
...You Are Mine Only...
Keesokan harinya dena telah siap memakai dress sederhana yang di belikan oleh barra 2
tahun yang lalu. Walaupun sudah lama dress
itu di belikan oleh barra namun dena sangat
pandai menjaga dress yang masih terlihat baru.
Di sepanjang perjalanan dena bersenandung
riang ia tak sabar bertemu pujaan hatinya,
karena jarak panti asuhan ke kampus tidak
terlalu jauh jadi dena hanya berjalan kaki ke
kampusnya.
biasanya barra lah yang menjemputnya dan
mengantarnya pulang namun sekarang Barra
seperti tidak peduli dengan dena.
Sesampainya dena di kampus ia langsung
ke kelas barra. Namun ia sama sekali tidak melihat batang hidung barra dan mahasiswa mahasiswi lainnya.
"apa mungkin kak barra belum datang ya? padahal sudah jam 8 pagi" monolog Dena sekilas melirik jam tangannya yang bertengger di tangannya.
"kak denis" panggil dena kala ia melihat
denis sahabat barra yang berdiri tak jauh
darinya
"dena? tumben panggil nama gw Kangen ya?
sama gw?" rayu denis yang berperawakan sangat tinggi.
"siapa yang kangen, aku kangennya sama
kak barra. Tapi kok kak barra belum ada di
dalam kelas ? Kak barra belum datang ya?" tanya dena celingak-celinguk mencari barra.
"hari ini mulai kelasnya jam 10" terang Denis
"Terus kakak ngapain di sini kalau kelasnya mulai jam 10 ?"
"aku ada perlu sama dosen jadi datangnya
lebih awal" jawab denis
"oh gitu ya, ya sudah kalau gitu aku kekelas
aku dulu ya kak" pamit dena
"Tunggu" cegah denis dengan kedua belah tangan ia rentangkan tepat di hadapan Dena.
"ada apa kak?" keningnya berkerut
"gw jarang banget liat lu sama barra akhir akhir ini?" tanya Denis karena terakhir kali melihat barra dan Dena jalan berdua satu tahun yang lalu.
"maksud kakak?" tanya balik dena
"ya jalan bareng gitu, makan berdua, kencan
diner berdua. Apa kalian ada masalah?"
"tidak ada, kami baik baik aja kok" dusta Dena,nyatanya hubungan mereka sudah berada di ujung tanduk.
"ku pikir kalian sudah end" imbuh denis
"pikiran kakak terlalu jauh, kalau aku dan kak
barra sudah end aku tidak mungkin ke sini" jawab dena sambil menampilkan senyum tipisnya.
"maaf ya sudah berpikiran yang tidak
tidak tentang hubungan kalian" kata denis
cengengesan sambil tangan mengaruk
kepalanya yang tak gatal.
"tidak apa apa kak, kalau tidak ada yang
kakak tanya lagi aku mau balik ke kelas dulu"
"silahkan"
"permisi kak" pamit dena langsung di iyakan oleh denis.
Di sepanjang koridor dena hanya berjalan
sambil menunduk ia memikirkan perkataan
denis yang mengira dirinya dan Barra sudah
berakhir.
"kak Denis saja sampai mengira aku dan kak barra sudah end.tapi memang kenyataannya hubungan kami sudah tidak bisa di pertahankan. cepat atau lambat hari itu akan tiba dimana kak barra akan mengakhiri hubungan ini. " gumam dena dalam hatinya
Tak terasa dena sudah berada di depan
kelasnya, ia langsung masuk dengan wajah
suntuknya.
Kai yang tengah asyik memainkan bolpoin
nya langsung menghentikan aktivitasnya
dulu masuk kelas dengan wajah suntuknya..
ingin rasanya kai bertanya namun ia
urungkan karena ia tak terlalu dekat dengan
dena.
"Dena!!" panggil zanna yang berada di ambang pintu dengan intonasi yang sangat tinggi. untungnya di dalam kelas hanya ada kai dan Dena yang lain belum datang.
