
Mentari pagi menyapa Amel dengan lembut, ia membuka mata dan bergegas ke toilet untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Kemudian ia mengambil segelas air putih di dapur untuk memulai aktifitas paginya.
Hal pertama untuk memulai minggu pagi ini adalah mencari sapu ijuk untuk membersihkan lantai dalam rumah, setelah ia selesai membersihkan setiap jengkal keramik yang ada, kemudian ia melanjutkan untuk mengepelnya agar terlihat lebih bersih dan kinclong. Dilanjutkan bagian halaman rumah, ia membersihkan dedaunan pohon dan tanamannya yang jatuh ke tanah dengan sapu lidi, kemudian menyiram semua tanamannya baik yang ada di pot maupun yang mengakar didalam tanah dengan air yang diselang agar setiap tanaman yang ada disudut - sudut atau yang letaknya jauh dari kran air bisa terjangkau dengan mudah.
Lalu ia pun membersihkan diri untuk mandi dan menyiapkan sarapan untuk dia sendiri dan tentunya orang rumah.
Amel membuka pintu lemari pendinginnya untuk melihat ada stock bahan apa saja yang bisa ia gunakan untuk membuat sarapan.
"hmm kalau yang ada kayak gini sih aku mau masak sop ayam, ayam goreng, tempe goreng, sama sambal terasi aja." Gumamnya dalam hati melihat persediaan bahan makanan dan sayur yang melimpah di kulkas. Namun ia memilih untuk memasak masakan yang mudah - mudah saja. Agar tidak banyak waktu yang terbuang.
Amel pun mulai memasak dengan gembira, karena dalam hitungan jam saja ia akan bertemu lagi dengan kekasihnya.
Terdengar langkah kaki yang semakin terdengar jelas mendekatinya yang sedang berhadapan dengan panci dan penggorengan diatas kompor.
"Pagi banget masaknya. Sini ibu bantuin. Maaf ya kamu udah bersih - bersih rumah, eh ibu malah baru bangun. Maaf juga soal yang kemarin. Memang yang ngambil uang Ibu itu si Kara." Kata Ibu Wati sembari mengambil piring untuk meletakkan ayam yang barusan digoreng Amel.
"Nggak apa - apa bu. Aku udah nglupain hal itu kok." Jawab Amel seolah tidak ingin mendengar cerita apapun tentang kejadian kemarin.
"Makasih ya nak." Ujar Ibu Wati
"Oh ya bu, nanti aku minta ijin buat kerumah Wulan lagi, soalnya tugas yang kemarin belum selesai." Bujuk Amel tetapi dengan cerita bohong agar ia bisa pergi berdua dengan Shendy.
"Iya nggak apa- apa, tapi pulangnya jangan kesorean ya. Inget besok masuk sekolah." Kata bu Wati sambil menyiapkan makanan untuk diletakkan dmeja makan.
Amel sebenarnya merasa curiga dengan Ibunya itu. Hanya sesekali saja ia ngobrol dengan nada biasa -biasa saja dengan ibunya itu.
" Bodo amat deh, yang penting aku udah dapet ijin pergi." Kata Amel dalam hati.
Setelah selesai memasak, ia pun menuju meja makan dan mengambil sepiring nasi plus lauk dan sayur untuk jatah sarapannya.
Ia membawa serta piring makannya kedepan tv karena kebiasaannya yaitu makan sambil nonton tv. Ia mulai menyalakan tv dan mencari acara favoritnya disetiap minggu pagi, yaitu nonton kartun doraemon.
Setelah selesai makan ia membawa piringnya kedapur dan langsung mencucinya. Lalu ia kembali lagi untuk menonton acara kesayangannya itu hingga selesai.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Ia mematikan televisi dan masuk ke kamarnya untuk menyiapkan diri bertemu dengan Shendy. Amel memakai blouse berwarna biru dengan corak garis verikal putih dan celana jeans yang senada, tak lupa sling bag, jaket, dan flat shoes warna coklat.
Tidak ada riasan wajah yang berlebihan padanya yang tetap menandakan bahwa ia adalah seorang gadis remaja yang terlihat cantik natural walau hanya memakai bedak dan lipgloss saja. Ia bersiap untuk keluar rumah sekarang.
Sebelum pergi ia mencari ibunya dan berpamitan.
"Bu, aku pergi dulu." Kata Amel sambil mencium tangan ibunya yang sedang duduk di teras bersama ayahnya.
"Hati-hati nak." Jawab kedua orang tua Amel dengan kompak.
Mereka pun tertawa geli, begitupun Amel yang tengah berjalan menjauh dari tempat orang tuanya duduk.
