W A K T U

W A K T U
8 | Komputer



"Jadi?"


Aku mendengus, "Ya ... bayangin aja ini segienam," aku menggambar segienam sama sisi di atas kertas dengan garis yang menghubungkan tiap diagonalnya, "Nih, kalo digiinikan jadi ada enam segitiga. Tadi tingginya berapa?"


"10 cm."


"Nah, jadi kalo tinggi si segienam 10 cm, berarti tinggi segitiganya berapa?"


Zenith tertawa renyah, menampakkan kedua lesung dalam di pipinya, "5 cm, Ibu!"


Aku juga tertawa, "Kayak judul film aja," gumamku.


"Hah? Film apa?" Vivin mengerutkan dahinya.


Eh?


Film 5 cm itu kapan, sih?


"Ng-nggak. Itu film yang ada di cerita yang pernah aku baca yang tentang persahabatan bagus, deh, beneran," kataku mulai meracau.


"KKPK?" Nia yang semula serius membahas soal-soal di buku paket mulai mengubah topik ngalor-ngidul.


"Hah? Bukan. Itu ... gatau punyanya sodara," jawabku asal. Padahal nggak pernah minjem buku punya sodara.


"Oh."


Aku menunjuk-nunjuk soal, "Udah, udah. Mau diajarin nggak?"


Sembilan orang di depanku mengangguk.


Lalu, di sinilah kami. Duduk melingkar dengan berbagai kertas dan buku yang bertumpuk tidak teratur di tengah-tengah kami. Belajar pada pukul enam pagi.


Terniat sekali.


Seluruh perempuan di kelasku sepakat untuk belajar bersama di perpustakaan dengan aku; tentor dadakan. Di kananku, Zenith sibuk mencari jawaban dari salah satu soal, begitu juga Vivin, Fira, Valen, dan Kiran yang berjajar di sampingnya.


Di sebelah kiriku lain lagi. Katarine sibuk membaca KKPK dan sama sekali tidak berniat untuk bergabung. Nia dan Citra yang awalnya berniat dan semangat untuk belajar, malah ngobrol ngalor-ngidul mulai dari KKPK sampai takoyaki yang baru dijual di kantin depan. Nala malah asyik nyemilin nyam-nyam seakan punya dunia sendiri.


Aku?


Aku sibuk mencorat-coret tanpa minat lembar soal yang harusnya dikerjakan. Sampai tidak sadar melamun jauh.


Kira-kira Meimei milih siapa, ya? Mail apa Ipin? Tapi kalo Ipin udah taken nanti Upin sama siapa? Susasnti udah pedekate sama Jarjit.


Musim hujan enaknya nyemilin cilok, apalagi saos kacangnya yang banyak.


Eh, kalo gue nyanyi "I Love You 3000" kira-kira gimana, ya? Pada ngira gue cenayang mungkin? Hahahahaha.


Kenapa bakso itu bulet? Nggak kotak-kotak atau bintang gitu, kan lucu.


Dulu penciptaan rendang gimana, ya? Hasil eksperimen apa nggak sengaja kayak sabun yang bergelembung?


Dan pikiran random lainnya.


"Oi, Edel!" seru Nala tepat di depanku. Gadis ini memang tidak berubah sejak dulu SD, hobi ngagetin orang. Random-nya juga sama sepertiku.


"Hah? Apa?!" aku langsung berdiri dan menjatuhkan buku-buku dari atas pahaku.


Mereka tertawa, "Cepetan, udah bel!" Kiran selaku perempuan paling kalem mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh kami berkemas.


"Iya, Mamih. Bawel," celetuk Katarine yang mengomel saat membereskan barang-barangnya.


Aku tersenyum.


Seharusnya pagi ini terjadi kekacauan.


Aku tidak diundang belajar bersama—bukan masalah buatku karena aku tidak tertarik dengan ikatan teman dan sebagainya—dan berangkat pada jam-jam normal menuju kelas.


Sayangnya, ada tamu tidak diundang di atas mejaku.


Ada lautan permen karet berwarna-warni di sana, dengan tulisan: Semoga kamu ikut remidi nanti. Selamat belajar^^.


Aku sibuk mengomel dalam hati dan mengutuki siapa pun yang bertindak seperti ini.