"ada apa sih zanna? teriak teriak segala aku
nggak budek" ucap dena menatap tajam sahabatnya
"ada apa ada apa, kenapa kemarin nggak masuk kelas? aku tau kamu ada di kampus lebih tepatnya di taman belakang kampus " menatap tajam sahabatnya..
"aku hanya tidak ingin masuk kelas" jawab dena pelan.
"kamu tidak masuk kelas karena kamu
mengerjakan tugas Barra kan!? iya kan?"tanya zanna mendesak dena untuk mengatakan iya.
"kalau iya emangnya kenapa? apa ada yang
salah?"
"tentu saja salah, kamu itu hanya di
manfaatkan oleh barra " teriak zanna sembari menoyor kepala Dena.
"Barra sama sekali tidak memanfaatkan ku"ucap dena tak kalah sengit
"cih, tidak di manfaatkan tapi diperalat untuk mengerjakan tugas kuliahnya. dia itu senior mu, kakak kelasmu sedangkan kau itu adalah adik kelasnya, yang seharusnya dia yang mengajarimu bukan sebaliknya"
"tapi dia kekasihku, sudah seharusnya aku membantu dia untuk mengerjakan tugas"
"dasar bucin dimana otak yang sangat pintar mu itu sangat bodoh, mudah diperdaya "maki zanna dengan menekankan kata BODOH.
dena yang mendengar perkataan dari zanna langsung bangkit dari duduknya.
"apa kau bilang aku bodoh?" ulang dena sambil menunjuk dirinya sendiri.
"ya kau bodoh hanya karena cinta kau rela
melakukan apapun ?"
"tapi aku sama sekali tidak membebanimu, tapi kenapa kamu selalu mengatur hidupku"
"apa kau bilang tidak membebanku, tentu
saja itu membebaniku saat kau di kasari
oleh barra kau datang kepada siapa? Aku
segala nangis sampai mata kamu bengkak.
kau selalu saja memaafkannya dan
terus memafkannya, menolongnya mengerjakan tugas kuliahnya"
"bagaimana bisa seorang adik kelas membantu.
kakak kelas untuk mengerjakan tugas.
kamu itu harus sadar adena, dia hanya
memanfaatkanmu" imbuh zanna berusaha
menyadarkan dena sahabatnya yang terlalu mencintai barra.
"kenapa kamu sekarang menentang
hubunganku dengan kak Barra, bukankah
dulu kamu mendukung hubunganku dengan
kak barra?"tak hbis pikir dengan sahabat satu satunya.
"itu dulu bukan sekarang!mulai detik ini gw zanna menentang hubungan Lo sama barra!" finial zanna dan berlalu pergi meninggalkan Dena.
"terserah kamu mau bilang tidak ingin
mendukung hubungan ku dengan kak barra. asal kamu tau aku akan melakukan
adapun demi kak barra. nyawaku pun akan
ku berikan padanya karena aku sangat mencintainya" kata Dena dengan lantang.
Kai hanya diam mendengarkan perdebatan
zanna dan dena, ada rasa kasihan melihat
orang yang ia cintai sejak dulu di maki.
"sebegitu besar cinta Lo pada kak barra
sampa lo rela memberikan nyawa Lo pada
kak barra dan tidak ada peluang sedikit pun
untuk gw masuk ke dalam hidupan Lo,
begitu beruntungnya menjadi kak Barra bisa
memiliki Lo dar" ucap kai dalam batinnya
setelah mengucapkan itu Dena kembali duduk di kursinya ia tidak ingin terlalu emosi pada sahabatnya.
"apa aku terlalu bodoh dan sangat mudah di perdaya" gumam dena dalam hatinya membenarkan semua ucapan zanna.
jika seandainya ia disuruh memilih antara barra dan zanna mungkin ia akan lebih memilih barra,karena ia tidak akan bisa hidup tanpa barra.saat ini hatinya sudah benar benar jatuh pada Barra Arqello.pesona barra sudah sangat memabukkan untuk Dena,cinta pertama Dena.
bersambung......