
"Sekarang aku bingung harus apa......."
Setelah perang selesai, Belugart merayakan festival bulan penuh sekaligus merayakan kemenangan mereka. Masing-masing orang Belugart membuat lampion bulan dari kertas yang akan dinyalakan dimalam bulan purnama. Didalam lampion bisa diisi sebuah surat keinginan, mereka percaya dewi bulan akan mengabulkan keinginan yang ada disurat itu. Mayla juga mengikuti festival ini dan membuat lampionnya sendiri. Pada malam harinya, Mayla mengubah penampilannya menjadi Dregar karena tadi pagi ia menolak ikut dan berkata akan pergi.
'Jika dewa benar-benar tidak pelit, maka kabulkanlah permintaanku' Ujar Mayla dalam hati saat ia hendak menerbangkan lampionnya.
"Hei, kau ikut juga ya ternyata. Tiba-tiba terdengar suara yang membuyarkan lamunan Mayla. Sean datang membawa lampionnya dan menerbangkannya disamping Mayla.
"Jika dewa benar-benar murah hati, kabulkanlah permintaanku." Ujar Sean saat ia menerbangkan lampionnya.
"Dregar, apa permintaanmu?" Tanya Sean.
"Rahasia" Jawab Mayla dalam bentuk tulisan sihir.
"Kau bisa sihir sama seperti dia. Kau tahu? Sekarang aku sudah lebih hebat darimu karena dia, tapi aku harus terus berlatih agar aku bisa berjalan sejajar dengan dia. Kalau kami sedang bersantai, aku merasa dekat sekali dengannya, tetapi jika kami sedang bertarung, aku merasa duniaku jauh dibawahnya."
'Yang dia maksud itu aku ya?' Tanya Mayla dalam hatinya.
"Sudahlah, yang penting ada kamu, dia pergi dan aku harus melupakannya. Kamu juga jangan pergi, kalau tidak aku akan benar-benar bosan tidak ada teman main."
'Teman....' pikir Mayla dalam hatinya sambil tersenyum di balik penutup wajahnya.
"Dia sepertinya sudah pergi tadi siang, untuk apa juga aku membuat surat keinginan pada dewa agar dia bisa kembali, sudah terlambat kan..... Sudahlah ayo kita pergi ke pasar malam, disana seru."
'Aku tidak pernah meninggalkanmu dan sekarang ada bersamamu.'
Permintaan Mayla adalah ia ingin memiliki teman dalam hidupnya yang sepi, dan permintaan Sean adalah ia berharap bahwa Mayla tidak akan pergi meninggalkannya.
'Semoga kau tidak meninggalkan aku juga. Mungkin tujuan aku dilahirkan kembali disini adalah untuk memberi pelajaran padaku agar tidak membuang-buang hidupku. Maka sekarang aku....akan hidup dan mendapatkan kebahagiaanku.'
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ditempat lain........
"Sepertinya orang yang akan menurunkan kekuatanku sudah bersiap."
"Kenapa harus repot-repot menggunakan jiwa masa depan?"
"Entahlah, aku suka dia."
"Bikin repot saja."
"Suka-suka dong, kan bebas pilih."
"Ya...ya...terserah kau saja."
"Lagian kau juga sama-sama mendatangkan jiwa masa depan kan? Untuk apa?"
"Eum.......untuk bermain-main saja."
"Kau pikir ini mainan?!"
"Selama aku senang, akan kusebut bermain."
"........"
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Mayla menjalani hari-harinya bersama Sean sebagai Dregar, Sean yang dulu ia kenal saat masih sekolah adalah laki-laki yang dingin, tetapi semenjak ia menjadi pengawal pribadinya, ia hanya mengenal Sean yang hangat dan baik. Sewaktu ia menjadi guru dan selalu membuat Sean kesal, sifat yang sering muncul juga kekanakannya. Mungkin Sean hanya suka bersikap hangat pada orang-orang yang dipercayainya. Namun sampai saat ini, Mayla masih membohongi temannya itu. Entah kapan akan terungkap, ia hanya bisa menikmati momen ini sekarang.
"Hei Dregar, ayo gendong aku sampai halaman belakang!" Sean menyuruh Mayla menggendongnya, namun Mayla hanya terdiam melihat Sean.
'Dia ini tidak sadar diri atau gimana sih?' Gerutu Mayla dalam hatinya.
"Kenapa diam saja? Ayo gendong aku atau aku akan menaruhmu di rumah bordil." Sean mulai mengancam Mayla, Mayla berhasil dibuat kesal olehnya sampai akhirnya ia setuju.
'Kenapa harus rumah bordil?'
Mayla menuruti perintah Sean dan menggendong Sean di punggungnya. Mereka menuju halaman belakang untuk melakukan aktivitas rutin mereka yaitu berlatih.
'Kalau ga ada sihir, aku pasti tidak akan kuat menggendongnya.'
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sekarang istana sedang mempersiapkan acara besar yaitu acara ulang tahun Seandrick. Hal itu disambut antusias oleh kalangan bangsawan ataupun rakyat biasa. Acara ini nantinya akan dihadiri oleh berbagai perwakilan dari kerajaan kecil yang merupakan tetangga Belugart. Perwakilan Kerajaan Thanderos juga akan hadir. Kini Thanderos dipimpin oleh Zayn setelah Raja sebelumnya turun tahkta.
Malam Perayaan......
"Selamat ulang tahun, Sean...." Ujar kedua orang tua Sean saat mereka sedang dikamar untuk bersiap.
