
Semua murid berkumpul di aula untuk pembagian kelompok belajar.
"Hei.., kudengar ada anak jelata yang masuk tahun ini, aku sudah meminta ayahku untuk mengatur semuanya agar aku tidak satu kamar ataupun satu kelompok dengannya hhaha", ujar gadis bernama Ghezee Loraine yang kemarin mengejek Maylareen saat pembagian asrama.
"Aku juga sama, sekamar dengannya? Aku tidak berpikir akan jadi apa kamarku", susul gadis lain bernama Ellen Stockhorms, teman dari Ghezee.
Kalian membicarakan sesorang harusnya lebih kecil, tidak ada bakat bergosip kok ngegosip, pikir Mayla dalam hatinya sambil sedikit menertawakan mereka dalam pikirannya.
Saat ini Mayla dan Fanny berjalan bersama. Karena penampilan Mayla, mereka terlihat seperti majikan dan pelayannya. Namun Mayla tidak peduli dengan ini, dia merasa dirinya memang seperti ini, mau bagaimana lagi?
Mayla mulai mencari tempat duduk lalu memilih tempat duduk dipojok paling belakang. Entah kenapa Fanny terus mengikuti Mayla, itu-pun mengundang banyak perhatian. Dia merasa sedikit tidak nyaman dalam hatinya. Salahku apa? Keluhnya dalam hati.
Krakk...(suara pintu terbuka)
Saat pintu itu terbuka, keadaan tiba-tiba menjadi riuh. Mereka berdua mulai penasaran dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat 2 pangeran yang sedang masuk sambil mencari tempat duduk. Mayla sedikit terkejut dengan pangeran yang berjalan dibelakang, oh Tuhan...., dia pemuda tadi pagi yang kulihat sedang berciuman, kuharap dia melupakan wajahku, resah Mayla dalam hati.
Ya, dia adalah pemuda tadi pagi yang dilihat Mayla sedang berciuman. Waktu itu Mayla sedang memeriksa keadaan ruangan gelap itu, tiba-tiba pintu terbuka dan saat Mayla melihatnya, ada 1 pasangan yang sedang berciuman, dia merasa menyesal karena memeriksa tempat itu. Ia langsung pergi agar mereka tidak melihat wajahnya. Semoga mereka tidak melihat wajahku.
Saat ia mulai sadar dari lamunannya, tiba-tiba ada 2 orang yang duduk disamping Fanny. Mayla disamping dinding kayu, Fanny di samping-nya dan 2 orang itu disamping Fanny. Oh Tuhann...., pria itu, semoga dia tidak mengingatku, Mayla resah dalam hati dan mengulangi kata-kata itu sambil menutupi ekspresi takutnya dan memasang wajah tenang dengan pandangan mata kebawah.
"Halo, nona", suara itu terdengar jelas ditelinga Mayla namun ia berpikir bahwa pemuda itu tidak berbicara dengannya melainkan berbicara dengan Fanny.
"Nona?? Hei??", Mayla mencoba menengok ke samping karena Fanny menepuk pundaknya dan Mayla mencoba melihat ke sekitarnya.
"Iya kau, kenapa terlihat bingung haha", ujar pemuda itu sambil tertawa.
Mayla hanya menatap kelakuan pemuda itu, Mayla berpikir untuk berpura-pura lupa jika seandainya pemuda itu mengingat Mayla tadi pagi.
"Kau harus membayar mahal atas pertunjukkan tadi pagi nona, haha", dia berbicara sambil sedikit menunduk agar dapat melihatku yang terhalang tubuh Fanny.
Mataku sedikit membesar karena terkejut dia mengingatku namun aku kembali memasang wajah tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Mayla menaikkan alisnya dan memasang wajah tidak mengerti.
"Ayolah nona, kau tidak usah berpura-pura, kau yang tadi pagi melihatku kan?", tanyanya menuntut.
Hmm....aku tahu apa yang harus kulakukan, ucap Mayla dalam hati dengan sedikit seringaian yang bisa dibilang tak terlihat saking kecilnya.
"Aku? Tadi pagi? Memang kejadian apa?", tanya Mayla.
