Yes, I Am A Bad Girl

Yes, I Am A Bad Girl
BAB 6 : Pengumuman istimewa



Hari ini Shendy dan Amel kurang lebih sudah satu setengah bulan menjalin hubungan. Dan hari ini juga bertepatan dengan tanggal 14 Februari atau hari valentine.


Seperti biasa kegiatan belajar di sekolah begitu asik dan menyenangkan bagi Amel.


Jam istirahat pun tiba, siswa - siswi sekolah itu berlomba keluar dari kelas, banyak dari mereka yang biasanya menghabiskan waktu istirahat di kantin sekolah.


Kala itu Amel tidak terlihat tergesa - gesa untuk keluar dari ruang kelas. Ia membereskan buku dan alat tulis yang baru saja ia gunakan dalam pelajaran sebelumnya.


Lalu ia menunduk karena sedang memasukkan alat tulisnya kedalam tas. Setelah selesai ia kembali mengangkat kepalanya lagi dan ia dikejutkan dengan kehadiran Shendy yang sudah berada didepan bangkunya, Shendy duduk membelakangi kursi sehingga bisa dengan mudah ngobrol dengan Amel.


"Hei.. Happy valentine." Ucap Shendy yang mengagetkan Amel dengan kehadirannya dan menyodorkan setangkai mawar merah dan coklat mete yang dibungkus dengan pita warna pink.


"Eh kamu. Makasi ya, jujur baru kali ini dapet coklat dari cowok. Sekali lagi makasih ya." Amel pun menerima hadiahnya dengan penuh suka cita.


"Mungkin aku adalah salah satu orang yang beruntung bisa memiliki cowok yang sebaik dan seromantis seperti Shendy." Amel terhanyut dalam lamunannya seolah lupa bahwa masih ada orang yang menurutnya romantis itu yang masih ada didepan matanya.


"Kamu tuh ya suka banget ngelamun. Lagi bayangin apa sih? Gak perlu mengkhayal, aku masih ada didepan kamu kok." Shendy pun terlihat gemas dan mencubit hidung Amel karna saking gemasnya melihat tingkah pacarnya itu yang suka tiba - tiba diam sambil senyum- senyum.


"Aaww.. Kebiasaan deh sekarang, hidungku bisa - bisa makin mancung kalau kamu keseringan nyubit gini." Amel memegang hidungnya yang baru saja dicubit pacarnya itu.


"Iya maaf deh sayang. Abis gimana lagi, aku gemes banget sama kamu. Eh kamu nggak lapar? Ke Kantin yuk!"


"Emang kamu nggak kongkow sama temen - temenmu?"


"Ya kalau kamu mau ke kantin sama aku ya ngapain aku kongkow sama mereka. Yuk!" Shendy pun akhirnya memaksa Amel dengan menggandeng tangannya menuju arah kantin.


"Iya iya." Amel pun pasrah dibawa Shendy kemanapun dia mau.



Mereka pun menikmati waktu berdua di kantin. Shendy membeli mi ayam tapi Amel hanya membeli roti karena tidak terlalu lapar.


"Kamu nggak makan? Aku pesenin ya buat kamu?" Tanya Shendy.


"Nggak nggak makasih, beneran aku nggak laper kok." Amel kemudian menyeruput es teh yang tadi ia pesan.


"Es teh aja udah lebih dari cukup."


Amel melihat sesuatu di wajah Shendy, dia mengambil beberapa lehai tisu yang ada didalam kotak tisu didepannya, kemudian ia mengelap ceceran saos bumbu mi ayam yang ada di sekitar area mulut Shendy.


"Makan aja belepotan banget."


"Eh,, ya maklum aja perut kelaperan, pokoknya asal makan biar cepet habis aja." Merekapun tertawa bersama.


Setelah selesai menemani Shendy makan, mereka pun tak lantas langsung meninggalkan tempat itu. Mereka menghabiskan istirahat sampai tiba waktu istirahat selesai.


Bel sekolah pun berbunyi pertanda mereka harus menyelesaikan kegiatan diwaktu istirahat mereka untuk segera kembali ke kelas dan memulai pelajaran baru.


Amel dan Shendy berjalan berdampingan menuju kelas mereka.


Amel pun duduk dibangkunya dan Shendy ke bangku belakang. Amel membuka tasnya, ia kembali melihat setangkai bunga mawar dan coklat yang diberikan Shendy padanya tadi.


Sambil tersenyum ia bergumam "Aku merasa menjadi orang yang istimewa ketika bersamanya. Mulai saat ini aku akan menikmati setiap detik waktuku yang semakin berwarna ini, apalagi ketika bersamanya."


Tak lama kemudian ada seorang temannya dari kelas lain yang datang menghampirinya di kelas.


