
"Hiks....aaaaa bunda!!!"
Bunda terkejut mellihat menantunya pulang sambil menangis sesegukan. Ada apa? Pikirannya.
"Daryl kenapa, nak?" Tanya Bunda penuh perhatian. Wanita itu juga menyeka air mata yang keluar dari mata menantunya.
"Hiks... tadi Daryl mau bantuin Ala kerja, tapi malah dimarahin sama Ala." Adunya pada Bunda.
"Dimarahin sama Ala?" Daryl menganggukkan kepalanya dengan gerakan lucu.
"Cup cup, jangan nangis ya. Nanti biar gantiin Ala yang bunda marahin." Ucap Bunda.
"Jangan lupa jewer ya bun?" Imbuh Daryl.
"Iya, biar nggak marahin kamu lagi."
Saat mendengar pintu dibuka, Daryl buru-buru bangkit dari tempat duduknya. "Bunda, Daryl mau mandi dulu. Jangan bilang sama Ala kalo Daryl ngadu ke bunda." Serunya. Bunda hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis. Setelah itu Daryl langsung melarikan diri menuju kamar Alana.
Terlihat Alana dan ayah masuk ke dalam rumah dengan berjalan beriringan. "Assalamualaikum bun."
"Waalaikumsalam."
"Bocah tadi ngadu apa aja sama bunda?" Tanya Alana to the point. Gadis itu merebahkan tubuh letihnya disamping sang bunda.
"Kamu jangan terlalu keras sama Daryl, dia kan baru belajar, jadi wajar kalo masih banyak kesalahan." Ucap Bunda. Mendengar hal itu Alana hanya memutar bola matanya malas. Berondong yang telah menjadi suaminya itu pasti mengarang cerita pada bundanya.
"Salah ya salah, harus professional dong."
"Udah-udah, dilanjut nanti lagi debatnya. Sekarang Ala bersih-bersih sana, ayah juga mau bersih-bersih." Ucap Ayah menengahi perdebatan antara putri dan istrinya.
"Yaudah, Ala ke atas dulu, yah, bun."
Setelah acara bersih-bersih selesai, mereka kembali turun ke bawah untuk melaksanakan makan malam bersama. Semuanya ikut turun, namun kecuali Daryl. Laki-laki itu masih betah mengurung diri di dalam kamar.
"Daryl nggak ikut makan?" Tanya Bunda.
"Nggak tau, merem anaknya." Jawab Alana.
"Kenapa nggak dibangunin, kasihan belum makan loh."
"Ntar kalo udah ngerasa laper juga nyari makan." Jawab Alana dengan santai.
Bunda menghela nafas, putrinya sama sekali tidak peduli dengan kondisi suaminya sendiri. Alhasil bunda melirik ayah untuk meminta bantuan.
"Diajak makan, La. Anak orang kamu ajak kerja seharian tapi nggak dikasih makan, dimarahin ibunya ntar." Ujar Ayah.
"Nanggung yah, abis makan bentar." Alana kembali menyuapkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.
...○○○○○○○○○...
Sehabis makan, Alana menuruti pemerintah ayahnya untuk membawakan makanan untuk Daryl di kamar.
Saat masuk, yang pertama kali ia lihat adalah tubuh Daryl yang tengah meringkuk diatas kasur dengan posisi tidur menyamping.
Kalau saja ini bukan perintah ayahnya, mungkin Alana akan lebih memilih langsung tidur daripada harus membujuk manusia penuh drama itu.
"Hey, bangun sebentar. Saya bawain makanan tuh, buruan makan." Seru Alana.
Usaha pertama sepertinya gagal karena Alana tak mendapat respon apapun dari Daryl. Namun ia tak patah semangat untuk terus membujuk Daryl. Daripada ia harus mendengar ceramah dari bundanya, kan.
"Kata bunda kamu suka nasi goreng plus telur mata sapi, yakin nggak mau makan? Saya ada bawain ayam goreng juga loh." Dengan sabar Alana mengusap kepala Daryl berharap laki-laki itu bisa luluh.
Daryl yang mendapatkan iming-iming makanan favoritnya sedikit tergugah. Namun laki -laki itu menyakinkan dirinya agar tetap konsisten untuk marah kepada Alana.
"Ya Udah kalo nggak mau, saya balikin ke bawah aja makanannya." Putus Alana.