"Terima kasih atas sambutan dan doanya. Aku juga akan semangat belajar," ucapku sambil mengeluarkan tisu dan robekan kertas, mencabuti permen karet di sana, dan membuang ke tempat sampah di samping pintu.


Pagi hari ini cukup tenang dan tidak ada yang menggangguku belajar sendirian. Sebelum—


Braakk!!


Pintu kelas dibuka dengan kasar. Fira datang sambil menghentak-hentakkan kakinya, "Siapa yang ngumpetin bolpenku?! Ngaku kamu?!"


Ah, mulai lagi.


Gadis itu mendekat ke arahku. Dagunya ditarik ke atas dengan tatapan sinis dan merendahkan, "Kamu, kan?"


"Hah?"


Tolong ini saya nggak tau apa-apa. Kenapa mesti saya yang disalahkan?


Fira menarik salah satu ujung bibirnya, "Ck, nggak usah pura-pura."


Lalu kedua tangannya mendorong paksa mejaku. Ia merogoh sesuatu di sana.


"Ini," katanya menunjuk bolpoin mungil berwarna merah muda dengan gantungan kucing kecil, "Bolpenku," lanjutnya.


Aku mendengus pelan, "Oh, kamu nuduh aku? Padahal aku baru berangkat dan kamu lebih dulu datang. Kemarin juga kamu yang duduk sini, kan?"


Haha. Edelweis, berani sekali kamu bicara.


Fira mengerutkan dahinya, "Oh, udah berani bicara?"


Aku meneguk ludah.


"Coba liat tasku. Mana? Nggak ada, kan?"


Aku mengedarkan pandangan ke segala sudut kelas, sambil mencoba menghindari tatapan-tatapan iba sekaligus menusuk itu.


Nihil.


Sayangnya, Fira mengambil peran sebagai si rubah licik.


Jika Katarine memperlakukanku dengan berkoar-koar dan menyudutkanku dengan segala argumenku tanpa pikir panjang, Fira bersikap lebih elegan—baca: sombong—dan terstruktur. Ia selalu punya bukti untuk memastikan aku yang bersalah.


Dan hari itu,


Tidak semulus pagi yang kukira.


Kadang, aku merasa beruntung melompati waktu lewat mimpi, ke hari ini.


Setidaknya, aku bisa mengubah hari yang harusnya muram dan gelap sana-sini menjadi sedikit terang, sedikit menyenangkan.


Namun kadng aku merasa buruk dan jahat karena tidak bisa mencegah hal-hal buruk yang menimpa teman-temanku.


Karena aku sudah tahu duluan.


Bukan salahku juga, sih. Aku, kan, tidak tahu kapan hal itu bermulai dan apa alasannya.


Fira merogoh tasnya dengan riak muka panik. Wajahnya yang putih mulus menjadi kemerahan, "Eh, kalian ada yang tau bolpenku nggak?"


Kami menggeleng pelan.


"Coba cari dulu," Zenith memberi saran.


Fira mengangguk cepat tanpa ada niatan untuk mendengar. Tangannya sibuk menjatuhkan semua barangnya ke atas meja, "Udah! Tapi nggak ada ...," ia hampir menangis.


Kiran mendekati gadis itu, "Pelan-pelan ... dicari dulu yang bener,"


Aku juga sibuk mencari. Seharusnya bolpoin itu ada di kolong mejaku, tetapi nihil.


"Bolpennya kayak gimana?" tanyaku.


"Itu ... warnanya pink. Kecil. Ada hello kitty-nya."


Kemudian, tatapanku beralih pada lima laki-laki yang sedang bermain hot wheels di belakang kelas.


Iya, hot wheels. Lengkap dengan arena oranye balapnya.


Lain kali akan kuceritakan perihal betapa ajaibnya penduduk kelas ini.


Sekarang cari dulu bolpoinnya.


Arah mataku tertuju pada Nadir yang menahan tawa sambil sesekali melirik Fira yang sedang panik.


Wah, pelaku detected.


"Heh!" Zenith menabok keras punggung Nadir sampai ia meringis kecil.


Aku juga ikut meringis, sepertinya beneran sakit.


"Kamu yang ngumpetin, kan? Ngaku!" bentak Zenith. Gadis berlesung pipi ini galak juga ternyata.


