
...you Are Only Mine...
"barra!" panggil Denis dengan jarak 5 meter dari belakang barra.
"apa!"
"gak gini bar caranya,tahan emosi Lo,jangan ngerusak image Lo sendiri apalagi di depan Bu ajwa sama mahasiswa lainnya.kalau Bu ajwa ngadu ke bokap Lo gimana?"tutur denis
"gw gak peduli"
tiba tiba saja handphone barra berbunyi pertanda ada telpon masuk. namun ia tidak memperdulikan panggilan tersebut karena si penelepon adalah Lisa.
dretttttt,,,,,
"bar,angkat dulu telpon nya siapa tau penting!"
"telpon dari Lisa gak penting!"
dretttt.....
bukan hanya sekali dua kali Lisa menelpon tapi puluhan kali menelpon barra.itu membuat Denis geram dan merampas handphone barra dari saku celananya.
"biar gw yang angkat!"
"ada apa sih Lis?"
"loh kok Lo yang angkat telepon,barra mana?gw mau bicara sama dia?" ucap Lisa dari seberang sana.
" barra males angkat telepon lo"
"kasih handphone nya ke barra,ada sesuatu yang gw kasih tau ke barra! ini tentang Dena gw tau dia dimana"
"ngomong sekarang nanti gw kasih tau ke barra,dan Lo jangan mengada-ada tentang keberadaan Dena."
saat Denis menyebut nama Dena ,tiba tiba saja barra langsung mengambil alih handphone nya dari tangan Denis.
"dimana Dena?"tanya barra to the point.
"tadi ada yang ngasih tau gw,kalau kemarin itu Dena ke gudang sama kaivan saudara tiri lo,nggak tau mereka lagi ngapain di gudang.katanya sih mereka nggak keluar dari gudang dari kemarin sampe sekarang. takutnya mereka melakukan hal yang gak seharusnya mereka lakuin" tutur Lisa.
"saudara tiri Lo gak ada di rumahkan dari kemarin malam sampe pagi,tadi juga gw udah coba nelpon bunda puput, ibu panti asuhan Dena katanya sih Dena belum pulang dari kemarin sampai sekarang"
"gw khawatir mereka....." belum juga Lisa menyelesaikan ucapannya telponnya sudah di putus oleh barra terlebih dahulu
Tut...Tut...Tut....
"****!" umpat Lisa dengan tangan mencengkeram kuat handphone nya.
setelah memutuskan telpon barra bergegas menuju gudang yang berada di lantai 3 menggunakan lantai darurat.denis yang melihat barra berlari ke lantai 3 mengikutinya di belakang takut takutnya barra melakukan hal di luar nalar.
membutuhkan 15 menit untuk mereka sampai di depan gudang yang terbilang sangat angker jauh dari keramaian apalagi di lorongnya minim akan cahaya.
"bar,Lo yakin Dena ada di dalam?" tanya Denis tak percaya.
"kata Lisa dia ada di dalam"
"Lo percaya apa kata Lisa?bisa aja kan Lisa bohong,coba Lo lihat deh gudangnya aja di gembok dari luar mana mungkin Dena ada di luar,mana gemboknya berkarat lagi"
"mana kuncinya ya?" barra langsung menghidupkan senter handphone untuk mencari kuncinya.
"bar,Lo yakin kuncinya ada di sini? kayanya gembok modelan kaya gini gak ada kuncinya deh."
"Lo bisa diem gak! bantuin gw nyari kuncinya!"
"Lo pasti nyari ini kan?" tanya argan memperlihatkan kunci yang begitu usang dan berkarat.
"dapat di mana Lo kunci gudang?" tanya Denis menatap heran argan.
"ya minta sama satpam lah"
tanpa menunggu waktu lebih lama lagi barra langsung membuka gembokan itu namun tidak segampang itu karena gemboknya sudah sangat berkarat.cukup lama barra bermain main dengan gembok dan akhirnya gemboknya terbuka.