"Terima kasih ayah, ibu. Oh iya, dimana Dregar?" Tanya Sean sambil melihat-lihat.
"Ibu tidak tau, sejak pagi tidak melihat dia."
'Kemana dia? Apa dia tidak akan datang di hari ulang tahunku?'
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Seluruh tamu sudah hadir di istana dengan penampilan yang rapi dan baju mereka yang sangat bagus. Acara dimulai dengan perjamuan makan dan diakhiri dengan pemberian ucapan selamat ulang tahun dan hadiah. Namun Sean nampak kecewa karena ia tidak melihat Dregar sejak pagi tadi. Ia juga kecewa karena ia tidak melihat Mayla hadir, padahal ia sudah memberitahukannya saat Mayla hendak pergi.
Ditempat lain......
"Baiklah, sekarang ayo kita pergi ke istana. Tunggu, aku tidak memiliki pakaian yang bagus, yang ada aku dikira pengemis dan diusir." Mayla mulai memikirkan apa yang harusnya ia pakai, ia terpikir untuk membeli baju di pasar malam, namun ia tidak punya uang sepeserpun saat ini.
"Apa iya aku harus mencuri? Aishh mana mungkin."
"Hei! Tolong! Ada pencuri! Kejar dia!" Tiba-tiba saja Mayla mendengar ada seorang gadis yang berteriak kencang dan terlihat berlari ke arahnya bersama seorang pria.
"Eh, aku bahkan belum mengambil apa-apa dan sudah diteriaki pencuri? Yang benar saja!" Mayla hanya diam ditempat dan berpikir apa kesalahannya, tetapi ia melihat pria yang tadi berlari bersama gadis itu melewatinya, ia hanya mengedipkan matanya sekali dan memasang wajah tanpa ekspresi.
"Dasar bodoh! Ia tepat disampingmu tadi, kenapa tidak menangkapnya?!" Ujar gadis itu kesal.
"Hahh? Dia pencurinya?" Mayla bertanya dengan santainya sambil memasang tampang tak bersalah.
"........" Seketika hening dan gadis itu bersama warga hanya memasang wajah tercengang.
"Oh, maaf hehe. Jangan begitu serius, aku akan mengganti rugi oke? Hehe." Mayla hanya tersenyum canggung dan tidak sadar akan yang ia ucapkan.
"Tunggu! Kamu! Kamu Maylareen?!" Tanya gadis itu kaget.
"Kamu mengenaliku?"
"Tentu, aku Steffany, apa kau sungguh lupa padaku?"
"Oh....haha....ya....kau terlihat lebih putih dan cantik."
"Sebenarnya ayahku menyuruhku mandi susu dan merias wajah agar bisa mendapatkan pria di acara ulang tahun pangeran, tetapi saat disana ayahku hanya menyuruhku untuk terus senyum senyum dan senyum, bayangkan betapa pegelnya pipiku. Sudahlah, aku lebih baik kabur dan pergi ke pasar malam, namun siapa sangka, kantong uangku di curi."
"Pfft...."
"Jangan meledekku. Kita sudah lama tidak bertemu, tapi saat bertemu, kau malah menertawaiku."
"Maaf...."
"Sudahlah, apakau berencana ke acara ulang tahun Pangeran Sean?"
"Iya."
"Bagus sekali, ayo kita pergi ke sana bersama."
"Tunggu, kau yakin aku bisa masuk dengan pakaian ini?"
"Aiahh, pakaianmu seperti pakaian pengemis saja. Ayo kita ke toko pakaian dan memilih baju untukmu."
"Tapi....itu....tidak ada uang."
"Tidak apa, itu toko pakaian milik keluargaku, ayo!"
"Eh....."
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Allen!" Teriak seorang gadis.
"Hei....kemana saja? Sejak tadi aku tidak melihatmu."
"Tadi aku pergi ke pasar malam karena bosan dan sedikit lapar."
"Oh yasudah, ayo kita masuk."
"Ayo! Ayo May...." Ajak Steffany sambil menarik tangan Mayla.
"Eh?!! Kamu! Kamu gadis licik itu kan?!!" Allen terkejut saat melihat Mayla.
"Bisakah kita lupakan masa lalu? Dan lagi, kenapa kau punya hubungan dengan Allen?" Tanya Mayla ke Steffany.
"Eh...itu...sebenarnya dulu saat kita sudah kelulusan, Allen bilang kalau dia menyukaiku." Ujar Steffany sambil tersenyum canggung.
"Lalu kau....apa kau lupa kalau aku pernah bilang bahwa dia ini seorang playboy?"
"Playboy?" Tanya Steffany dan Allen kebingungan.
"Aish....aku lupa, playboy itu sebutan untuk pria yang suka bermain wanita."
"SEMBARANGAN!" Ujar Allen kesal.
"Apa? Faktanya aku melihatmu berciuman dengan banyak wanita berbeda setiap harinya."
"Hei! Aku sudah berubah! Sekarang bibirku ini hanya untuk Steffany."
"Cih....bikin muntah saja."
"Kau!"
"Sudahlah, kenapa berdebat terus, lebih baik kita menemui Pangeran." Ujar Steffany melerai.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sedikit pemberitahuan aja, update selanjutnya mungkin agak lama, karena aku mau ikut kontes, maaf ya. Oh iya, terima kasih untuk kalian yang udah mau like and comment ceritaku, jangan lupa buat kasih sarannya ya.