
"Perasaan apa ini? Tidak seperti biasanya. Kenapa aku jadi benar - benar kikuk sejak kejadian tadi. Apa ini yang namanya suka? atau malah ini cinta? Iya... mungkin ini yang namanya cinta.. cinta monyet. Melihat tatapan matanya dan senyumannya yang penuh harap tadi benar - benar membuat detak jantungku berdegup teramat kencang. Lalu, bagaimana caranya aku bilang ke dia kalau aku juga mau? Aku mau tapi aku malu buat ngomong. Aku terlalu cemen. Ya mungkin karna aku belum pernah begini sebelumnya. Entahlah, lihat kedepannya aja gimana. Kalau dia menagih jawabanku mungkin aku akan ngomong, tapi aku nggak akan mungkin berani ngomong duluan untuk memberi dia jawaban." Gumamnya dalam hati dan tanpa ia sadari teman sebelahnya pun mengejutkannya.
"Woyy... bengong aja dari tadi." Putri pun membuyarkan lamunan Amel yang sedari tadi hanya mematung dan menunduk.
"Ada yang lagi galau nih ceritanya..." Lanjut Putri
"Eh, enggak kok. Aku kan lagi belajar ini nih. Susah banget. Aku paling nggak suka pelajaran fisika. Ngelihat rumus - rumusnya aja udah bingung apalagi kalau disuruh ngerjain soalnya. Sumpah, gak paham banget aku. Bantuin dong." Kata Amel mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Halah bohong.. Jujur aja deh. Naksir juga kan sama Shendy." Goda Putri ke Amel yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nggak tau sih. Tadinya kalau sama dia nggak ada perasaan apa - apa. B aja gitu. Tapi kok sekarang jadi galau gini ya." Akhirnya Amel pun berterus terang dengan sahabatnya yang sehari - hari mengucir ekor kuda rambutnya itu tentang apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Paham kok. Kamu pasti dilema ya Nggak usah buru - buru ngambil keputusan. Pikirin aja dulu. Ntar kalo udah sampe rumah kamu rasain tuh, kata hatimu ngomong gimana. Simple kan?" Kata Putri mencoba menenangkan pikiran sahabatnya itu yang sedang gusar.
"Ada benernya juga yang kamu bilang. Thanks ya Put." Amel menjentikkan jarinya seolah setuju dengan ide dari sahabatnya itu kemudian memeluk erat sahabat baiknya itu.
Tiba - tiba kelas yang tadinya ramai layaknya pasar itu pun berubah menjadi tenang setelah semua murid bertebaran kembali ke tempat duduknya masing - masing dan memulai pelajaran selanjutnya karena Pak Waluyo guru matematika yang sekaligus wali kelas killer nya itu datang.
Mereka pun menghabiskan sisa pelajaran terakhir untuk hari ini dengan tenang, karena kalau ramai mereka pasti kena semprot dari guru killernya itu.
Akhirnya selesai juga semua pelajaran di hari ini. Amel cepat - cepat membereskan buku dan alat tulis yang ada diatas mejanya. Sesegera mungkin ia mengambil tas, memakainya, dan segera pulang kerumah agar tidak berpapasan dengan Shendy karna ia takut kalau - kalau dia ditagih jawaban karna dia belum punya jawaban pasti buat Shendy.
Sesampainya dirumah, Amel melepaskan sepatu dan kaos kakinya diluar rumah, kemudian menenteng kedua sepatunya dengan tangan kiri dan mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Karena tidak ada jawaban, Amel pun membuka gagang pintu dengan tangan kanannya dan masuk. lalu ia memasukkan sepatu kedalam rak sepatu yang ada di pojok dinding yang dekat dengan pintu masuk.
Langkah kakinya pun mengarah ke kamar yang pintunya ada tirai unik dari manik - manik berwarna soft pink.
Amel membuka pintu kamarnya kemudian meletakkan tasnya keatas meja belajar. Karena merasa lelah Amel pun belum sempat ganti pakaian. Ia langsung merebahkan badan ketempat tidurnya. Ia mencoba memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian ia seperti mendengar suara ibunya yang memanggilnya tapi dengan nada tinggi seperti orang marah.
