
Malam pun tiba, Jane dengan menggunakan dress berwarna peace pendek diatas lutut dan mantel putih yang melindunginya dari dinginnya malam. Rambut curly yang setengah terkuncir kebelakang telah sampai di depan pintu rumah Ken.
Diketuknya pintu itu dan tak lama setelah mengetuk, muncullah sosok wanita dibalik pintu tersebut. Wanita dengan turtle neck t-shirt putih dan celana kulit hitam yang sangat membentuk tubuhnya dengan sempurna.
“Kau pasti Jane, ayo masuk” seru wanita berambut hitam panjang terurai itu, seraya mengajak Jane masuk
“Terima kasih, nama saya Jane salam kenal dan terima kasih juga atas undangannya” salam Jane dengan tersenyum
“Aaah.. tidak usah terlalu formal padaku, teman Ken temanku juga. Oh iya aku Victoria”
Victoria mengantar Jane menuju meja makan dilantai dua rumah besar itu, di ruang makan sudah ada James yang sedikit membantu menyiapkan alat makan yang ada. Victoria mengisyaratkan pada Jane untuk duduk dan pergi ke dapur yang tak jauh dari meja makan.
“ Kau sudah lama tiba James?” tanya Jane sambil menggantungkan mantelnya di kursi tempatnya duduk.
“Aku sudah dari siang disini” jawab James singkat
Jane hanya tersenyum dan mengangguk canggung. Entah kenapa hanya kepada Jameslah Jane tidak bisa menyesuaikan diri dengan baik, Jane merasa sikapnya terlalu dingin padanya atau mungkin dari awal James memang tidak suka kepada Jane.
Tak lama Ken pun datang mencairkan suasana dan tak lupa memuji penampilan Jane malam itu.
Beberapa saat kemudian acara makan-makan tersebut dimulai, mereka berempat sudah berkumpul di meja makan dan menyantap makanan yang tersedia. Tak lupa diiringi obrolan ringan.
Setengah jam sudah terlewat dan akhirnya Dave pun tiba sambil membawakan satu botol champagne. Victoria berdiri menghampiri dan memeluk hangat Dave
“Maaf Vic, aku telat. Apa kabar?” ucap manis Dave
“Huuuuu aku kira kau tidak akan datang, baik. Aku rindu sekali dengan adik tampanku satu ini, duduklah biar aku siapkan yaa” balas Victoria
“Tidak usah terburu-buru juga, lagi pula kita hanya disediakan steak dan sup asparagus” ledek James dengan wajah datarnya
Haha
Semua tertawa kecuali Victoria, mendengar ledekan tersebut dia langsung mengalungkan lengannya ke leher James dan mengacak-acak rambutnya. James pun teriak kecil menggambarkan kekesalannya.
Dave mengambil langkah untuk duduk tepat di seberang Jane, mata mereka berdua bertemu, Dave tersenyum manis dan berbisik kecil memuji penampilan Jane. Dia pun tertunduk malu.
Makan malam dan obrolan berlanjut membuat suasana hangat saat itu, Victoria menerima Jane dengan sangat baik dan ramah. Semuanya terlihat nyaman dan bahagia, sampai suatu nama muncul dalam obrolan mereka.
“Bagaimana ya kabar Clara? Aku rindu sekali dengan dia” ucap Victoria sambil memegang gelas yang berisi champagne.
Dave hanya menggeleng pelan.
Mereka semua melanjutkan obrolan, sesekali menyelipkan nama itu dan mengenang cerita lama yang bersangkutan dengan nama itu. Hanya Jane yang tidak mengetahui siapa sosok bernama Clara, dia pun tidak ada keberanian menyela pembicaraan hanya untuk memastikan siapa itu Clara. Dan kenapa raut wajah orang yang ada di depannya berubah terlihat sendu dan tidak ceria seperti sebelumnya, senyuman yang dia lontarkan pun seperti senyuman paksa.
***
Waktu berlalu dengan cepat, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah menyantap jamuan dan berbincang, satu persatu dari mereka meninggalkan ruang makan dan bergegas untuk pamit. Di luar pintu rumah itu sudah ada Jane dan Dave yang sedang berpamitan dan mengobrol ringan dengan Ken. Dave memutuskan untuk mengantar pulang gadis cantik yang sedari tadi sudah berdiri di sampingnya.
