
Pagi itu udara dingin dibulan November berhembus, menerpa lembaran daun kecokelatan dan membuatnya berguguran terhampar di jalan. Sesosok laki-laki dengan mantel cokelat panjang berdiri di bawah pohon besar, sesekali dia menendang-nendang kecil dedaunan yang terhampar di bawahnya. Menatap kosong ke langit, dan tak bersuara, hanya satu kalimat yang terlintas dipikirannya saat itu.
“Kapan kau kembali.”
Seketika, sebuah tepukan menyadarkan lelaki tersebut dari lamunannya.
“Hey, ayo ke kelas. Kau kenapa?” tanya seorang sahabat
“tidak apa, aku hanya.... merindukannya” jawabnya singkat, diiringi langkah kakinya pergi meninggalkan lokasi dia berdiri, sang sahabat pun mengikuti dan merangkul pundak lelaki yang berjalan di sampingnya.
Disisi lain, sesosok gadis berjalan anggung dengan ketukan heels sepatunya. Melewati koridor kaca yang menghubungkan antar gedung jurusan. Dia terus melangkahkan kakinya melewati beberapa ruang kelas dengan struktur dan design gaya victoria. Ya gedung universitas ini merupakan sebuah gedung lama dan masih mempertahankan gayanya.
Tak lama, gadis itu pun sampai di depan sebuah pintu dengan papan kecil yang bertuliskan "student council" menggantung pada pintu tersebut.
Tok tok tok, ketuk gadis itu.
Seiring dengan jawaban dari balik pintu itu, sang gadis membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Hai Jane”
Jane Angeline adalah nama gadis itu, sosok gadis dengan rambut cokelat bergelombang panjang, mata cokelat yang terang dan memancarkan sebuah ketulusan. Siapa pun yang melihatnya akan iri dengan paras yang ia miliki.
Mungkin sedikit cerita tentang Jane, tak hanya paras cantik yang ia miliki, di usianya menginjak 19 tahun kehidupan yang ia miliki sangat sempurna, terlahir dengan kehidupan layaknya seorang putri, semua yang ia inginkan akan dengan mudah ia dapatkan.
Harta, benda, baju bagus serta makanan enak setiap harinya tak perlu ia pusingkan. Begitu pila dengan koneksi serta berteman.. Dengan sikapnya yang sopan serta kebaikan hatinya membuat ia memiliki banyak teman. Bahkan berteman dengan tiga pria senior yang populet dan disegani yang tengah berada di ruangan tersebut pun dengan mudah ia lakukan.
Ken Brian, sosok pria yang sedang duduk menyandarkan kakinya di atas meja. Pria tampan berambut hitam sedikit panjang dan dibiarkan berantakan, dengan kulit eksotis dan tatapan seksinya sudah bisa menaklukkan hati para wanita. Banyak yang mengatakan dia sosok yang cukup playboy karena sering menebarkan pesonanya ke semua wanita. Nyatanya dialah sosok yang sangat gentleman kepada wanita.
James Antonnie, pria kedua yang tengah berdiri di depan jendela dalam ruangan itu memegang buku yang sedang ia baca, pria itu tidak kalah tampan meskipun dia dicap sebagai kutu buku. Kepintarannya sudah tidak diragukan di kampus itu. Walaupun ia tidak memakai kacamata selayaknya orang pintar pada umumnya, tapi dengan pesona wajahnya yang tegas dan dingin serta rambut cokelat yang ditata rapi mampu meluluhkan hati para kaum hawa.
“Hai Ken, James. Aku bawakan kalian sarapan” ucap gadis itu dengan riang, menyerahkan satu tas kecil berwarna pink dengan gantungan bunga matahari kecil.
Jane dan ketiga teman seniornya hanya terpaut perbedaan dua tahun, tapi tidak ada batasan untuknya untuk berbincang terlalu formal
“Kau tidak perlu melakukan hal merepotkan seperti ini Jane.” balas James.
“Iya betul, kau pasti repot kan. Eh kotak makannya cuma ada 2.” Ucap Ken heran seiring mengeluarkan kotak makan tersebut.
“Karena punya Dave kubuat terpisah, Dave kan hanya bisa makan buah dan sup kalau pagi hari.” Senyum Jane
“Hoo... dibuat dengan cinta” ledek Ken
“Wah terima kasih Jane, ayo kita makan sama-sama” sapa sesosok pria yang baru saja melangkahkan kakinya dari sisi lain ruangan itu.
Jane pun membalas dengan tersenyum.
“Silahkan dimakan Dave”
Dave William adalah sosok pria ketiga di ruangan itu, pria yang cukup tinggi, berpostur tegap dan tampan serta memiliki garis mata yang cukup tajam. Rambut hitamnya yang lebat membuat ia sesekali merapikan rambut dengan tangannya.
