
Saat ini Daryl sudah berada di rumah kedua orang tuanya. Dia yang memutuskan untuk minggat, tapi malah dia sendiri yang panik dan was-was karena belum ada tanda-tanda Alana menyusul dirinya.
"Mamiii, gimana dong. Ala kok nggak nyusul Daryl sih? Atau jangan-jangan Ala udah nggak peduli lagi sama Daryl? Gimana, mih.'' Adu Daryl sambil merengek-rengek kepada sang mami.
Mami Daryl hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah putranya yang masih suka lebay dan berlebihan. Ia pikir setelah menikah dengan Alana sifat manja dan kekanakan putranya itu akan luntur, tapi ternyata belum. sepenuhnya.
"Siapa suruh kabur-kaburan, rasain tuh dibuang sama Ala kamu." Cibir sang mami mengompori.
"Mami jahat!" Kesal Daryl. Laki-laki itu merajuk lalu berlari menuju kamar nya yang terletak di lantai atas.
BRAK
"ALA JAHAT, DARYL BENCI ALAA!!!" Teriak Daryl dengan suara teredam oleh bantal.
Sedangkan di bawah mami Daryl hanya geleng-geleng kepala melihat tingkat putra semata wayang nya yang masih labil. Mami Daryl merasa kasihan dengan menantunya yang harus ekstra sabar menghadapi polah putranya.
Lamunan Mami Daryl buyar saat wanita itu mendengar bel pintu bersuara. Wanita itu lantas bangkit dari tempat duduknya untuk membukakan pintu. Awalnya Ia pikir adalah suaminya yang pulang, tapi ternyata adalah sang menantu.
"Assalamualaikum, mih." Alana menyempatkan diri untuk mengecup punggung tangan mertuanya itu.
"Waalaikumsalam, sayang. Ala baru pulang ini?" Mami Daryl menatap menantunya yang terlihat lelah sambil menenteng beberapa totebag yang ternyata berisi keperluan Daryl, seperti pakaian, obat-obatan, dan barang pribadi Daryl.
"Iya mih, tadi Daryl bilang mau ke sini. Ala bawain pakaian sekalian buat nginep, capek kalo musti bolak-balik." Ungkap Alana pada sang mertua. Mami mengangguk dan segera menggiring menantunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Daryl ada di kamar, anaknya ngamuk-ngamuk nggak jelas gara-gara kamu nggak dateng-dateng." Beritahu mami kepada Alana.
"Maaf mih, Ala emang pulang telat hari ini. Jalanan juga rame banget tadi."
"Yaudah, kamu buruan temuin itu bayi kamu. Takut ngereog lagi mami ih." Alana mengangguk dan segera pamit untuk menemui Daryl di kamar nya. Wanita itu sudah memprediksi jika akan ada perang dunia ke 3.
CEKLEK
Kamar Daryl sangat gelap, Alana berinisiatif untuk menyalakan lampu nya dari sakelar yang menempel di dinding.
Klik!
"Astaga!" Teriak Alana sepontan. Wanita itu mengusap dadanya yang naik turun karena terkejut dengan penampakan Daryl yang tiba-tiba berdiri di belakangnya dengan selimut putih yang membungkus tubuhnya dan hanya menampakkan wajah sembab Daryl juga mata dan hidungnya yang memerah.
"Ngapain nyusul Daryl?" Tanya Daryl dengan nada ketus.
"Kamu nggak suka saya disini?'' Seru Alana bertanya balik.
"Nggak! Pergi sana, Daryl nggak butuh pengkhianat!" Seru Daryl.
Alana memejamkan matanya berusaha mengontrol emosi nya agar tidak meledak. "Jaga bicara kamu, Daryl. Saya bukan penghianat!" Tekan Alana dengan tegas.
"Maling mana mau ngaku!"
"Stop Daryl, kamu jangan keterlaluan!" Bentak Alana pada akhirnya. Wanita itu tak peduli jika suaranya didengar oleh mertuanya, karena sikap Daryl benar-benar terlalu kekanakan menurutnya.
"Tuh kan, pasti gara-gara cowok itu Ala jadi berani bentak Daryl. Sopan kah begitu?" Daryl masih berani mengoceh dihadapan istrinya. Ia tidak tau saja jika wanita dihadapannya itu bisa menelannya kapan saja.
"Terserah Daryl, kamu mau saya pergi kan? Baik saya pergi." Final Alana. Wanita itu tak ingin memperpanjang urusan yang mana malah menambah beban pikirannya saja.
