
Setelah semua berkumpul, saatnya berangkat. Mereka nampak begitu antusias hari ini. Mereka menaiki bus sekolah dan langsung disopiri oleh guru pembimbingnya, yaitu pak Hardilan.
"Semuanya sudah siap?" Tanya pak Hardilan sambil menengok kebelakang, mengecek apakah masih ada yang ketinggalan.
"Udah semua pak." Jawab mereka serentak.
"Kalau gitu kita berdoa menurut keyakinan masing- masing, berdoa dimulai." Semuanya nampak hikmat berdoa sebelum memulai perjuangan hari ini.
Bus sekolah pun melaju dengan aman dan tanpa halangan menuju lokasi audisi yang ada dipusat kota, tepatnya di Admiral cafe.
Ini adalah pengalaman pertama Amel dan teman - temannya mengikuti audisi seperti ini. Mereka pun memasuki cafe bersama - sama. Mendaftar dan menunggu di tempat duduk yang disediakan panitia.
Amel menghela nafas panjang, mencoba menghilangkan kegugupan yang ia rasakan.
"Gimana Cha, kamu udah siap?" Tanya Amel pada Acha.
"Sama aja kek kamu, masih grogi berat."
"Kita berdoa aja semoga kita lolos."
Berjam - jam mereka menunggu saat - saat dipanggil untuk masuk ruang audisi. Matahari pun semakin mengarah ke arah barat, pertanda hari semakin sore.
Satu persatu mereka masuk ke ruang audisi, setelah tiba giliran Amel, Amel pun berjalan dengan percaya diri memasuki ruangan audisi.
"Sore semua" Sapa Amel pada juri - juri yang ada didalam ruangan tersebut.
"Oke perkenalkan nama kamu, umur, dan motivasi kamu mengikuti audisi ini." Ujar salah satu juri yang berperawakan tinggi dan cantik.
"Hai namaku Amel, aku usia 11 tahun, motivasiku ikut audisi ini adalah untuk mewujudkan mimpiku menjadi penyanyi profesional." Ucap Amel dengan mantab walaupun sebenarnya rasa deg - degan terus menerus menggelayut dihatinya.
"Oke Amel, sekarang kamu mau nyanyi apa?" Kata Juri pria yang duduk disebelah juri wanita yang cantik tadi.
"Aku mau nyanyiin lagunya Demi Lovato yang This is me."
"oke silakan mulai."
Amel pun mulai menyanyikan lagu yang ia pilih tanpa menggunakan musik atau biasa disebut acapella.
"This is real. This is me. .... "
"Sepertinya aku cukup bisa memukau para juri." Amel pun tersenyum lega setelah mengakhiri lagu tersebut. Ia merasa sangat optimis dengan penampilannya barusan. "Aku yakin lolos."
"Terima kasih, silakan menunggu hasilnya diluar." Kata juri pria yang berambut blonde dan berkacamata stylish itu. FYI didalam ruangan itu ada 3 juri, 1 perempuan cantik dan 2 laki - laki. Mereka sangat ramah pada setiap peserta.
Satu persatu teman Amel pun menyelesaikan tugasnya untuk menyanyi sebuah lagu tanpa musik didalam ruangan itu dihadapan ketiga juri yang ada.
"Nggak tau deh aku bisa lolos apa enggak. Aku pasrah aja sama keputusan juri nanti." Kata Kiki dengan wajah pesimis.
"Iya aku juga." Tambah Acha yang merasa tidak mempunyai bakat menyanyi sedikitpun tetapi ia diminta untuk mengikuti audisi ini.
"Sudah, jangan pada pesimis gitu, lebih baik sekarang kita banyak - banyakin berdoa biar kita semua bisa lolos ke babak selanjutnya." Kata Hepta yang juga merupakan satu - satunya kakak kelas Amel yang diminta pak Hardilan mengikuti audisi ini.
"Iya bener tuh apa yang dibilang kak Hepta, udah ah jangan pada bete gitu mukanya. Mau lolos atau enggak yang penting kita hari ini dapet pengalaman baru, ya kan?" Kata Amel sambil menepuk - nepuk bahu Kiki yang paling terlihat bete saat itu.
Pak Hardilan yang mengawasi mereka dari kejauhan pun berjalan mendekati para siswinya.
"Ayo makan dulu, kalian pasti udah kelaperan dari tadi." Kata beliau sambil berdiri tepat dibelakang kursi Acha.
Mereka pun bersama - sama menuju stand yang ada disana, berbagai macam makanan, minuman, maupun camilan - camilan tersedia disana. Amel memilih bakso sebagai makanan pengisi perut kosongnya dan air putih dingin untuk melegakan dahaganya.
Setelah mereka membeli makanan masing - masing, yang tentunya memakai dana yang disiapkan dari pihak sekolah, mereka pun berkumpul di satu meja di depan salah satu stand yang ada disana.
