You Make My Life Complete

You Make My Life Complete
Berdua Denganmu



Hari-hari pun berlalu, begitu pula dengan rutinitas mereka yang berlalu seperti biasa. Tak ada hal-hal spesial yang mereka lakukan selain belajar, berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Tidak selalu berempat dari mereka bertemu, tapi yang lebih sering menghabiskan waktu bersama berdua saja hanya Dave dan Jane. Jane sering mengajak Dave pergi ke berbagai tempat, makan bersama atau sekedar berkunjung ke rumah Jane. Seperti hari ini Jane mengajak Dave bertemu untuk makan malam bersama di sebuah restoran bintang lima di pusat kota.


Pemandangan malam kota yang terpantul dari jendela-jendela tinggi pada restoran itu membuat suasana menjadi sangat romantis. Jane yang tengah terduduk di sebuah meja tepat berada di samping jendela, memandang keluar menikmati gemerlapnya lampu-lampu perkotaan dan langit malam. Ia pun sesekali tersenyum mengingat pertemuannya yang pertama dengan sosok yang sedang bersama dia saat ini.


Dua tahun lalu saat awal musim semi, sebuah universitas ternama di London memulai aktivitas penerimaan mahasiswa baru. Jane yang saat itu baru saja menginjakkan kakinya di dalam kampus sedang dalam masa orientasi mahasiswa. Setelah mengikuti berbagai macam arahan dan program awal, ia memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling kampus.


Menyusuri jalan-jalan kecil yang ada disekitar kampus itu, tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika ia sampai di sebuah taman di belakang kampus. Dilihatnya sosok pria yang tengah duduk termenung di sebuah bangku taman tepat di bawah sebuah pohon besar. Pria itu hanya tertunduk menatap ponsel yang sedang dipegangnya. Merasa khawatir Jane menghampiri pria itu,


“Permisi apa anda baik-baik saja?” tanya Jane pada sosok pria itu


Pria itu yang diketahui adalah Dave, mengangkat kepalanya dan menatap gadis yang berdiri di hadapannya. Mata mereka bertemu, saat itu Dave hanya tersenyum kepadanya meskipun seperti itu Jane sangat terpana dengan sosok Dave saat itu. Hanya sebuah senyuman membuat hatinya menjadi terasa hangat, Dave pun mengajak Jane untuk duduk bersamanya menghabiskan waktu dengan berbincang santai.


“Jane.. kenapa kau tersenyum?” tanya Dave yang tengah duduk di depan Jane


“Ah.. tidak haha aku hanya teringat sesuatu” jawab Jane sedikit terkejut


“Oh seperti itu, kalau begitu habiskan makananmu” balas Dave.


***


Musim telah berganti menjadi lebih dingin dan bersalju, tidak ada lagi aktivitas di lingkungan kampus. Beberapa mahasiswa tengah menghabiskan waktu libur mereka, berbeda dengan dua orang yang sedang terduduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari lokasi rumah sang gadis. Jane dan Dave sedang menikmati kopi panas mereka dan membicarakan beberapa rencana mereka.


“Minggu depan kita berangkat, apa masih ada barang yang kau perlukan?” Tanya Dave menatap gadis disampingnya.


“Tidak ada, semua sudah siap” balas Jane tersenyum


Mereka berencana menghabiskan liburan bersama, lebih tepatnya keluarga Jane lah yang mengajak Dave untuk berlibur di resort milik keluarga Jane. Mereka berencana bersantai di resort dan bermain ski bersama di St. Moritz. Banyak hal yang telah mereka lakukan sebelum berangkat, hingga tiba saatnya kepergian mereka.


Untuk menuju ke sana, memakan waktu cukup lama di dalam pesawat. Dave dengan santai mengobrol dengan ayah Jane, mereka selalu terlihat akrab meskipun pembicaraan mereka cukup berat. Setiap kali bertemu mereka selalu membahas perihal bisnis. Ya di usianya yang masih muda, Dave sudah menjadi ahli waris dan penerus dari bisnis keluarganya. Ayah Jane sangat kagum dengan pemikiran Dave yang dewasa dan terbuka terhadap lingkungan sekitar terutama mengenai topik perekonomian.


Dave melangkahkan kakinya menuju lantai dua, berjalan menuju balkon yang ada di lantai itu. Ia sandarkan kedua tangannya di pagar yang terbuat dari kayu, melihat keluar dan menikmati pemandangan pegunungan dan pohon-pohon yang diselimuti oleh salju.


Jane menghampiri dari belakang, membawakan dua buah mug cokelat panas di tangannya. Dave pun mengambil cokelat panas itu setelah disuguhkan oleh Jane. Mereka berdua berbincang sesekali menyeruput cokelat panas.


“Resortmu sungguh nyaman dan pemandangannya menyejukkan, apa kau sering berlibur kesini?” Tanya Dave


“Hanya waktu kecil, ini pertama kalinya aku kembali lagi kesini. Aku senang kau mau ikut” balas Jane yang kemudian duduk di bangku yang ada di beranda itu


“Aku yang seharusnya berterima kasih sudah diundang” senyum Dave.


***


Mereka banyak menghabiskan waktu bersama selama di sana, makan malam bersama entah itu dimasak oleh ibu Jane ataupun melakukan barbeque party di halaman resort mereka. Bermain ski bersama atau menghangatkan diri mereka di sauna seperti layaknya liburan keluarga. Tidak terasa tiga hari telah berlalu, liburan mereka diselimuti oleh suasana yang hangat, hingga di suatu malam sebuah telepon yang Dave terima memecah situasi di sana.


“Benarkah? Baik aku akan menemuimu besok” jawab Dave tidak percaya


“bukankah kau sedang berlibur?”


“Lalu aku harus melewati kesempatan ini? Aku tidak peduli, tunggu aku di sana” putus Dave dari telepon


Dave pun segera kembali setelah menerima telepon, dengan pemikiran yang mantap dia pun siap untuk menyampaikan niatnya. Di tengah ruang santai, ia pun membuka suara.


“Sebelumnya saya ingin minta maaf, sepertinya saya harus kembali besok. Ada keperluan yang tidak bisa saya tinggalkan.” Ucap Dave dengan menyesal


Mereka semua terkejut mendengar ucapan Dave.