
Saat ini Yoona dan Aiden sudah berada didalam mobil milik Aiden.
"Yoona." Aiden memulai pembicaraan, mengurangi kecanggungan diantara mereka.
Gadis itu pun menoleh pada pria itu.
"Ya?"
"Bisakah kau memanggilku tanpa embel-embel sajangnim jika diluar jam kerja atau saat kita tidak berada di kantor, kau bisa memanggilku Oppa?"
"Tapi.. apakah boleh seperti itu?" ucap Yoona ragu
"Hahaha, kau ini lucu sekali, ya tentu saja boleh Yoona, jujur saja, aku sedikit risih dengan panggilan sajangnim mu itu saat kita berada diluar kantor" Aiden sedikit tertawa dengan jawaban Yoona dan ekspresi yang ditampilkan gadis itu.
"Baiklah akan saya coba sajang.. eh maksudku Oppa"
"Terimakasih." Ucap Aiden tulus serta tangan kirinya terulur untuk mencapai puncak kepala Yoona, dan mengusapnya lembut, seketika perlakuan Aiden tersebut membuat hati Yoona bergetar.
...****************...
Aiden mengajak Yoona ke sebuah taman bermain yang terletak dipusat kota, mereka berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih, sungguh mereka terlihat serasi, terlebih warna pakaian yang mereka gunakan terlihat senada
Tangan Aiden mencoba meraih tangan Yoona dan menggenggamnya lembut. Yoona yang reflek karna perlakuan Aiden pun menghentikan langkahnya, dan menatap pria itu.
"Ada apa Yoona?".
Aiden berbalik menatap Yoona, dan bukan jawaban yang ia dapat, melainkan Yoona yang malah menatap kearah kaitan tangan mereka berdua.
"Apakah, kau keberatan aku melakukan ini?" tanya Aiden dan menunjukan kaitan tangan mereka.
"Ah, tidak, hanya saja..."
"Aku, menyukaimu Yoon"
Belum selesai Yoona terkejut atas tingkah Aiden yang menggandengnya, sekarang Aiden mengatakan bahwa dia menyukainya? Astaga kenapa atasannya melakukan ini padanya?
Yoona menelan salivannya dan mengerjapkan mata indahnya beberapa kali, menunjukan betapa terkejut dan gugupnya dia akan apa yang telah diungkapkan oleh Aiden. Dia masih mencerna apa yang baru saja didengarnya, dan juga jawaban apa yang harus ia berikan kepada Aiden.
Yoona menarik nafas panjang dan juga menarik tangannya dari genggaman Aiden. Mencoba untuk berhati-hati pada setiap kata yang akan dia ucapakan kepada Pria itu, sungguh dia tidak ingin menyakiti siapapun.
"Oppa, aku berterimakasih atas perasaanmu kepadaku, tapi aku rasa.. aku tidak berhak untuk menerimanya, meskipun aku ingin." Yoona menunduk setelah mengucapkan kalimat itu, menahan segala kontra antara hati dan juga fikirannya.
"Kenapa begitu? apa yang membuatmu tidak berhak?"
Rahang pria itu mengeras, menahan rasa kecewa dan marah secara bersamaan, pasalnya bukan jawaban seperti itu yang ia ingin dengar dari bibir Yoona.
Yoona berbalik, membelakangi Aiden, menghindari tatapan mata sang pria yang terlihat begitu marah, menatap matanya membuat hatinya semakin sakit.
"Karna ada yang lebih berhak dari aku Oppa, ada seseorang yang mencintaimu lebih banyak dari aku." Yoona berusaha untuk menahan air matanya.
Ya, Yoona merasa, Jessica gadis cantik pemilik rambut blonde itu lebih berhak atas Aiden daripada dirinya.
Aiden melangkahkan kakinya sehingga berdiri tepat dihadapan Yoona, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
"Aku tidak peduli orang lain Yoona, aku hanya mencintaimu bukan yang lain, dan lagi, kau tidak berhak mengatur perasaanku!" Nada Aiden meninggi, dia marah kepada Yoona, karna alasan gadis itu tak masuk akal untuknya.
"Aku tidak pantas untukmu Oppa, aku hanya seorang sekretaris yang yatim piatu, sedangkan kau? kau sempurna, jadi kau bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku" Yoona menunduk lagi olberusaha menghindari tatapan Aiden.
Aiden menghembuskan nafasnya kasar serta meremas rambutnya frustasi, dia benar-benar bingung dengan jalan pikiran Yoona, yang ia butuhkan hanyalah sebuah jawaban tentang perasaannya. Kenapa Yoona jadi membawa masalah status sosial mereka? Lagi, Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar, hingga dia meraih pundak Yoona untuk berhadapan dengannya, menggunakan satu tangannya untuk menaikan dagu Yoona agar gadis itu menatapnya. Aiden menatap Yoona dengan lembut.