"Amel, bangun!" Teriak ibu Wati yang notabene adalah ibu kandung dari Amel.
Amel membuka kedua matanya setelah terkejut dengan suara tinggi ibunya itu.
"Apa sih bu? Nggak perlu pakai teriak kan bisa sih bu." Katanya lembut sambil menegakkan badannya dan duduk diatas kasur.
"Pasti kamu kan yang ambil uangku? Aku kehilangan uang 200 ribu." Katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Amel.
"Uang apa? Aku nggak tau apa - apa. Kok bisa - bisanya Ibu mikir aku yang ngambil uang ibu"
"Jangan bohong kamu. Itu uang buat belanja Mel. Sini kembaliin !"
"Berani kamu sama aku?" Emosi ibu Wati semakin terkoyak mendengar pembelaan dari mulut Amel. Kemudian Ibu Wati pun bergegas pergi meninggalkan Amel dikamarnya yang sedang menangis tersedu - sedu.
"Ya Tuhan sebenarnya apa salahku? Kenapa kasih sayang yang ibu beri ke aku dan adikku itu beda? Padahal kami sama - sama perempuan yang lahir dari rahim yang sama juga." Otak Amel bekerja keras memikirkan nasibnya yang malang.
Baginya ketika berada dirumah itu ia merasa berada di tengah gurun pasir yang begitu luas dan kemudian ia diterpa badai. berjalan terus tanpa tau arah untuk mencari oase dan tanpa menggunakan alas kaki. Panasnya bukan main. Seperti itulah ia dirumah, bingung, tidak tau harus apa, karena setiap apa yang ia lakukan pasti salah dimata ibunya, Ia merasa hampa dan benar - benar butuh kebahagiaan dan kasih sayang, terutama dari keluarganya itu sendiri.
Lelah menangis, Amel pun tak kuasa membuat matanya tetap terjaga. Ia pun terlelap bersama kesedihan dan dengan seragam sekolah yang masih menempel dibadannya.
***
Posel Amel bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Dilihatlah nama yang tertera dari layar ponsel itu. Shendy. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya.
"Hai cantik. Nanti jam 7 aku kerumahmu ya, kita jalan - jalan bentar. Gak ada alasan penolakan karna ini malam minggu"
Amel yang sudah nampak segar dan rapi karena habis mandi dan ia juga sudah bersiap untuk pergi kerumah salah satu temannya itu kembali duduk diatas kasurnya untuk membalas pesan dari cowok yang kemarin menembaknya.
"Nggak usah kerumah, bentar lagi aku mau otw kerumah wulan. Kalau mau jalan - jalan bentar, ya nanti jemput aku disana aja."
Tak perlu menunggu waktu terlalu lama, balasan pesan dari cowok cool itupun dengan cepat mendarat di ponselnya.
"Kalau gitu tunggu aku disana."
Semakin kesini Amel semakin merasakan ada getaran yang sangat hebat walau hanya dengan membayangkan wajahnya saja.
"Pasti dia mau menagih jawabanku. Oke aku siap ketika dia minta aku menjawabnya." Ujar Amel dalam hati yang sedari tadi duduk sambil memegang ponselnya.
Kemudian ia tersadar kalau ternyata jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Ia segera menyabet sling bag warna silver berpadukan warna coklat susu yang berada diatas kasurnya. Sesegera mungkin ia menutup pintu kamar dan berpamitan kepada ibunya untuk pergi kerumah temannya karena ada tugas yang akan ia kerjakan.
"Bu, aku mau kerumah Wulan dulu, ngerjain tugas. Aku pamit ya." Amel menyalami ibunya yang sedang menonton Tv tapi tidak ada tanggapan dari Ibu Amel, bahkan untuk melihat wajah Amel pun tidak. Amel merasa seperti orang asing dirumahnya sendiri. Ia juga masih belum bisa menghapus kejadian siang tadi dari otaknya.
Tapi ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu lagi karena ponselnya terus menerus bergetar. Banyak pesan masuk dari teman - teman geng-nya yang mau mengerjakan tugas bersama. Ia harus cepat sampai karena yang lain sudah menunggu disana.
\*