Setelah berpamit dan mengucapkan terima kasihnya Jane dan Dave melenggang menuju mobil sport hitam milik Dave, dengan lambaian tangan Dave menutup perjumpaan mereka.
“Mereka terlihat dekat” ujar Victoria yang tengah berdiri di depan pintu mengantar kepergian dua teman adiknya itu
“haha kita semua tahu kalau itu hanyalah topeng dari bocah itu kan, lagi pula hanya pada dia Dave menunjukkan sisi lainnya” ucap Victoria.
Rintik hujan dimalam yang dingin menyelimuti mobil hitam yang tengah melaju kencang, tidak ada perbincangan di dalam mobil itu. Sang gadis hanya menatap keluar jendela dan sang pria tengah fokus menyetir, musik jazz sendulah yang mengisi kekosongan.
“Miss. Victoria benar-benar baik dan ramah ya” ucap Jane memecah keheningan
“Hm... aah kau benar bisa dibilang Vic itu punya sisi keibuan, dia mengurus kami dengan baik dari kecil” balas Dave yang tersadar dari lamunannya
“Kalian bersahabat dari kecil?” tanya Jane
“Iya aku, James, Ken dan.. ah kami sudah berteman dari sebelum sekolah dasar” penjelasannya sempat terputus.
Tak ingin dihantui rasa penasaran terlalu lama, Jane pun menanyakan sang punya nama yang tadi sempat dibahas.
“Eem.. aku boleh tanya sesuatu? Clara itu siapa?”
Suasana menjadi hening seketika, tak ada balasan apapun dari Dave hingga beberapa saat dia mengeluarkan kalimat.
“kita bahas yang lain saja ya”
Tak ingin membuat mood Dave menjadi lebih turun lagi, Jane menghentikan percakapan itu. Seharusnya aku tidak bertanya itu, yang ada di benak Jane saat ini. Mengenalnya selama dua tahun lebih tidak membuat Dave terbuka pada Jane, selama bersama Dave bahkan tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Apa selama ini dia hanya berpura-pura untuk terlihat bahagia?
Tak lama mereka pun telah sampai di sebuah rumah bergaya American classic dengan halaman yang terhampar luas, dimana di tengah halaman tersebut terdapat air mancur kecil. Di samping kiri halaman terparkir mobil-mobil ferrari berbagai warna dan jenis yang nyatanya milik gadis yang tengah duduk di dalam mobil yang sedang mengantarnya.
Terkejut? meskipun dia memiliki paras cantik dan sifat yang manis bagai putri, keinginan dan hobinya terhadap mobil sport sungguh bertolak belakang, yang terkadang membuat orang lain yang melihatnya tidak percaya.
Mobil Dave pun tiba tepat di depan pintu masuk rumah itu, sang punya rumah tengah siap untuk keluar dari mobil.
“Kau tidak mau mampir?” tanya Jane
“Tidak, ini sudah malam. Kau masuk dan istirahatlah” balas Dave.
Jane pun keluar dari mobil dan berlari kecil menuju pintu, dilambainya Dave mengisyaratkan kepergiannya. Dan mobil hitam itu melaju keluar diiringi dengan derasnya hujan.
***
Dave telah sampai di kediamannya, dia pun segera melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ruangan itu cukup luas dan tidak banyak perabotan di dalamnya, pencahayaannya dibuat seminim mungkin dengan hanya satu lampu yang ada di pojok ruangan yang ia biarkan menyala. Terdapat jendela besar di samping kiri tempat tidurnya dimana sisi luar taman terpantul dari jendela itu.
Dave melangkahkan kakinya ke arah jendela, melihat kosong ke arah luar jendela yang sedang didera hujan lebat. Kenangan-kenangan masa lalunya terus terputar dikepalanya.
“*kapan kau akan kembali? Kenapa pergi mendadak seperti ini?”
“maaf Dave aku belum bisa memastikan, aku akan kembali setelah situasinya terkendali"
Tapi ini sudah lebih dari dua tahun dan kau belum kembali*, Ucapnya dalam hati. Dave pun terduduk di pinggir tempat tidur, tertunduk dan menadahkan kepalanya dengan kedua tangannya. Masih sangat jelas teringat dikepalanya saat dia berpisah. Suasana ramai bandara saat itu dan syal yang ia lingkari di lehernya sebelum kepergiannya. Dia terlarut dalam kesedihan.
*Ya dia rindu
Rindu dengan orang yang sangat dekat dengannya*