Belum sampai dirinya turun dari atas kasur, tiba-tiba ada sesuatu yang menahan lengannya. Saat dilihat, ternyata Daryl yang menahannya sambil berkaca-kaca.
"Mau." Cicitnya pelan.
Mendengar hal itu Alana tersenyum samar, usahanya tak sia-sia.
"Yaudah sana makan, saya mau tidur, ngantuk!" Alana tetaplah Alana. Gadis itu kembali pada kepribadian aslinya, ketus dan galak.
"Ya terus?" Alana sudah siap dengan selimut dan bantalnya.
"Mau disuapin, nggak mau makan kalo nggak disuapin." Seru Daryl.
"Tangan kamu normal kan? Nggak usah manja!" Ketus Alana.
Kemarin gadis itu memang melihat Daryl makan sambil disuapi maminya, dan tadi pagi ia kembali melihat jika Daryl minta disuapi oleh bundanya. Benar -benar menyusahkan, pikir Alana.
"Yaudah, aku nggak makan."
"Ya masa bodo." Acuh Alana.
Mereka akhirnya memilih untuk berbaring dengan posisi saling membelakangi.
Krucuk...krucuk...
Ditengah keheningan Alana mendengar suara itu. Disusul dengan rintihan pelan dari belakangnya.
Karena Tak ingin mengambil resiko jika anak orang sampai mati, dengan lapang dada ia mengalah.
"Sini makan, saya suapin." Daryl kembali membalik tubuhnya dengan wajah lesu karena dirinya memang benar-benar kelaparan.
Akhirnya Daryl mau makan setelah disuapi oleh Alana. Namun hingga makanan habis tidak ada perbincangan diantara keduanya.
"Mau tambah lagi?" Daryl menggeleng.
"Butuh yang lain?"
"Boleh?" Tanya Daryl ragu-ragu.
"Asal nggak aneh-aneh." Jawab Alana.
"Mau nonton film sambil tiduran disini." Ucapnya sambil menunjuk perut rata Alana.
Sesaat gadis itu terdiam untuk mempertimbangkan permintaan Daryl.
"Kalo nggak mau nggak papa, mau langsung tidur aja, kan besok butuh tenaga kalo dimarahin bos." Ucap Daryl.
Tersindir, itulah yang dirasakan Alana.
"Sini." Alana merentangkan tangannya meminta Daryl untuk mendekat. Daryl pun langsung memposisikan kepalanya diatas perut rata Alana dan memeluknya.
Setelah itu Alana meraih laptopnya diatas nakas dan memutar film barat sebagai tontonan.
"Usap punggung." Pinta Daryl.
Hampir setengah jam dan film sudah ganti judul namun Daryl tak kunjung memejamkan matanya. Laki-laki itu terlihat anteng menonton film selanjutnya. Berbeda dengan Alana yang sudah teramat mengantuk.
"Daryl tidur." Tegur Alana kepada Daryl.
"Sebentar ah, ini filmnya baru mulai." Tolak Daryl.
"Ya sudah nonton sendiri, saya mau istirahat cape." Ucap Alana. Wanita itu berusaha mendorong tubuh kekar Daryl dari atas tubuhnya. Lumayan susah ternyata.
"Iya-iya tidur.'' Seru Daryl.
Laki-laki itu menutup laptop milik Alana kemudian membuka kaos yang melapisi tubuh atletis nya dihadapan Alana langsung.
"Ngapain buka baju segala sih, astaga." Gerutu Alana sambil membalik tubuhnya membelakangi Daryl.
"Jangan munggungin Daryl, nggak sopan banget." Daryl membalik tubuh Alana agar kembali menghadap kepada dirinya. "Peluk." Daryl benar-benar berharap jika Alana akan memberikan pelukan pengantar tidur kepadanya. Namun nyatanya Alana tidak melakukan hal itu.
"Yaudah biar Daryl yang peluk." Tubuh Alana yang mungil akhirnya terkurung rapat didalam pelukan Daryl. Alana benar-benar tidak bisa berkutik saat ini. "Ala kecil banget, pengen Daryl peluk sampe remuk." Guman Daryl sambil meraba-raba tubuh Alana.
Plak!
"Heh, nggak sopan banget pegang-pegang gitu! Dosa!"
"Enggak, mana ada dosa nyentuh istri nya sendiri? Daryl nggak sebodoh itu, Ala."
TBC