Yes, I Am A Bad Girl

Yes, I Am A Bad Girl
BAB 7 : Latihan pertama



Pukul 12.30 semua pelajaran pun selesai. Ada waktu 30 menit lagi untuk berkumpul di ruang musik. Shendy mendekati Amel yang sedang beberes alat tulis. Ia pun mengajak Amel untuk makan siang di kantin.


"Ayo makan dulu, biar kamu tambah semangat latihannya." Shendy berdiri disamping bangku Amel menunggu pacarnya itu bergerak dari tempat duduknya.


"Kamu ih, yang dipikiran makan terus."


"Biarin, nggak makan nggak asik. heheh..." Mereka berdua pun tertawa seraya beranjak meninggalkan kelasnya dan ketempat favorit Shendy di sekolahnya yaitu, kantin.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Shendy kepada pacarnya itu.


"Kamu aja yang pilihkan. Aku tunggu disana ya." Amel menunjuk meja yang berada dekat tembok, agar ia bisa sedikit bersandar.


Tak lama kemudian Shendy pun datang membawa dua piring nasi yang berisikan tumis sayur kangkung, tempe goreng, dan ayam goreng. Kemudian disusul oleh ibu kantin yang memberikan dua gelas es teh pada mereka.


"Silakan mba, mas." Kata ibu kantin sambil meletakkan gelas yang ia bawa ke atas meja.


"Makasih bu" Kata Amel dengan senyum.


Amel dan Shendy mulai melahap makanan mereka.


"Enak ya sayang masakan bu Siti." Kata Amel.


Bu Siti adalah ibu kantin yang mempunyai tangan ajaib, karena semua makanan yang dimasak Bu Siti itu tidak kalah rasanya dibanding makanan - makanan di restoran.


"Enaklah sayang, orang aku nggak bisa masak kok. Lagian nggak baik bilang makanan itu nggak enak. Kita harus bersyukur bisa makan kayak gini, banyak dari mereka yang nggak bisa makan makanan layak." Celoteh Shendy.


"Iya iya.. udah kayak pak ustadz aja ceramah mulu." Amel pun tertawa kecil.


"Kamu nih dikasih tau malah ketawa." Jawab Shendy sambil mengacak - acak rambut Amel yang tergerai bebas.


'Iya maaf maaf sayang. Buruan yuk makannya." Kata Amel dengan kedua jari tangannya merapikan rambut yang baru saja diacak - acak pacarnya itu kemudian mereka menyantap makanan yang ada didepan mereka dengan lahap sampai habis.


Amel pun sudah tidak sabar untuk segera mengikuti latihan pertamanya. Setelah selesai makan mereka bergegas menuju ruang musik.


"Kurang 5 menit jam 1. Aku nggak mau terlambat untuk latihan pertamaku." Kata Amel tergesa - gesa karena takut terlambat.


"Duuuh yang mau jadi penyanyi." Goda Shendy.


"Ah kamu ini. bikin aku tengsin aja. Udah ah jangan godain aku terus.


Jarak dari kantin ke ruang musik memang lumayan jauh, mereka harus melangkahkan kakinya dengan cepat agar Amel tidak terlambat untuk memulai latihan pertamanya.


Sesampainya disana terlihat masih 4 orang yang sudah sampai.


"Yang lain belum datang?" Tanya Amel kepada mereka yang sudah berada didalam ruangan.


"Udah kok Acha dan Kiki lagi ke toilet." Jawab salah satu dari mereka yang tengah duduk.


Tak lama kemudian Acha dan Kiki pun datang, disusul Pak Hardilan dibelakangnya.


Pak Hardilan kemudian menanyakan tentang lagu apa yang mereka persiapkan untuk tahap audisi nanti. Kemudian ia melatih vocal mereka dimulai dari latihan dasar aiueo, teknik pernafasan, teknik pembawaan microphone, stage act, dan masih banyak lagi yang lain. Beliau juga mengarahkan para siswi untuk memilihkan lagu mana yang cocok untuk karakter suara mereka masing - masing.


Latihan pun tidak terasa berat, mereka begitu nampak antusias. Shendy yang sedari tadi berada diluar ruangan itu pun bisa menyaksikan kegiatan itu dengan jelas lewat jendela sambil sesekali memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosan.


Dua jam pun berlalu, semua yang ada didalam ruang musik itu pun keluar.


"Ngantuk ya? Maaf ya bikin kamu nunggu lama." Tanya Amel mendekati Shendy yang saat itu tengah duduk di depan ruang musik itu.


