
"Saya terima nikah dan kawinnya Alana Sava Azalia Wibowo binti Wibowo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!!"
"Alhamdulillah, al-fatihah..."
...○○○○○○○○○○...
Malam begitu sunyi, Alana duduk termenung di balkon kamarnya. Beberapa jam lalu seseorang telah mengucap ijab kabul atas dirinya. Dan sekarang ia menyandang status baru sebagai istri orang.
Tok
Tok
Tok
"Ala, ini bunda. Bunda masuk ya!"
Alana tak membalas, ia membiarkan ibunya masuk ke dalam kamarnya.
"Ala ngapain disini, malem-malem gini. Yang lain pada dibawah loh." Bunda Alana berucap sambil memperhatikan putrinya yang duduk melamun sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Ala kenapa?" Bunda menyentuh bahu Alana yang membuat gadis itu terpaksa menoleh.
"Bunda." Bunda Alana menjadi panik saat Alana tiba-tiba memeluknya sambil menangis sesegukan. Alana bukan tipikal gadis cengeng, jadi hal seperti ini membuat Bunda Alana sedikit heran.
"Ala kenapa sih kok tiba-tiba nangis gini? Ala ada masalah di kantor?" Tanya Bunda Alana sambil mencoba meredakan tangis putrinya.
"Ala belum siap bun, Ala belum siap bangun rumah tangga, apalagi sama anak om Hero yang masih bau kencur itu." Rengek Alana mengadu pada sang ibu. Mendengar hal itu bunda Alana hanya bisa menghela nafas. Perjodohan ini adalah keputusan suaminya, ia tak bisa berbuat banyak selain mendoakan yang terbaik untuk masa depan putrinya.
"Ala yang sabar ya, ini kan keputusan ayah. Maaf, bunda nggak bisa bantu banyak. Tapi bunda yakin, nak Daryl anaknya baik, penurut, dan kelihatannya gampang diatur." Papar Bunda.
"Bun bukan itu, masalahnya disini Ala ngerasa tua banget. Ala cewek loh bun, rasanya agak aneh aja kalo-"
"Ala dengerin bunda, umur itu cuma angka. Belum tentu yang dewasa bisa berpikir dewasa, kamu jalanin dulu aja ya." Ucap Bunda. Dengan lesu Alana menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Anak bunda emang best deh." Bunda memeluk tubuh Alana dengan erat dan dibalas tak kalah erat oleh Alana.
"Sebelum tidur kamu turun sebentar ya. Itu mertua kamu mau pamit pulang, nggak sopan kalo nggak kamu sapa dulu." Lagi-lagi Alana hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
"Mami sama papi titip Daryl sama kamu ya. Kalo bandel dijewer saja telinganya.'' Alana menanggapi ucapan mertuanya dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
"Mami sama papi hati-hati ya pulangnya, kalo udah sampe jangan lupa kabarin Ala." Ucap Alana basa-basi.
"Iya sayang, yaudah mami sama papi pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian kedua mertuanya, Alana memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Daryl? Laki-laki sudah kabur terlebih dahulu.
"Kalo capek jangan begadang dulu." Alana menghentikan langkahnya saat mendengar godaan dari sang ayah. "Apaan sih yah!" Decaknya kesal.
Sedangkan pasutri lawas tersebut malah terkekeh kecil melihat wajah putrinya memerah seperti tomat yang telah matang.
Sampainya di kamar, Alana dibuat naik pitam karena kondisi kamarnya seperti kapal pecah. Padahal beberapa menit lalu masuk tertata rapi ditempatnya. Satu-satunya orang yang menjadi tersangka adalah suaminya sendiri, yaitu Daryl.
Alana menatap horor Daryl yang tengah bersantai diatas kasur miliknya sambil menonton tv.
"Beresin semua ini atau kamu tidur diluar." Seru Alana dengan tegas.
Daryl menoleh sekilas, "Tangan aku pegel, mom. Mommy aja sana, kan lagi nganggur." Jawab Daryl sekenanya.
"Kamu manggil saya apa tadi?" Seru Alana sambil menatap tajam Daryl.
