
“Apa?! Tapi kan rencana kita di sini sampai minggu depan Dave” kaget Jane
“Aku minta maaf Jane” balas Dave
“Memang apa sih urusanmu? Ini tidak seperti dirimu, kau kan sudah janji dan kita sudah merencanakan ini juga dari jauh-jauh hari!!” marah Jane
“Sudahlah Jane, mungkin ini mendesak untuk nak Dave, kita juga tidak tahu kan apa yang akan terjadi. Kita juga tidak bisa memaksakan.” jelas ayah Jane berusaha menenangkan anaknya itu.
Jane masih terdiam duduk tanpa berkomentar sedikit pun, Dave terus menerus meminta maaf kepada orang tua Jane yang tengah duduk di ruangan itu. Setelah mendapatkan persetujuan dari orang tua Jane, Dave melangkahkan kaki berjalan menuju kamarnya dan bersiap membereskan barang-barangnya. Dia pun langsung memesan tiket untuk pulang, beruntungnya Dave mendapatkan tiket yang sesuai dengan jadwal pertemuannya saat tiba nanti.
Suara ketukan pintu pun terdengar, dengan raut wajah sendu Jane berdiri di depan pintu kamar.
“Apa kau benar-benar akan pergi besok?” tanyanya
Dave mendatangi Jane yang masih terdiam di posisinya, ia pun menggenggam satu tangan Jane
“Aku benar-benar minta maaf Jane, setelah ini jika kau membenciku atau ingin melampiaskan amarahmu aku akan terima nanti. Tapi kepentinganku ini tidak bisa ditinggalkan, maaf Jane” jawab Dave berat
“Baiklah, aku mengerti. Maaf jika tadi aku sedikit terbawa emosi” jelas Jane dengan suara yang berat
“Aku pun akan melakukan hal yang sama, Jane” ucap Dave yang kemudian memeluknya hangat.
Malam itu berakhir, esok pagi taksi yang telah dipesan Dave sampai dan siap mengantar Dave ke Bandara. Mereka saling berpamitan hingga taksi yang ditumpangi Dave pergi dari resort yang nyaman itu. Sepanjang jalan tak hentinya Dave mengecek ponselnya, apakah ada kabar yang dia harapkan tapi nyatanya tidak ada.
Pesawat pun sudah membawa Dave setengah perjalanan, hingga akhirnya sampailah dia di bandara tempat asalnya di malam hari. Dave telah sampai satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan, perasaan cemas pun menghantuinya. Dia pun menuju cafe terdekat untuk sekedar membeli sesuatu agar perasaannya tenang.
Terus menerus ia mengecek ponselnya dan satu jam telah lewat begitu saja tanpa ada kepastian. Dave mulai sedikit khawatir pikirannya tidak tenang dia tidak bisa menutupi perasaannya yang campur aduk, digigitnya bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa khawatir itu. Hingga dering telepon mengagetkan pria tegap itu.
“Aku sampai”
“Tunggu di tempatmu, biar aku ke sana” balas Dave seraya meninggalkan bangku di cafe.
Dia sedikit berlari kecil sembari menggeret koper putihnya, tak hentinya dia tersenyum. Terus melangkah hingga senyumnya tiba-tiba melebar. Terlihat dengan jelas dari kejauhan sosok yang dikenalnya, sosok yang sangat ingin dia temui.
Rambut hitam panjang terurai bebas, tinggi semampai, menggunakan coat hitam panjang selutut menutupi kaos putih di dalamnya, berdiri santai dengan sepatu kets putih bersih. Orang itu pun melepaskan kaca mata hitam yang ia kenakan seraya melihat orang yang mendatanginya dengan cepat.
Langkah kaki Dave semakin cepat lebih tepatnya dia sedang berlari sekarang, meninggalkan kopernya dan menjatuhkan pelukan hangat pada sosok wanita itu.
“Clara” ucapnya riang
“Aku pulang Dave” balas wanita yang sedang berada dipelukan pria itu
Waktu berjalan lambat saat itu, dialah sosok yang selama ini dinanti oleh Dave. Hangat, itu yang Dave rasakan seakan tidak ingin terlepas dari momen itu. Selang beberapa menit Dave akhirnya melepaskan pelukannya. Mereka berdua saling tertawa, pandangan tulus dari Dave terpancar jelas dimatanya.
