Yes, I Am A Bad Girl

Yes, I Am A Bad Girl
BAB 4 : Terbongkar



Sekitar 45 menit kemudian, mereka pun sampai di didepan rumah Amel. Amel pun segera memasuki rumahnya setelah say goodbye kepada Shendy. Langkahnya terasa berat, perasaannya berkecamuk, Ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.


Benar saja, belum juga masuk rumah, pintu sudah terbuka. Rupanya sedari suara motor pacarnya itu berhenti didepan rumahnya, ibunya pun diam – diam mengintip dari balik jendela rumahnya.


Tanpa basa – basi Ibu Wati segera menegur anak sulungnya itu. “Darimana saja kamu? Perempuan main kok sampe malem gini. Katanya mau ke rumah Wulan? Kok malah tiba – tiba pulang malam sama cowok lagi Ternyata makin gede,makin berani bohong kamu ya.” Kata Bu Wati penuh dengan emosi.


“Maaf bu. Bukan maksudku berbohong. Memang benar tadi aku ngerjain tugas dirumah Wulan. Terus aku diajak makan sama temen – temen dulu. Saking asiknya ngobrol samoe lupa waktu gini. Nah tadi itu aku dianterin sama temenku, ya karna aku kan nggak bawa motor sendiri.” Sanggah Amel. Sebenarnya ia merasa berdosa karna membohongi ibunya yang aslinya kan memang cuma pergi berduaan dengan Shendy. Tapi ya mau gimana lagi, biar ngomelnya Ibu Wati nggak begitu panjang begitulah.


“Dasar anak kurang ajar, pinter banget ngeles Awas kamu berani sekali lagi pulang malam, nggak akan aku bukain pintu. Tidur aja diluar rumah.” Amel pun melangkahkan kaki menuju kamar tanpa memperdulikan Ibunya yang sedang memarahinya panjang * lebar * tinggi. Karna memang dia paham ibunya itu super pemarah.


Amel memasuki kamar pribadinya. Berganti pakaian tidur dan keluar kamar lagi untuk pergi ke toilet yang letaknya berada disebelah dapur.


Ketika ia sampai didepan toilet ternyata pintu itu tertutup.


“Siapa didalam?” Tanya Amel dengan mengetuk pintu toilet yang ada didepannya itu.


“Ini aku. Kara kak. Sebentar ya.” Jawab orang yang ada dibalik pintu toilet itu yang ternyata adalah adik perempuannya.


“Buruan gantian, aku udah kebelet banget nih.“ Lanjut Amel


Amel pun melangkah ke dapur yang ada disebelah toilet itu selagi menunggu adiknya selesai. Ia membuka lemari pendingin dan mengambil air putih dingin kemasan. Lalu membuka tutup botolnya dan meneguk air itu sampai suaranya pun terdengar jelas Glek... Glek.. Glek...


Nampaknya Amel begitu puas melepas rasa dahaganya walau hanya dengan meminum air putih dingin. Kemudian ia memasukkan kembali sisa kemasan botol air minum itu kedalam lemari pendingin lagi.


Amel melangkahkan kakinya lagi menuju depan pintu toilet. Mencoba mengetuk lagi dan kemudian matanya tiba – tiba tertuju ke kursi kayu yang berada di sudut ruang depan toilet itu. Ia melihat ada rok sekolah yang selalu dipakai adiknya Kara disepanjang hari akhir – akhir ini. Ia merasa seperti ada yang mendorongnya untuk mendekat dan mencari tau isi kantong saku rok itu.


Benar saja, ia menemukan berlembar – lembar uang yang digulung sampai begitu tebalnya.


“Mana mungkin anak SD punya uang sebanyak ini kecuali waktu hari raya. Pasti uang ini punya ibu. Dan fakta yang terkuak adalah anak kesayangannya itu sendirilah yang berani mengambil tanpa permisi. Hahaha... Lihat aja ntar pasti aku aduin ke ibu.” Batin Amel dengan hati berbunga – bunga dan senyum licik karena ia merasa bisa membersihkan nama baiknya yang dicoreng ibunya sendiri.


Tanpa menunggu lama Amel pun langsung mencari ibunya di setiap sudut ruangan yang ada dirumahnya dengan membawa rok beserta uang yang ada, seolah melupakan bagaimana rasanya kebelet buang air seperti tadi. Tapi pencariannya tidak berhasil. Ia duduk disofa ruang tamu yang empuk dengan warna merah terang. Aliran darahnya terasa begitu lancar sehingga ia merasakan begitu bersemangat saat itu. Mungkin karena ia akan segera membongkar kebusukan yang ada dirumah itu.


Tak lama kemudian Ibu Wati pun memasuki rumah dan spontan Amel berdiri lalu berjalan mendekati ibunya dan menyodorkan barang bukti yang ia temukan dan diterima oleh ibunya itu.


