Young Boy Is My Husband

Young Boy Is My Husband
Baikan



Setelah Daryl tidur, Alana memutuskan untuk mandi setelah itu keluar dan mengisi perutnya yang terasa nyeri karena belum diisi apa-apa.


Di lantai dasar ia bertemu dengan kedua mertuanya.


"Ala disini?" Tanya Papi Hero.


"Iya pih, nyusul anak kamu yang kabur-kaburan itu loh." Balas sang istri.


"Malam, mih, pih." Sapa Alana.


"Malam nak."


"Malam sayang. Gimana Daryl, udah nggak ngereog lagi anaknya?" Tanya Mami Daryl. Alana mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian menjawab. " Udah kok mih, udah tidur juga sekarang."


"Syukurlah, enak kalo udah ada pawang nya mah."


"Mami makasih banget sama kamu karena udah sabar ngurusin Daryl yang begitu lah. Mami tau kamu capek, tapi kamu jangan nyerah ya. Semenjak sama kamu kayaknya Daryl mulai berubah. Mami bener-bener makasih sama kamu." Ungkap Mami dengan tulus sambil menggenggam tangan menantunya.


"Iya mih, Ala usahain yang terbaik buat Daryl." Jawab Alana meyakinkan.


"Oh iya, kamu mau makan ya? Mau mami temenin nggak? Atau perlu dimasakin makanan baru sama bibi?"


Alana menggeleng halus, Ia menolak karena tidak ingin merepotkan ibu mertuanya yang sangat baik itu. "Nggak usah, mih. Ala bisa sendiri kok, mending mami sama papi istirahat aja. Ini udah malem juga." Kata Alana penuh perhatian.


"Yaudah sayang, mami ke atas dulu ya. Kamu kalau butuh apa-apa jangan sungkan bangunin mami. Mami 24 jam for you."


Setelah kepergian kedua mertuanya, Alana pergi makan dengan tenang.


Wanita itu baru kembali ke kamar suaminya saat waktu menujukkan pukul setengah dua belas malam. Karena tersadar hari semakin larut, Alana memutuskan untuk masuk ke kamar.


Dilihat suaminya masih terlelap dengan posisi yang sama seperti tadi. Alana dengan pelan ikut bergabung diatas kasur dan menempatkan dirinya di samping Daryl. Wanita itu memilih tidur membelakangi Daryl karena tak ingin mengganggu tidur suaminya.


Namun tiba-tiba Alana merasakan ada sesuatu yang hangat menempel pada punggungnya. Perlahan wanita itu membalik badannya, dan ternyata tubuh Daryl merapat dengannya. Tangan Daryl juga terlihat memeluk pinggang Alana.


Karena Alana memang benar-benar sudah mengantuk, wanita itu membiarkan saja apa yang dilakukan Daryl. Matanya terasa kian memberat, tak lama Alana terlelap di samping Daryl.


Saat Alana benar-benar telah terlelap, tiba-tiba Daryl malah membuka matanya. Laki-laki itu menatap istrinya dengan lembut.


"Love you Ala. Daryl cinta banget sama Ala. Maafin Daryl yang masih suka ngerepotin Ala. Sayang banget sama Ala pokoknya." Guman Daryl dengan suara serak. Daryl lantas menarik tubuh Alana ke pelukannya dan mendekapnya dengan lembut. Berkali-kali Daryl mengendus rambut Alana yang sangat wangi menurutnya.


Keduanya tidur dengan saling berpelukan.


...○○○○○○○○○○...


Di pagi hari Alana tak menemukan keberadaan Daryl di sampingnya. Wanita itu memutuskan untuk bangun dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Saat menuju ke lantai dasar, sayup-sayup telinga Alana mendengar suara televisi. Wanita itu akhirnya mendekat ke sumber suara.


Di ruang tengah ia menemukan Daryl tengah menonton televisi sambil memangku sebuah popcorn satu mangkuk penuh. Alana pun mendekat.


"Sudah mandi?" Tanya Alana yang sudah mendaratkan bok0ng nya tepat disamping Daryl.


"Humm." Jawab Daryl singkat.


Alana menghela nafas, wanita itu mengira jika suaminya masih marah dengan kejadian di kantor kemarin. Lalu apa kabar dirinya? Ia juga melihat Daryl disuapi oleh seorang perempuan, dan Daryl tak menolak saat itu.


