
Hari terus berganti. Amel dan teman - temannya semakin giat untuk berlatih. Bahkan latihan tambahan pun dilaksanakan ditengah jam pelajaran. Mereka harus minta izin ke guru yang akan mengajarnya disaat mereka diharuskan mendapat latihan tambahan untuk audisi nanti.
Tibalah hari dimana mereka akan berjuang demi nama mereka sendiri dan tentunya nama sekolah mereka.
Flashback on
Sore hari sebelum hari audisi tiba.
"Mel.. ayo ikut ibu" Ajak ibunya dengan mengetuk pintu kamar Amel.
Amel pun membuka pintu kamarnya. Rambutnya acak - acakan, wajahnya lusuh, ia memang barusan bangun tidur karna kelelahan latihan untuk acara besok.
"Memangnya aku mau diajak kemana bu?"
Jawab Amel dengan lesu.
"Udah buruan mandi, nanti kamu juga tau sendiri. Ibu tungguin diruang tamu." Langkah Bu Wati pun berjalan menuju ruang tamu dengan sofa warna merah itu dan duduk sembari memainkan ponselnya.
Lima belas menit kemudian Amel sudah terlihat rapi dan segar. Ia menghampiri ibunya dan duduk disebelahnya.
"Aku udah siap bu. Mau kemana kita?" Tanya Amel penasaran."Tidak biasanya aku yang diajak pergi sama ibu. Sebenarnya mau kemana sih ini."
Ibu Wati menyalakan motor maticnya dan bersiap berkendara dengan Amel.
Diperjalanan tak ada percakapan antar keduanya. Kendaraannya itu pun berhenti di area parkir mall yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
"Mall? mau ngapain ngajakin aku kesini ya."
"Udah ayo turun." Ibu Wati pun menempatkan kendaraannya dibawah pohon agar tidak kepanasan, karena memang cuaca saat itu begitu terik setelah Amel turun dari kendaraan itu.
"Nggak usah bingung gitu. Besok kamu mau audisi kan? Ibu mau beliin kamu baju buat kamu pakai besok."
Bagai disiram butiran salju yang begitu dingin dan lembut "Hhhhh... rejeki anak shalihah. Tumben banget ibu tau gimana mauku. Nggak tau deh besok mau pakai apa kalau sore ini ibu nggak beliin aku baju baru." Senyumnya pun merekah melihat perhatian ibunya yang biasanya selalu marah - marah dengannya.
"Kamu pilih aja mana yang kamu suka. Dari pakaian, sepatu, sampai aksesorisnya."
Keduanya pun berjalan menuju pintu masuk utama mall itu. Kepala amel pun mulai menengok ke kanan dan kiri untuk mencari toko yang seselera dengan gayanya.
krruukkkk
Suara perut Amel pun terdengar hingga telinga ibunya.
"Kamu laper Mel?"
"Sedikit sih bu. Nggak apa - apa kok, nanti makan dirumah aja." Amel merasa tidak enak jika ibunya harus mengeluarkan uang lebih untuk sekedar urusan perut.
Ibu Wati pun melihat kanan kiri, mencari - cari restoran yang terdekat, pandangannya pun berhenti disebuah restoran ayam tepung didepan eskalator.
"Ayo makan dulu, ibu juga lumayan laper."
Mereka pun memesan dua paket ayam tepung, nasi, kentang goreng, dan es soda.
Tak terkira bahagianya Amel yang seperti sedang bermimpi. Ia menikmati makanan yang ada didepannya dengan lahap.
Begitu pun ibunya yang terliha benar - benar menikmati makanan didepannya.
Semua perlengkapan untuk persiapan audisi sudah terbeli, mereka pun memutuskan pulang setelah selesai makan.
Flashback off
Amel nampak gugup hari ini, terbukti dengan ia yang susah tidur dan terjaga di pagi buta sebelum ayam jantan berkokok.
Dilihatnya jam yang ada di dinding, masih pukul 1 dini hari. "Aku harus tidur lagi"
Amel mencoba memejamkan matanya tapi ia terbangun lagi, begitu terus sampai ia memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil cemilan dan segelas kopi panas untuk menemaninya terjaga sebelum ia bersiap untuk audisi itu.