"Kejadian saat aku berciuman tadi", ucapnya.
"Apa?! Kau berciuman dimana dan dengan siapa tadi pagi?! Pantas aku tidak melihatmu saat aku bangun.", ujar laki-laki disebelahnya dengan keras dan membuat semua murid melihat kearah mereka.
"Hei! Kau tidak bisa pelan sedikitkah? Aku bisa dapat hukuman kalau gini", ucapnya ketakutan.
"Allen! Apa yang kau lakukan tadi pagi?", tanya seorang madam.
"Ahaa, itu madam, aku.., aku.., ah iya, aku tadi kedapur untuk cuci muka madam. Sean ini hanya mengada-ngada", jelasnya dengan raut wajah ketakutan.
Mayla menyeringai, ia menghadap tembok kayu agar tidak ada yang melihatnya namun Allen dan Sean sudah terlanjur melihatnya. Mayla langsung kembali memasang wajah tenangnya karena mereka berdua melihat kearahnya saat ini.
"Sudahlah, jangan bicara omong kosong lagi, kita akan langsung mulai pembagian kelompoknya", ujar madam dan semua murid langsung ke keadaan awal.
Gadis ini, beraninya menjebakku, dia pintar, tapi tidak akan berkutik jika berhadapan denganku, ujar Allen dalam hati sambil menyeringai.
Pembagian kelompok sudah dimulai, ada 4 kelompok yaitu, Rougrish, Eustacia, Liensder, dan Develone. Nama kelompok itu diambil dari nama jenderal militer Rougrish yang terkenal akan kekuatannya dalam perang, kepintaran dan kebijaksanaan perdana menteri Eustacia, kemampuan berbicara hakim kerajaan Liensder, dan kehebatan Develone dalam menggunakan sihir. Sekarang kepala kelompok di pegang oleh masing-masing keturunan dari mereka yaitu Verick Rougrish, Charles Eustacia, Zaren Liensder, Belle Develone. Jika dalam keluarga terdapat 2 keturunan, keturunan pertama akan mengisi jabatan dalam istana kerajaan dan keturunan kedua akan menjabat sebagai guru di sekolah Amune. Namun saat ini, Verick Rougrish dikabarkan gugur dalam medan perang, sedangkan mereka tidak memiliki keturunan kedua, bahkan Verick diketahui tidak memiliki anak karena ia masih muda dan baru menikah 4 tahun sedangkan Verick selalu menghabiskan waktu di medan perang. Akibatnya, sekarang posisi jendral militer kerajaan masih kosong. Raja berpikir akan mengambil jenderal dari sekolah tahun ini.
"Kenapa dia bisa di Rougrish sedangkan aku di Liensder?! Aku tidak terima, pindahkan aku ke Rougrish!", protes Ghezee.
"Maaf nona, tapi ini sudah keputusan dari pimpinan sekolah", jelas madam yang membagikan daftar kelompok.
"Aku tidak peduli!! Dan kau!! Aku akan menggantikannya di Rougrish!!", ia marah lalu menghampiri Mayla dan mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Mayla.
Mayla hanya terdiam melihat nya dan memasang wajah datar. Mayla tidak peduli dia akan masuk kelompok mana, dia hanya mengikuti anjuran sekolahnya. Jika ia melawan Ghezee sekarang, ia takut keluarga Ghezee akan melukai Larry-nya.
"Nona, tolong mengerti, ini sudah keputusan pihak kerajaan. Tidak bisa diubah."
"Aku akan minta ayahku untuk mengurusnya."
"Kau tidak mengertikah? Ini hanya kelompok, jangan membuatnya menjadi rumit", ujar Allen.
"Tapi..."
"Diam! Lanjutkan saja!", tiba-tiba Sean mengangkat bicara dan menyuruh madam melanjutkannya karena sepertinya ia sudah muak dengan tingkah laku Ghezee.
Saat pembagian kelompok sudah selesai, semua murid dikumpulkan ke asrama kelompok.
"Sepertinya kita ditakdirkan bersama May", kata Fanny.
Mayla hanya memandang Fanny aneh karena perkataannya itu.
