Young Boy Is My Husband

Young Boy Is My Husband
Isi



Punya Alana, punya baby, dan memegang perusahaan. Itu kira-kira yang ada di dalam otak sempit Daryl. Dengan berpenghasilan banyak, Daryl yakin istrinya akan tunduk kepadanya.


"Ala." Daryl memanggil istrinya yang masih membersihkan diri di kamar mandi. Sesekali laki-laki itu mengetuk pintu kamar mandi.


"Sebentar." Tak lama kemudian keluarlah Alana dari dalam kamar mandi. Wanita itu terlihat lebih segar karena baru habis mandi. Masih menggunakan bathrobe, Alana bingung saat tiba-tiba Daryl menggiringnya ke atas kasur.


"Kenapa sih?" Heran Alana sambil menatap Daryl.


"Ini kan malem jumat..." Daryl menggantung kalimatnya berharap Alana paham dengan maksudnya.


"Ya terus kenapa, nggak beda kayak malem-malem lainnya kan." Balas Alana.


Ternyata dugaan Daryl salah, wanita itu sama sekali tidak peka. Dan malah memilih turun dari kasur dan keluar dari kamar mereka. Tak ingin menyerah sampai situ, Daryl mengekori istrinya yang ternyata pergi ke dapur.


"Sunnah rasul, Ala." Kata Daryl sambil memeluk tubuh Alana dari belakang.


"Saya baru mandi nggak usah aneh-aneh." Peringat Alana.


"Justru itu, Ala malah keliatan makin uh.. gitu loh." Daryl malah gemas sendiri dengan caranya mendeskripsikan Alana saat ini.


Daryl terus memberikan bujukan dan rayuan kepada Alana. Bahkan tak segan menyentuh Alana dengan tangan nakalnya. "Yuk yuk..." Bujuk Daryl sambil menggigit kecil leher Alana.


"Daryl, astaga!"


Malam itu Daryl benar-benar ganas. Ia tak segan membantai Alana hingga fajar menjelang yang mana membuat keduanya harus bolos bekerja. Tidak hadirnya mereka berdua di kantor diwaktu yang bersamaan membuat warga kantor gempar.


Alana yang merasa silau karena sinar matahari yang masuk melalui celah ventilasi di dalam kamarnya terlihat menggeliat sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


Wanita itu meringis pelan dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ia menepuk bahu Daryl beberapa kali hingga membuat laki-laki itu ikut bangun.


"Umh..tidur lagi Ala." Daryl malah kembali menarik tubuh Alana ke dalam dekapannya.


"Daryl lepasin dulu." Kesal Alana pada suaminya itu.


"Udah nih, udah jangan berisik. Daryl masih ngantuk!"


Bukan melepas pelukan yang Alana maksud, namun...


"DARYL!" Teriak Alana sekencang mungkin.


"Astaga!" Secara reflek Daryl menjauhkan tubuhnya dari sang istri. "Eh eh, jangan nangis dong. Aduh masih pagi kok nangis." Daryl kelabakan sendiri melihat istrinya terisak sambil mengusap air matanya.


Dicium, dielus, diusap, Daryl berusaha menenangkan istrinya agar berhenti menangis.


Terlintas ide gila di dalam otak Daryl. Tiba-tiba laki-laki itu menggendong tubuh Alana seperti koala dan mengajaknya berkeliling rumah sambil sesekali ditepuk-tepuk pant@tnya.


Ingat, mereka tidak bertelanjang bulat karena ada selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya.


Daryl terlihat seperti seorang ayah yang berusaha meredakan tangis putrinya.


"Ala jangan nangis dong, cup cup, Daryl minta maaf ya." Bujuk Daryl. Namun nyatanya Alana masih menangis dan menyembunyikan wajahnya dibalik ceruk leher Daryl. Tidak ada yang tau penyebab Alana tiba-tiba menangis, hanya Alana yang tau.


"Hoek...hiks...hoek..."


Tiba-tiba rasa mual menyerang dan membuat Alana muntah-muntah. Segera Daryl membawa Alana ke kamar mandi dan menyuruh istrinya untuk memuntahkan semua yang ada didalam perutnya.


