
"Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Sapa Ibu guru Agama Islam yang memasuki area kelas.
Kelas yang tadinya nampak ramai karena adegan memalukan yang dialami Amel pun sontak menjadi tenang.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sorak ramai suara murid - murid menjawab salam dari Ibu guru itu.
"Tadi salah satu siswi kelas ini ada yang disuruh maju ke tengah lapangan upacara ya?" Tanya Ibu guru Muchasanah yang tadi sewaktu upacara memperhatikan dan mengingat ada tiga orang yang diperkenalkan di tengah lapangan oleh kepala sekolah, dan salah satunya ada di kelas yang akan beliau ajar pagi ini.
"Iya bu, si Amel tuh bu." Memang ramai yang menjawab salah satunya pun menjawab seperti itu dengan suara paling keras.
"Mana yang namanya Amel?" Tanya Bu guru.
"Itu bu, itu." Salah seorang siswa yang duduk didepan meja guru itu pun menunjukkan arah tempat duduk Amel.
Ibu Muchasanah pun menghampiri Amel dan menyalami tangan Amel. "Selamat ya, semoga minggu depan kita kembali mendengar kabar gembira darimu."
"Terimakasih banyak bu." Amel merasa semakin semangat mendengar support dari Ibu gurunya itu.
"Bu, tadi Amel dicium Shendy." Suara itu terdengar ditengah pemberian selamat kepada Amel oleh salah satu temannya.
"Dicium? Di kelas? Benar itu Amel?" Wajah Beliau pun benar - benar terkejut dan marah mendengar kalimat itu, termasuk juga Amel dan Shendy.
"Gila siapa sih yang tega mbocorin kejadian tadi? Tapi aku kan nggak berniat mau nyium ataupun dicium Shendy." Amel hanya bisa tertunduk malu.
"Amel. Shendy. Ikut ibu sebentar."
Amel dan Shendy pun mengikuti jalannya Bu Muchasanah dari belakang dengan tertunduk lesu.
"Maafin aku Mel." Kata Shendy dengan suara lirih. Tapi Amel hanya diam dan tidak memperdulikan permintaan maaf Shendy itu.
______________________________________________
POV Putri
Putri pun merasa kesal dengan cara salah satu teman sekelasnya yang tega melaporkan hal yang tidak ada sangkut paut dengannya itu. Putri tahu benar suara siapa yang tadi berbicara. Setelah sepeninggalnya Ibu guru agamanya tadi, beserta sahabat dan pacar sahabatnya itu hilang, Putri dengan ekspresi marah menghampiri pemilik suara yang melaporkan kejadian yang tak diduga yang dialami sahabatnya tadi.
Brrraaaakkkk ( Suara gebrakan meja )
"Kamu kan Yan yang ngomong tadi?" Putri menunjuk wajah Yanti dengan marah.
"Kalau iya emang kenapa? Salah sendiri ciuman kok di kelas. Nggak etis banget." Jawab Yanti dengan nada pedas.
"Kamu tau apa Haaaa??? Kejadian yang sebenernya nggak seperti itu tau. Kasian kan Amel sekarang malah kena masalah gara - gara kamu. Oooh aku tau kamu ternyata selama ini sirik ya sama Amel? Coba bilang apa hal dari Amel yang bikin kamu sirik?" Cerocos Putri.
"Sirik? Ngapain? Unfaedah banget sirik sama dia." Jawab Yanti ketus.
"Awas aja ya kalau sampai aku tau sekali lagi kamu gangguin Amel. Aku balas nanti." Putri pun kembali ke tempat duduknya.
"Sialan tuh si Yanti, bikin rusuh kelas aja." Gerutu Putri dengan dirinya sendiri.
_____________________________________________
Di tempat lain Amel benar - benar sedang merasa tidak karuan.
"Perasaanku sudah tidak enak sejak kejadian tadi, ternyata ini yang akan terjadi. Aku sudah tidak bisa berkata - kata, yang ada hanya rasa marah dan malu. Aku benci dengan Shendy dan aku lebih benci lagi sama orang yang bikin aku berada disini. Entah itu siapa, aku nggak tau." Amel duduk menunggu Ibu Muchasanah kembali dari ruangan guru BK, begitupun juga Shendy.
Shendy nampak diam dengan wajah menyesal. Sementara Amel duduk gelisah dengan wajah kusut seperti pakaian yang belum disetrika.
"*Hari ini aneh banget, tadi pagi saat upacara aku seperti dilambungkan tinggi keatas awan, tapi belum juga ada sejam, sekarang aku malah dijatuhkan dari atas awan itu. Sakit banget. Gimana kalau ini sampe ke orang tuaku? Gimana kalau malah aku dikeluarin dari sekolah? Trus nasib lombanya gimana? Ampun deh, aku pasti kena marah n*anti." Amel membayangkan hal - hal yang tidak ia inginkan dan itu membuat wajahnya semakin muram.
