
Tidak ada angin tidak ada hujan, sampai rumah muka Daryl ditekuk dan bibirnya mengerucut ke depan beberapa senti seperti moncong bebek. Alana dibuat terheran akan hal itu. Dengan rasa penasaran, wanita itu pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa mukanya ditekuk kayak gitu?"
Daryl melengos dan mengabaikan pertanyaan Alana. Laki-laki itu melepas sepatu sambil berjalan ke dalam rumah dan membuangnya sembarang arah.
"Daryl, jangan dibuang sembarangan." Tegur Alana sambil memunguti barang-barang yang dibuang Daryl.
BRAK!
"Astaga." Alana mengusap dadanya dengan sabar saat Daryl menutup pintu kamar mereka dengan kencang.
CEKLEK
Alana menghampiri suaminya yang tengah tengkurap diatas kasur dengan menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Bangun, kenapa lagi sih?'' Seru Alana.
"Bete." Jawab Daryl singkat tanpa memandang lawan bicaranya.
"Iya bete nya kenapa, ngomong yang jelas sini." Alana berusaha keras untuk membalik tubuh bongsor Daryl agar mau telentang. Dengan susah payah akhirnya Alana berhasil.
"Ala kenapa naruh Daryl kerja di kantornya Kepet? Ala kan tau kalo Daryl nggak suka sama cowok itu. Ala sengaja biar Daryl insecure sama minder, gitu?!" Cerca Daryl beruntun.
"Kepet? Kevin maksud kamu?" Tanya Alana.
"Tuhkan, Ala muji-muji cowok lain! Daryl sebel jadinya." Kesal Daryl sambil kakinya menendang-nendang udara.
Alana memijat pelipisnya heran. Wanita itu berusaha sabar menghadapi sikap Daryl yang masih labil. Berkata ini dan itu akan selalu berarti salah saat mood Daryl sedang buruk.
"Enggak muji, kan namanya memang Kevin." Jelas Alana.
"Tuhkan lagi. Ala mah nggak support Daryl sama sekali."
"Udah-udah, terus masalahnya apa sampe kamu bete gini? Orang-orang disana jahat sama kamu?"
Daryl menggeleng. Tiba-tiba laki-laki itu menarik tangan Alana hingga membuat wanita itu terkejut dan terjerembab di sampingnya. Tanpa rasa malu Daryl langsung tiduran diatas tubuh Alana.
Alana yang keberatan hanya mampu membuang nafas kasar.
"Daryl bingung ah, nggak kerja nggak punya uang, kalo kerja masa di tempat Kepet?" Curhatnya.
"Ya mau gimana, cuma Kevin temen saya yang paling deket. Lagian perusahaan mana yang menawarkan jabatan bagus tanpa harus repot?" Alana mencoba memberi pengertian kepada Daryl. Bukannya mengurangi kekesalan Daryl, laki-laki itu malah semakin mencak-mencak karena Alana mengatakan bahwa Kevin adalah teman dekatnya. Daryl yang tipikalnya cemburuan langsung marah mendengar hal itu.
"Mau kerja di tempat Ala aja. Boleh yaa??" Ucap Daryl merengek.
Bolehkah Ala menggigit laki-laki dipelukannya itu? Alana sebenarnya lemah, letih dan lesu menghadapi semua sikap ajaib Daryl. Tapi mau bagaimana lagi jodohnya adalah jelmaan bayi berbadan king kong.
...○○○○○○○○○○...
Baru sehari kerja langsung resign dan pindah ke perusahaan lain dengan jabatan yang lebih bagus, siapa lagi kalau bukan Daryl.
"Berangkatnya barengan saja ya, supaya nggak ribet." Seru Alana.
"Nggak mau, Daryl berangkat sendiri pake motor. Nanti mobil Ala biar Daryl kawal sampai kantor." Jawab Daryl.
Karena Alana tak ingin memperpanjang urusan, akhirnya Alana mengiyakan permintaan Daryl. Mereka berangkat terpisah menuju kantor. Sampainya di kantor Alana memperkenalkan Daryl sebagai asisten barunya. Alana sendiri tidak mengatakan tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Daryl, karena itu kesepatakan mereka berdua. Daryl tak mau kalau keberadaannya dianggap karena dirinya merupakan suami dari Alana, atau karena putra tunggal dari keluarga Smith.
