Young Boy Is My Husband

Young Boy Is My Husband
Daryl sakit pt 2



Setelah sholat subuh, Daryl terlihat hendak ke kamar mandi untuk siap-siap. Alana tahu jika suaminya itu akan pergi mencari pekerjaan lagi. Disaat kondisi yang kurang fit seperti ini Alana tak akan membiarkan Daryl pergi.


"Mau ngapain?'' Seru Alana.


"Mandi, siap-siap buat first day kerja." Jawab Daryl.


"Kamu masih sakit, nggak usah aneh-aneh." Alana merampas handuk Daryl dan menggiring tubuh laki-laki itu agar kembali berbaring di tempat tidur.


"Enggak, nggak mau. Daryl mau kerja." Seru Daryl seraya bangkit dari tempat tidurnya.


"Fine, kamu lebih milih kerjaan kamu daripada saya? Silahkan Daryl. Tapi ingat, kamu masih membutuhkan saya disini."


"Tapi Daryl harus pergi kerja, kalau Daryl sampe nggak masuk, bisa-bisa Daryl di kick dari kantor itu." Daryl memberi penjelasan. Namun bukan penjelasan yang Alana mau, wanita itu ingin Daryl istirahat dulu sampai tubuhnya benar-benar pulih.


"Perusahaan mana yang mau nerima karyawan lemah kayak kamu? Seenggaknya kalau kondisi kamu udah fit kamu bisa survive lagi. Jangan kayak gini." Seru Alana yang tanpa sadar meninggikan nada bicaranya.


"Iya Daryl emang lemah, nggak bisa apa-apa selain ngandelin kekuasan papi sama mami. Beda sama Ala yang bisa bangun perusahaan besar kayak sekarang. Tapi sekarang Daryl udah punya istri, ada tanggung jawab yang harus Daryl lakuin. Daryl nggak bisa terus-terusan minta ini dan itu ke mami papi. Daryl juga pengen sukses kayak yang lain tanpa suntingan dari keluarga. Daryl pengen gitu Ala. Ala emang udah dapet apa dari Daryl selama kita nikah? Belum dapet apa-apa kan? Daryl juga pengen bahagiain Ala." Daryl berucap dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


"Saya nggak minta, kita hanya butuh saling melengkapi. Saya nggak mau sampai kamu kenapa-napa gara-gara hal sepele seperti itu. Cukup selalu ada untuk saya itu sudah bikin saya bahagia."


"Atau perlu saya alih nama perusahaan atas nama kamu? Kamu nggak akan kesulitan karena saya ada disisi kamu." Penawaran Alana mendapat tolakan mentah dari Daryl. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya kuat.


"Maafin Daryl." Daryl memeluk tubuh Alana erat. Laki-laki itu menumpahkan segala keluh kesah nya pada sang istri.


"Saya juga minta maaf karena ngomong kasar ke kamu." Alana membalas pelukan Daryl sambil mengusap punggung lebar suaminya itu.


"Kerja di kantor saya aja ya."


"Enggak."


"Daryl jangan keras kepala."


"Pokoknya kecuali perusahaan papi, ayah, sama Ala. " Ucap Daryl.


"Fine, kamu akan bekerja di perusahaan teman saya. Tapi nanti, bukan hari ini. Setelah kamu benar-benar sembuh kamu baru boleh beraktivitas seperti biasanya, paham?"


"Paham."


Tidak ada yang keluar rumah hari itu. Alana maupun Daryl memilih dirumah saja. Cuaca yang mendung sangat mendukung untuk bermalas-malasan diatas kasur. Seperti yang Alana dan Daryl lakukan saat ini.



"Alaa..."


"Humm?"


"Kamu mau tidur atau saya tinggal?" Sekejap mata Daryl langsung terpejam. Berondong Alana pura-pura tidur.


"Alaa..." Lagi-lagi suara itu mengalun indah pada indera pendengaran Alana. Saat dilihat, sang pemilik suara ternyata tengah menatapnya dengan begitu intens.


Tangan Ala terulur untuk menyentuh pahatan indah itu dan mengusapnya. "Kenapa lagi, hm?"


"Daryl berat ya?"


"Enggak kok, Siapa bilang. Sini tidur lagi." Daryl menggeleng. Laki-laki itu lebih memilih turun dari atas tubuh Alana dan berbaring sendiri menyamping di sebelah Alana.


Alana hanya diam mengamati Daryl sambil menopang kepalanya dengan satu tangan. Saat sedang sakit ternyata Daryl banyak maunya, tak jauh beda dengan anak kecil.


Beberapa menit meringkuk sendirian, akhirnya Alana bisa mendengar dengkuran halus dari Daryl. Jangan lupakan jempol Daryl yang ada didalam mulut laki-laki itu. Dengan perlahan Alan mengeluarkan jempol itu dari mulut Daryl.


Setelah itu Alana menarik selimut untuk menutupi tubuh Daryl, kemudian wanita itu turun dari dari tempat tidur dan melangkah menuju keluar kamar. Tujuannya saat itu adalah ruang kerjanya. Mungkin sambil menunggu Daryl istirahat Alana akan menghabiskan waktu di dalam ruan kerjanya.


...○○○○○○○○○○...


Sehari beristirahat di rumah rumah dan di rawat oleh Alana, saat ini kondisi Daryl sudah membaik dan sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Namun jujur saja Daryl itu sangat manja saat tengah sakit.


"Ala, ini Daryl tinggal berangkat ke kantor temennya Ala kan? Nggak usah ngapa-ngapain lagi kan? Daryl bingung nanti kalo ditanyain ini itu." Ucap Daryl.


Alana yang sedang membantu Daryl mengancingkan kemeja dan mengikat sampul dasi pun segera mengangguk. Sejak bangun tidur Daryl sangat antusias bertanya ini dan itu terkait pekerjaan yang dikatakan oleh Alana kemarin.


"Gampang, kamu udah disiapin ruang VVIP. Jabatan apapun nggak masalah, yang penting..."


"Tanggung jawab." Sahut Daryl.


Alana tersenyum dan mengangguk. "Lagian kamu juga bakal nerusin perusahaan papi kan? Ilmunya dan pengalaman saja yang diserap, masalah gaji kamu pikir belakang. Paham?"


"Paham." Daryl mengangguk dengan gerakan kepala yabg lucu.


Cup


Alana mengecup kening Daryl lama dan Daryl terlihat memejamkan matanya menikmati hal itu. Direngkuhlah tubuh Alana dengan erat. Daryl menumpukkan dagunya pada salah satu bahu Alana. Laki-laki itu benar-benar childish saat bersama Alana.


"Jangan capek ya ngadepin tingkah Daryl, love you Ala." Ungkap Daryl dengan tulus.


"Too." Balas Alana sambil memeluk tubuh kekar suami childish nya itu.


TBC