Tak lama mereka berdua menaiki mobil yang tengah menunggu mereka, sepanjang perjalanan Dave tidak melepaskan genggaman tangan wanita disampingnya.
“Apa semuanya sudah terkendali? Kenapa memakan waktu yang sangat lama?” tanya Dave
“Tentu saja aku khawatir, lihat saja ini tanganmu menjadi kurus seperti ini. Tetapi melihat kau memakan waktu selama ini pasti kau mengalami kesulitan apalagi kau harus membenahi perusahaanmu seorang diri” cemas Dave sembari mengangkat-angkat lengan kecil di genggamannya.
“Ya begitulah.. selalu aku yang menjadi imbas dari permainan-permainan orang yang tidak bertanggung jawab Itu. Tapi untuk saat ini sepertinya aku sudah bisa memantaunya dari jauh, jadi aku memutuskan untuk kembali” jelas Clara
“Kau memang wanita kuat Clara, yang terpenting sekarang kau sudah kembali dan pertama kita harus perbaiki tubuhmu ini dulu aku yang akan selalu memantaumu. Oh ya apa yang lain tahu kau sudah kembali?” tanya Dave
Clara menggeleng pelan
“Hanya kau dan Thomas yang baru aku kabari”
“Hm.. baik, kita beri kejutan kalau begitu” ucap Dave yang lalu menyandarkan kepalanya di bahu Clara.
***
St. Moritz
Hari telah berganti, selepas sarapan bersama Jane terus berada di kamarnya. Tidak seperti biasanya, hari itu Jane lebih memilih menghabiskan waktu hanya di tempat tidur saja. Tangan dan pandangannya tak henti lepas dari ponsel yang ia genggam, seakan menunggu sesuatu yang penting.
Kenapa kak Dave tidak mengabari
Hanya itu yang ada di lamunannya saat ini. Udara terasa lebih dingin di sana, sang ayah mengetuk pintu kamar Jane pelan membawakan chamomile tea panas kesukaan anaknya itu. Ayah Jane menghampiri, di taruhnya dua cangkir teh itu di atas laci kecil tepat di samping tempat tidur. kemudian ia pun duduk di tepi kasur, sadar akan perubahan mood anak tercintanya ia pun bertanya,
“Ada apa? Kau masih memikirkan kejadian kemarin?” tanyanya cemas
“Tidak ayah, aku hanya sedang tidak bersemangat hari ini.” Jawab Jane singkat
“Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini, apa kau tidak senang jika hanya berlibur bersama ayah dan ibu?”
Jane seketika terkejut mendengar ucapan sang ayah, ia pun menegakkan posisi duduknya.
“Ayah... kenapa ayah bilang begitu? Tentu aku senang, aku hanya merasa seperti tidak lengkap saja dan mungkin sedikit kecewa karena apa yang sudah kita rencanakan bersama sedemikian rupa ternyata berantakan begitu saja” jawab Jane sedikit lesu
“Nak.. dengarkan ayah, mempunyai rasa kecewa itu wajar tapi kau harus belajar untuk menerima sebuah keputusan. Entah itu yang baik menurutmu ataupun sebaliknya, kau harus bisa melihat suatu kondisi bukan hanya dari sisimu saja. Mungkin menurutmu keputusan yang Dave ambil tidak penting, tapi kau tidak tahu bagaimana dari sisi dia? Semakin dewasa kau harus lebih banyak belajar lagi mengenai nilai kehidupan dan keadaan di sekitarmu. Kelak apa yang kau putuskan, itu merupakan tanggung jawab yang harus kau jalani.” Nasihat sang ayah
Jane pun tertegun mendengar nasihat itu, ia langsung memeluk ayahnya tak lupa ia bisikan lembut kata maaf dan terima kasih.
“Ayah bagaimana kalau liburan kita diperpanjang disini? Kita bisa menghabiskan pergantian tahun baru bersama” seru sang anak sambil tersenyum
“Apapun yang kau inginkan nak” jawab sang ayah
“Menurut ayah apa aku telepon saja Dave?” tanya Jane
“Kalau menurutmu itu perlu, kenapa tidak?” Jelas sang ayah.