"Masih mau muntah nggak? Muntahin semua aja kalo masih mual, sayang." Kata Daryl sambil memijit-mijit tengkuk Alana.


Alana menggeleng pelan, tubuhnya sangat lemas saat ini. Bahkan wanita itu hampir merosot ke lantai karena tidak kuat menahan bobot badannya sendiri. Kalau Daryl tidak menahannya, mungkin Alana akan benar-benar jatuh.


"Ala tunggu disini ya, Daryl mau telpon dokter dulu." Izin Daryl kepada sang istri. Namun kali ini Alana menolak saat akan ditinggalkan oleh Daryl. Wanita itu menahan tangan Daryl agar laki-laki itu tidak pergi dari sisi nya. Malahan Alana melingkarkan tangannya di pinggang Daryl dengan erat.


"Yaudah telponnya disini aja, tapi lepas dulu ya." Bujuk Daryl kembali.


Menggeleng, Alana menolak melepaskan pelukannya pada tubuh Daryl.


"Sebentar sayang, aku ambil handphone dulu." Daryl bahkan kesusahan untuk mengambil ponselnya yang hanya terletak diatas nakas. Namun ia tetap berusaha untuk menanggapinya karena ia harus segera menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi istrinya.


"Halo dok..."


"Baik dok, secepatnya saya tunggu..."


Tutt


"Ayo pake baju dulu, dokternya mau kesini." Ujar Daryl.


"Sayang." Panggil Daryl saat Alana hanya diam tak menyahut


Daryl menunduk ke bawah, saat ia amati ternyata istrinya kembali terlelap dengan tenang. Laki-laki itu menatap tak percaya. "Astaga, malah tidur lagi." Guman Daryl.


...○○○○○○○○○○...


"Jadi istri saya kenapa dok?" Tanya Daryl penasaran sekaligus khawatir. Ia takut jika Alana menderita penyakit berat seperti yang ada di film-film yang sering ia tonton.


"Tidak ada penyakit serius, sepertinya perlu kita lakukan test terlebih dahulu untuk menemukan hasil akuratnya.'' Jelas dokter tersebut.


"To the point aja dok, test apa, istri saya kenapa?" Desak Daryl tak sabaran.


"Begini, saya curiga kalau istri anda ini sedang berbadan dua. Daripada menerka-nerka lebih baik kita lakukan test saja." Jawab Dokter itu.


Daryl dan Alana masih diam mencerna ucapan dokter tersebut. Namun tak lama kemudian Daryl terlebih dahulu sadar dan meminta Alana untuk melakukan test dengan alat khusus yang diberikan oleh dokter.


Alana keluar dari kamar mandi dengan tangan memegang benda kecil dan pipih itu. Wanita itu belum berani melihatnya secara langsung. Alana memilih memberikannya kepada Daryl.


Daryl yang kurang paham langsung saja menyerahkan benda itu kepada dokter.


"Selamat ya, kalian sekarang menjadi calon orang tua." Ucap dokter sambil tersenyum ramah. Sebagai seorang dokter tentu senang mendapat kabar baik dari pasiennya sendiri.


Daryl terperangah, sedangkan Alana mendongak dengan tatapan tak percaya. Keduanya masih diselimuti rasa terkejut dengan berita ini.


"Ala kita jadi orang tua." Kata Daryl terharu dengan tangan mengusap perut rata Alana yang masih dibalut pakaian.


"Terus gimana?" Alana menatap Daryl dengan lesu.


"Gimana? Ya nggak gimana-gimana, kan ada Daryl yang jagain Ala. Kita jaga babynya bareng-bareng."


Dokter disana mengulum senyum menyaksikan perdebatan calon orang tua dihadapannya itu. Itu hal yang wajar untuk mereka yang baru akan memiliki buah hati. Rasa shock, senang, bahagia, haru pasti campur aduk menjadi satu .


"Untuk informasi selengkapnya mungkin bisa dibawa ke dokter obygyn langsung." Ucap Dokter.


"Baik dok, makasih sudah menyarankan istri saya untuk check kehamilan. Setelah ini kami akan langsung check ke dokter kandungan." Balas Daryl.


"Baik, kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu. Permisi tuan, nyonya."


TBC.