YOU ARE MINE ONLY

YOU ARE MINE ONLY
Bab 5



...You Are Mine Only...



cukup lama Dena terdiam di lorong yang sepi menuntaskan rasa sakit yang selama ini ia pendam seorang diri. ia pun bangkit dari duduknya dan menghapus kasar bekas air matanya yang tertinggal di kedua belah pipinya.semua orang tidak boleh melihatnya menangis ia tidak ingin terlihat lemah cukup ia dan tuhan,semua orang tidak boleh melihatnya menangis.


"huft,,,semangat adena ardara kamu perempuan yang kuat.semuanya pasti akan indah pada waktunya" ucap Dena pada dirinya dan berlalu pergi .


setelah melihat Dena pergi, kaivan juga ikut meninggalkan tempat itu.ia hanya memastikan keadaan Dena baik baik saja.


di sepanjang koridor kampus Dena berjalan santai seorang diri tanpa di temani oleh kekasihnya dan sahabatnya.


"lebih baik aku pulang,untuk apa aku berlama lama di kampus lagipula setelah ini tidak ada kelas lagi"monolog Dena pada dirinya.ia pun bergegas pergi meninggal kan area kampus menuju halte bus.


cukup lama Dena menunggu di halte bus seorang diri,bus yang di tunggu Tunggu akhirnya datang, beberapa orang keluar dari bus. di saat Dena ingin memasuki bus tiba tiba saja handphone nya berbunyi.


Ting,,,,


petanda ada pesan masuk, ia langsung mencek handphone nya takutnya itu pesan dari barra. dan benar itu pesan singkat dari barra.


Kak barra♡


Lo dimana?


laptop gw Lo kasih ke Lisa kan?


^^^dihalte bus kak^^^


^^^tadi kk lisanya ambil sendiri^^^


temuin gw di gudang!


^^^tapi aku mau pulang kk^^^


^^^bukannya kk gk mau ketemu sama aku?^^^


perintah!!


^^^tumben kk barra ngajak aku ke^^^


^^^gudang,ada apa kk?^^^


semenit dua menit Dena menunggu balasan namun tidak ada sama sekali notif dari barra,barra telah off WhatsApp.


"neng mau masuk nggak?saya mau jalan nih" tanya sopir bus


"bentar dulu pak saya pikir dulu"


"ya Allah neng kalau nunggu neng berpikir dulu yang ada saya kehilangan penumpang di halte selanjutnya.kalau mau ikut ya masuk "


"bentar ya pak"


"pulang gak ya? tapi kalau aku pulang aku gak bisa ketemu sama kak barra.kesempatan gak akan datang dua kali " pikir Dena keras.


"neng udah belom berpikirnya?"


" maaf pak saya gak jadi masuk,saya ada urusan" final Dena dan memundurkan langkahnya.


"dari tadi kek ,kan saya gak harus nunggu"


"maafkan saya ya pak" ucap Dena merasa bersalah pada sopir bus.pak supir bus langsung menancap pedal gas meninggalkan Dena seorang diri di halte bus.


Dena bergegas kembali ke kampusnya dengan sedikit berlari karena jarak kampus ke halte cukup jauh untuk pejalan kaki jadi untuk memaksimalkan waktu Dena berlari.


"tunggu aku kak barra,aku datang" ucap Dena disela ia berlari.


hampir 15 menit Dena berlari dan akhirnya ia telah sampai di depan pintu gudang. ia masih mengatur nafasnya karena terlalu bersemangat berlari.


"tapi apa tujuan kak barra ketemu aku di dalam gudang? kan di taman belakang bisa?" pikir Dena keras,ia menatap sekeliling lorong yang begitu sepi bisa di bilang gudang jauh dari tempat keramaian. jarang sekali ada orang lewat di lorong ini apalagi masuk ke gudang.


pikirannya kemana mana takut terjadi sesuatu pada dirinya kedepannya namun ia langsung menggeleng kan kepalanya cepat menghapus pikiran negatif nya.


"gak mungkin kak barra gak mungkin berbuat yang aneh,mungkin saja kak barra bertemu dengan ku di gudang karena tak ingin ketauan sama kak Lisa"


dengan hati dag dig dug Dena mulai memasuki gudang,sangat gelap tak ada sedikit pun pencahayaan ia langsung mengambil handphone nya dan menyalakan senter.


sepi tidak ada sahutan sama sekali Dena kembali berpikir positif


"ayo den jangan berpikiran negatif, mungkin aja kak barra ada di dalam sana.gudangkan luas" pikirnya dengan di iringi jantungnya yang berdegup kencang.


