
Hari yang cerah di minggu pagi, beberapa orang menikmatinya dengan melakukan berbagai aktivitas di luar rumah. Melakukan piknik di taman kota, mendatangi toko-toko di pusat perbelanjaan hingga sekedar menikmati kopi di sebuah cafe. Begitu pula dengan dua orang yang saat ini tengah sibuk membawa beberapa barang belanjaan mereka, James dan Clara memutuskan keluar bersama untuk membeli kebutuhan summer trip yang belum sepenuhnya lengkap.
Satu persatu toko mereka datangi untuk menemukan barang yang sesuai, hingga akhirnya langkah kaki mereka terhenti di sebuah bangku tepat di depan toko terakhir yang mereka datangi.
“Kita istirahat terlebih dulu saja di sini, kau duduklah Clara” ucap James sembari menaruh beberapa tas belanja yang ia bawa di jalan. Tak ada respon dari Clara, ia pun mendapati sahabatnya tengah terdiam terpaku “Clara?” tanya James.
“Hey James, apa mereka dulu sering melakukan itu?” tanya Clara, pandangannya masih melihat ke arah lain.
James pun cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya, di kejauhan terlihat Dave dan Jane sedang menghabiskan hari minggu mereka berdua. Mereka tengah berdiri di depan sebuah toko churros antre bersama untuk membeli camilan tersebut dengan sesekali mereka bercanda tawa.
“Ah mereka.. bisa dibilang seperti itu” jawab James.
“apa kau ingin datangi dan menyapa mereka?” tanya kembali James.
Clara pun segera membalikkan tubuhnya ke arah James dan menghampirinya untuk duduk didekatnya.
“Tidak perlu, kita lanjutkan saja urusan kita” jawab Clara.
Disisi lain setelah Jane dan Dave membeli beberapa camilan, Dave berjalan menemani Jane ke sebuah toko sepatu ternama untuk membeli beberapa pasang sepatu yang memang sudah di rencanakan oleh Jane. Mereka memasuki toko sepatu itu, melihat beberapa pasang sepatu pada display yang terpajang. Sebagian pegawai toko menyapa baik Jane, perihal dia adalah pelanggan setia toko dan brand itu.
“Sudah temukan yang kau cari?” tanya Dave.
“Sudah, aku akan coba yang ini” ucap Jane sembari mencoba satu pasang sepatu olahraga berwarna putih, Jane duduk di sebuah sofa di tengah ruangan untuk mencoba mengikatkan tali sepatu yang ia kenakan. Disaat bersamaan Ia mengalami sedikit kesulitan untuk menutupi bagian tubuh atasnya yang sedikit terbuka ketika menunduk. Dengan sigap Dave berlutut di depan Jane untuk membantu mengikatkan tali sepatu.
“Biar kubantu, lain kali pakailah baju yang nyaman untukmu” ucap Dave.
Jane hanya mengangguk dan tersenyum melihat apa yang Dave lakukan. Setelah mencoba dan menemukan beberapa pasang sepatu yang sesuai dengan kemauan gadis itu, Jane segera melakukan pembayaran dan segera meninggalkan toko itu. Memakan waktu yang cukup lama di dalam toko hingga hari sudah berubah menjadi sore.
Dave mengusulkan untuk pergi ke sebuah tempat makan. Mereka pergi ke sebuah tempat makan yang saat itu cukup di penuhi oleh pengunjung dan memilih untuk makan di lantai dua gedung itu yang dilihatnya cukup sepi jika dibandingkan dengan lantai satu.
Selang beberapa lama menunggu, pesanan mereka datang. Satu piring pasta dan air mineral untuk Dave, satu piring waffle dengan tambahan eskrim vanilla di atasnya dan satu gelas jus strawberry.
“Kau suka sekali makanan manis ya?” ucap Dave.
“Iya sangat suka, kau hanya pesan itu?” tanya Jane sembari menyendokkan eskrim pada wafflenya.
Dave hanya mengangguk dan kemudian menikmati hidangannya.
Berbeda sekali dengan dia. Pikir Dave
***
James tengah berjalan membawa dua gelas iced Americano menghampiri sebuah meja yang ada di luar cafe yang ia datangi. Clara sudah lebih duduk di sana dan sedang memainkan ponselnya.