Kacamata bulat dan mantel cokelat yang ia kenakan saat itu membuat Jane tidak pernah bisa berpaling dari pesonanya. Pria dengan keramahan hati dan murah senyum sudah menaklukkan hati Jane sejak pertama kali mereka berdua bertemu.
“Kau sedang apa tadi, Dave?” tanya penasaran Jane
“Biasa dia sehabis video call , laporan pagi hari” sahut Ken
“aku jadi penasaran Dave itu sering laporan apa dan ke siapa sih?” tanya Jane sembari menusukkan satu potong buah strawberry untuk Dave.
“Apa kau ada kelas pagi? Kenapa datang sepagi ini?”
“tidak, hari ini aku hanya ada kelas siang, mau mampir sebentar ke perpustakaan. Sekalian saja aku menemui kalian” jawab Jane
Perbincangan mereka tak berlangsung lama, ketiga pria itu segera bersiap untuk mulai kelas mereka masing-masing. Sadar akan hal itu, Jane membereskan perlengkapannya dan memutuskan untuk keluar ruangan itu terlebih dahulu.
“Oh iya, nanti kita makan siang bersama ya” ajak Jane
“Boleh, nanti biar aku datang ke kelasmu” seru Dave
Dibalas dengan gestur tangan ok khas nya, dan Jane meninggalkan ruangan itu.
“Kau terlalu baik Dave” ucap James
***
Waktu pun berlalu, sesuai perkatannya Dave mendatangi kelas Jane yang berada di lantai tiga gedung universitas itu. Ia berdiri di depan pintu kelas dan melambaikan tangannya seraya melihat Jane sari kejauhan. Terdengar pula teriakan-teriakan kecil dari dalam kelas Jane, para wanita yang memang mengidolakan sosok Dave dan memang yang sengaja meledek kecil atas hubungan Jane dan Dave.
Tak dipungkiri banyak dari mereka yang menyetujui dan senang melihat mereka berdua bersama. Jane pun segera berlari kecil menghampiri Dave dengan menenteng tas kulit hitamnya serta tas-tas kecil yang ia bawa sebelumnya. Dengan sigap Dave mengambil tas-tas kecil itu dari tangan Jane.
Mereka berdua berjalan menuju kantin, sesekali ada candaan dan tawa kecil mereka berdua dalam percakapan menuju sana, tak jarang pula Dave mengacak-acak lembut rambut Jane. Jane nyaman dengan perlakuan ini. Di kantin pun sudah ada James dan Ken yang melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk duduk disampingnya.
Mereka menghabiskan waktu di bangku yang terletak di sudut kantin, menikmati makan siang mereka masing-masing sambil sesekali mereka bertukar cerita. Keakraban mereka berempat memberikan kesejukan mata untuk pengunjung kantin lainnya, meskipun mereka sepertinya terlupakan dengan sosok yang seharusnya ada diantara lingkup itu.
“Seandainya dia disini” bisik kecil Dave sambil melontarkan pandangan kosong ke suatu arah
Seketika memecah obrolan mereka.
“oh.. kau barusan bicara apa Dave?” tanya Jane
“ah.. tidak ada” balasnya tersenyum, diseruputnya kopi panas yang ada dihadapannya
“Biarkan saja Jane, dia sedang dimasa-masa galaunya. Haha” ledek Ken
“Oh iya, kakakku baru pulang dari Jepang dan dia mengundang kalian untuk makan malam. Datang ya nanti malam, kau juga ikut saja Jane” ajak Ken
“Eh apa aku tidak apa-apa datang?”
“Tentu saja kan aku yang ajak” seru ken
“Baiklah kalau begitu”
“Apa kakakmu tidak lelah? baru sampai sudah mengundang kita datang” tanya James
“Biarlah, dia bilang rindu masak makanan untuk kalian-kalian ini. Ya meskipun itu aku rasa hanya alasan karena dia hanya rindu padamu saja James. Haha” ucap Ken seraya meledek James.
Semua tertawa dengan kalimat yang Ken lontarkan, mereka semua tahu kalau James dianggap spesial dan diperlakukan layaknya adik kesayangan oleh kakak Ken. Daripada cemburu, Ken malah menganggap itu sebagai bahan untuk menggoda sahabatnya yang super serius itu.
“Baiklah sampai ketemu nanti malam ya di rumahmu Ken, mungkin aku agak telat karena ada urusan lain setelah ini. Oh iya Jane, maaf ya aku tidak bisa mengantarmu.” Ucap Dave sambil bersiap untuk meninggalkan meja makan
“Tidak apa-apa, kau sudah mau pergi?” tanya Jane
“Iya aku harus pergi sekarang, kalau begitu aku duluan ya teman-teman” Dave pun bergegas meninggalkan kantin sambil menepuk pundak James, sosok yang terdekat dari tempatnya.