
Banyak yang harus dipersiapkan menuju summer trip seluruh panitia disibukkan setiap harinya, tak sedikit pula dari mereka yang harus menghabiskan waktunya sampai larut malam. Hingga disuatu malam hanya menyisakan keempat anggota council yang masih bertahan melakukan tanggung jawab mereka dalam mengurus acara itu.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, tidak ada dari mereka yang beranjak dari kursi dan sangat fokus pada laptop mereka masing-masing.
“Teman-teman... sepertinya kita harus sudahi sampai di sini. Besok kita juga masih ada kelas kan” seru Dave yang berusaha menghentikan fokus teman-teman di sampingnya.
“Kau benar!!! Otakku mau meledak kalau begini. Kenapa pula aku yang bertanggung jawab dengan hal dealing” keluh Ken memelas.
“Jangan mengeluh, kalau party jam segini saja kau tidak mengeluh” ucap James menyela.
“Aish... itu dua hal yang sangat berbeda” balas Ken malas.
“Sudah, kita lanjutkan semua besok. Clara.. ayo bereskan barang-barangmu” ajak Dave, sembari mencari sosok Clara. “dimana dia?”
“Dia sedang di ruang sebelah, dari tadi tak hentinya dia terima telepon. Kau tahu kan sepertinya dia tidak hanya mengurus masalah trip ini saja, tapi pekerjaannya juga tidak bisa ditinggal.” Ucap James yang tengah memasukkan laptop dan barang-barangnya ke dalam tas.
Dave hanya mengangguk, kemudian ia segera pergi menuju ruangan tepat di sebelah ruang utama. Dilihatnya pintu pada ruangan tersebut tertutup rapat, ia pun memanggil Clara dan tak ada jawaban dari balik ruangan itu. Dibukanya pintu itu pelan dan terlihat Clara masih sibuk dengan menerima teleponnya.
Dave mengetuk pelan pintu itu hingga membuat Clara menengok padanya, ia segera memberikan gestur mengetuk jam tangannya mengisyaratkan sudah waktunya mengakhiri hari ini.
Clara pun mengangguk dan mengakhiri teleponnya, ditaruh ponselnya di atas meja yang ada di depannya. Ia pun mengusap mata dengan kedua tangannya menunjukkan betapa lelah dirinya. Dave datang menghampiri dan mengelus pundak Clara.
“kau tidak hentinya menerima telepon dari beberapa jam yang lalu, ayo kita pulang supaya kau cepat istirahat.” Ajak Dave.
Clara mengiyakan ucapan Dave dan segera merapikan barang-barangnya. Satu persatu dari mereka meninggalkan gedung kampus dengan mobil mereka, melenggang menuju kediaman mereka masing-masing. Di tengah perjalanan pulang, Dave yang saat itu mengantar Clara memperhatikan bahwa sosok yang ada di sampingnya tidak bersuara sama sekali sejak mobil mereka pergi.
Clara hanya diam menatap jendela, Dave tahu kalau Clara akan diam seribu bahasa jika ia lelah dan tidak mengeluhkan apa yang ia rasakan pada orang lain.
Dave menyentuh pundak Clara lembut,
“Kau tidurlah dulu, kau benar-benar terlihat lelah. Nanti aku bangunkan jika sudah sampai.” Ucap Dave sedikit khawatir.
Clara hanya menggeleng dan tersenyum menandakan bahwa dia tidak apa-apa. Sikapnya itu yang kadang membuat Dave merasa tidak enak dan sedikit bersalah, Clara selalu tidak ingin merepotkan orang lain.
Setengah jam berlalu, akhirnya mobil Dave telah sampai di kediaman Clara.
“Ingat kau harus langsung istirahat” seru Dave.
Clara hanya mengangguk, “terima kasih ya, hati-hati di jalan. Beritahu aku kalau kau sudah sampai di rumah”
Mobil hitam Dave melaju meninggalkan kediaman Clara.