Nadir malah asyik bermain, tidak terlalu memedulikan Zenith yang sibuk mengoceh. Keempat laki-laki lainnya juga enggan angkat bicara.


Zenith menendang kecil kaki milik Nadir sebelum beranjak


menuju tas merah Nadir.


Gadis itu membuka resleting, lalu menumpahkan segala yang ada di sana.


Isinya tidak terlalu penting; hot wheels, kartu uno, dan beberapa mainan robot.


Hanya ada tiga buku pelajaran yang berguna di sana.


Nala yang lewat tertawa keras, "Hahahaha! Itu si Nadir niat sekolah nggak, sih? Hahahahaha!"


Yang kemudian lanjut keliling kelas sambil makan chiki.


Iya, cuma keliling kelas. Nggak ada niat bantuin cari bolpennya Fira. Cuma Nala emang.


Mata Zenith membulat. Di sana ada bolpoin pink, kecil, dan gantungan kucing hello kitty.


"FIRAAAA!! BOLPENNYA KETEMU!!" teriak Zenith, "Tuh, pelakunya," gadis itu menunjuk Nadir yang cuma bisa memasang wajah pias.


Mulai pagi ini, Fira dan Nadir resmi perang dingin.


Dengan aku, Nala, Nia, Citra, dan Katarine yang spontan menjadi tim hore di pinggir kelas sambil nyemilin chiki.


.


.


.


"Hoaahhhmm ...,"


"Nguapnya Edel lama-lama bisa jadi ringtone bel sekolah, deh," celetuk Bagas yang lewat di depanku, "Btw, tadi kurang ban—"


"IYA IYA, ADUH! AMPUN!" rengek Bagas sudah tertunduk-tunduk karena kepalanya sudah kujambak habis-habisan.


Aku melepaskan kedua tanganku. Tidak ada gunanya berurusan dengan makhluk satu ini, "Sekali lagi ganggu saya, saya pastikan kamu nggak masuk sekolah besok," ancamku dengan suara lebih rendah dari biasanya. Mencoba bersikap dingin dan membuat nyali lawan ciut.


Atau tidak.


Karena Bagas mengangkat bahunya sambil teriak keliling kelas, "WOEEE ADA MAUNG BARU NAMANYA EDELWESSS!! AKU KUAT AKU SUKA BISKUAT!!"


Aku menghela napas, entah kenapa merasa kasihan dengan laki-laki itu. Tidak pernah waras satu hari pun.


Sekarang jam istirahat dan ulangan tengah semester—ujian hanya ada pada kelas kami dan beberapa kelas lainnya yang berbeda tingkatan—baru saja selesai lima menit yang lalu. Dan istirahat diperpanjang menjadi satu jam karena minggu ini sedang ujian.


Walaupun ujian tidak dapat memengaruhi lima belas manusia di sini untuk mencoba belajar lebih giat.


Yah, ada sih, kaum-kaum yang memang setiap hari belajar seperti Kiran, Citra, dan Nia. Namun, mereka malah cekikikan di belakang kelas sambil membahas hal-hal yang tidak dapat kudengar dari sini.


Aku mencoba tidur kembali. Walau nyatanya gagal karena teriakan-teriakan yang ada di belakang kelas.


Kelas kami memang menyediakan fasilitas yang lumayan banyak karena kelas ini merupakan kelas akselerasi. Ada rak buku yang berjajar di belakang kelas. Loker yang cukup besar di samping kelas untuk menampung barang-barang kami, masing-masing anak diberi kunci. Lalu, piala yang berderet di dalam rak di samping pintu. Dan tiga komputer yang ada di samping rak piala. Bahkan, kelas akselerasi lainnya yang ditempati oleh kakak kelas punya kulkas dua pintu di dalamnya.


Aku mendekati tiga orang itu, "Main apaan?"


Bara yang pertama kali menyadari keberadaanku, "GTA."


"Oh."


"Eh, eh itu cepetan tembak!" kataku ikut menikmati game ini.


"Yah, tuh, kan," kami bertiga sontak kecewa.


"Berisik," suara itu berasal dari komputer sebelah yang dijalankan oleh Katarine, "Bisa diem nggak? Aku lagi bikin laporan fieldtrip kemaren."


Gilang terkekeh pelan, "Baru dikerjain sekarang?"


"Berisik."


"Laptop-mu ke mana?"