"Masih marah kamu?" Tanya Alana hati-hati.


"Nggak marah? Kok ngungsi sampe ke sini?"


"Iya Daryl kesel gara-gara bibir Ala diusap sama Kepet. Daryl cemburu, puas Ala!" Ungkap Daryl tersungut-sungut.


"Saya juga sama ya, jangan pikir saya nggak sakit hati saat lihat kamu disuapin perempuan lain! Lagian saya sama Kevin itu hanya sebatas sahabat, sebatas sahabat." Balas Alana tak mau kalah.


"Dasar cemburuan." Ledek Daryl mengejek. Alana membulatkan matanya, suaminya itu tidak pernah mengaca kah? Siapa yang menangis seharian karena cemburu kepadanya? Alana benar-benar heran kenapa ada manusia modelan Daryl di dunia ini.


"Punya kaca nggak? Ngaca dulu gih!" Seru Alana.


"Nggak, kacanya retak udah!" Balas Daryl.


Mereka akhirnya saling mendiami satu sama lain dengan pandangan sama-sama fokus ke layar televisi. Tidak ada percekcokan lagi antara keduanya.


"Geser sana, Daryl mau rebahan." Suruh Daryl kepada Alana.


"Nggak, kamu aja yang pindah ke sofa lain sana." Tolak Alana.


Daryl mendengus, sebenarnya ini hanya akal-akalan nya saja agar bisa rebahan sambil dipangku Alana. Daryl menurunkan rasa gengsinya dan mengubah posisi duduknya menjadi rebahan. Tanpa rasa malu ia menjadikan paha Alana sebagai bantalan kepalanya.


"Usapin kepala Daryl." Suruh Daryl layaknya seorang bos yang memerintah bawahannya. Tanpa banyak protes, Alana melaksanakan perintah suaminya. Wanita mengusap dan sesekali memijat kepala Daryl dengan lembut.


"Daryl pinjem jempol nya sini." Alana bingung saat tiba-tiba jempol nya diminta oleh Daryl. Yang lebih mengejutkannya Daryl malah menghisap jempol nya seperti kegiatan yang sering dilakukan seorang bayi.


"Daryl, jorok ah, lepas." Seru Alana. Daryl menoleh ke belakang dan memberi tatapan tajam kepada Alana mengisyaratkan wanita itu agar tidak protes.


Untung saja jemari Alana sudah bersih karena wanita itu baru saja mandi belum menyentuh benda apapun.


Setelah merasa puas dengan kegiatan yang ia lakukan, Daryl gantian memaksa Alana untuk rebahan diatas pangkuannya. Tangan Daryl sibuk menguyel-uyel pipi Alana seolah istrinya itu adalah bayi kecil yang menggemaskan.


"Ala tumben pake celana? Biasanya kalo dirumah pake daster?" Tanya Daryl dengan nada kembali ramah seperti semula.


"Ini kan di rumah mami, beda lah." Jawab Alana. Daryl hanya mangut-mangut paham kemudian kembali melanjutkan kegiatannya menonton televisi dan sesekali menjahili Alana.


"Hari ini mau pulang atau disini lagi?" Tanya Alana.


"Pengen disini dulu, masih kangen sama mami. Bolehkan Ala?" Pinta Daryl. Alana setuju saja. Wanita itu memaklumi, mungkin suaminya belum terbiasa berjauhan dengan orang tuanya. Berbeda dengan Alana yang memang sudah siap akan hal itu.


"Alaa..." Daryl memanggil sambil mengusap-usap pipi halus Alana.


"Humm?" Alana masih nampak fokus dengan layar televisi.


"Mau ku kiss nggak?"


"Ma- nggak!" Alana menggeleng tegas. Ia tau kalau ini hanya akal-akalan Daryl semata. Terakhir wanita itu mendapat tipuan dari Daryl, awalnya juga menggunakan strategi yang sama yaitu menawarkan cookies atau ku kiss atau apalah itu. Alana tak mau sampai jatuh kedua kalinya pada lubang yang sama.


"Ini free loh, yuk ku kiss yuk."


Alana mencoba menghindar, namun Daryl tetap memberikan ku kiss kepadanya.


Yang awalnya menonton televisi, kini malah televisi yang menatap iri pada kegiatan mereka berdua.


"Daryl, Ala, kalian udah- ups!"


TBC.