"hello ada orang ?kak barra,ini Dena kak" Dena semakin memasuki gudang dengan cahaya handphone nya.


"kak ini gak lucu loh bercandanya? kak barra!" ucap Dena


tiba tiba saja ada suara benda jatuh


praaaang,,,,


membuat jantung Dena samakin tidak karuan ia benar benar takut saat ini.


"kak barra apa itu kakak?" tanya Dena langkah kakinya mengikuti suara benda jatuh dan tiba tiba saja bahunya ada yang memegang membuat Dena menghentikan langkahnya dengan sedikit gugup Dena memutar tubuhnya. untuk mengetahui siapa yang memegang bahunya.dan


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,,,"teriak Dena ketakutan saat matanya melihat wajah seseorang yang menatapnya sangat datar dan tanpa sadar Dena membuang asal handphone nya sampai rusak berkeping keping.


"Dara ini gw kaivan" ucap pria itu mencoba menghentikan teriakan Dena.


"kaivan? siapa?"tanya Dena bingung selama ini ia tak pernah mendengar nama kaivan.


"teman sekelas Lo dan saudara tiri kak barra"jelas kai


"kaivan kamu kok ada di sini?" tanya Dena menatap wajah kai yang masih ada cahaya yang masuk di celah celah atap membuat wajah tampan itu masih terlihat walaupun dengan cahaya minim.


"yang seharusnya nanya itu gw,Lo ngapain di sini?ini gudang bukan tempat tongkrongan, apalagi Lo cewe"


"itu aku mau ketemu kak barra" ungkap dena


"mau ketemu kak barra? di gudang?Lo jangan ngaur mana mungkin kak barra ngajak lo ke gudang "


"bener kok kak barra tadi ngajak aku ke gudang buktinya ada di handphone"


"mana?"


"wait,,, handphone aku mana ya?" tan,,gannya mencari benda pipih di dalam tasnya namun sama sekali ia tak menemukan nya.


"astaga handphone aku" baru ia menyadari jika handphone nya ia lempar ke sembarang arah.dena langsung meraba raba lantai mencari handphone yang tak sengaja ia lempar tadi


"mana ya?"


tanpa sadar Dena meraba pecahan kaca dan membuat tangannya mengeluarkan cairan merah yang kental.


"AW,,,,,,,"


"kenapa?coba sini gw lihat" tanya KAI merasa sangat khawatir ia langsung mengambil tangan kanan Dena. matanya melihat tangan Dena terluka dan mengeluarkan banyak darah.walaupun dengan cahaya yang minim kai masih bisa melihat dengan jelas kalau tangan Dena berdarah.


"tangan Lo berdarah" kata kai ia langsung mengecup tangan dena.dena bergeming atas perlakuan kaivan padanya.


"kamu nggak jijik?"


"ngapain jijik sama darah?gw juga punya darah" cetus kai ia masih fokus mengecup tangan Dena.


"kamu beda sama kak barra,kak barra liat darah aku jijik padahal kan kalian saudaraan"


"emang sedarah tapi gak semuanya harus sama. nyokap gw sama nyokap kak barra berbeda.kami terlahir di rahim yang berbeda hanya saja ayah kami sama.dan berarti sifat kami juga berbeda" jelas kaivan


"ternyata darah Lo banyak juga ya" kata kai merasa kewalahan menghentikan darah Dena yang terus keluar sampai bertitisan di keramik dan tiba tiba saja kai merobek paksa bajunya dan melilitkannya ke tangan Dena yang terluka.


"kai apa yang kamu lakuin?" tanya Dena tak percaya jika kai merobek bajunya.


"gak ada pilihan karena di sini tidak ada obat p3k dan selesai,luka Lo udah tertutup moga aja darahnya gak keluar" ucap kai setelah selesai dengan kegiatannya.


"terimakasih kaivan andrelo sanjaya" ucap Dena menyebut nama panjang kai


kai sangat tekun mendengar Dena menyebut nama panjangnya.


"ternyata gini rasanya berdekatan dengan Dara membuat gw merasa tenang dan selalu berkeinginan ingin melindunginya" ucap batin kai


Bersambung....