Young Boy Is My Husband

Young Boy Is My Husband
Cemburu



Pagi-pagi seperti biasa Alana harus cosplay menjadi ibu-ibu anak satu. Wanita itu masih mengenakan gaun tidurnya, dan tengah membuat sarapan di dapur.


"Daryl buruan bangun, mandi!" Teriak Alana dari dapur. Sudah beberapa kali wanita itu menengok suami childish nya ke kamar, namun bayi besar Alana itu tak segera bangun dari tempat tidurnya yang mana membuat Alana geram sendiri.


"Daryl!" Seru Alana kembali.


"Iyaaa..''


Alana menoleh ke belakang, ia melihat Daryl datang dengan handuk tersampir di bahunya. Kenapa malah ke dapur, pikir Alana.


"Ngapain ke sini, sarapannya belum selesai saya masak Daryl. Kamu juga belum mandi, ngapain aja sih." Omel Alana seraya berkacak pinggang dihadapan Daryl.


"Mau lihat bentar." Ucap Daryl. Laki-laki itu pura-pura menengok apa yang sedang dikerjakan Alana. Tentu hal itu membuat sang nyonya menaruh rasa curiga. Apa lagi tubuh Daryl semakin merapat padanya.


"Nggak usah rusuh ya kamu! Awas, buruan mandi sana!" Seru Alana mode singa betina.


"Mandiin." Pinta Daryl. Seketika tatapan Alana menajam, wanita itu semakin mengikis jarak antaranya dengan Daryl.


"Daryl!" Pekik Alana saat laki-laki itu berusaha mendorongnya agar masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur. Alana berusaha bertahan agar tidak masuk ke dalam kamar mandi dengan tangan berpegangan pada pintu.


"Masuk aja, babe. Kita mandi bareng pagi ini." Daryl terus berusaha menarik tangan Alana agar wanita itu masuk ke dalam kamar mandi. Karena tenaga Alana habis untuk berontak, akhirnya wanita itu kalah dan tubuhnya langsung lenyap dibalik pintu kamar mandi bersama Daryl.


Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu di kamar mandi. Namun yang pasti raut wajah Daryl terlihat berseri-seri setelah keluar dari kamar mandi, berbeda dengan Alana yang terlihat cemberut dan tak bersemangat.


Keduanya pergi ke lantai dua untuk bersiap.


"Daryl sarapan dulu sini." Seru Alana. Wanita itu terlihat kewalahan sendiri mengejar Daryl yang terlihat begitu aktif melangkah kesana dan kesini.


Mereka telat bersiap karena insiden di kamar mandi tadi. Dan Daryl masih ribut mencari kaos kaki favoritnya, dan laki-laki itu juga belum menyelesaikan sarapan paginya yang mana membuat Alana harus turun langsung.


"Ala, kaos kaki Daryl ilang, eumm..." Daryl bersusah payah menelan makanan yang disuapkan Alana hingga pipinya terlihat menggembung.


"Pakai yang ada saja, yang hilang dicari nanti. Kita bisa telat nanti." Jawab Alana.


"Aaaa..." Daryl kembali membuka mulutnya lebar-lebar, kemudian Alana kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Daryl.


"Ala, dasi Daryl mana ya?" Daryl kembali membuat kepala Alana cenat-cenut. Baru selesai masalah kaos kaki, saat ini laki-laki itu malah kembali berulah dengan menanyakan dasinya kepada Alana.


Tak!


"Duduk, habiskan makanannya biar saya siapkan keperluan kamu." Perintah Alana. Dengan senang hati Daryl melakukannya. Laki-laki itu makan sendiri dengan lahap.


Satu persatu barang sudah ada ditangan Alana. Wanita itu memulai hal pertama dengan mengikat sampul dasi di kerah kemeja suaminya. Disusul memakaikan kaos kaki lengkap dengan sepatunya pada kedua kaki Daryl.


"Rambutnya sini saya sisirin." Daryl segera memutar tubuhnya saat suara Alana menginstrupsikan.


"Ala wangi banget." Komentar Daryl mengendus wangi tubuh Alana sambil memeluk erat tubuh wanita itu.


"Ala mau ku kiss nggak?" Tanya Daryl.


"Cookies?" Monolog Alana.


"Iyaa."


"Enggak, saya sedang mengurangi konsumsi makanan yang manis-manis." Tolak Alana.