Tanpa disadari, Amel memejamkan matanya yang begitu lelah, bahkan kinivsegelas kopi pun tidak bisa membuat matanya terjaga.
Tok.. tok.. tok..
"Mel bangun... Mel bangun.."
Ibu Wati mengetuk berulang - ulang pintu kamar Amel dan memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Ibu Wati pun memegang gagang pintu kamar Amel dan menekan kebawah..
"Tidak dikunci" Ibu Wati pun memasuki kamar Amel dan mendapati gelas bekas minum kopinya dan beberapa camilan diatas lemari tempat lampu tidur berdiri. "hhh Anak ini."
Ibu Wati mengguncang - guncangkan badan Amel agar Amel segera bangun dari mimpinya.
"Bangun Mel, udah hampir subuh. Kamu nggak siap - siap buat audisi? Apa nggak jadi?" Kata Bu Wati dengan tetap mengguncangkan badan Amel.
Amel yang ngantuk berat itu pun menjawab dengan berat "Iya bu, aku bangun nih." Amel pun menegakkan badannya dari tidur cantiknya. Lalu ia mengucek kedua matanya yang masih begitu berat untuk terbuka.
"Jam berapa sih ini bu?"
"Udah hampir subuh, Ibu sudah siapin air hangat buat kamu mandi. Udah gih sana mandi dulu keburu dingin lagi airnya." Beliau pun membereskan gelas dan camilan Amel yang sedikit berantakan sebelum meninggalkan Amel untuk menyiapkan sarapan.
"Iya bu aku mandi sekarang." Amel pun berjalan dengan malas menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian Amel pun sudah bersiap dengan kostumnya untuk audisi. Ia pun segera ke meja makan untuk mengisi perutnya.
Nampak Ibunya sudah duduk disana dan memandangi Amel.
"Ada yang kurang deh kayaknya. Makan dulu gih, nanti mamah poles wajah kamu dikit - dikit."
"Iya bu" Amel pun menyantap dua tumpuk roti selai coklat dan susu coklatnya. Amel memang penggemar coklat.
Selesai menghabiskan makan, Ibu Wati menyiapkan peralatan make up yang ia miliki.
Beliau memoles setiap bagian wajah anaknya itu.
Tak lama kemudian selesailah tugasnya untuk membuat Amel semakin cantik dan serasi dengan pakaian yang ia kenakan.
Amel diantar ibunya menuju sekolahan untuk berkumpul sebelum berangkat ke lokasi audisi menggunakan sepeda motor maticnya.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin, aku nggak pengen ngecewain ibuku. Bagaimanapun juga ibu begitu perhatian denganku untuk mempersiapkan semua ini. Entah ini cuma perasaanku saja yang menganggap tumben ibu seperti itu padaku atau memang benar walau seburuk apapun kita dimata orang tua, tetap ia akan selalu mencintai kita. Entahlah yang jelas aku akan menikmati perhatian ibu saat ini." Disepanjang perjalanan pun Amel hanya senyum - senyum sendiri dan berharap ibunya akan selalu seperti itu padanya.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai didepan pintu gerbang sekolahan. Sekitar terlihat sepi, karna memang saat itu adalah hari minggu, dimana waktunya para siswa untuk istirahat dirumah.
Terlihat dari kejauhan beberapa temannya sudah berada di aula sekolah, menunggu semuanya lengkap.
Amel pun berpamitan dengan ibunya dan mencium tangan ibunya "Doain aku lolos ya bu."
"Doa ibu slalu menyertaimu. Ingat sebelum kamu tampil, berdoa dulu. Minta agar semua dilancarkan. Jangan minum es sama gorengan dulu. Banyakin minum air putih."
"Iya bu, makasih udah diingetin. Aku kesana dulu ya bu."
"Ya udah sana."
Ibu Wati menyalakan motornya dan segera menghilang dari pandangan mata Amel dan Amel pun melangkahkan kakinya ke aula untuk berkumpul bersama teman - temannya.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah Amel ya...
Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan like, komen, rate 5, share, dan jadiin favorite biar kamu nggak ketinggalan kalau aku up cerita selanjutnya ya... Tengkyu 🙏