Young Boy Is My Husband

Young Boy Is My Husband
Kebawa suasana



"Daryl, ini udah jam berapa? Kenapa belum mandi juga!" Omel Alana pada suaminya yang masih bergelut dengan selimut.


"Orang belum dikasih morning kiss sama cuddle." Jawab Daryl malas-malasan.


"Saya ini kurang sabar apa ngurusin kamu, kamu harus imbangin dong, jangan seenaknya kayak gini." Seru Alana.


"Ya maaf, pokoknya mulai sekarang i love you." Jawab Daryl kelewat nyeleneh.


"Daryl." Seru Alana memperingati.


Tiba-tiba Daryl langsung bangun dan memeluk tubuh Alana yang berdiri dihadapannya itu. "Maaf, janji nggak bandel lagi. Jangan marah, kamu marahnya lama banget soalnya." Ucap Daryl dengan suara kelewat halus.


"Kamu itu bukan remaja lagi, tolong dikondisikan sikap kamu."


"Udah, kan udah minta maaf. Jangan marah terus, nggak mau." Rengek Daryl sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


Untuk kesekian kalinya Alana mengalah, kesempatan selalu ia berikan kepada Daryl.


"Mandi terus siap-siap, hari ini kamu gantiin Andi buat presentasi didepan klien."


"Okey!"


Daryl langsung menyambar handuknya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


...○○○○○○○○○○...


"Bu bos sama Pak Kevin cocok banget ya, couple goals gitu!"


"Iya apalagi yang satu cantik yang satu ganteng, best deh."


"Pasti kalo punya anak, anaknya lucu-lucu gitu. Ih gemes deh nggak sabar dapet undangan meritnya!"


Kuping Daryl mendadak panas mendengar obrolan dari karyawan Alana. Mereka terus saja membicarakan sosok Alana dan Kevin, rekan bisnis Alana.


Bahkan mereka bersuara dan sangat setuju jika keduanya bersatu. Padahal sudah jelas-jelas ada Daryl yang menjadi suami Alana.


"Lucu apanya, yang ada anaknya bakal kayak monyet!" Gerutu Daryl.


Tak sengaja sudut mata Daryl menangkap bayangan dua orang beda jenis berjalan beriringan dengan salah satu dari mereka menggendong seorang anak kecil.


"Tuh kan, liat deh. Mereka tuh udah cocok banget jadi suami istri." Lagi-lagi Daryl mendengar kalimat yang membuat telinganya panas.


"Ponakan pak Kevin cakep banget sumpah, apalagi kalo anaknya pak Kevin sama bu boss!! Nggak sabar banget."


Hati mungil Daryl langsung berdenyut saat melihat pemandangan itu. Sangat sakit saat melihat istrinya dapat tertawa dengan orang lain ketimbang dengan dirinya.


Tanpa sadar matanya berembun dan mulai menetes. Dengan gerakan kasar Daryl mengusapnya. Laki-laki itu segera pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruangannya sendiri.


...○○○○○○○○○○...


"Kenapa?" Tanya Alana heran.


Bukannya menjawab, Daryl malah melengos dan kembali menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen yang diberikan Alana.


"Saya nggak tau kamu kenapa, kalo kamu diem masalah nggak akan selesai." Ujar Alana kembali.


Namun lagi-lagi Daryl tak mengindahkan perkataan Alana. Laki-laki masih betah mengunci mulut dan tidak mengeluarkan suara sama sekali.


"Saya tanya sekali lagi, kamu kenapa Daryl?" Tanya Alana sambil membingkai wajah sendu Daryl dengan kedua telapak tangannya.


"Jealous." Lirih nya kemudian langsung memalingkan wajahnya.


"Jealous sama siapa?" Tanya Alana.


"You and him."


"Ngomong yang jelas coba!" Kesal Alana karena tak memahami maksud ucapan Daryl.


"Kamu tuh nggak ngerti banget, aku cemburu loh ini! Cemburu sama kamu dan temen mu itu!" Sungut Daryl. "Kuping aku sampe panas dengerin karyawan kamu pada ngeship kamu sama kepet!"


"Daryl, saya mohon yang jelas. Jangan menggunakan istilah yang aneh." Ucap Alana.


"AKU NGGAK SUKA LIAT KAMU DEKET SAMA LAKI-LAKI YANG NAMANYA KEVIN!!"