“Terima kasih James.” Ucap Clara menerima gelas dari James.
“Jadi apa sudah semua barang yang kita cari?” Tanya James yang kemudian duduk di seberang Clara.
“Aku rasa sudah, tinggal beberapa bahan makanan yang sedang di urus oleh panitia lain.” Jawab Clara seraya meminum kopinya itu.
“Clara, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu” ucap James.
Seketika suasana menjadi sedikit serius.
“Tidak, um.. sebenarnya ini mengenai night party nanti. Maukah kau pergi dan berdansa bersama denganku?" Tanya James menatap Clara.
“ah.. aku bahkan lupa soal itu James” jawab Clara sembari tersenyum pada James.
“Ya kau memang seperti itu kan, kalau sudah fokus terhadap sesuatu kau pasti tidak memikirkan tentang dirimu sendiri” ucap James.
Clara hanya tersenyum, kemudian angin yang cukup besar menerpa mereka. Membuat rambut hitam panjang Clara sedikit berantakan. James pun membatu Clara merapikan rambutnya, menyingkirkan satu lembar daun yang tersangkut pada rambut Clara. Clara sempat tertegun sesaat menatap James.
“Jadi kau mau?” tanya James sekali lagi.
“Iya aku mau” jawab Clara lembut.
***
Summer trip pun tiba, semua mahasiswa yang mengikuti acara itu telah berkumpul di kampus dari pagi hari. Satu persatu memasuki beberapa bis yang sudah terparkir di lapangan parkir kampus, Clara dan Dave membatu panitia lain untuk mengecek mahasiswa-mahasiswa agar tidak ada yang terlewat. Setelah semuanya masuk dan duduk di bangku mereka masing-masing, bis pun segera melaju meninggalkan gedung itu.
Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama, membutuhkan setengah hari untuk sampai di lokasi. Pembagian bis pun di sesuaikan dengan angkatan masing-masing dari mahasiswa, begitu pula dengan Clara ia dapat satu bis dengan teman-temannya termasuk ketiga sahabatnya. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan berbincang, bernyanyi dan berbagi camilan.
“Hey Clara, aku ingin tanya sesuatu” tanya sosok yang duduk sebangku dengan Clara.
Dia adalah Lucie, teman terdekat Clara sejak mereka sekolah di bangku menengah. Sosoknya mungil, berambut pendek pirang dan mempunyai sifat yang supel.
“Tanya apa?” jawab Clara memperhatikan Lucie.
“Menurutmu bagaimana hubungan Dave dan junior itu” lanjut Lucie.
“Jane maksudmu?”
“Iya sekarang kan sudah tersebar kabar kalau mereka berdua mempunyai hubungan, apa kau tidak apa-apa dengan itu?” ucap Lucie serius.
“Well, kita semua tahu kan kenyataannya seperti apa. Aku tidak terlalu menanggapi hal itu” jawab Clara.
“Meskipun kau berkata seperti itu, tetap saja aku yang merasa emosi mendengar gosip itu” jelas Lucie sedikit menggerutu.
“Clara lebih baik kau tidak terlalu sering mendengar perkataan bocah ini” ucap Ken yang tiba-tiba sudah berdiri di depan bangku mereka.
“Aku kan bicara seperti ini karena aku peduli dengan sahabatku, memangnya kau!” jelas Lucie berusaha membela.
“Aku juga peduli, lagi pula-“ sebelum Ken melanjutkan ucapannya, Clara menyela.
“Nanti lama-lama kalian yang akan jadian” ucap Clara meledek.
“MANA MUNGKIN!!” ucap Ken dan Lucie bersamaan.
“Siapa yang mau dengan bocah ini” lanjut Ken.
“Kau pikir aku mau dengan playboy sepertimu? Yaa walaupun aku harus terpaksa menerima ajakannya untuk dansa nanti” balas Lucie.
“Aku mengajakmu karena kasihan tidak ada yang mendekati bocah sepertimu” ledek Ken.
Clara hanya menggeleng lihat perilaku teman-temannya itu. Sepertinya perjalanan yang panjang ini tidak akan terasa jika dipenuhi oleh ocehan mereka.