"Huh, cuma segitu doang ternyata." Cibir Daryl. Alana yang hendak membuka pintu akhirnya kembali membalik badan lalu menatap Daryl dalam. "Mau kamu sekarang apa?" Tanya Alana.
Alana benar-benar terheran dengan tingkah random suami nya.
Kembali mengontrol emosi nya, Alana mengalah lalu menghampiri suaminya. Wanita itu duduk di pinggiran ranjang, tangannya menyentuh selimut yang dikenakan Daryl, berniat untuk membukanya namun ditahan dari dalam sana.
"Sudah makan belum?" Tanya Alana penuh perhatian.
Walau Daryl tengah merajuk, laki-laki itu tetap menjawab dengan gelengan kepala dari dalam selimutnya.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Alana memilih keluar dari kamar Daryl. Tujuannya sebenarnya adalah mengambil makanan unttuk Daryl, tapi laki-laki salah mengartikan. Daryl mengira jika Alana meninggalkannya dan tidak peduli lagi kepadanya.
Tangis Daryl pecah saat Alana benar-benar keluar dari kamarnya.
"Hikss... Ala ninggalin Daryl... Ala jahat hiks.."
Hampir sepuluh menit Daryl menangis sambil guling-guling diatas kasur. Tangisnya semakin kencang saja, namun tak ada yang mempedulikan hal itu.
Diluar perkiraan Daryl, Alana kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makan malam untuk Daryl. Sebenarnya Alana sendiri juga belum mengisi perutnya sejak tadi, namun wanita itu lebih mengutamakan perut suaminya.
"Bangun dulu, makan ya." Ucap Alana.
"Ala nggak jadi pergi hikss...?" Daryl bangun dan mengusap ingusnya dengan kasar.
"Saya nggak pergi, saya turun ambilin makanan buat kamu di dapur." Jelas Alana. Daryl mengangguk kemudian meringsek mendekati Alana. "Ala, Daryl pengen pangku." Pinta Daryl.
Seketika Alana menoleh, menatap Daryl dengan cengo. "Hah? maksud kamu?" Tanya nya bingung.
Apakah pendengaran Alana bermasalah? Ia tak salah kan mendengar Daryl minta dipangku?
"Mau pangku disini, mau duduk disitu pokoknya." Daryl merengek sambil menatap Alana dengan tatapan memohon.
Bukan tak mau atau tak bisa, sebenarnya Alana bisa-bisa saja mengabulkan permintaan nyeleneh suaminya itu. Tapi postur tubuh Daryl yang sebesar king kong membuat Alana harus berpikir dua kali untuk mengabulkan permintaan itu.
"Duduk sendiri ya, kan mau makan." Bujuk Alana.
Mata Daryl kembali berembun dan siap untuk menumpahkan air matanya. Alana menjadi kelabakan sendiri melihat hal itu.
Bolehkah Alana menyerah sekarang juga? Cobaan Alana sangat berat.
"Sini." Alana meminta Daryl untuk mendekat. Dan laki-laki childish nya itu langsung nangkring diatas tubuhnya. Alana dibuat kewalahan saat harus menahan tubuh Daryl yang bobotnya mungkin dua kali dari bobot tubuhnya.
"Makan dulu, tidurnya nanti." Alana memperingati Daryl yang malah menyandarkan kepalanya diatas bahu Alana.
Tubuh Alana benar-benar terasa seperti seseorang yang sedang ketindihan.
Alana menyuapi Daryl sampai makanan di piring itu habis. Setelah itu menyerahkan susu hangat kepada Daryl dan langsung diteguk sampai tandas oleh laki-laki itu.
"Turun dulu, saya mau taruh piring kotor ke bawah." Ucap Alana. Daryl terlihat menggeleng menolak. Ia malah menggesekkan rambut tebalnya ke leher Alana. Wanita itu tak bisa menahan geli akibat gesekan rambut Daryl dengan kulit lehernya.
Daryl berhenti saat Alana menangkup wajahnya. "Ngantuk kan?" Dengan mata yang sudah memerah Daryl mengangguk pelan. Ia kembali memeluk tubuh istrinya dan menyembunyikan wajahnya dibalik ceruk leher Alana.
Alana tak bisa mengelak saat Daryl terus menempel pada tubuh nya. Wanita itu hanya bisa pasrah sambil mengusap-usap punggung Daryl hingga laki-laki itu terlelap didalam pelukan nya.
TBC.