"Gimana tadi waktu didalem? Nervous nggak?" Ujar pak Hardilan kepada para siswanya yang masih terlihat tegang menunggu hasil keputusan para juri.
"Aman sih pak." Jawab Hepta.
"Yang lain?" Sambung Pak Hardilan karena melihat yang lain kurang bersemangat.
"Pasrah pak." Kata Acha.
"Aku juga." Kata empat orang lainnya.
"Kita udah latihan maksimal setiap hari, bahkan kita juga mencuri - curi kesempatan latihan di jam - jam pelajaran. Tinggal gimana perform kalian tadi didepan juri. Kalau kalian tidak bisa menghilangkan rasa gugup ketika berada didalam ruangan bersama juri tadi ya tinggal menunggu mukjizat aja. Tapi ya namanya juga lomba, kalah bukan akhir dari segalanya, ambil positifnya saja. Sekarang kalian banyak - banyak berdoa aja supaya mukjizat itu datang menghampiri kalian semua. Udah sekarang habisin makanannya."
"Para peserta diharapkan kembali ketempat duduk karena pengumuman peserta yang lolos lima puluh besar akan segera diumumkan." Suara itu pun terdengar sangat keras melalui pengeras suara.
Amel dan kawan - kawannya pun kembali ketempat duduknya tadi dan menanti dengan penuh rasa dag dig dug.
"Yang ikut segini banyaknya, dari berbagai daerah, banyak juga pasti dari mereka yang terbiasa dengan ajang seperti ini dan kita baru pertama kali ikutan, latihan pun ya seadanya cuman pake guru kesenian sedangkan mereka pasti udah banyak yang latihan sama guru vocal yang asli." Ujar Amel yang mulai merasa panik setelah melihat semua peserta berkumpul didekat pengeras suara.
"Udah kita berdoa aja." Kata Hepta mencoba menenangkan.
"Oke, selamat sore semuanya. Sekarang saatnya kita mengetahui siapa saja yang bakalan lolos ke tahap selanjutnya. Nanti peserta yang namanya kami sebut, diharap segera bergantian masuk disebelah ruang audisi itu untuk mengambil nada dasar yang akan dipakai saat lolos tahap selanjutnya. Baik semua tolong dengarkan baik - baik." Suara dari pengeras suara itu membuat Amel dan teman seperjuangannya itu semakin tegang.
Satu persatu nama pun disebut oleh pembawa acara pria yang berpenampilan keren namun simple itu.
Amel hanya bisa terus menerus berdoa didalam hati. Lalu ia pun mendengar nama kakak kelasnya itu dibacakan.
"Hepta Pertiwi."
"Syukurlah. Aku kesana dulu ya." Kata Hepta dengan senyum puasnya.
Tak lama kemudian pun nama Amel dibacakan.
"Yes. Duluan ya. Semoga kalian menyusul."
Tapi pengumuman lima puluh besar pun ternyata telah selesai. Dan hanya dua orang saja yang lolos ke tahap selanjutnya.
"Sebentar - sebentar. Atas keputusan juri, kami menambah kuota dua orang untuk mengikuti mereka yang sudah dianggap lolos. Penilaian ini berdasarkan kostum dan penampilan dihadapan juri saat audisi tadi. Dan nama yang beruntung menjadi dua orang yang akan menyusul adalah..... Nafisa Husein dan Acha Agsesia." Suara pembawa acara itu pun membuat suasana semakin heboh dan ramai.
"Itu aku? Beneran namaku yang disebut?" Tanya Acha pada teman disampingnya.
"Iya bener itu nama kamu, selamat ya. udah sana masuk." Kiki pun menyalami Acha.
Acha pun berjalan dengan wajah yang masih tidak percaya.
Setelah selesai pengambilan nada dasarnya pun mereka kembali bergabung dengan teman - temannya dan guru keseniannya itu.
"Selamat buat kalian yang lolos dan yang tidak lolos, nggak apa - apa ya. Tetep support teman - teman kalian yang masih harus berjuang ke tahap selanjutnya." Kata pak Hardilan.
Amel pun pulang dengan puas karena paling tidak ia sudah bisa lolos, walaupun tidak semua temannya bisa menemaninya maju ketahap selanjutnya.
"Walaupun cuma tiga orang yang berhasil lolos, paling tidak aku sangat bersyukur atas diriku, mungkin ini berkat doa ibuku tadi." Amel tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya itu, disepanjang perjalanan pulang pun ia hanya membagi senyum kepada teman - temannya.
.
.
.
.
*Author*
Jangan bosan - bosan mengikuti perjalanan kisah Amel ya readersku tersayang...
Yuk sekarang kasih aku semangat dengan klik Like, berikan komen terbaikmu, rate 5, vote, share ke seluruh sosial mediamu, dan juga jadiin favorite biar kalian nggak ketinggalan kalau author up episode terbaru.
Tengkyu,,, 🙏