Pria dengan mata teduhnya itu menatap mata rusa Yoona dengan penuh harapan, berharap kali ini gadisnya mengerti apa yang diinginkan oleh hatinya, berharap perasaan tulusnya diterima baik oleh sang pujaan hati.
Yoona tak kunjung menjawab, hanya bulir bening yang tiba-tiba saja keluar dari mata rusanya, Yoona menangis, dia takut apa yang ada dihatinya dapat menyakiti orang lain.
"Aku, aku, hiks... aku juga menyukaimu Oppa, tapi..."
Yoona belum menyelesaikan kalimatnya hingga Aiden yang tiba-tiba saja menarik tubuhnya kedalam pelukan hangat Pria tampan itu.
"Terimakasih Yoona, aku benar-benar berterimakasih, aku mencintaimu. Sungguh!"
Yoona membalas pelukan Aiden, dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu, dan Aiden semakin mengeratkan pelukan mereka.
...****************...
Disebuah kamar yang berada didalam Apartemen mewah, masih terbaring dengan nyamannya seorang gadis cantik dibawah selimutnya, ialah Taeyeon. Hingga akhirnya benda persegi panjang yang berada di samping bantal Taeyeon berdering nyaring, membuat gadis pirang itu terkejut dan segera mencari benda sialan itu. Dilihatnya layar tersebut menampilkan sebuah panggilan masuk dari seseorang yang bernama Kim Heechul. Taeyeon pun melebarkan bola matanya dan segera mengangkat panggilan itu.
"Hmm, Halo?"
"Hai Tae, sedang apa? apakah aku mengganggu waktumu?"
"Ah tidak, aku tidak sedang menyibukkan diri dengan kegiatan apapun"
"Kebetulan sekali, apa kau ada waktu untukku?"
"Tentu saja"
"Baiklah, bersiaplah, 30 menit lagi aku akan sampai di apartemen mu, mari kita habiskan hari minggu ini bersama-sama". Ucap Heechul diseberang sana dengan antusias.
Belum juga Taeyeon menyetujui pendapat Heechul, pria itu dengan seenaknya memutuskan sambungan telpon mereka. Gadis itu mendengus sebal dengan kelakuan pria itu, dan dia pun bergegas untuk bersiap, sebelum lelaki itu datang.
Ting tong
Belum selesai Taeyeon merias wajahnya bel apartemennya telah berbunyi. 'Bahkan ini belum ada 30 menit, dasar Kim Heechul, kau ingin mati?'. Rutuknya dalam hati.
Gadis mungil itu berjalan kearah pintu utama, dan sebelum membuka pintu, ia memastikan siapa yang datang dengan melihat layar monitor yang terhubung dengan kamera yang ada diluar pintu. Dan benar saja itu ada Kim Heechul.
"Ini belum ada 30 menit Kim Heechul, dan kau kenapa terburu-buru sekali"
Taeyeon membukakan pintu dengan malas, dan menunjukan wajah sebalnya kepada sang tamu.
"Maafkan aku Tae, salahkan saja mobilku yang canggih itu, kenapa cepat sekali dia berjalan"
Heechul yang belum dipersilakan sang tuan rumah untuk masuk pun asal menyelonong, melewati Taeyeon. Aish, apakah dia menganggap itu adalah rumahnya?
Taeyeon menutup pintu dan mengikuti Kim Heechul masuk kedalam Apartemennya.
"Duduklah, aku akan bersiap, tunggu beberapa menit lagi, dan jangan menganggap ini sebagai rumahmu!"
Heechul bergidik ngeri mendengar ucapan Taeyeon, setelahnya dia pun terkekeh geli dengan kelakuan gadis itu.
Setelah Taeyeon masuk kedalam kamarnya, Heechul pun mendudukkan diri di sofa, dia mengambil ponsel pintarnya yang berada didalam saku celananya. Melihat kotak pesan tersebut, berharap ada balasan pesan masuk dari gadis yang ia cintai, Jessica. Tetapi raut wajah Heechul berubah kecewa saat tak mendapati satu pesan pun dari gadisnya itu.
Beberapa meter dari tempat Heechul berada, Taeyeon sudah berdiri, dan untuk beberapa detik yang lalu dia dapat melihat perubahan wajah Heechul yang kecewa setelah pria itu menatap layar ponselnya, dan memasukannya kembali kedalam saku celananya, dan Taeyeon dapat menduga alasan dibalik kekecewaan Heechul.
Gadis itu menghembuskan kasar nafasnya. 'Lagi, kau menjadikanku pelarian dari perasaan sedih yang diakibatkan oleh wanita lain'. ucap Taeyeon dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...