“Lihat bu, ini rok siapa? Disini aku temukan uang banyak yang digulung - gulung. Aku yakin seribu persen ini pasti uang ibu. Lihat siapa yang sebenarnya pencuri! Lihat siapa yang seharusnya kau marahi! Yang jelas itu bukan aku bu, tapi anak kesayanganmu. Kau salah menilaiku bu.” Kata Amel meluapkan rasa kecewa pada ibu kandungnya itu. Amel pun meninggalkan ibunya yang hanya diam mematung didepan pintu masuk rumah.


Amel merasa begitu lega bahwa ternyata kebenaranlah yang terbukti. Sekarang ia hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Kara akan dimarahi habis - habisan atau akan tetap tenang - tenang saja mengetahui anak kesayangannya yang menjadi pencuri sebenarnya.


Amel merebahkan diri diatas kasurnya, dan berharap akan ada kegemparan yang terjadi sebentar lagi. Amel sengaja tidak menutup pintu kamarnya agar dia lebih jelas mendengar apa yang terjadi.


Selang beberapa waktu Amel melihat Kara melintas didepan kamarnya memakai celana boxer dengan wajah sedikit kebingungan. Mungkin Kara bingung karena roknya sudah tidak ada ditempat dia letakkan tadii.


Amel seperti mendengar suara bisik - bisik tidak jelas.


"Sepertinya yang akan terjadi tidak seperti apa yang aku inginkan." Batin Amel sedikit kecewa.


Karena saking keponya, Amel pun mengintip dari pintu kamarnya.


"Ternyata kamu yang ngambil uang Ibu ya Kar?" Tanya Ibu Wati sambil menangis kecewa tapi Kara hanya menunduk diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Tuh kan nggak seru. Kalau sama Kara aja nggak marah - marah padahal waktu nuduh aku yang ngambil itu marahnya minta ampun sama aku. Memang beda. Aku beda dari Kara. Kara istimewa dan aku hanya benalu dirumah ini." Umpat Amel pada dirinya sendiri. Ia pun menutul pintu pelan dan menguncinya dari dalam. Lalu ia kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur.


Amel pun lantas mencari ponselnya didalam sling bag yang ia pakai tadi.


Begitu banyak pesan dan panggilan masuk yang ada di ponselnya.


Ia membuka dan membaca satu persatu pesan yang mayoritas dari pacar barunya itu.


Nampaknya Shendy begitu khawatir dengan Amel. Ia takut orang yang disayanginya itu dimarahin ibunya.


Amel pun mulai mengadu kedua jempol tangannya di layar sentuh ponsel miliknya itu.


"It's okay. Kamu tenang aja, aku baik - baik aja kok." Balas Amel melalui pesan singkat lewat whatsapp-nya.


Dalam hitungan detik saja balasan kembali ia terima dari Shendy


"*Yakin? Aku beneran kawatir lho ini. Ibumu marah nggak kamu dianterin cowok?"


"Tenang aja. Beneran nggak apa - apa kok."


"Ya udah aku percaya. Sekarang kamu tidur, besok aku mau ajak kamu kesuatu tempat."


"Hah.. Kemana*?" Amel merasa penasaran saat itu.


"*Ada deh. Yang penting sekarang kamu tidur, besok aku jemput kerumahmu."


"Jangan.. jangan dirumahku. Kita ketemuan diluar aja. Aku masih belum siap kalau o*rang tuaku tau aku punya pacar." Cegah Amel kawatir. Dia merasa belum pantas mengenal lawan jenis dan masih harus giat belajar karena usianya masih dini, 12 tahun.


"Iya iya deh sayang. Besok aku tungguin dideket gang rumahmu aja ya. Jam 11. Jangan lupa oke." Jawab Shendy menenangkan.


"*Oke deh kalau begitu. Ya udah aku tidur duluan ya. Good night."


"I LOVE YOU AMEL*."


Membaca pesan itu semakin membuatnya dimabuk asmara. Amel masih merasa ragu untuk membalasnya tapi ia harus membalasnya.


Akhirnya Amel pun membalas pesan singkat yang diketik dengan huruf kapital untuk mempertegas isi pesan itu.


"I love you too Shendy Ockshell." Balas Amel.


" 😘 " Balas Shendy mengakhiri pesan sepasang kekasih yang sedang berbahagia itu.


Amel hanya membacanya dengan bibir merekah penuh rasa bahagia. Shendy benar - benar berhasil membuat Amel melupakan masalah yang ia alami dirumah.


Kini saatnya Amel memejamkan mata, mengistirahatkan badan dan pikirannya agar besok bisa bangun dalam keadaan segar dan penuh semangat.


\*\*\*