Dengan sekali dorongan pintu gudang terbuka lebar perlahan mereka bertiga masuk kedalam dengan tangan masing masing menghidupkan senter di handphone mereka.
seketika langkah mereka bertiga terhenti tepat di depan mereka dua orang manusia tengah tertidur sambil berpelukan.barra yang melihat penampakan itu membuat emosinya semakin memuncak .
tak tahan lagi barra langsung menggebrak meja yang tak jauh dari dirinya yang menimbulkan suara yang begitu nyaring sampai memebuat dua anak manusia itu terusik dari tidurnya.
Brak.........
Perlahan Dena membuka matanya, pandangannya masih buram namun lama kelamaan semakin jelas ia melihat sosok barra di depannya.ia mengucek matanya untuk meyakinkan apakah benar di depannya ini barra atau bukan.
"enak?,tidurnya sayang" tanya barra begitu lembut.
"ini beneran kak barra?" Dena bangkit dari tidurannya,kedua belah tangannya terulur memegang wajah barra.
"menurut kamu,apa aku barra atau bukan?" dengan nada suara yang masih di lembut lembutkan namun tidak dengan wajahnya yang sudah sangat memerah padam.
"kak barra aku kangen" ungkap Dena langsung memeluk barra begitu erat.
sedangkan kaivan, ia sangat terkejut melihat kehadiran barra berserta sahabat sahabatnya.apalagi tatapan barra tak luput dari dirinya.
"dasar *****" umpat barra dan detik selanjutnya mendorong Dena begitu kasar untung saja kai ada di belakang dena. jadi bisa menangkap Dena saat Dena di dorong oleh barra.
"kak barra" mata Dena sudah berkaca kaca apalagi di perlakukan barra seperti itu.sangat sakit rasanya.
"enak ya tiduran di gudang sama lelaki lain?ngapain aja di gudang hah?!"
"kak aku bisa jelasin" kata kai mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Lo diem!gw gak butuh penjelasan!" bentak barra pada kaivan.
"kak ini cuma kesalahpahaman"
"kalau itu cuma kesalahpahaman kenapa segala berpelukkan!!! kalau murahan tetap murahan!" maki barra pada Dena.
"ya ampun bar,kayanya sih mereka abis melakukan hubungan suami-istri deh.coba Lo lihat ada cairan merah di dress Dena,bisa jadikan itu darah keperawanan nya.segala pake jaket kai lagi buat nutupi tanda tanda percintaan mereka." nimbrung Lisa yang baru saja datang di iringi sahabatnya dan mahsiswa lainnya.
"enggak itu bohong ,aku dan kaivan terjebak di gudang.gudangnya di kunci dari luar dan ini darah karena aku terluka"
"masa? kok gw gak percaya ya? guys kalian percaya gak apa yang di ucapin sama Dena?" teriak Lisa
"gw pribadi gak sih lis,tampang sok polos tapi nyatanya murahan.cuih" sahut Bianca.
"kak barra harus percaya ya, aku sama kaivan gak ngelakuin apa pun itu.sumpah" jelas Dena mencoba meyakinkan barra.
"gimana kai, terkurung di gudang sama orang yang Lo suka?" bisik Lisa tepat di telinga kai.
"Lo jebak gw,gila Lo!"
"sekarang permintaan gw sangat simpel, apa yang dikatakan dara Lo itu,Lo balik faktanya!"
"gila Lo,itu sama aja gw bohong.gak, gw gak akan lakuin hal itu"
"yakin? Lo mau lihat dara kesayangan Lo ini di hina habis habisan sama anak anak lainnya,bukan hanya itu barra gak akan tinggal diam dia bisa main tangan loh sama Dena."
"Lo licik!"
"terserah" bisikan terakhir Lisa di telinga kai,ia kembali memposisikan tubuhnya.
Bersambunggggg.....