"Kenapa?", tanya Fanny.
"Lebay", jawab Mayla.
"Lebay?", tanya Fanny sambil memiringkan kepalanya.
Mayla hanya tersenyum kecil melihat tingkah Fanny. Bagaimana Fanny bisa mengerti? Itukan kata modern.
Saat kelas dibubarkan, murid di perintahkan kembali ke asrama masing-masing dan belajar di asrama.
Saat malam, Mayla berganti pakaian dari gaun menjadi pakaian pria dengan penutup wajah.
"Saat kau tidak memakai benda aneh itu dan mengikat rambutmu ke atas. Kau terlihat sangat cantik. Tetapi kau menggunakan baju laki-laki, itu membuatmu seperti pria cantik", ujar Fanny sambil tertegun melihat wujud Mayla yang sekarang. Biasanya Mayla hanya menggunakan gaun lusuh dengan kacamata dan rambut yang terikat biasa. Bisa diakui dari awal Mayla memang berwajah cantik. Sedikit heran dengan benda aneh? Itu adalah kacamata, jaman ini masih belum ada kacamata, namun Mayla membuatnya sendiri menggunakan kayu dan kaca biasa. Sebenarnya meski Mayla memakai kacamata, ia tetap terlihat cantik, namun sayangnya baju lusuhnya itu membuat ia terlihat miskin dan sedikit 'kumal'.
"Nanti malam kau langsung tidur saja, jangan cari aku, aku akan keluar", ujar Mayla sambil merapikan barang-barang seperti buku dan baju dan memasukkannya kedalam tas kecil.
"Madam bilang kita tidak boleh keluar saat malam, nanti dihukum", Fanny menahan Mayla agar tidak pergi, namun Mayla tidak mendengarkannya dan tetap pergi. Fanny pun tidak ingin diam di kamar dan ikut Mayla keluar asrama setelah menggunakan baju yang sama seperti Mayla. Awalnya Mayla meminta Fanny kembali karena ia tidak ingin menanggung resiko keluar bersama gadis lemah. Ia khawatir jika ketahuan ia tidak bisa lari dengan leluasa karena harus membawa Fanny juga.
Mayla membawa Fanny ke halaman belakang secara mengendap. Setelah sampai ke halaman belakang, mereka berjalan menuju hutan lalu sampailah ke air terjun yang ada di dalam hutan.
"Kita mau apa disini?", tanya Fanny.
"Berlatih", jawab Mayla.
Mayla segera mengeluarkan buku, buku beladiri yang diberikan ayah angkatnya sebelum ia berangkat ke sekolah. Ayahnya Verick Rougrish yang notabennya adalah seorang jenderal militer kerajaan dari keluarga Rougrish yang gugur dalam perang itu.
Saat Mayla di temukan oleh Larry di samping jurang, ia dibawa pulang kerumah mereka dan saat itu ayah angkatnya akan pergi perang dalam 2 hari kedepan, lalu seminggu setelah ayahnya pergi, ada seorang prajurit istana yang membawa kabar bahwa jendral sudah gugur dalam perang meski sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan. Hal itu membuat keluarga Rougrish sedih.
Setelah menikah, Verick Rougrish pergi dari rumah keluarganya dan tinggal dipinggir hutan. Awalnya keluarganya menolak, tetapi saat Verick bilang tempat itu cocok untuk berlatih, akhirnya keluarganya setuju ia dan Larry pindah ke tepi hutan. Hal itu membuat keluarga Rougrish tidak tahu bahwa Maylareen sekarang adalah keturunan Rougrish meski bukan anak kandung.
Sejak kabar bahwa Verick Rougrish dikabarkan gugur, Larry sangat sedih dan membawa Mayla ke pinggiran kota dan menjadi rakyat biasa. Larry belum mengabari keluarga Rougrish karena ia masih sedih jika teringat nama Rougrish. Ia juga tidak siap jika Mayla dijadikan jenderal selanjutnya karena ia takut kehilangan Mayla sama seperti saat ia kehilangan Verick.
"Kau mendapatkan buku itu dari mana?", tanya Fanny saat melihat buku berjudul 'Kitab Rahasia Rougrish'.