"Rusak. Lagi dibenerin. Udah, ah, ganggu."


Atensiku menjadi teralihkan sejak kata 'laporan' diucapkan, "Eh, laporannya ditumpuk kapan?" tanyaku menyenggol bahu Gilang.


"Em, lusa," jawabnya, "Napa? Belom bikin?"


Aku segera berdeham, berusaha tenang, yang nyatanya malah panik sendiri, "EH? UDAH KOK!"


"Diem!"/"Diem!"


"Cieee ... Tito sama Tarin ...," Bagas yang muncul entah darimana langsung bersiul-siul sambil memainkan alisnya naik-turun.


Nyebelin emang.


"Kalian itu napa, sih? Ganggu aja!" Katarine berusaha fokus pada laporannya.


Tapi gagal.


Karena gadis itu beranjak dan menjambak rambut Bagas dengan beringas.


"EH? IYA IYA AMPUN, RIN! AMPUN!"


"Sst, udah. Bagas, sana ke kantin beli apa kek gitu, Tarin cepet laporannya diselesaiin," kataku mengibaskan tangan mengusir Bagas.


Untungnya, laki-laki itu menurut dan ngacir ke luar kelas.


Suasana lebih baik tanpa Bagas. Bara, Gilang, dan Tito kembali fokus dengan game-nya dan aku menarik kursi di dekat Katarine.


Niat hati ingin melihat laporan milik gadis manis itu sebagai perbandingan dengan laporan milikku.


Namun, gadis itu malah menutup aplikasi Microsoft Word dan membuka dokumen lain di flashdisk-nya.


"White Dress?"


Katarine melirikku, "Eh? Kamu liat, ya?"


"Apa itu?"


"Itu ... aku nyoba nulis novel, hehe. Tapi belom selesai," jawabnya malu-malu.


"Eh?? Liat dong!" aku menjadi lebih antusias.


"Jangan! Belom selesai," gadis itu buru-buru menutup dokumen yang muncul di layar.


"Liat," bujukku dengan mengedipkan mata berkali-kali.


Katarine tampak ragu.


"Tarin ...,"


"Ck, iya iya! Tapi jangan diketawain!" ia kembali membuka dokumen itu.


"Yeay! Nggak bakal!"


Aku membaca cerita itu pelan-pelan. Cukup bagus. Walaupun bahasanya tidak banyak menggunakan majas dan 90% menggunakan kata denotatif.


"Ini tentang kerajaan, ya?"


Katarine mengangguk semangat, "Iya! Itu ceritanya perebutan kekuasaan di kerajaan Inggris. Jadi, dari dulu anak cewek di kerajaan nggak boleh megang tahta. Harus cowok."


"Terus raja keturunan ke-17 punya anak empat, dua cowok, dua cewek. Yang cewek itu, yang satu cerewet, ceroboh, mau menang sendiri. Yang satu lagi kalem, tapi suka ragu-ragu. Nah, yang cowok udah nikah semua tapi yang cewek belom."


Katarine berdeham, "Lalu ... terjadi pembunuhan misterius. Seluruh anggota kerajaan yang cowok mati bersimbah darah. Tebak, siapa yang bunuh?"


Aku menaikkan alis, "Yang ragu-ragu?"


Katarine malah tersenyum, "Tunggu ceritanya selesai. Hehe,"


Aku mencubit pinggangnya gemas, "Nggak usah nanya kalo gitu,"


"Hehe. Tapi bener kok jawabanmu."


Aku menaruh ibu jari dan telunjuk di depan dagu, "Siapa dulu. Edel," kataku menaik-turunkan alis.


"Heleh,"


Kami tertawa.


Yang selanjutnya perhatianku teralihkan oleh komputer yang tidak terpakai di samping kami.


Semenjak SMP, saat asyik membaca novel Bumi Manusia, aku tiba-tiba merasa diberi ilham untuk menulis. Jadi, aku ikut beberapa perlombaan kecil di kota kami dan tidak menang.


Hehe.


Namun, aku sering masuk final.


Dan mulai SMA, aku gencar menulis, menulis apa saja yang iseng-iseng kukirim ke perlombaan daring yang kulihat. Sampai lomba itu berakhir, satu kata yang kuterima: menang.


Dan setelahnya aku selalu menulis, menulis, dan menulis.


