
Seharian ini Alana sengaja mengurung Daryl di dalam ruangan agar prianya tidak diganggu oleh perempuan bernama Sisil. Sekarang Alana memang se-possessive itu kepada Daryl.
"Ala, Daryl keluar, pengen beli baso aci di depan." Rengek Daryl memohon. Laki-laki itu seperti seorang anak kecil yang memohon kepada ibunya agar diizinkan pergi main.
"Nggak usah, omongan kamu nggak bisa dipegang. Yang ada malah tebar pesona sana sini." Seru Alana.
"Enggak, janji cuma beli baso aci doang abis itu balik lagi. Daryl bakal social distancing sama orang lain." Ucap Daryl menyakinkan.
"Sekali enggak ya enggak." Ucap Alana tak terbantah.
"Emang masih belum kenyang?" Tanya Alana. Daryl mengangguk sebagai jawaban. Laki-laki itu terlihat lesu dengan bersandar pada sandaran sofa. "Lemes bestie." Lirih nya.
"Dibenerin dulu bajunya, nanti makan siang lagi sama saya." Ucap Alana.
Daryl yang awalnya lesu langsung bersemangat saat Alana mengajaknya makan siang lagi. Dengan gerakan cepat ia merapikan penampilannya.
"Nggak jadi baso Aci, mau steak wahyu ya." Pinta Daryl dengan puppy eyes yang terlihat sangat menggemaskan di mata.
"Steak wahyu? Daging manusia maksud kamu?" Heran Alana.
"Enggak ih, serem banget masa makan daging manusia. Maksud Daryl steak wagyu." Ralat Daryl menjelaskan.
"Emang ngelunjak kamu tuh." Cibir Alana yang membuat Daryl menyengir lebar.
Keduanya keluar bersama dan masuk ke dalam lift bersama juga. Tanpa rasa curiga mereka terlihat tertawa dengan bahagia. Mereka tak sadar jika ada sepasang mata yang mengawasi interaksi keduanya dan mengabaikan moment itu lewat jepretan kamera ponsel.
"Ternyata tuh bocah simpenan bos, pantes perlakuannya beda sendiri dari yang lain."
...○○○○○○○○○○...
Hari ini terasa agak berbeda menurut Daryl. Laki-laki itu merasa aneh dengan tatapan rekan kerjanya yang terlihat sinis menatap ke arahnya. Walau tak tau dimana letak kesalahannya, Daryl berusaha tetap ramah menghadapi mereka.
"Enak ya jadi simpenan bos, berangkat telat pun nggak akan dapet sanksi."
"Nggak nyangka, peletnya ampuh banget ternyata. Pake dukun mana mas, saya juga masuk coba."
"Pertama kerja langsung dapet posisi enak, yaqin bener-bener bermutu dek?"
Yang pertama memang Daryl sedikit tersindir karena ia memang berangkat sedikit telat hari ini. Tapi untuk perkataan tentang simpanan, Daryl tak memasukkannya ke dalam hati, karena ia memang bukan seorang simpanan.
Dan yang kedua, Daryl memang langsung mendapatkan jabatan bagus saat pertama kali kerja. Tapi selama ini ia selalu bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan Alana. Daryl ini bermutu hei.
"Kalian bertiga ini nyindir Daryl ya?" Tanya Daryl bersuara.
"Pikir sendiri kid!"
Daryl memilih diam dan tak melanjutkan perdebatan dengan senior-senior nya tersebut. Ia harus segera menemui Alana untuk emm-, mengadu mungkin?
Saat Daryl menjauh dari ketiga provokator tadi, Max tiba-tiba menghampirinya dan memberitahu suatu hal yang membuat Daryl shock.
'Anak baru jadi simpenan bos'
Tulis keterangan dengan gambar yang memperlihatkan Daryl dan Alana yang sedang rangkul-rangkulan mesra di area kantor.
"OMG, kok bisa? Siapa yah paparaziin Daryl sama Ala?" Panik Daryl.
"Emang kenapa sih kalian nggak go public aja? Daripada berita sampah kayak gini makin menjadi-jadi. Belum lagi hatters lo makin banyak karena fans berat bu boss pada nggak terima lo deket sama bu boss." Ujar Max.
