
Di sebuah rumah bergaya Classic Modern dua orang pria tengah duduk di sebuah ruang keluarga, menikmati cappuchino panas dan bersandar pada sofa kulit hitam panjang. Menghangatkan tubuh mereka di depan perapian.
“Sudah lama sekali aku tidak melihatmu Thomas” seru Dave.
“Ya kau kan tidak akan kesini kalau nona Clara tidak ada” jawab Thomas mengejek.
“Wah... jahat sekali kau bicara seperti itu, aku ini kan juga sibuk” Dave berusaha membela.
Clara pun datang dari sisi lain ruangan dengan memakai oversized hoodie abu-abu dan rambut yang terkuncir asal ke belakang. Ditangannya membawa beberapa potongan buah di atas piring kecil dan di tangan satunya tak luput ia membawa tumpukan berkas. Ia pun memilih untuk duduk di atas karpet bulu yang terbentang tepat di depan sofa hitam.
“Ini pakailah selimut untuk menutupi kakimu” ucap Dave sembari memberikan selimut yang memang sudah disediakan oleh Thomas.
Tak lama dering di ponsel Dave terdengar. Seperti biasa ia berbicara dengan suara lembutnya, obrolannya tidak berlangsung lama dan Dave hanya memberikan penjelasan singkat pada lawan bicaranya di telepon. Mengetahui siapa yang menelepon, Clara hanya sedikit melirik pada Dave lalu fokusnya kembali lagi pada berkas-berkas yang ada di depannya.
“Gadis itu yang menelepon?” tanya Clara.
“Iya dia hanya bertanya kenapa aku tidak mengabarinya setelah sampai” jelas Dave yang turut ikut pindah duduk di atas karpet.
“Jadi bagaimana kehidupanmu di Jerman? Kau bahkan tidak mengizinkanku sama sekali untuk berkunjung ke sana” Tanya Dave.
“Kau pasti sudah bisa membayangkan, awal aku tiba benar-benar masa yang sulit. Semua berantakan, perusahaanku dihancurkan dan ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang itu. Aku harus mengatur ulang sistem di sana dan mau tidak mau harus menghadapi para pemegang saham yang kau pun tahu membuat mereka untuk percaya lagi tidak mudah.
Makanya beberapa bulan awal aku benar-benar lost contact darimu, saat itu sulit sekali untukku membagi waktu bahkan aku harus curi waktu hanya untuk sekedar tidur.” Jelas Clara sambil menyusun berkas yang ada di depannya.
“Kalau saja nona mengizinkan saya untuk ikut, pasti saya akan membantu pekerjaan nona di sana” ucap Thomas membantu Clara dengan berkasnya.
“Kau tidak kuizinkan karena hanya kau yang aku percaya untuk memegang tanggung jawab penuh menjalankan perusahaan di sini”
“Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Kau tidak bisa memaksakan semuanya sekaligus kan? Ingat tubuhmu pun juga ada batasnya” tanya Dave dengan sedikit cemas.
“Akan kulanjutkan, aku juga sudah mengurus beberapa berkas saat di sana. Saat kau masuk nanti, aku juga akan mulai masuk meskipun sepertinya aku akan tertinggal oleh kalian. Kau tidak perlu khawatir, di perjanjian awalku dengan ayah, aku bersedia mengurus bisnis yang ia berikan asal dia tidak mengganggu kehidupan pribadi dan kuliahku. Lagi pula ada Thomas yang akan membantu jika memang nanti kehadiranku diperlukan.” jawab Clara.
“Tentu nona” seru Thomas.
“Yasudah aku percaya kau bisa mengatur itu semua dengan baik, asal kau tidak lagi mengabaikan kesehatanmu” ucap Dave yang sedikit mencondongkan badannya ke arah Clara, memastikan kalau ucapannya serius.
Clara hanya tersenyum singkat, ia kemudian mengambil sebuah berkas di mana tertulis kelas dan program apa saja yang akan ia ambil di semester baru dan sedikit terkejut melihatnya.
“Kau bilang gadis itu mengambil kelas manajemen bisnis kan? Sepertinya... aku akan sekelas dengan dia nanti”
Dave hanya merespon dengan menaikkan alisnya, ia pun kembali menyeruput cappuchino yang sebelumnya ia taruh di meja.
“Clara, bagaimana kalau kita menghabiskan malam tahun baru di sana?” tanya Dave.
