Yes, I Am A Bad Girl

Yes, I Am A Bad Girl
BAB 3 : Satnight



Nampak dari kejauhan sudah ada beberapa sepeda motor yang parkir didepan rumah Wulan. Ia pun berjalan cepat menuju depan pintu rumah itu.


Dihalaman rumah Wulan memang nampak asri, banyak bunga dan tanaman - tanaman hijau yang tumbuh disana.


Amel melepaskan flat shoes nya dan masuk dengan tergesa - gesa.


"Hai semuanya, aku telat banget ya. Sorry tadi keenakan tidur siang sih. hehehe... "


Kata Amel tanpa merasa berdosa telah membuat teman - temannya menunggu.


"Cepat masuk, kita udah mulai dari tadi." Kata salah satu temannya yang bernama Dian. Dian adalah sahabat Amel, wajahnya sih biasa - biasa saja, nilai pelajaran pun biasa - biasa saja, tapi dia salah satu atlet basket perempuan andalan sekolah. Dia dan tim basketnya sering banget menjadi juara dan mendapatkan uang saku dari hasil kemenangannya. Ya karena dia atlet basket, penampilannya pun sedikit tomboy, gaya bicaranya pun cepat dan ceplas ceplos.


Amel pun bergabung dengan sahabat - sahabatnya itu untuk mengerjakan tugas bahasa Indonesia, yaitu membuat satu naskah drama dengan 4 tokoh.


Setelah sekian waktu beradu pendapat untuk menyempurnakan naskah drama tersebut, akhirnya selesai jugalah tugas bahasa Indonesia dari Bu Ratna itu. Mereka berempat nampak puas dengan hasil yang mereka buat.


Amel melirik jam yang terpajang di dinding diatas meja yang berisi potret - potret kebersamaan Wulan dan keluarganya.


Ternyata kurang lebih lima belas menit lagi, jam akan menunjukkan pukul 7 sore. Itu artinya ia harus segera mempersiapkan dirinya untuk memberi jawaban kepada Shendy yang mungkin sebentar lagi akan menjemputnya disana.


"Ngapain sih ngeliatin jam mulu dari tadi, jam nya nempel terus kok, nggak akan pergi kemana - mana." Ujar Acha yang sedang mencandai Amel yang terlihat gugup.


"Kamu baik - baik aja kan Mel?" Lanjut gadis berambut lurus, hitam, dan panjang yang selalu menggeraikan mahkota perempuannya itu. Acha adalah salah satu anggota gengnya yang paling cantik, manis, dan terlihat sempurna. Dia itu paling feminin dibanding ketiga temannya yang lain.


"Tenang, aku baik - baik aja kok." Jawab Amel sembari merapikan rambutnya yang ia kucir dengan poni dan sedikit rambut yang ia biarkan tergerai didepan telinga kiri dan kanannya.


Tak lama kemudian suara motor pun berhenti didepan rumah Wulan, nampak sesosok lelaki bertubuh tinggi, tegap dengan helm yang ada dikepalanya itu mulai membunyikan klakson dua kali untuk menandai kehadirannya.


Ketiga teman Amel pun kebingungan, tidak tau siapa yang sedang duduk diatas jok motor cowok warna birunya itu.


"Siapa tuh Wul?" Tanya Dian pada Wulan.


"Nggak tau aku, cowokmu kali cha." Kata Wulan melemparkan pertanyaan pada Acha.


"Bukan kok, dilihat dari gesturnya itu 100 % bukan cowokku. Cowoknya Amel kali tuh." Lempar Acha kepada Amel. Amel pun tertawa kecil.


"Sorry ya aku pergi duluan." Ujar Amel sambil berpamitan dan memeluk sahabatnya satu persatu.


"Eh bentar, siapa dia? sekolah dimana? namanya siapa?" Kata Dian sambil menahan tangan kanan Amel.


"Mau tau namanya? bener mau tau." Teman - teman Amel pun mengangguk - angguk.


"Namanya.. R-A-H-A-S-I-A hahaha" Lanjut Amel yang kemudian tertawa lepas seakan merasa berhasil mengerjai teman - temannya yang sedang kepo.


"Pelit sih lu, sama temen sendiri nggak mau cerita." Sahut Wulan.


"Ntar kalian juga tau sendiri kok, tunggu aja. Bye..." Amel pun melambaikan tangannya seraya pergi meninggalkan rumah Wulan dan mendekati calon kekasihnya itu.