Jadi, kalau aku mempercepat takdir dengan menulis di sini, tidak apa-apa, kan?


Toh, ini hanya mimpi.


Aku menekan tombol on di CPU dan mulai menulis.


Pertanyaannya, enaknya nulis apa?


Aku membelalakkan mata. Seolah ada lampu pijar yang menyala di atas kepala dan mengirimkan inspirasi.


"Wak-tu ... dan Du ... nia dalam Ke-palamu," gumamku mendikte judul yang tiba-tiba muncul.


Aku terus menulis dan berkutat dengan komputer seolah berada dalm dunia sendiri.


Yang tanpa disadari, Katarine, Bara, Tito, dan Gilang memerhatikan tulisanku kata demi kata.


"Wow," suara itu memecah konsentrasiku.


Aku berbalik dan terkejut mendapati rombongan kecil di belakangku, "Ka-kalian ngapain?"


"Ngapain lagi? Daritadi kamu ndikte tulisanmu sendiri," Gilang menunjuk layar komputer dengan dagunya.


"Ah? Oh,"


"Bagus, banget," Katarine berbicara sambil mengacungkan jempolnya.


Ya, iyalah. Gue kan harusnya udah SMA diliat anak kelas 3 SD.


Aku tersenyum kikuk, entah kenapa jadi malu sendiri, "Emm ... aku ke kantin dulu. Hehe, makasih,"


Aku harus keluar dari situasi ini.


"Bel udah bunyi," Nala mendekati kami sambil sesekali menyeruput es jeruknya, "Nih, minum punyaku aja kalo haus," lanjutnya menyodorkan plastik berisi minuman kuning itu.


"Oh, makasih," aku segera menerimanya.


Lumayan, rezeki.


.


.


.


"Kakak!"


Aku mendapati laki-laki mungil yang berdiri di depan gerbang sekolah, "Edgar! Sini!" panggilku merentangkan tangan lebar-lebar.


Pemuda kecil itu berlari dengan langkah kecil-kecil. Menggemaskan sekali.


Aku menoleh kepada Citra dan Vivin di sampingku, "Kalian kenapa nggak pulang?"


Vivin menggeleng, "Nggak. Nanti aja. Mau liat Edgar," katanya yang didukung oleh anggukan Citra.


Semenjak mimpi pertamaku di sini, teman-teman sekelas memang jadi mengenal Edgar karena anak itu selalu ikut ayah menjemputku sekolah.


Dan sesuai perkiraan, anak itu disukai semua orang.


"Alo temen Kakak!" Edgar melambai-lambaikan tangan saat berada di gendonganku. Hal itu membuat Vivin dan Citra memainkan pipi bulat milik Edgar.


"Ih, lucu banget."


"Gemesshh."


Yang diuyel-uyel tersenyum lebih lebar. Lain dengan anak seusianya yang cenderung risih dibuat mainan, Edgar malah menikmati perannya menjadi pusat perhatian.


"Cih, dasar bocah," gumamku.


Edgar mendengarnya dan menabok pundakku, "Ed bukan bocah!"


Aku tertawa, "Iya, iya. Nurut," kataku, "Eh, ayah mana? Kok nggak ada? Kamu ke sini sama siapa?"


"Ayah kelja. Tadi sama Tante Nulul," jawabnya. Lalu, anak itu minta diturunkan dan langsung berlari mencari seseorang.


"Del, kita duluan, ya!" Citra dan Vivin mengangkat tangan.


Aku tersenyum mengangguk, "Ya."


Bentar.


Kayak ada yang salah.


"Eh, Vin, Cit!" seruku. Dua orang itu berbalik menatapku, "Kamii bukan kita! Inget itu!"


Vivin dan Citra mengangguk dan berjalan ke arahku.


"Aw! Kok ditabok?!" bentakku tidak terima.


"Habis kamu minta ditabok. Cepet sana Edgar keburu ilang ntar," dan dua orang itu aegera menjauh sebelum kubalas dengan tendangan.


Aku berbalik, mencari sosok Edgar yang berlari ke arah kafetaria terbuka yang ada di depan gedung utama.


"Kakak! Ayo cepetan!"


"Iya!"


Seketika, aku tidak ingin mimpi ini mati.


Aku tidak ingin kembali.


🐾🐾🐾


Tbc.