Kali ini Clara yang mencondongkan badan ke arah Dave, sedikit berdiri dari posisi duduknya hingga kedua posisi mata mereka sejajar. Menatap tajam kearah Dave, kemudian diusapnya bibir tipis Dave dengan ibu jari Clara, menghilangkan sisa foam kopi yang menyisa di atas bibir Dave.
“Tentu” jawabnya sambil tersenyum.
***
Mobil sport hitam melintas di jalanan kosong, melewati liku-liku dan hamparan pohon-pohon tinggi. Jauh dari pusat kota dan tak banyak mobil lain yang melewati jalan itu. Iringan musik ringan menemani sepanjang perjalanan, langit senja berwarna jingga terlukis dengan indah di langit.
Berkilo-kilo meter dilewati akhirnya mobil tersebut telah sampai di sebuah vila megah. Sekelilingnya masih ditumbuhi tanaman dan pohon-pohon tinggi yang membuat lingkungan itu terlihat sangat asri.
Sang pengemudi segera keluar dari mobil tersebut diikuti oleh penumpang disampingnya, Dave dan Clara telah tiba di vila milik keluarga Dave.
Digeretnya koper-koper kecil milik mereka menuju pintu masuk vila itu. Tak lama mereka pun disambut oleh kepala pelayan tua yang sudah lama melayani dan menetap di vila itu, menuntun sang pemilik menuju ruang istirahat.
“Happy new year Dave” ucap Clara yang pandangannya masih terpaku pada langit malam.
Seketika Dave menarik tangan Clara mengajaknya untuk masuk, dituntunnya tangan Clara untuk duduk bersama Dave di depan tungku perapian. Dave yang saat itu memakai sweater cokelat dan celana santai kotak-kotak tengah duduk terlebih dulu dengan posisi satu kaki ditekuk dan tangan yang menepuk-nepuk permadani mengisyaratkan agar Clara juga duduk di dekatnya.
Clara pun meledek dengan mengabaikan dan berencana meninggalkan ruang itu, tiba-tiba Dave terbangun dan menarik tangan Clara hingga membuatnya sedikit jatuh terduduk tepat di depan Dave. Dave menyandarkan kepala Clara pada dada bidangnya, mengunci tubuh Clara dengan kedua lengannya. Clara tidak bisa berbuat apa-apa.
Suasana menjadi hening beberapa saat, hanya suara kayu yang terbakar perapian yang terdengar. Diraihnya selimut yang ada di dekatnya dengan tangan Dave kemudian menyelimuti kaki wanita yang ada didepannya.
“Bagaimana hari-harimu dua tahun belakangan” akhirnya Clara membuka suara.
“Seperti biasa, hanya saja lebih sepi tanpamu” jawab Dave.
“Bukankah sudah bertemu teman baru, lalu bagaimana kau mengenalnya?” lanjut Clara dengan sedikit memainkan jari Dave yang ada dipelukkannya.
“hm... Cemburu?” Ledek Dave sambil tersenyum kecil di belakang Clara.
“Oke... lalu bagaimana kabar perusahaanmu?” jawab Clara dengan sedikit jengkel.
“Whoah.. Secepat itu mengalihkan pembicaraan, haha aku hanya bercanda. Aku dan dia bertemu di taman saat penerimaan mahasiswa baru, waktu itu dia banyak menanyakan beberapa hal dan sejak itu pula jadi dekat denganku, Ken dan James. Sikapnya juga baik” jelas James.
“Kau tahu Dave, terkadang wanita bisa saja menyalah artikan sikap baik seseorang, terutama dari lawan jenis” ucap Clara yang lebih menyenderkan kepalanya ke posisi lebih nyaman.
“Perlakuanku padanya sama saja seperti pada yang lain, pada Ken, James dan teman-teman lainnya. Hanya kau yang berhak kuperlakukan berbeda” jelas Dave diiringi dengan kecupan ringan pada kepala Clara.
“Terserah kau saja”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo... Rezuki disini~
Apa kalian menikmati cerita You Make My Life Complete?? ini karya pertama author jadi mungkin ada beberapa susunan kalimat,alur, ataupun typo yang masih kurang sempurna 😅 kalau kalian ada kritik dan saran boleh loh tinggalkan komen. Kalau kalian suka dengan ceritanya, bisa support author dengan cara like dan share ke teman-teman kalian.
Satu lagi... setelah baca episode ini, author jadi penasaran kira-kira kalian tim ngeship siapa? hehe
bisa tulis di komen, vote terbanyak nanti author buat gambar karakternya 😁
Sekali lagi.. Makasih semuanya 😸❤