"Saya penjelas, saya bukan ibu kamu dan jangan sematkan panggilan seperti itu kepada saya. Paham!"
"Tapi kan umurnya lebih tua kamu." Alana semakin melebarkan bola matanya saat Daryl mengatakan sebuah kebenaran yang menyakitkan itu.
"Saya tua?" Daryl mengangguk dengan polos.
"Kamu bocah bau kencur! Labil! Anak kemaren sore!" Cerca Alana meluapkan kekesalannya.
"Dih, kok marah? Kan emang tua." Balas Daryl menantang.
"Mulut kamu bener-bener minta saya tabok ya! Sini jangan kabur!"
Dan terjadilah adegan kejar-kejaran diatas kasur king size itu. Daryl terus menghindar saat Alana mencoba menangkap dirinya. "MAMI!!!" Teriak Daryl dengan histeris saat Alana berhasil menangkapnya.
"Mau lari kemana, hm?" Seru Alana dengan seringai iblisnya. Sedangkan Daryl hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar saat melihat perubahan Alana yang terlihat mengerikan seperti iblis.
"A-aku.."
Cekitt
"Arghh sakit goblok!!" Secara reflek Alana mendorong tubuh Daryl dengan kakinya hingga laki-laki itu terjungkal ke lantai.
"Huaaa.... mami sakit!!" Jerit Daryl sambil mengusap-usap pantatnya yang terasa sangat sakit karena habis mencium lantai.
Alana menulikan pendengarannya. Wanita itu sibuk menggaruk bekas gigitan Daryl di lehernya. Dan sialnya itu terlihat sangat merah!
"KAMU TIDUR DI LANTAI DARYL!" Kata Alana penuh penekanan.
Daryl yang masih menangis hanya menunduk sambil mengusap-usap pantatnya.
Alana tidak memperdulikan tangisan Daryl. Wanita itu lebih memilih untuk langsung tidur walau kurang nyaman karena kasurnya berantakan.
Sedangkan dibawah, Daryl juga ingin tidur seperti Alana. Tapi ia takut jika Alana akan marah padanya kalau ia naik ke atas ranjang.
Pada akhirnya Daryl tetap nekad naik ke atas ranjang secara diam-diam saat Alana telah tertidur pulas. Bahkan dengan tidak tau dirinya, Daryl tidur sambil memeluk Alana, wanita yang telah ia buat kesal di malam pertama mereka.
...○○○○○○○○○○...
"Kalian kenapa, kok pada diem-dieman gini? Kalian ada masalah?" Tanya Bunda pada putri dan menantunya yang terlihat saling memancarkan aura permusuhan selama kegiatan sarapan berlangsung di ruang makan.
"Nggak ada kok bun. Ala udah selesai nih, Ala langsung pamit ke kantor ya, ada rapat penting soalnya." Ucap Alana. Wanita itu merapikan penampilannya usai menyelesaikan sarapan.
"Kamu mau ke kantor?" Alana menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan sang ayah.
"Kalian ini baru nikah, masa iya mau langsung aktivitas kayak biasanya? Nggak usah ke kantor untuk hari ini dan beberapa hari ke depan, biar anak buah ayah yang handle. Kamu fokus buat saling mengenal satu sama lain dulu." Jelas Ayah.
"Yah, tapi ini rapat penting loh yah." Protes Alana tak terima.
"Nurut Ala." Seru Ayah.
"Nggak bisa yah, Ala tetep ke kantor." Alana bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak dari meja makan tersebut.
"Kalo gitu biarin Daryl ikut kamu." Seru Ayah yang mampu menghentikan langkah Alana. "Dia baru selesai kuliah, butuh banyak pengalaman kerja. Biarin dia kerja di kantor kamu." Ucap Ayah kembali.
"Taruh di kantor ayah aja, kenapa ke kantor Ala?" Seru Alana memprotes.
"Kamu nggak usah banyak protes, Daryl tanggung jawab kamu juga sekarang. Daryl, kamu siap-siap ikut Ala ke kantor!" Seru Ayah mutlak tanpa penawaran.
TBC.