhenti dan lukanya mengering. Mereka yang melihat peristiwa itu terkejut karena didepan mereka terdapat gadis berumur 14 tahun yang bisa menggunakan sihir healing yang memang sangat sulit untuk mempelajarinya.
Tidak sia-sia aku tidur 2 jam dalam sehari dan pergi ke perpustakaan sihir kerajaan, ini bisa menolongku ternyata, huft....
"HEI! KAU INI TIDAK WARAS YA?!", kata dayang kerajaan yang tiba-tiba berteriak kepada Mayla.
"Nona, kau di suruh menghadap Raja", kata seorang prajurit.
Salah apa? Kok dipanggil, ah udahlah ke sana dulu, risih Mayla dalam hatinya. Saat Mayla sampai di temoat duduk keluarga kerajaan, ia melihat ke arah Sean yang sedang meperhatikannya.
"Hamba menghadap yang mulia", ujar Mayla sambil membungkukkan badannya, tentunya ia sudah belajar etika kerajaan.
"Kenapa kau menyelamatkan pelayan itu? Bagaimana jika orang luar tahu tentang ini dan berpikir bahwa sekolah ini membahayakan muridnya?", tanya Raja.
"Hamba menyelamatkan pelayan itu karena rasa kemanusiaan, jika anda takut orang-orang berpikiran negatif karena sekolah ini akan membahayakan muridnya kenapa anda tidak takut jika orang-orang mengetahui bahwa pelayan disini dijadikan bahan permainan?", Mayla berbalik menanya.
"Karena dia hanyalah pelayan, dan lagi ini hanyalah kecelakaan yang tidak akan terulang nantinya", kata sang Raja.
"Meski seorang pelayan, nyawa tetaplah nyawa. Walaupun anda seorang Raja, dimata Tuhan semuanya sederajat. Dan satu lagi, kecelakaan itu akan terulang jika sebab nya belum dihilangkan", Mayla menjawab dengan lantang tanpa memikirkan konsekuensinya nanti.
"KURANG AJAR! BAWA DIA KE PENJARA! Beraninya menyamakan Raja dengan pelayan", ujar seorang perdana menteri.
Para prajurit menarik paksa Mayla dan mencoba membawa Mayla keluar arena pertarungan.
"Lepas! Aku bisa sendiri", ujar Mayla sambil melepaskan tangannya yang di tarik paksa oleh prajurit itu.
Setelah Mayla dibawa kepenjara, suasana menjadi hening dan tidak ada seorang pun yang berani berbicara.
"Gadis itu berpotensi", ujar Raja.
Darimana ia mendapat kewibawaan itu diumurnya yang hanya 14 tahun, tanya Sean pada dirinya sendiri.
Setelah kejadian itu, perlombaan sihir dibatalkan karena salah satu peserta tidak akan hadir sedangkan seharusnya ada 2 peserta yang dilombakan, mereka adalah Mayla dan Roselie.
Dipenjara.....
'Ini ga kebalik nih? Perasaan yang membunuh yang dipenjara, kok ini yang ngebela yang dipenjara...,' ujar Mayla dalam hatinya.
Setelah kejadian hari ini, perlombaan ditutup. Mayla yang bosan dipenjara mulai melatih sihirnya. Keadaan sekolah masih sama setelah perlombaan itu, hanya saja 1 murid sekolah Amune sedang ada di penjara kerajaan.
"Bagaimana jika ibu mengetahui ini? Dia pasti kecewa", ujar Mayla sambil memasang tampang suram. Mayla sedang merebahkan tubuhnya di tumpukan jerami, menurutnya, ini adalah waktu istirahat yang tepat karena sebelumnya Mayla memang jarang tidur.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Baru kumpul niatnya, jadi baru update :(.