"Ngantuk dikit sih tapi nggak apa - apa kok kan aku yang mau nungguin kamu sampe selesai latihan."


"Emang kamu nggak cape? mending pulang aja deh, besok kan masih harus latihan lagi."


"Iya deh kalau kamu maunya begitu. Oh ya aku lupa kalau masih punya sesuatu di tasku." Amel meraih coklat yang tadi ia simpan didalam tasnya sambil berjalan disamping Shendy.


"Ketemu. Ini dia. Aku makan ya." Kata Amel kemudian membuka bungkus coklat yang berwarna gold itu. "Kamu mau sayang?"


"Enggak. Kamu makan aja. Habisin aja kalau kurang besok aku beliin lagi."


"Ternyata kamu romantis banget ya." Ujar Amel sambil melahap coklat dari kekasihnya itu.


Mereka pun sampai didepan gerbang sekolahan, kemudian menyebrang jalan raya dan menunggu bus umum untuk mengantarkan mereka pulang.


"Tuh busnya datang." Shendy pun menghentikan bus itu.


Mereka naik dan duduk dikursi pojok paling belakang. Karna Amel memang lebih suka duduk dikursi paling belakang dekat dengan jendela.


Beberapa menit kemudian Shendy bersiap untuk turun karena jarak sekolah dari rumahnya memang tidak terlalu jauh.


"Aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati. Langsung pulang, nggak usah mampir - mampir. Kata Shendy khawatir.


"Oke boss" Amel pun mengangkat tangan kanan dan menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya, kemudian ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


Sekitar lima belas menit kemudian giliran Amel yang turun dari bus itu. Kemudian ia berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari jalan raya.


Sesampainya dirumah ia kekamar kemudian mandi karena hari juga sudah menjelang sore. Amel tidak membantu membersihkan rumah karena semuanya sudah bersih. Ia pun kemudian berjalan keruang santai dimaba biasanya disana ia bisa menonton televisi ataupun hanya sekedar tiduran di kasur yang disediakan diruang santai itu.


"Bu, aku mau bicara." Kata Amel kepada ibunya yang barusan lewat dari arah dapur.


"Ada apa? Ibu mau keluar sebentar, mau beliin adikmu keperluan sekolahnya."


Amel pun kemudian duduk.


"Bentar aja kok, Aku cuma mau bilang kalau aku ditunjuk sekolahan untuk mengikuti acara lomba Children Pop Singer se- Jawa Tengah. Audisinya 10 hari lagi, dan tadi aku sudah mulai untuk latihan. Makanya tadi aku pulang telat. Maaf ya bu." Jelas Amel yang sebenarnya takut kena marah karena pulang terlambat.


"Oh gitu ya nggak apa - apa. Udah ibu pergi dulu ya" Jawab Ibu Wati lalu beliau pun pergi meninggalkan Amel yang sedikit kecewa karena tidak terlihat ekspresi bangga untuk Amel.


"Ya sudahlah, yang penting aku nggak kena marah, gitu aja." Amel pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton tv.


Ponselnya pun berdering, seketika Amel pun menjawab panggilan masuk itu. Rupa - rupanya dari Shendy.


"Hai.." Sapa Amel duluan dengan nada sedikit lesu.


"Kok suaranya lemes banget sih? Kenapa?"


Jawab Shendy penasaran.


"Aku ngomong ke ibuku tentang aku ditunjuk untuk ikutan lomba nyanyi itu loh, tapi jawabannya datar aja gitu, kayak nggak ada rasa happy nya dikit kek ke aku. Padahal kan sebenernya kalau ibu sedikit saja respect dengan ceritaku, aku kan bisa ngerasa makin semangat." Jelasnya semakin lesu dengan bibir cemberut dan muka ditekuk.


"Halah nggak apa - apa. Pasti ibumu juga bakalan doain kamu kok. Lagian kan ada aku yang selalu siap sedia menemani dan menyemangati kamu."


"Iya untungnya ada kamu. kalau enggak pasti aku bener - bener merasa sendirian."


Mereka pun terus menerus berkeluh kesah dan saling berbagi cerita dan tidak terasa setengah jam pun terlewat. Setelah Amel mereka mengakhiri panggilan teleponnya, ia pun melanjutkan nonton televisi dan tak lama kemudian pun dia yang ditonton televisi.


Amel nampak kelelahan, ia tertidur sangat pulas tanpa mematikan televisi dahulu.