
Hari-hari berlalu, Jane telah kembali dari liburannya bersama keluarga. Ia hanya menghabiskan sisa waktu liburan yang ada dengan bersantai di kediamannya. Seharian Jane hanya berbaring di atas kasur dan memainkan ponselnya, hingga dia terkejut saat membuka satu akun sosial milik seseorang.
Menurutnya Dave adalah orang yang hampir tidak pernah mengungkapkan kehidupan pribadinya, termasuk isi postingan pada akun yang ia miliki. Jane menemukan postingan terbaru dari akun Dave, sebuah video tanpa keterangan yang tertera. Hanya sebuah video dengan suasana gelapnya malam dan nampak beberapa pertunjukan kembang api di langit, yang membuat dirinya terkejut ialah saat kamera pada video itu menyorot sosok yang tengah berdiri di depannya.
Sosok itu membelakangi kamera dan tidak terlihat dengan jelas, hanya bisa digambarkan ia menggunakan hoodie hitam lengkap dengan tudung yang menutupi kepalanya. Video itu berdurasi satu menit, dibuatnya penasaran Jane terus menonton video itu sampai habis. Hingga di akhir video sebuah angin kencang menerpa sosok yang ada di dalam video itu, membuat tudung yang dipakainya terbuka dan mengibaskan rambut hitam panjang miliknya.
Siapa dia? Pikir Jane
***
Bulan pun berganti, udara menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Pohon-pohon sudah mulai menunjukkan wajah barunya, bunga-bunga indah bermekaran di sepanjang jalan. Sudah memasuki musim semi saat ini, pertanda aktivitas perkuliahan juga dimulai.
“Yo James! Kau datang pagi sekali” seru Ken menghampiri James yang tengah bersandar pada dinding dekat pintu masuk kampus.
“Kau yang telat, lagi pula kenapa Dave menyuruh kita berkumpul di sini pagi-pagi” keluh James.
Ken hanya menaikkan kedua pundaknya menandakan ketidaktahuannya. Kemudian sebuah tepukan mendarat di bahu Ken.
“Pagi Ken, James.. kalian sedang apa di sini?” tanya Jane yang baru saja tiba menghampiri.
“Pagi”
“Oh pagi Jane, kau sudah datang? Kami sedang menunggu Dave. Dia menyuruh kami berkumpul di sini.” Jelas Ken.
“Oh ya? kebetulan sekali kalian akan berkumpul, aku ingin memberikan oleh-oleh ini” ucap Jane sambil memberikan bungkusan beberapa botol sirup maple yang sudah disiapkannya.
“Wah terima kasih Jane, omong-omong bagaimana liburanmu dengan Dave?” tanya Ken seraya membantu mengambil bungkusan yang ada ditangan Jane.
“Aah... itu... ya menyenangkan, hanya sedikit diluar rencana” jawab Jane dengan senyum yang sedikit ia paksakan.
“Akhirnya dia datang” seru James memotong percakapan kedua rekannya.
Sebuah mobil sport hitam yang tidak asing terlihat dari kejauhan telah terparkir, Dave dengan menggunakan kemeja biru muda dan jaket kulit hitam keluar dari sisi pengemudi. Dilepasnya kaca mata yang ia kenakan saat itu, sesekali ia merapikan rambut hitamnya menimbulkan suara teriakan-terikan kecil di sekitarnya.
Tak lama seorang wanita keluar dari sisi samping, dengan menggunakan kemeja putih dan blazer hitam yang bagian lengannya sedikit ia gulung ke atas.
Dibawanya pouch hitam sedang dan kemudian wanita itu berjalan menghampiri Dave.
“Siapa itu?” tanya Ken dengan sedikit menyipitkan matanya.
“astaga... jangan bilang itu...” sela James sedikit terkejut.
“Clara!!” teriak James dan Ken bersamaan, Ken pun yang terlihat sangat terkejut segera berlari menghampiri wanita yang ia teriaki.
