
Suara alarm berbunyi keras hingga membangunkan Amel yang harus berangkat sekolah pagi ini. Hari ini adalah hari Sabtu, artinya hari terakhir di minggu ini untuk menuntaskan pekerjaannya sebagai seorang pelajar di salah satu SMP favorit di daerahnya. Memang bukan termasuk siswi cerdas, Amel biasa - biasa saja tapi dia termasuk siswi yang terkenal karena hampir semua murid populer itu juga teman baiknya.
Amel sudah siap dengan seragam batik khas sekolahnya dengan sepatu hitam bergaris putih, karna hanya hari sabtu lah murid - murid boleh memakai sepatu warna walaupun harus dominan hitam. Dengan tas ransel warna pink nya dia melangkah menuju keluar rumah setelah berpamitan dengan orang tuanya.
Amel biasa naik bus umum untuk berangkat ke sekolahnya. Sesampainya di sekolah Ia pun mengikuti pelajaran demi pelajaran dengan baik dan seksama.
Di sela - sela pelajaran yang kosong karena guru fisika pun tidak berangkat dan tidak ada guru pengganti yang datang ke kelas.
Seketika itu kelas berubah seperti pasar yang ramai dengan suara teman - teman Amel yang malah bercanda. Ada yang berlarian, ada yang asik ngegosip, ada yang main kartu, sampai ada yang main gitar di dalam kelas 7D itu.
Kala itu Amel sedang mengobrol dengan Putri teman sebangkunya yang juga cukup cantik dan pintar. Tiba - tiba ia mendengar ada suara yang memanggilnya.
"Mel... Mel.." Panggil seorang temannya.
"Eh Shen.. Ada apa?" Jawab Amel setelah menengok kebelakang dan yang ia lihat adalah sosok laki - laki tinggi dan cakep yang ternyata memanggilnya. Nama cowok itu Shendy Ockshell, salah satu murid populer di sekolahannya. Ayahnya adalah seorang polisi tapi tidak tahu kenapa dia begitu tidak menyukai profesi ayahnya itu.
"Aku pengen ngomong"
"Iya ngomong aja, kenapa?" Jawab Amel dengan wajah penuh curiga
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Pintanya serius sambil menatap kedua mata Amel dengan kedua alisnya sedikit keatas dan bibir tersenyum manis penuh harap.
"*A*pa? Kenapa harus aku? Ini nih Putri aja, dia kan cantik." Jawab Amel polos karena memang dia belum pernah pacaran, bahkan dekat dengan cowok pun nggak pernah.
Lagian dia juga baru kelas 7, dia merasa memang belum waktunya untuk pacar - pacaran.
"Hah enggak ah, aku nggak ikut - ikut ya." Sanggah Putri yang ternyata juga mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan antara Amel dan Shendy walaupun mata dan tangannya fokus dengan buku yang sedang ia pegang.
"Terus jawabannya gimana Mel?" Wajah Shendy pun semakin terlihat pucat gara - gara menunggu jawaban si Amel.
"Nggak tau ah, kasih aku waktu ya." Jawab Amel bingung tidak tahu harus menjawab apa.
"Oke tapi jangan lama - lama ya. Kamu bisa membuatku mati penasaran kalau mikir terlalu lama." Shendy pun berdiri dari tempat ia duduk dan kembali ke meja paling belakang berkumpul dengan teman - teman cowoknya.
POV Shendy
Sejak jam awal pelajaran di sekolah hatinya benar - benar gelisah. Beberapa waktu ini dia memang mengincar seorang cewek di kelasnya. Memang di kelasnya banyak yang cantik tapi dia merasa penasaran dengan sesosok gadis belia yang bernama Amel.
"Guys ntar gue mau nembak Amel. Lu pada doain gue ya biar diterima." Ujar Shendy ke temen - temen cowoknya yang lagi pada ngumpul di meja kelas pojok kanan paling belakang.
Tiba pelajaran fisika tapi gurunya nggak dateng - dateng.