Amel menyusuri jalan sekitar rumahnya menuju jalan utama. Nampak seorang cowok yang memakai jaket hitam dengan gestur tubuh seperti cowoknya sedang duduk diatas motor sambil memainkan ponsel.
"Udah siap belum? Aku sudah sampai didepan gang rumahmu." Begitulah suara yang keluar dari ponsel Amel.
"Berbaliklah." Ucap Amel ketika ia sudah berada tepat dibelakang motor Shendy.
"Hei.. Ayo langsung aja naik, biar kita nggak kesorean nanti pulangnya." Kata Shendy dengan sedikit terkejut. Ia pun mematikan panggilan keluarnya dan memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya.
Amel pun menurut saja dengan apa yang diperintahkan Shendy padanya. Ia mengambil helm yang Shendy bawakan untuknya dan dengan segera duduk diatas jok motornya Shendy. Mereka pun melewati perjalanan dengan bahagia. Masih jelas terlihat aura kebahagiaan yang penuh cinta antar mereka berdua.
Sampai ditempat yang dituju. Ternyata Shendy membawa pacarnya itu ke tempat dataran tinggi yang udaranya benar - benar sejuk dan sangat asri.
Mereka pun masuk ke tempat wisata taman bunga. Wajah dan perasaan Amel pun tidak bisa menutupi bagaimana rasa bahagianya saat ini. Ia melihat berbagai macam jenis bunga yang berbagai warna. Bunga - bunga itupun merekah dengan sempurnanya.
Aroma wangi bunga pun semerbak dimana - mana. Benar - benar hari yang menyenangkan baginya.
Pasangan bahagia itu melewati siang dengan makan bakso, mengobrol, bercanda, dan tertawa. Seolah dunia milik mereka berdua dan tidak mau ada yang mengganggunya.
"Terimakasih telah mengisi hariku dengan tawa." Kata Amel.
"Kok ngomongnya gitu? Emang sebelum ada aku kamu nggak pernah ketawa gitu?" Goda Shendy pada Amel yang nampak serius dengan ucapan dan ekspresi wajahnya.
"Ya bukannya gitu. Aku suka saat bersama kamu. Bahagiaku saat didekatmu, membuat aku melupakan semua permasalahan yang aku alami." Kata Amel dengan ekspresi wajah yang semakin serius.
"Emang kamu punya masalah apa? Coba cerita ke aku sekarang, biar kamu juga lebih lega." Shendy merangkul Amel agar Amel merasa lebih tenang.
"Nggak apa - apa kok. Udah selesai juga masalahnya. Kita pulang yuk! Takut kesorean" Pinta Amel dengan sedikit manja.
"Beneran udah selesai? Tapi kalau besok atau entah kapan kamu butuh orang buat dengerin ceritamu, syukur -syukur bisa bantu kamu mencari solusi, aku siap sedia buat kamu." Mereka pun berjalan menuju parkiran motor dan bersiap untuk pulang kerumah.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh itu mereka sampai didepan gang rumah Amel. Amel pun turun dan membuka helmnya.
"Makasih ya buat hari ini. Aku seneng banget bisa menghabiskan waktu sama kamu." Kata Amel sambil memberikan helm kepada pacarnya itu.
"Aku juga. Boleh nggak aku nggak usah pulang, aku ikut kerumahmu aja? Aku juga mau sama kamu terus." Ujar Shendy menggoda Amel yang nampak ada warna kemerah - merahan di wajahnya.
"Boleh kok, entar ya kalau kita sudah halal. heheh..." Amel tertawa puas bisa membalas godaan dari Shendy.
"Iiihhh... dasar kamu bikin gemes." Shendy pun mencubit manja hidung Amel karena saking gemasnya dengan ucapan dan tingkah Amel.
"Uuh sakit tau. Udah sana pulang. Jangan lupa kangenin aku kalau kamu udah nggak ada disampingku." Kata Amel sambil memegang hidungnya yang barusan dicubit pacarnya itu.
Amel sekarang terlihat mulai berubah, mulai berani menunjukkan perasaannya, terutama pada kekasih barunya itu.
Ia menghela nafas panjang seolah kesal harus berpisah dengan Shendy, ia masih ingin melewati banyak waktu bersama atau bahkan cuma mau ada Shendy disebelahnya.
"Jangankan udah nyampe rumah, masih disini saja aku kangen terus sama kamu. Yaudah bye sayang.. sekarang sana pulang gih!" Shendy pun menyalakan mesin kendaraannya dan mulai memacu kecepatannya. Sedangkan Amel hanya bisa memandangi Shendy hingga Sosoknya benar - benar tidak bisa terjangkau oleh kedua matanya.