
Ada sebuah acara tahunan yang selalu diadakan oleh universitas ternama itu, yaitu mahasiswa bisa berpartisipasi mengikuti summer trip yang di adakan sebelum libur musim panas. Acara yang selalu ditangani oleh anggota student council dan beberapa panitia pilihan dari mereka.
Selama satu minggu mengikuti summer trip para mahasiswa bisa menikmati liburan bersama, setiap tahun acara itu dilakukan dengan tema dan lokasi yang berbeda-beda. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengusung acara mendaki bersama, tahun ini acara tersebut mengusung tema yang lebih sederhana yaitu outbounding dan beberapa kegiatan olahraga di alam.
Meskipun begitu ada satu acara yang merupakan tradisi dan selalu dinantikan dalam setiap summer trip, yaitu di malam terakhir akan ada night party dan para mahasiswa bisa mengajak pasangan mereka untuk pergi bersama dan berdansa bersama selama acara tersebut.
*Siang itu di ruang student council, hanya ada James dan Clara sedang sibuk di depan laptop mereka masing-masing.*
“Clara, kau yakin tahun ini mau ikut mengurus summer trip?” Tanya James mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“kenapa tidak?” jawab Clara menghentikan kegiatanny.
“Kau baru dua bulan kembali, apa kau tidak lelah jika harus mengurus kegiatan ini juga?” lanjut James sedikit khawatir.
“It’s okay... kau tidak perlu khawatir, lagi pula ini juga tanggung jawab dan tugasku sebagai ketua council. Aku tidak bisa terus-terusan merepotkan Dave untuk menggantikanku” jelas Clara dengan sedikit tersenyum pada James.
“yasudah.. tapi jangan kau paksakan kerja sendiri ya” lanjut James. Clara pun mengangguk.
Tak lama dering ponsel Clara berbunyi, segera ia mengangkat teleponnya.
“Ada apa Dave?” tanya Clara mengangkat teleponnya.
“Clara maaf aku pulang lebih dulu, aku... sedang tidak enak badan”
“Kau sakit?” tanya Clara khawatir.
“Tidak aku hanya sedang lelah”
“Baiklah.. kau istirahat, nanti aku akan mampir” lanjut Clara seraya menutup teleponnya.
***
Di kediaman Dave,
Setelah menutup telepon, Dave merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya sedang gelisah dan tubuhnya terlihat sangat lelah, lengan kanannya menutupi matanya berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tetapi pikirannya tetap tidak tenang ketika dia harus mencari kata-kata yang tepat untuk ia sampaikan nanti.
“Bagaimana aku mengatakannya pada Clara”
Waktu pun berlalu hari telah berubah menjadi gelap, Clara sudah sampai di kediaman Dave. Ia pun memasuki rumah itu dan disambut oleh kepala pelayan yang memang sudah mengenal baik Clara.
“Tuan Dave sepertinya masih tertidur, biar saya bangunkan sebentar” ucap sang Pelayan.
“Kalau dia masih terlelap biarkan saja Eric, aku akan menunggu” ucap Clara yang tengah duduk di sofa kulit putih di ruang keluarga.
“Apa tidak apa-apa nona? Saya takut nanti dia akan terlelap sampai pagi” cemas sang pelayan.
“Tidak apa-apa dia juga sedang lelah biarkan dia istirahat dulu, nanti aku akan pulang kalau sudah waktunya” jelas Clara yang sedikit menyenderkan tubuhnya nyaman.
“Baiklah kalau begitu, saya akan siapkan camilan apa mau saya bawakan iced americano seperti biasa?” tanya sang pelayan sekali lagi
“Ya boleh” ucap Clara dan sang pelayan pun pergi meninggalkan Clara.
“Eric apa Clara tidak ke sini?” tanya Dave yang kemudian meminum air yang baru saja ia bawa.
“Nona Clara sudah ada di ruang keluarga, tuan” jawab sang pelayan.
“Sejak kapan dia datang? Kenapa kau tidak membangunkanku!” kaget Dave yang kemudian tergesa menuju ruang keluarga.
“Clara... kenapa kau tidak.. beritahu aku sudah di sini” tanya Dave sambil mengatur nafasnya sehabis dia berlari kecil.
Clara yang saat itu sedang dalam posisi tiduran pada sofa, mengangkat sedikit kepalanya dan melihat ke arah Dave yang datang dari arah belakang dirinya.
“Ah.. kau sudah bangun?” jawab Clara.
Dave berjalan ke arah Clara, dan berdiri di belakang sandaran tangan sofa di mana kepala Clara sedang menyandar pada sandaran itu, Dave sedikit menunduk sehingga kepala mereka berhadapan satu sama lain.
“Sudah berapa lama kau menunggu?” tanya Dave menundukkan kepalanya lebih dekat dengan Clara.
“mungkin dua jam” jawab Clara sambil menatap ke arah Dave.
“Dua jam?! Dan kau tidak membangunkanku?” Dave sangat terkejut.
“Kau bilang kau sedang tidak sehat kan, jadi aku membiarkanmu untuk istirahat” jelas Clara.
“Kalau seperti ini aku jadi tidak enak padamu, lalu apa yang kau lakukan selama dua jam?” Tanya Dave yang kemudian pindah untuk duduk di sofa.
“Bekerja” jawab Clara yang segera bangun dari posisi sebelumnya dan mengisyaratkan Dave untuk duduk di sebelahnya.
“Kau sudah lebih baik? Kau sakit apa?” tanya Clara sambil memegang dahi Dave seraya mengecek suhu tubuhnya.
“Aku hanya kelelahan dan sedikit ada pikiran yang mengganjal” jawab Dave.
Dave pun menyenderkan tubuhnya pada sofa, suasana hening beberapa saat hingga akhirnya Dave membuka suara.
“Clara, sebenarnya yang mengganggu pikiranku adalah.... Jane” jawab Dave sedikit terputus.
“Ada apa?” tanya Clara heran.
“Kau tahu kan tahun lalu aku ke acara night party dengan Jane, kali ini dia mengajakku untuk pergi ke party itu bersama lagi dengan alasan orang tuanya hanya mengizinkannya pergi ke summer trip jika aku bersama dia” jelas Dave dengan berat.
“Kau sudah kembali, tapi keadaannya malah seperti ini. Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa”
Clara hanya terdiam mendengar penjelasan Dave, kemudian ia bangkit dari sofa yang ia duduki dan pergi meninggalkan Dave. Clara berjalan ke arah belakang sofa yang tengah diduduki oleh Dave, kemudian ia kalungkan kedua lengannya ke pundak Dave.
“Kalau begitu, pergilah... kenapa kau harus sampai memusingkan hal ini? Lagi pula ini hanya sebuah pesta dansa, tidak merubah apapun kan?” jawab Clara lembut.
Dave terkejut mendengar ucapan Clara, bodohnya Dave karena dia sempat ragu betapa bijaksananya wanita yang mendekapnya itu.
“Kau selalu seperti ini Clara, membuatku merasa seperti pria yang jahat. Tentu ini tidak merubah apapun” Dave pun menyandarkan kepalanya lebih nyaman pada lengan Clara.