Ken menjatuhkan pelukan pada Clara, dengan kondisi yang sedikit terkejut Clara hanya tertawa dan membalas pelukan Ken. Mereka bertiga melanjutkan jalan ke arah James, dihampirinya wanita itu James pun memeluk hangat Clara.
“Kau sudah kembali Clara” ucap James hangat.
“Aku pulang” balas Clara.
“Astaga jadi ini rencanamu Dave!! Teganya kau tidak bilang Clara sudah kembali, pakai tidak bisa dihubungi dan tiba-tiba menyuruh berkumpul seperti ini. Kalau seperti ini aku bagaimana bisa marah” ucap Ken sedikit teriak.
“Tidak seru kan kalau tidak ada kejutan” balas Dave sambil tertawa ringan, menyadari ada sosok lain di sana Dave pun menghampirinya.
“Hai Jane, apa kabar? Um.. aku ingin minta maaf sekali lagi atas kejadian kemarin” sapa Dave.
“Aah pagi Dave, tidak usah kau pikirkan kejadiannya juga sudah lewat. Eh.. itu” jawab Jane sedikit canggung.
“Oh iya Clara, kenalkan ini Jane. Jane ini Clara sahabat kami” ucap Dave memperkenalkan
Clara, dengan santai ia menghampiri Jane terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya.
“Hai Jane, aku Clara salam kenal” ucap Clara dengan ramah.
“Aku Jane, salam kenal Clara” jawab Jane menyalami tangan Clara.
Setelah berjabat tangan dengan Jane, Clara dengan tersenyum dan anggukan kecil meninggalkan Jane dan kembali menghadap ketiga sahabatnya, melanjutkan obrolan dengan mereka. Merasa tidak nyaman dengan posisinya, Jane memutuskan untuk segera pergi.
Tapi langkahnya terhenti saat namanya terpanggil.
“Kau mau ke mana Jane?” tanya Dave.
“Ah itu, aku mau masuk ke kelas. Oh iya ini oleh-oleh untukmu” jawab Jane sembari menyerahkan bungkusan terakhir.
Jane pun meninggalkan kelompok itu, dengan perasaan yang agak berat dia melangkahkan kakinya. Jadi itu Clara, itu yang ada dipikirkannya saat ini. Saat mata mereka bertemu Jane sedikit mengagumi sosok yang baru saja ia temui tadi.
Clara Estelle wanita dengan paras cantik berambut hitam lurus panjang, memiliki garis wajah dan mata yang tegas, serta sikap yang terlihat sangat berwibawa saat berjalan dan berbicara.
Kemudian pikiran-pikiran negatif sesaat menghampiri Jane,
Apa mereka sekedar bersahabat?
“Ah Miss. Estelle, silakan langsung duduk” ucap sang Dosen yang seraya mengisyaratkan untuk duduk.
Clara pun memasuki ruangan dan segera menduduki bangku yang kosong di belakang.
“*siapa dia?”
“Wah... cantik sekali”
“Apa dia anak baru*?”
Suara bisik-bisik terdengar, termasuk teman-teman Jane yang duduk di sampingnya. Bertanya siapa wanita itu, tapi hanya satu pertanyaan di benak Jane,
Kenapa dia harus di kelas ini.
“Kau kenal dengan dia Jane?” tanya seorang teman dekat Jane.
“Yang kutahu dia sahabat Dave” jawab Jane singkat tanpa memandang sedikit pun ke arah temannya.
“Well, sepertinya kau harus berhati-hati dengan dia”
“apa maksudmu?” tanya Jane yang sedikit terkejut dengan pernyataan temannya itu.
“kau sendiri juga tahu kan, tidak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita.” Jelas sang teman.
“Sudahlah.. lebih baik kau fokus saja dengan apa yang ada di depanmu” balas Jane yang berusaha untuk mengabaikan ucapan temannya.
Untuk pertama kalinya Jane tidak bisa fokus pada suatu hal, termasuk dosen yang sedari tadi memberikan materi di hadapannya. Pikirannya terus melayang mencoba menolak logika-logika yang ia buat sendiri. Ia menggenggam keras pulpen yang ada di tangannya.