"Daryl tolong konfirmasi ke karyawan, nanti habis makan siang kita meeting."
Daryl yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas yang diberikan oleh istrinya langsung menoleh. Dilepaskannya kacamata minus yang ia pakai itu.
"Isi energi dulu." Daryl bangkit dari tempat duduknya sambil merenggangkan otot-otot tangannya, kemudian berjalan mendekati Alana yang masih berdiri ditempatnya sambil menatap Daryl was-was. Wanita itu takut jika Daryl akan melakukan hal aneh-aneh di kantor.
Alana mundur selangkah demi selangkah saat Daryl terus maju mendekatinya.
"M-mau apa!" Tegas Alana sedikit gugup. Wanita itu menahan dada bidang Daryl agar tidak menempel padanya.
Tak bisa Alana dipungkiri jika tampilan Daryl sangat sexy kali ini. Bayangkan saja Daryl menggulung lengan kemeja nya hingga batas siku dan memperlihatkan lengannya yang berurat. Tak lupa simpul dasi yang sedikit dilonggarkan dengan dua kancing atas yang lepas dan memperlihatkan dada bidangnya. Untung saja tidak perutnya yang kotak-kotak itu! Alana bisa kejang ditempat kalau sampai hal itu terjadi.
Hap
Daryl berhasil menangkap pinggang Alana. Laki-laki itu melingkarkan kedua lengannya disana. Kepalanya sedikit menunduk untuk menatap wajah pias Alana dibawahnya. Begitu menggemaskan seperti seekor kucing yang ketahuan mencuri ikan.
Kenapa Daryl bisa sesensual ini? batin Alana.
Alana dibuat merona saat ditatap begitu intens oleh Daryl. Wanita itu hanya mampu memalingkan wajahnya karena malu.
"Kiss me." Jantung Alana berdetak tak karuan saat Daryl meminta hal itu secara terang-terangan. Sejak kejadian itu di kantor, Daryl tak pernah meminta hal yang seperti ini. Mentok-mentok minta peluk.
"Nggak, ini kantor Daryl." Tolak Alana.
Dapat Alana lihat jika jakun Daryl naik turun saat menatap wajahnya. Terlihat seperti menanti air mengguyur kerongkongannya.
"J-jangan, nanti saja dirumah." Seru Alana mendorong tubuh Daryl hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah.
"Why Ala? You're resisting me? What if bunda finds out that you rejected her favorite son-in-law?"
"Jangan jadikan itu sebagai alasan kamu untuk semena-mena dengan saya. Profesional Daryl." Ucap Alana.
"I'm the husband, so be free." Daryl berucap dengan enteng.
"Coba kalau Ala ngasih kiss buat Daryl dari tadi, mungkin sekarang Daryl udah ke luar dan kita bisa makan siang."
"Daryl-"
Daryl menyesap bibir Alana dengan rakus. Alana mencoba berontak dengan mendorong tubuh Daryl. Namun sia-sia karena tubuh Daryl tak bergeming dari tempatnya, malahan kedua tangan Alana dicekal oleh Daryl membuat pergerakan Alana terbatas.
Tiba-tiba pintu ruangan Daryl terbuka dari luar, dan itu mengejutkan kedua manusia lawan jenis yang sedang bercumb*.
"Dar- gosh!" Umpat orang itu sambil menutup pintu kembali.
Sedangkan di dalam ruangan Alana langsung memberikan omelan kepada Daryl. Wanita yang terkenal irit bicara itu memperlihatkan sisi lainnya.
"Saya nggak suka dipaksa Daryl!" Amuk Alana.
"Ala kalau nggak dipaksa nggak mau ngasih!" Balas Daryl tak mau kalah.
Alana mengusap wajahnya kasar. Gara-gara meminta bantuan kepada Daryl untuk mengkonfirmasikan rapat kepada para karyawan, urusan malah merambat kemana-mana. Andai saja Alana lebih tegas kepada Daryl, mungkin kejadian memalukan semacam tadi tidak akan terjadi. Dan setelah ini ia harus menutup mulut orang yang mempergoki kejadian tadi agar tidak bocor ke karyawan lain.
"Bye Ala, Daryl mau ke bawah dulu."
TBC.