Sesampainya ia disamping motor dan pengendara gantengnya itu, Amel pun langsung diberikan helm untuk dipakainya.


"Pakai, aku nggak mau kamu kenapa - kenapa." Sambil memberikan helm kepada Amel.


"Udah buruan naik." Amel pun kemudian naik keatas jok motor itu karna memang ia sedang menunggu dikode untuk naik. Motornya pun mulai memacukan spedometernya untuk melintasi setiap jengkal aspal dibawahnya. Amel masih merasa tegang, dia hanya diam sepanjang perjalanan.


Pengendara ganteng itu pun memarkirkan motornya disebuah taman kota, hari itu karena bertepatan dengan malam minggu, jelas sekali keramaian yang ia dapatkan disana. Amel pun turun lalu ia berusaha membuka kunci helm yang ia pakai.


"Sini biar aku bantu bukain helmnya." Amel terdiam terpaku melihat begitu perhatiannya Shendy yang sadar bahwa Amel sedang kesusahan hanya untuk membuka helm saja. Tiba - tiba ia merasakan tubuhnya panas, jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin pun mulai menetes tanpa permisi. Amel benar - benar gugup karena terlalu dekat dengan calon kekasihnya itu.


Bibir Amel pun tak kuasa menahan senyumnya dan ia pun berterima kasih karena telah dibantu untuk membuka helm.


Lalu mereka berjalan berdampingan menuju area taman.


Mereka pun duduk diatas tikar lesehan dan memesan jagung bakar untuk memulai kencan pertamanya itu.


"Pak pesan 2 ya jagung bakarnya, pedas manis semua." Shendy pun memesan 2 jagung bakar untuk mereka nikmati malam itu.


Amel hanya duduk manis dengan senyum kecil yang selalu terpampang diwajahnya. Ia merasakan benar - benar ada yang berbeda dalam dirinya. Ia merasa hidupnya sangat berwarna setelah Shendy masuk ke kehidupannya. Ia berjanji dalam dirinya tidak akan menyia - nyiakan kesempatan untuk menjadi kekasih cowok itu.


Tak lama kemudian, percakapan pun dimulai memecah keheningan yang sekian waktu tadi terjadi.


"Gimana?" Tanya Shendy sambil sedikit menyenggol Amel dengan siku yang sedang duduk disebelah kirinya.


"Hmm.. gimana apanya?" Tanya Amel yang kurang paham dengan maksud pertanyaan singkat dari Shendy.


"Gimana jawabannya... yang kemarin itu loh. Memangnya kamu mau nggantungin aku sampe kapan?" Ujar Shendy yang semakin penasaran.


"Ya bukannya gitu. Aku mau kok." Jantungnya benar - benar berdegup kencang mengucapkan kalimat itu.


"Apa? Aku nggak salah denger kan?"


"Enggak salah denger kok. Aku mau."


Shendy pun mencubit gemas kedua pipi Amel saking bahagianya, lalu tanpa ia sadari, ia pun memeluk tubuh Amel.


"Hei... Iya aku tau kamu lagi seneng tapi udah dong lepasin aku. aku sesek nih." Kata Amel lirih tepat disamping telinga Shendy.


"Maaf maaf aku kelewat seneng sih." Ujar Shendy sambil melepaskan pelukan yang sebenarnya tidak ingin dia lepaskan.


"Sekarang kamu pengen makan apa? bakso, steak, spaghetti, atau apa coba ngomong." Tanyanya kegirangan.


"Apa aja asal sama kamu." Amel mencoba menggoda Shendy yang sedang salah tingkah karna cintanya diterima.


Mereka berdua melewati malam minggu pertama mereka dengan bahagia. Makan, saling berbagi cerita dan tertawa bersama, sampai - sampai mereka lupa waktu, karena jam pun menunjukkan pukul 9 malam.


"Ayo buruan antar aku pulang, ini udah malem banget, aku takut dimarahin orang tuaku." Ajak Amel pada Shendy.


"Ya udah ayo pulang, aku nggak mau namaku malah jadi jelek sebelum mengenal mereka." Sahut Shendy.


Kemudian Shendy pun memacu kendaraannya dengan kencang, dan Amel pun menggenggam erat jaket yang dipakai Shendy. Maunya sih meluk dia, tapi Amel masih malu dan ragu.