Itu tidak mungkin kan... lagi pula Dave sangat baik padaku.
***
Beberapa jam telah berlalu, sebagian mahasiswa dari ruangan itu bergegas untuk meninggalkan kelas. Tak sedikit pula dari mereka yang masih ada di ruangan mencoba untuk berkomunikasi dan berkenalan dengan sosok wanita cantik yang baru saja mengisi kelas itu. Meskipun hanya jawaban singkat saja yang diberikan oleh sang wanita. Jane yang saat itu sedikit mendengar percakapan yang ada di belakangnya, berusaha lebih cepat untuk meninggalkan ruangan.
“Lihat Jane pangeranmu sudah menjemput” ucap sang teman yang seketika memberikan tanda pada Jane.
Ekspresi Jane seketika berubah, senyum lebar terlukis diwajahnya. Tak lupa ia sedikit merapikan rambut bagian bawahnya, berusaha untuk terlihat lebih sempurna. Tidak seperti biasa, kali ini Dave memasuki ruang kelas. Berjalan menghampiri Jane dan tersenyum manis padanya. Betapa terkejutnya wajah gadis manis itu saat sosok pria yang ia kagumi berjalan begitu saja melewatinya.
“Kau sudah selesai?” tanya Dave menghampiri bangku Clara.
“Um” Clara mengangguk kecil.
Mereka berdua berjalan kembali ke arah luar kelas, Dave berhenti tepat di depan Jane.
“Kau juga sudah selesai? Ayo kita ke kantin, yang lain sudah menunggu di sana” ucap Dave seraya mengajak Jane yang saat itu masih terdiri di depannya.
“Hm... Kau duluan saja nanti aku menyusul” jawab Jane sedikit canggung.
Mendengar balasan Jane, Dave hanya mengangguk dan tersenyum sambil menepuk ringan bahu Jane menandakan kepergiannya. Di belakangnya diikuti oleh Clara yang berjalan dan tanpa sedikit pun melihat ke arah Jane.
Apa-apaan itu?!
Saat itu juga Jane memutuskan untuk tidak menuruti ajakan Dave, tapi hatinya berkata lain. Dia tidak ingin dinilai terlalu berlebihan dalam bertindak, dengan berat hati ia pun melangkahkan kakinya menuju kantin. Langkahnya sedikit ia lambatkan, ia tidak ingin kedatangannya tidak berbeda jauh dari mereka berdua. Apa yang akan orang-orang bicarakan nanti, pikirnya.
Setibanya di kantin, Jane pun melihat kelompok itu yang tengah duduk di tempatnya seperti biasa. Terlihat juga dari kejauhan tidak ada sosok Clara dan James di meja itu, ini kesempatannya agar tidak datang dalam suasana yang canggung.
“Hai Jane” sapa Ken sambil mengunyah potongan sandwich ditangannya.
Jane membalas sapaan mereka dan duduk di seberang Dave, Dave menyuguhkan satu botol jus jeruk yang biasa di minum Jane.
“Aku kira kau tidak datang” ucap Dave.
“Aku tadi menyerahkan laporan terlebih dahulu” jawab Jane dengan sedikit bohong, ia pun mengambil botol jus yang diberikan Dave.
Clara dan James datang menduduki bangku mereka, Clara meletakan cangkir yang ia bawa dan duduk tepat di samping Dave.
“Kau hanya pesan black tea” tanya Dave seraya melihat apa yang dibawa oleh Clara.
“Aku tidak lapar, mungkin nanti sekalian makan malam saja” jawab Clara.
“Ck.. selalu seperti ini, James kau tidak menegur dia seperti itu?” tanya Dave yang sedikit menggerutu ke arah James.
“Kau lihat kan Clara? Dia selalu saja melampiaskannya padaku” keluh James.
Clara hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabat-sahabatnya. Jane sedikit tertegun, ini pertama kalinya Jane melihat James bisa bercanda senyaman itu pada yang lainnya.
Apa aku di sini hanya mengganggu?