"Mel kamu dipanggil Pak Hardilan tuh diruang musik. Sekarang lho ya." Kata salah satu teman perempuannya dari kelas lain itu.


Pak Hardilan adalah guru kesenian di sekolahnya. Beliau juga pembimbing di ekskul musik yang Amel ikuti.


"Put, kalau ada yang nyari aku, aku dipanggil Pak Hardilan di ruang musik ya." Amel pun segera berjalan cepat menuju ruang musik.


Wajah mereka masih nampak kebingungan, mereka saling bertanya - tanya tapi tidak ada yang tau kenapa mereka dipanggil.


Pak Hardilan yang sedari tadi sudah ada disana namun sedang sibuk dengan berkas - berkas yang ada didepannya itu pun menghitung siswi yang ada disana.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Oke lengkap. Selamat siang semuanya." Pak Hardilan pun memulai pembicaraan di ruang tersebut.


"Siang pak" Serentak siswi - siswi di ruang itu pun menjawab salam dari pak Hardilan.


"Kalian saya suruh berkumpul disini karena saya akan mengumumkan bahwa kalian berdelapan akan diikut sertakan dalam lomba menyanyi Children Pop Singer se- Jawa Tengah." Kata Pak Hardilan dengan penuh semangat dan antusias.


Kedelapan siswi itu pun juga terlihat semangat dan antusias mendengar pengumuman yang baru saja diumumkan guru kesenian itu.


"Sebelumnya apakah ada yang keberatan untuk diikutsertakan dalam lomba ini?" Lanjut Guru yang mempunyai kumis dan alis tebal itu.


"Tidak pak" seru semua siswi itu.


Amel pun terlihat merasa antusias dan tidak sabar untuk segera berada ditengah suasana perlombaan itu. Amel memang sangat menyukai menyanyi, suaranya pun tidak bisa dibilang jelek. Ia pun juga sering mengikuti perlombaan menyanyi disekitar lingkungan rumahnya. Dia juga sudah terbiasa mengikuti lomba menyanyi sewaktu sekolah dasar. Bahkan dia juga bisa menyanyi tembang - tembang macapat dan sering menjuarai lomba - lomba tersebut.


"Tapi acaranya sudah agak mepet, kita hanya punya waktu sembilan hari untuk tiba dihari audisi itu. Jadi setiap pulang sekolah kalian wajib latihan disini bersama saya. Dan mulai siang ini kita akan latihan."


Semuanya bersorak kegirangan karena merasa senang dengan pengumuman yang barusan mereka dapatkan.


"Sekarang kalian bisa kembali ke kelas masing - masing dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Terima kasih." Pak Hardilan pun mempersilakan mereka keluar dari ruang tersebut dan kembali ke kelas masing - masing.


Amel pun berjalan berdampingan dengan teman sekelasnya Kiki yang juga diminta untuk mengikuti lomba tersebut.


"Gimana menurutmu Ki?" Tanya Amel pada temannya itu.


"Udah nggak sabar lah. Menang kalah pikir belakangan yang penting kita dapat pengalaman baru. Iya nggak?" Jawab Kiki.


"Iya lah. Jarang - jarang dapet kesempatan kayak gini. Yang penting kita serius latihan aja, siapa tau keberuntungan berpihak pada kita." Mereka pun sampai didepan ruang kelasnya, nampak sudah ada guru yang sedang mengajar di dalam kelas itu.


Amel pun mengetuk pintu kelas "Permisi bu, maaf kami baru saja dipanggil Pak Hardilan di ruang musik. Boleh kami kembali ke tempat duduk kami bu?" Kata Amel sopan kepada ibu guru geografinya itu yang itu.


Amel dan Kiki pun kembali setelah dipersilakan duduk oleh gurunya itu.


Amel berjalan menuju tempat duduknya, ia melihat Shendy sudah duduk dibelakang bangkunya.


"Kok lama banget, emang disuruh ngapain sih tadi? Tanya Shendy cemas.


"Ada kabar gembira. Aku ditunjuk untuk ikut audisi lomba menyanyi. ya memang bukan aku aja sih, ada 7 orang yang lain." Jawab Amel dengan menengok kebelakang dan suara seperti sedang berbisik - bisik.


"Selamat ya sayang, emang acaranya kapan?" Timpal Shendy.


"Sepuluh hari lagi. Mulai pulang sekolah nanti aku harus ikut latihan vocal sama Pak Hardilan."


"Dimana?"


"Di ruang musik kok."


"Ya udah nanti aku temenin kamu samle selese."


"Terserah kamu aja kalau nggak ngerepotin sih."


"Enggak lah."


Amel pun tersenyum lebar karena Shendy begitu perhatian dan memberikan support penuh untuk Amel.