Young Boy Is My Husband

Young Boy Is My Husband
Daryl sakit pt 1



"Baru pulang?"


Alana dan Daryl seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan. Mereka memang sengaja menghindari para orang tua agar tidak diwawancarai yang tidak-tidak tapi sayangnya rencana mereka gagal. Kini mereka berpapasan dengan Bunda yang baru keluar dari musholla rumah, disusul ayah juga.


"Ah iya bun, macet tadi jalanan." Jawab Alana secara spontanitas.


"Udara dingin banget ya, Ala kok sampe pake syal segala." Bunda mengira jika udara di luar sedang dingin karena melihat putrinya memakai syal. Bunda tidak tahu saja jika benda itu digunakan untuk menutupi maha karya menantunya, bukan untuk menghalau udara dingin.


"I-iya bunda, soalnya kasian nanti Ala masuk angin. Iya kan sayang?" Daryl sengaja merapatkan tubuhnya dan merangkul pinggang Alana dengan mesra. Berharap jawaban Alana kali ini sesuai dengan harapannya.


"I-iya." Jawab Alana.


Kedua orang tua Alana hanya saling pandang dan melempar senyum. Hubungan Alana dan Daryl terlihat lebih dekat dari sebelumnya, hal itu membuat mereka ikut senang.


"Ya udah, kalian bisa langsung bersih-bersih habis itu langsung makan. Ayah sama bunda udah makan duluan tadi." Ucap Bunda Alana. Daryl dan Alana kompak mengangguk sebelum akhirnya mereka berdua pergi ke kamar bersama.


"Ala kakinya sakit?" Tanya Ayah sambil memperhatikan langkah putrinya yang terlihat lambat sambil dipapah oleh Daryl.


"Enggak ah, tadi pagi jalan biasa." Jawab Bunda.


...○○○○○○○○○○...


"Ala suka banget ya pake dress-dress gini kalo tidur?" Daryl mengamati pakaian yang dikenakan Alana dan sesekali menyentuhnya langsung.


"Karena ini memang baju untuk tidur." Jawab Alana singkat.


Hanya gaun tidur model chemise, gaun yang panjangnya selutut atau di atas lutut dan dipermanis dengan tali spaghetti yang adjustable. Gaun tidur itu terlihat sangat pas di tubuh Alana.


Alana memang sudah sering mengenakannya saat ia akan tidur. Jauh sebelum menikah dengan Daryl. Salah satu kebiasaannya ini tentu memberikan keuntungan yang besar bagi Daryl.


"Nggak papa deh, aku tetep suka. Sini." Daryl meminta agar Alana tidur disampingnya. Karena memang tubuhnya lumayan penat, Alana langsung menempatkan dirinya di samping Daryl tanpa banyak protes.


"Ala, kita pindah rumahnya kapan?" Tanya Daryl sambil mengusap-usap punggung Alana yang berada dalam dekapannya.


Fyi, mereka mendapat hadiah pernikahan berupa rumah dari kedua orang tua Daryl. Dan rencananya mereka akan menepati rumah itu setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


"Kamu mau pindah secepatnya?" Balas Alana bertanya.


"Iya, mau belajar mandiri." Jawab Daryl apa adanya.


"Nanti juga rencananya Daryl mau nyari kerjaan, tapi nggak di kantor Papi atau kantor Ala. Daryl mau cari perusahaan lain." Sambung Daryl.


Alana sedikit mengikis jarak antara mereka. Wanita itu mendongak menatap wajah suaminya yang berada tepat diatasnya. "Kenapa? Nggak betah di kantor saya?" Tanya Alana.


Daryl menggeleng sebagai jawaban.


"Daryl udah dapetin semuanya, termasuk Ala. Daryl nggak ekspek kalau Daryl bakal milikin Ala seutuhnya secepat ini. Daryl rasa tanggung jawab Daryl ke Ala makin besar. Sekarang bukan waktunya main-main lagi, mulai sekarang Daryl harus bisa jadi imam keluarga yang baik buat Ala. Daryl pengen mulai dari nol, nanti Ala kasih support ya."


Wanita itu menerka-nerka dalam hati, apakah kepala Daryl habis terbentur sesuatu? Kenapa kalimat-kalimat bijak itu bisa keluar dari mulut ceplas-ceplos milik Daryl.