"Jika kau berisik aku akan membawamu kembali ke asrama dan membuatmu pingsan", ujar Mayla.
Mayla mempelajari ilmu pedang, memanah, berkuda, dan pertarungan tanpa senjata. Teknik beladiri kuno ini tidak jauh dengan teknik beladiri modern sehingga Mayla hanya perlu berlatih sedikit. Namun, teknik tenaga dalam ini tidak dipelajari di masa depan. Ini merupakan kesempatan bagus untuk Mayla menambah ilmu beladirinya. Dan lagi, tenaga dalam keluarga Rougrish itu kuat, maka dari itu teknik pembelajarannya dirahasiakan.
Sebelum berlatih, Mayla melakukan latihan fisik agar tenaga dan stamina nya dapat lebih kuat dan menyamai tenaga pria. Ia juga berlatih merenggangkan uratnya agar bisa melenturkan tubuhnya.
"Kau sangat kuat, aku juga mau!", Fanny juga ikut mencoba melakukan latihan fisik seperti yang Mayla lakukan. Tubuhnya memang sedikit lentur karena mungkin karena ia bangsawan, ia belajar menari sehingga bisa melakukan 'atraksi' seperti 'split' yang dilakukan Mayla. Namun, tenaga nya itu sangat lemah karena notabennya ia adalah putri bangsawan.
Mayla sudah memiliki tenaga yang kuat sejak awal, bagaimana tidak jika ia bekerja part time mengangkat beban berat saat perjuangannya di masa modern.
Mayla dan Fanny akhirnya selesai berlatih, namun Fanny hanya ikut sebentar karena ia terlalu capek melakukannya. Mereka akhirnya berjalan kembali ke asrama, namun saat diperjalanan, Fanny tiba-tiba kelelahan dan duduk di tanah, penjaga sekolah menangkap basah mereka saat Fanny sedang duduk dan membawa mereka ke madam penjaga.
"Apa yang kalian lakukan malam-mapam begini?", tanya madam yang bertugas.
"Kami mencari udara segar setelah ke toilet karena tadi Fanny sedang sedih", jelas Mayla. Untung saja mereka sudah membawa pakaian biasa agar mereka tidak dicurigai saat pulang.
"Kenapa Fanny sedih malam-malam begini? Berikan alasan yang sedikit masuk akal, kalian harus mematuhi hukum yang berlaku!", ujar madam itu dengan nada tinggi.
"Ini bukanlah masalah yang bisa anda campuri, jika ini adalah sebuah privasi, anda tidak berhak mengetahuinya ataupun memaksa untuk mengetahuinya, dan lagi, kami tidak keluar wilayah asrama, hanya keluar dari kamar, jika ke toilet lalu duduk diluar sebentar, apa itu salah? Dalam peraturan sekolah, selama murid tidak keluar wilayah asrama ataupun sekolah, itu bukanlah masalah", jelas Mayla yang membuat madam sedikit terpojok.
"Yasudahlah...., kembali ke asrama kalian!", perintah madam itu yang akhirnya menyelesaikan sidang kecil itu.
Akhirnya Mayla dan Fanny kembali ke asrama tanpa dihukum.
"Untung saja kita tidak dihukum, tapi..., tadi kau berani sekali berbicara seperti itu kepada madam, aku tak habis pikir, apakah kita tidak keterlaluan?", ujar Fanny dengan perasaan menyesal.
"Jika tidak seperti itu, maka masalah itu akan berlangsung lama, untung saja penjaga melihat kita di dekat toilet dan tasku bisa kujepit diantara sela-sela kakiku, ini semua karena jalanmu yang terlalu lambat dan harus duduk pula", Mayla berkata sambil mengganti bajunya dengan piyama lalu bersiap untuk tidur. Fanny hanya sedikit merasa kesal karena Mayla menyalahkannya karena masalah tadi, tetapi ia memang sangat lelah dan tidak kuat untuk berlari lagi.
___________________________________
Thx for reading, cerita ini akan up hari senin setiap minggunya. Jangan lupa komennya ya readers.