"Justru itu, justru itu Daryl belum siap. Daryl belum siap dibully sama fans nya Ala yang fanatik itu!" Seru Daryl kalut.
"Dengan nama bu bos nggak akan ada yang berani kayak gitu ke lo." Balas Max.
"Nggak bisa, Daryl nggak mau pake cara itu."
"Bukannya ngasih solusi malah ngatain Daryl." Dumel Daryl.
Max melotot seraya mengumpat di dalam hati, bolehkah mengatai suami bosnya sendiri?
"Kalo bukan suami bu bos, udah ente udah ane dorong ke dalam jurang." Kesal Max.
"Baperan!"
Setelah adu mulut dengan Max, Daryl segera menemui Alana di dalam ruangan direktur.
CEKLEK
"Ala udah check akun lambe kantor belum? Kita digosipin tau." Adu Daryl kepada Alana.
"Gosip? Gosip apa?" Tanya Alana heran.
Daryl mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada istrinya.
"Nggak usah merasa tertuduh kalau kamu ngelakuin apa yang mereka gosipin. Mending check laporan keuangan, nanti hasilnya segera kasih ke saya." Perintah Alana dengan tenang. Wanita itu benar-benar tak peduli dengan berita yang beredar di kantornya.
"Ala kok tenang-tenang aja? Ini kita lagi digosipin loh." Seru Daryl.
"Ya kamu maunya gimana, umumin sekarang kalau kamu itu suami saya? Ayo, segera kumpulkan karyawan kalau begitu." Ujar Alana.
Daryl menggeleng sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Jangan dulu dong, Daryl belum siap nih." Ungkapnya jujur.
"Terus siapnya kapan?" Tanya Alana.
"Ish Daryl bingung, Daryl nyesel nolak tawaran papi buat ngurus perusahaan waktu itu. Sekarang tawaran papi udah bersyarat lagi." Bingung Daryl.
"Dikasih syarat apa sama papi?"
"Dulu sih minimal bisa beliin villa buat Ala yang ada deket pantai X itu loh, tapi harganya malah. Sampe sekarang uang Daryl belum kekumpul. Tapi sekarang syaratnya udah ganti lagi." Jelas Daryl.
"Ganti lagi?"
Daryl mengangguk, "Iya diganti sama papi, kalo mau nerusin perusahaan harus kasih cucu yang banyak buat mami sama papi." Jawab Daryl apa adanya.
Alana menganga lebar mendengar penjelasan dari suaminya. Selama ini mereka memang sepakat untuk menunda karena memang sama-sama belum siap. Dan sekarang...
"Kamu memangnya sudah siap?" Tanya Alana hati-hati.
"Tergantung Ala sih, kan nanti yang mengandung Ala. Ala siap nggak dibully gara-gara punya suami childish kayak Daryl?" Jadi laki-laki itu sadar kalau dirinya itu Childish? Kenapa tidak sejak dulu, astaga Alana tak habis pikir.
"Nanti, kita bahas ini lagi nanti. Sekarang selesaikan perkerjaan ini dulu. Dan, oh iya nanti siang sahabat saya mau main sama keponakannya, kamu bisa bergabung nanti." Jelas Alana.
Daryl mengangguk saja, jarang-jarang kan diajak bertemu dengan sahabat istri nya.
Namun keputusan Daryl untuk menemui sahabat istri nya adalah sebuah pilihan yang salah.
Daryl pikir sahabat istrinya adalah seorang wanita, namun ternyata sahabat yang dimaksud istrinya adalah Kevin. Orang tak bersalah yang sangat Daryl benci.
Daryl terpaksa harus menjadi baby brother untuk balita gendut itu. "Kamu gendut banget, dikasih makan bansos ya sama paman mu." Guman Daryl sambil memainkan jemari balita itu yang terlihat berlemak seperti ceker ayam.
Tunggu, Daryl tidak salah bicara kan?
Alana tersenyum sungkan saat mendengar gumanan Daryl yang sedikit kurang ajar. Namun Kevin tak mempermasalahkan hal itu, ia menganggap jika selera humor asisten dari sahabatnya itu memang seperti itu. Selama tidak membuat keponakannya menangis, itu tak masalah.
TBC.