"Kamu yakin?" Tanya Alana.


Daryl mengangguk mantap, "Asal sama Ala."


Alana mengangguk, wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Daryl dan langsung menyatukan bibir mereka dengan lembut. Decapan manis terdengar meramaikan kamar gelap itu.


Alana benar-benar merasa dicintai dengan tulus.


...○○○○○○○○○○...


Selama kurang lebih satu minggu lamanya menetap di kediaman Alana, sekarang pasutri baru itu sudah menempati hunian baru mereka.


Sebuah rumah minimalis yang cocok untuk sepasang pengantin baru itu.


"Iya." Jawab Daryl. Laki-laki itu memang menaruh surat lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan. Tidak memandang besar kecilnya suatu perusahaan, yang penting ia dapat pekerjaan.


"Wawancara terus nggak diterima-terima. Udah sih saya nggak tega liat kamu berangkat pagi pulang malem tanpa hasil." Alana malah kesal sendiri sekarang. Wanita menyimpan kotak bekal makanan di dalam tas milik Daryl.


"Daryl berangkat, Assalamualaikum."


Alana menatap kepergian suaminya sambil menghela nafas. "Ngambek lagi pasti." Guman wanita itu.


Hari ini Alana memang tidak sesibuk hari-hari lainnya, jadi ia bisa pulang lebih awal sambil menunggu kepulangan suaminya. Hujan deras di malam hari membuat wanita itu khawatir kalau terjadi apa-apa dengan suaminya diluaran sana.


Saat waktu menujukkan pukul sembilan malam, Alana baru mendengar suara motor Daryl di halaman rumah. Dengan segera wanita itu keluar dari rumah sambil membawakan sehelai handuk.


"Masuk cepetan." Daryl berlari kecil menuju Alana. Dan dengan cekatan Alana menyematkan handuk itu pada tubuh Daryl.


"Shh.. dingin Ala.." Rintih Daryl dengan bibir membiru karena kedinginan.


Setelah mengunci pintu Alana langsung menuntun Daryl menuju kamar. Dirawat lah suaminya itu dengan baik. Alana dengan telaten mengganti pakaian Daryl yang basah dengan pakaian hangat. Tak lupa mengeringkan rambut Daryl agar laki-laki itu tidak terserang flu.


"Kamu tunggu sebentar disini, saya ambilkan makanan di dapur." Ucap Alana sebelum ia meninggalkan Daryl.


"Enggak, Daryl ikut."


"Cuma sebentar Daryl." Bujuk Alana.


"Daryl takut petir, Ala."


Oke, sekarang Alana paham kenapa Daryl tidak mau ditinggal. Ternyata Daryl takut petir, mungkin lebih tepatnya suara petir. Di luar memang petir saling bersahutan.


Alana memahami hal itu, semua orang punya cerita masing-masing.


"Pakai jaket ya?" Kali ini Daryl setuju dengan perintah Alana. Daryl turun ke bawah dengan menggunakan jaket tebal.


Di meja makan mereka berdua duduk saling berhadapan. Daryl hanya duduk anteng sambil terus menerima suapan demi suapan makanan dari Alana.


"Obatnya diminum." Titah Alana. Namun Daryl sama sekali tidak menyentuh obat itu.


"Daryl nggak sakit."


Tangan Alana terulur menyentuh kening Daryl, dan hasilnya memang lebih hangat dari suhu normal biasanya.


"Diminum obatnya biar nggak sakit, kamu demam ini." Seru Alana.


"Ala..."


"Nggak bisa minum pil? Harus digerus?" Daryl mengangguk menjawab pertanyaan Alana.


"Makan buah mau?" Tawar Alana.


"Boleh."


Alana pergi menyiapkan buah-buahan yang akan menjadi media bagi Daryl untuk minum obat. Daryl hanya menelan buah potong itu tanpa berniat mengunyahnya dengan benar. Ia tak sadar jika ada beberapa pil yang Alana masukan didalam buah-buahan potong itu.


"Udah." Daryl mendorong piring kosong itu di meja makan.


"Tapi rasanya ada pahit-pahit dikit." Komentar Daryl pada buah-buahan yang ia makan tadi.


Sedangkan Alana hannya tersenyum samar kemudian menyerahkan segelas susu hangat kepada Daryl.


TBC.