"AKU NGGAK SUKA ORANG-ORANG MUJI KAMU SAMA DIA. KAMU CUMA PUNYA AKU!"


"KAMU CUMA BOLEH PUNYA ANAK SAMA AKU, NGGAK BOLEH DARI YANG LAIN!"


Alana sampai menutup kedua telinganya mendengar Daryl yang terus berteriak sangat kencang hingga menembus gendang telinganya. Untung ruangannya itu kedap suara.


"POKOKNYA- uhuk uhuk hiks...sakit..."


"Jangan tutupin, dengerin aku!" Daryl mencoba membuka tangan Alana yang menutup kedua telinganya.


"Apa, nyuruh dengerin apa? Kamu teriak-teriak kayak gitu pasti kedengaran sampe ke gedung sebelah tau nggak. Dan sekarang tenggorokan kamu sakit, siapa yang salah?" Cecar Alana sambil berkacak pinggang. Persis seorang ibu yang memarahi anaknya.


"Kamu jahat, aku aduin ke bunda!" Tangis Daryl makin deras saat mendapat omelan dari Alana.


"Kan saya nanya nya baik-baik, tapi kamu jawabnya sambil teriak. Siapa lagi yang salah? Kamu atau saya?" Alana berujar dengan nada yang lebih lembut.


"Nggak mau tau pokoknya jangan deket-deket sama laki-laki lain kecuali aku, terutama pak Kevin!" Seru Daryl.


"Memangnya kenapa? Kevin itu orangnya tampan, mapan, baik lagi. Paket komplit lah."


Alana sengaja mengatakan hal itu untuk memanas-manasi Daryl. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan Daryl.


"Berani muji laki-laki lain aku pastiin kamu pulang dari sini nggak bisa jalan!" Geram Daryl menahan emosi.


"Uhh jadi takut nich!" Alana berlagak seolah ketakutan.


"Ala, kamu nggak usah nantang." Seru Daryl dengan nada serius.


"Emang baby boy kayak kamu bisa apasih selain nangis?" Ledek Alana.


"Yang kamu sebut bayi udah bisa bikin bayi asal kamu tau!"


...○○○○○○○○○○...


Daryl menatap penuh puja kepada gadis yang telah ia miliki seutuhnya, siapa lagi kalau bukan Alana.


Wajah damai itu begitu menenangkan membuat Daryl semakin erat memeluk tubuh istrinya.


"Eughh..." Alana meleguh pelan sambil menggeliat kecil didalam dekapan Daryl.


"Selamat sore my angel." Sapa Daryl saat pertama kali melihat Alana membuka matanya.


''Daryl..."


"Hm?" Daryl mengusap pipi Alana dengan lembut hingga jemarinya berhenti pada bibir pink alami milik Alana.


"I'm tired."


"Same."


Cup


Cup


Cup


"Stop it." Alana mendorong wajah Daryl agar berhenti menciumnya.


"Love love love youuu so much!!" Seru Daryl dengan tulus.


"Daryl, saya mau bersih-bersih.'' Ucap Alana.


"No saya, tapi aku. Ingat aku kamu."


"Humm." Alana menimpalinya dengan malas.


"Aku juga, yaudah mandi bareng aja."


Daryl bangkit dari atas tubuh polos Alana, kemudian langsung mengangkat tubuh tubuh Alana dan membawanya ke kamar mandi.


Petang itu mereka menghabiskan hari dengan mandi bersama.


Setelah bersih-bersih mereka memutuskan untuk pulang. Mereka pulang sekitar hampir maghrib. Untung saja para karyawan sudah pulang, jika tidak mereka pasti akan bertanya-tanya dengan bercak-bercak merah di leher Alana.


"Bisa jalan?" Tanya Daryl penuh kekhawatiran.


"Bisa." Alana berusaha menyakinkan, namun cengkeraman nya yang begitu erat pada lengan Daryl membuat laki-laki itu tidak yakin kalau istrinya baik-baik saja.


"Maaf aku kasar banget, kebawa suasana soalnya. Lagian kamu sih pake acara mancing singa segala, tau rasa kan."


Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Alana yang berada dalam gendongan Daryl hanya diam sesekali memutar bola matanya malas mendengar ocehan Daryl yang membuat telinganya berdengung.


Bolehkah Alana menjerit? INI SEMUA GARA-GARA DARYL!


TBC.