"Mumpung nggak ada guru yang masuk kelas, kayaknya ini saat yang tepat deh buat ngomong ke dia." Gumamnya dalam hati seraya berjalan agar jaraknya semakin dekat dengan Amel.
"Minggir dulu bro, gue mau ada urusan sama cewek didepan meja lo." Kata Shendy sambil menepuk pundak Danu yang lagi asik duduk dan ngobrol sama teman sebangkunya Hafiz.
"Hmm pasti lu mau modusin dia ya. Ya udah deh gue mau ke toilet dulu. Good luck bro." Jawab Danu seraya pergi meninggalkan Shendy diikuti hafiz dibelakangnya.
Shendy pun duduk dan mempersiapkan dirinya agar terlihat keren dan juga meyakinkan. Ia pun menarik nafas panjang kemudian membuangnya pelan untuk merelaksasi dan menghilangkan rasa nervousnya.
"Oke sekarang gue siap." Ia meyakinkan dirinya sendiri untuk segera memulai pembicaraan serius ini.
"Mel... Mel..." Panggilnya dengan sedikit rasa gugup.
"Eh Shen.. ada apa?" Sahutan yang didengarnya itu mematahkan rasa gugup dan menuntunnya untuk menyambung pembicaraan karna dia pun membalikkan badan kearahnya dan menatapnya dalam.
"Aku mau ngomong." Ada rasa takut pada dirinya. takut akan adanya penolakan yang pastinya bisa membuatnya uring - uringan sepanjang hari.
"Iya ngomong aja, kenapa?" Tatapan matanya seperti penasaran dan curiga dengan Shendy yang kelihatannya seperti mau ngomong serius.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Tanya Shendy tanpa perlu basa - basi. Cowok keren ini keburu penasaran mau dengerin jawaban dari pujaan hatinya ini.
"Apa? Kenapa harus aku? Ini nih si Putri aja, dia kan cantik." Wajah Shendy seketika berubah mendengar ucapan Amel. Ia mengernyitkan matanya dengan penuh pertanyaan diotaknya.
"Gila nih cewek. Gue sukanya sama dia kenapa dia malah mromosiin temennya ke gue. Gue maunya elu Mel, bukan yang lain." Batin Shendy yang merasa terheran - heran dengan jawaban Amel.
"Hah enggak ah, aku nggak ikut - ikut ya." Sanggah Putri yang tiba - tiba membalikkan badannya kearah Shendy dan Amel sambil menggelengkan kepalanya seolah menunjukkan penolakan keras.
"Terus gimana Mel jawabannya." Lanjut Shendy semakin penasaran.
"Nggak tau ah, kasih aku waktu ya." Terlihat wajah bingung pada wajah Amel.
"Oke tapi jangan lama - lama ya. Kamu bisa membuatku mati penasaran kalau mikir terlalu lama." Shendy pun memberikan waktu untuk Amel. Ia berharap akan segera dapat jawaban yang terbaik. Shendy pun memutuskan kembali ke gerombolan teman cowoknya yang lagi asik menikmati pelajaran kosong di belakang meja paling belakang.
\*\*\*
Sedari kejadian tadi, Amel hanya menunduk seolah sedang seksama membaca dan mempelajari buku yang ada dihadapannya. Tapi nyatanya hanya matanya saja yang seolah sedang membaca, tapi pikirannya buyar. Benar - benar ia sedang merasa gundah gulana.
Awalnya biasa saja tapi kenapa seketika ia merasa ada yang dengan secepat kilat menyelinap kedalam ruang hatinya. Nafasnya pun memburu, seolah tidak membiarkan ia bernafas dengan sempurna.
Tubuhnya pun menjadi kaku tak bergerak, mematung dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.
Putri yang berada disebelahnya sesekali memperhatikannya dengan sedikit rasa kawatir.
"Dasar bucin, pasti dia lagi mengandai - andai nih. Kagetin nggak ya? Hmm ntar dulu deh, biarin tuh jidat penuh dengan kerutan dulu." Kata Putri dalam hati yang memandang wajah sahabatnya itu dengan penuh rasa gemas ingin mengagetkannya.