"Ish bukan cookies, tapi ku kiss kayak gini loh." Daryl menarik tubuh Alana hingga wanita itu jatuh diatas pangkuannya. Kemudian secepat kilat menghujani wajah Alana dengan kecupan dari bibirnya.


"Eh?'


Cup


Cup


Cup


...○○○○○○○○○○...


"Daryl, kita makan siang bareng yuk!"


Dahi Daryl mengeryit heran saat tiba-tiba ada seorang karyawan perempuan menghampirinya dan langsung merangkul salah satu tangannya.


Sok akrab, batin Daryl.


"Nggak ah, Daryl bawa bekal." Tolak Daryl berusaha kalem sambil melepaskan lilitan tangan perempuan itu dari lengannya.


"Yaudah nggak papa, makan bareng aja di kantin." Perempuan itu terus berusaha membujuk Daryl agar mau pergi makan siang bersamanya.


"Yaudah iya, tapi sama Max ya. Daryl nggak mau kalo cuma berdua doang." Ucap Daryl.


Perempuan sedikit tak rela saat Daryl mengatakan akan mengajak Max ikut serta. Namun pada akhirnya perempuan itu setuju saja, kapan lagi bisa makan siang bareng idola kantor.


"Daryl, cobain deh ini enak tau." Perempuan bernama Sisil itu memberanikan diri untuk menyuapi Daryl dengan sepotong daging panggang.


"Enggak, Daryl lagi diet." Tolak Daryl. Laki-laki itu lebih memilih makan makanan yang dimasak oleh istrinya di rumah.


"Ish nggak papa cobain dulu, makan sekali nggak bikin kamu obesitas tau." Ucap Sisil meyakinkan.


Disana Max menjadi saksi bagaiamana gencarnya Sisil memperoleh perhatian dari Daryl. Max sendiri sudah tau hubungan antara Daryl dan Alana karena laki-laki itulah yang memergoki pasutri yang sedang bercumb* beberapa hari lalu di kantor.


"Buka mulut, aaaa..."


Daryl tak bisa menolak karena makanan itu benar-benar berada tepat di depan mulutnya. Akhirnya suami dari Ibu Alana itu menerima potongan daging panggang dari Sisil.


Sisil, gadis itu memekik senang saat Daryl menerima suapan darinya.


"Pstt pstt..." Max tiba-tiba mencolek paha Daryl membuat sang empu menoleh dengan tatapan bingung. Melihat respon dari Daryl, Max langsung melirik ke satu titik yang mana langsung diikuti oleh Daryl.


Pandangan Daryl tertuju pada salah satu meja di kantin yang ditempati oleh wanita nya juga beberapa orang lainnya yang tidak ia kenali. Namun salah satu dari mereka ada yang Daryl kenali, yakni Kevin. CEO muda yang dirumorkan dekat dengan istrinya .


Pandangan mata Daryl dan Alana bertemu, beberapa detik mereka kontak mata. Namun tak lama setelah itu Alana memilih mengalihkan pandangannya dari sosok Daryl dan kembali berbaur dengan rekan bisnis nya.


Cengkeraman tangan Daryl pada sendoknya begitu kuat. Giginya digertakan didalam sana. Urat-urat di leher laki-laki itu juga bermunculan.


Daryl begitu kesal saat melihat istrinya tertawa bersama orang lain. Dan tatapan Alana tadi seolah tidak minat melihat Daryl.


"Daryl makan lagi." Sisil kembali menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulut Daryl.


Daryl menerimanya dengan kasar, tatapannya tak terlepas dari sosok istrinya yang asik berbincang dengan teman-temannya.


"Bentar-bentar, mulut kamu ada noda sausnya."


Secara reflek Alana menyentuh bibirnya sendiri untuk mencari letak noda saus yang dikatakan Kevin barusan. Gerakan tangan Alana terhenti saat Kevin mulai menyapukan tisu pada sudut bibirnya yang kotor karena noda saus.


"Berantakan banget, Al. Pelan-pelan aja, kita nggak minta kok." Canda Kevin sambil terkekeh. Orang-orang di meja itu turut terkekeh mellihat interaksi yang menuntut mereka sangat romantis.


Alana hanya tersenyum kikuk sambil melirik tempat duduk Daryl.


Ting!


My Childish boy


Daryl mau pulang ke rumah mami!


TBC.