"Mel, aku minta maaf. Aku nggak tau kalau bakal jadi kayak gini. Please maafin aku." Shendy menggeser letak duduknya mendekati Amel.
"Minggir, jangan deket - deket. Jangan bikin semuanya tambah runyam." Ucap Amel dengan mendorong Shendy dengan kedua tanggannya agar menjauh darinya.
"Tapi tolong maafin aku. Please !" Wajahnya pun semakin memelas.
Amel hanya diam, sepertinya dia malas untuk bicara saat ini.
"Minta tolong ya bu. Trimakasih." Hanya kalimat itu yang terdengar oleh mereka berdua dari Ibu guru agamanya. kemudian Ibu guru agamanya itu pun kembali ke kelasnya untuk mengajar pelajaran yang tadi tertunda.
Guru BK pun berjalan menuju tempat duduk Amel dan Shendy.
"Sudah tau kenapa kalian berdua diajak kesini?" Mereka berdua pun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baik, sekarang siapa yang mau menjelaskan kronologisnya?"
Mereka masih tetap nampak terdiam, tidak mau menjawab.
"Kalau aja aku punya kantong Doraemon, aku bakal minta tolong hapus ingatan semua orang tentang kejadian tadi. Sayangnya ini dunia nyata, dan semuanya sudah terlanjur terjadi." Batin Amel dalam diamnya.
"Ayo kenapa pada diem - dieman?"
"Gini bu, Itu semua murni ketidaksengaan saja." Jawab Shendy dengan pedenya.
"Tadi itu waktu lagi ngumpul bareng - bareng, Amel nggak sengaja membalikkan kepalanya dan pas banget saya lagi ada disebelahnya, terus kena deh." Cerita Shendy dengan sedikit berbohong.
"Bener gitu Mel?" Tanya Bu Guru BK.
"Iya bener kok bu, memang semuanya karena ketidaksengajaan. Maafin saya bu."
"Walau gimanapun kalian sudah membuat kegaduhan di sekolah dengan adanya kejadian memalukan seperti ini. Kalian tetap kena scorsing dan membuat surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengulangi kesalahan lagi." Kata Guru BK sambil memberikan masing - masing secarik kertas dan bolpen.
Amel benar - benar terkejut dan detak jantungnya pun terasa sangat kencang. Keringat dingin pun juga mulai mengalir.
Mereka berdua pun mengikuti ucapan dari Guru BK untuk kemudian ditulis dan ditanda tangani.
"Tapi orang tua kami jangan sampai tau masalah ini ya bu, saya mohon bu." Amel merayu agar apa yang ia takutkan lainnya tidak terjadi.
"Iya bu tolong orang tua kami jangan sampai tau." Tambah Shendy.
"Saya tidak bisa janji. Karena ini merupakan pelanggaran. Semua warga sekolah yang melanggar peraturan sekolah harus ditindak lanjuti, resiko nantinya seperti apa harusnya kalian yang lebih tau, maka mulai sekarang hati - hatilah dalam bertindak."
"Iya bu, tapi kan ini tidak sengaja." Sanggah Shendy.
"Apapun itu kalian harus terima konsekuensinya. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas."
"Baik bu." Amel dan Shendy pun kembali menuju kelasnya.
Amel berjalan sangat cepat.
"Tunggu Mel, aku minta maaf." Shendy mengikuti amel berjalan cepat di samping kirinya.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan kok." Kata Amel yang masih terlihat marah.
"Aku tau kamu masih marah sama aku. Mel tolong jangan kayak gini. Maafin aku!"
Amel pun tidak memperdulikan Shendy. Karena ruang kelas sudah didepan mata, maka Amel pun segera memberi salam.
"Assalamu 'alaikum"
"Waalaikumsalam" Ibu Muchasanah yang sedang menjelaskan pelajaran didepan pun menjawab salam.
"Silakan duduk."
Amel kembali duduk di samping tempat duduk Putri, begitupun Shendy kembali ketempat duduknya dibelakang.
"Mel tau nggak?" Ucap Putri dengan bisik - bisik.
"Apa?"
"Ternyata yang ngomong tadi itu si Yanti."
"Yanti?" Amel menengok kearah bangku Yanti dengan berbagai pertanyaan diotaknya.
"Tapi udah aku labrak tadi. Kayaknya dia sirik deh sama kamu."
"Apanya yang bisa disirikin dari aku? Aku biasa - biasa aja, nggak ada yang spesial, aku juga nggak pernah bikin masalah sama dia. jangan - Jangan......" Amel menghentikan pembicaraannya.
__________Bersambung__________
.
.
.
.
.
Author 📢
Ayo dong terus kasih dukungan ke author dengan cara :
klik 👍
berikan komen terbaikmu
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote sebanyak - banyaknya
dan klik favorite ❤️ biar kamu nggak ketinggalan setiap episode barunya.
Tengkyu 🙏