***
Waktu telah berlalu dan pagi pun menyapa, pukul sembilan pagi Clara telah sampai di kampus dengan di antar oleh asistennya Thomas, setelah sebelumnya Dave memberitahu jika ia tidak bisa menjemputnya pagi itu.
“Pagi” ucap Clara menghampiri.
Semua menyapa kembali dan terkejut melihat wajah Clara saat itu.
“Astaga ada apa dengan matamu?” tanya Ken sedikit melotot terkejut melihat Clara.
“Kau baik-baik saja? Apa kau habis menangis semalam?” tanya Jane khawatir. Siapa pun akan khawatir melihat mata Clara yang sedikit bengkak dan sayu.
“Tidak... aku baik-baik saja, aku hanya kurang tidur” jelas Clara yang segera duduk di samping temannya.
“Memang kau tidur jam berapa semalam?” lanjut James.
“Sekitar jam enam atau mungkin setengah tujuh pagi, entah aku tidak ingat” jelas Clara.
“Astaga!! Kau hanya tidur satu dua jam? Bukankah aku sudah menyuruhmu langsung istirahat!” kaget Dave dengan sedikit nada marah.
“Kondisinya tidak memungkinkan Dave, aku harus mengurus beberapa hal” ucap Clara berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Ya tapi kau lihat kondisimu sekarang ini, kesehatanmu juga akan terganggu kalau begini terus. Pokoknya setelah kelasmu selesai kau harus pulang, jangan mengurus masalah trip dulu.” Marah Dave.
“Wah.. papa Dave sudah muncul.” Ledek Ken berusaha mencairkan suasana.
“Aku sedang tidak bercanda Ken!” kali ini Ken lah target amarah Dave, Ken hanya mengangkat kedua tangannya menandakan menyerah.
“sudah Dave, aku tidak apa-apa” ucap Clara.
“Tidak bisa! Aku akan telepon Thomas untuk menjemputmu nanti. Kalau saja sore ini aku tidak ada meeting dengan klien, akulah yang akan mengantar paksamu pulang.” Ucap Dave yang masih sedikit menahan emosinya.
“Dave.. Aku tahu kau khawatir, tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Summer trip hanya tinggal sebulan lagi jika aku menunda satu hari saja tugasku semuanya akan berantakan, nanti aku akan istirahat sebentar di ruang council.” Jelas Clara.
“Kau tidak perlu khawatir Dave, aku yang akan membantu mengawasi Clara untuk istirahat nanti” ucap James meyakinkan temannya itu.
“Ck.. kau selalu seperti ini. Terserah kau saja lah” jawab Dave sedikit jengkel.
Dalam situasi yang sangat berat pagi ini, ada satu sosok yang tengah terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Ini pertama kalinya ia melihat Dave semarah itu, sosok yang selama ini selalu tersenyum dan tenang dalam menghadapi sesuatu bisa meluapkan emosi hanya dengan hal sekecil ini.
***
Waktu berlalu, sore itu James yang sudah selesai dengan kelasnya berjalan menuju ruang council. Sesampainya di ruangan itu ia segera masuk dan terkejut melihat sosok yang sudah ada di sana terlebih dahulu. Clara yang saat itu tengah duduk tertidur dengan menundukkan dan menadahkan kepalanya di atas meja. James segera menghampiri wanita itu, membuka sweater hitam yang ia kenakan dan menyelimuti punggung Clara.
“Tubuhmu akan sakit kalau posisi tidurmu seperti ini.” Ucap James yang kemudian duduk di samping Clara, ia pun menadahkan kepalanya di atas meja dan menghadap Clara. Disingkirkan beberapa helai lembut rambut Clara lembut agar wajahnya dapat terlihat dengan jelas. James pun menatap wajah Clara dan tersenyum melihatnya.
“Kau selalu bekerja dengan sangat keras Clara”