W A K T U

W A K T U
7 | Theta dan Iota



(6 tahun lalu)


Gadis itu cepat sekali menghilang dari koridor dengan langkah kecil-kecil. Ah, pantas saja ia selalu kelelahan saat waktu istirahat berakhir.


Mimpi itu berakhir.


Untung saja.


Mimpi sialan itu tidak mengizinkanku untuk berpikir jernih seakan aku sedang bermain peran dengan naskah yang sudah jadi, tidak bisa diubah dan diganggu gugat.


Dan apalagi panggilan itu?


Gue?


Elo?


Juga orang-orang abnormal dan sok dekat denganku(baca : Ran, Sekar, Nia, Nina, Zara, Fara, Lulu, dan Alia). Kedelapan manusia itu tidak sepolos dan selugu riak mukanya. Ada saja teriakan dan bahan tertawaan mereka setiap pagi.


Kelas ini sudah seperti hutan di Brasil.


Ah, ya.


Senja dan Raina.


Dua orang itu—sepertinya—sudah terbiasa menyusup ke kelas kami. Teriak-teriak macam orang gila dan duduk di atas meja seenak jidatnya.


Kelas ini juga sama saja.


Selalu ada kepala guru yang muncul dari celah pintu dan menegur kami untuk diam.


Dan itu sepertinya terjadi setiap hari.


Yang terakhir,


pelajaran yang super-duper-mega-ajaib. Angka-angka yang muncul di belakang koma; pangkat yang bernilai belasan; rumus-rumus yang kujamin membuatmu muntah pelangi.


Oh, sial. Aku mual lagi.


Pokoknya, rasanya seperti kau terbuang jauh menuju angkasa andromeda lalu diserang sekumpulan alien dan dibuang menuju lubang cacing. Kau tidak tahan dan kabur tapi malah tersesat di tengah segitiga musim panas. Kemudian kau lari keluar dan tiba-tiba bertemu angin ** beliung yang melemparmu


menuju lubang hitam.


Di sanalah mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa yang ada di papan tulis.


Ah, sudahlah. Membayangkannya saja sudah rumit.


Dan sialnya, aku yang selalu ditunjuk dalam ajang sastra bahasa alien itu.


Untung saja semua sudah berakhir ketika bel pulang berbunyi.


Tunggu. Di mana rumahku? Aku bahkan tidak tahu jalan pulang dan semua orang berkata "lo, kan, biasa pulang sendiri, Del."


Oh, astaga. Ingin kutenggelamkan saja orang-orang ini.


Saat di rumah, tidak ada Edgar.


Tidak ada susu cokelat panas yang menyerbu indera penciumanmu.


Tidak ada bocah kecil berpipi penuh yang selalu tertawa di depan pintu untuk menyambutku.


Aku benci mimpi ini.


Sampai akhirnya aku tertidur.


Dan semuanya akan berakhir.


.


.


.


Sampai pagi itu tiba-tiba aku disergap oleh semua orang yang kukenal dan bertanya, "Gimana caranya kamu bisa ngerjain soal itu?"


Sebagian besar dari mereka ingin kuajari. Tapi sayangnya, cara mereka merengek minta kuhajar.


"Eh, Edel!! Aku ajarin dong~~!" Katarine berlari kecil dengan gaya berlebihan setelah kemarin ia mengancamku untuk—


"Edel!"


"Apalag—" aku baru saja ingin menoleh ke sumber suara,


sebelum bola basket itu meluncur lalu tepat mencium wajahku.


Lalu, gelap.


.


.


.


Apa ini?


Aku merasakan ada yang mengelus-elus pucuk rambutku.


Nyaman.


Mungkin aku bisa sedikit tidur saat ini, berhubung aku tidak bisa tidur semalaman—takut terjebak dalam mimpi yang sama—dan berakhir tidur pada pukul tiga.


Aku membenarkan posisi tubuhku sembari tersenyum riang.


Tunggu.


Bantal UKS sekolah tidak setinggi ini. Kasurnya juga lebih empuk dan halus. Aroma ruangannya juga tidak sama.


Ini lebih seperti ...


"HAH?!"


Aku tidak jadi bangun dan buru-buru menutup mataku.


Yha.


Aku kembali dalam mimpi buruk itu.


HA.


HAHAHAHAHAHA.


Dan tadi ada Senja yang menatapku dekat,


SANGAT DEKAT—asdfgjkl!


"Lo udah bangun? Tidur lagi aja," Senja berdeham pelan dan aku mendengar suara kursi berdecit, "Gue beliin mie ayam dulu. Itu tehnya diminum keburu dingin."


Aku membuka mata perlahan, takut-takut ia masih ada di sini. Aku menarik napas sekencang mungkin.


"Nggak pa-pa, Edel, nggak pa-pa," gumamku pelan,


"TAPI TADI DIA NGUSEP-USEP KEPALA SAMBIL NGELIATIN DEKET ASTAGA!!"


Niat hati yang awalnya ingin bergumam pelan malah jatuhnya jadi teriak kencang di dalam UKS.


Sial.


Aku memegangi pipiku yang menghangat dan melirik sekitar, siapa tahu ada manusia lain di sini atau ada yang menguping lewat jendela.


Tidak ada orang.


Aman.


Pandanganku jatuh pada segelas teh yang ada di atas nakas. Aku membuka tutup gelasnya dan uap-uap panas merenggang menjalar ke seluruh ruangan sebelum nantinya menipis, dan hilang di antara udara.


"Huahh!" aku buru-buru menaruh gelas itu kembali.


Masih panas.


Pelajaran pertama hari ini: jangan sekali-kali minum teh panas tanpa sedotan jika tidak ingin lidahnya terbakar.


UKS ini cukup luas. Di depan ranjang, jaraknya cukup jauh, ada deretan lemari yang menyimpan obat-obatan dan seragam ganti. Di sela-sela lemari itu terdapat tiga jendela sempit, sekedar mengisi ruang, mungkin?


Lalu di ujung kanan ada pintu yang menghadap ke arahku, di tembok sampingnya terdapat berbagai macam poster tentang kesehatan.


Di ujung kiri ada meja dan kursi—beserta beberapa kursi lagi di depannya—yang biasanya diduduki oleh penjaga UKS. Lalu di sampingnya juga ada meteran pengukur ringgi badan dan timbangan.


Yang terakhir, lima ranjang berjajar yang dipisah oleh tirai biru-putih.


Yah, cukup nyaman.


Aku mendekat ke arah nakas, menyeruput teh yang tak sepanas tadi. Oh, akhirnya. Lega juga.


"Siapa yang nyuruh bangun dari kasur?"


"OHOOKK—OHOKK!!"


"Eh ayam, ayam!"


Aku menepuk-nepuk dadaku, buru-buru menyeka mulut dan seragam yang terkena semburan teh hangat di pagi hari.


Senja segera menaruh mie ayam dan mengambil alih gelas kaca yang kupegang, "Ini masih ada isinya, mubazir kalo jatoh," katanya santai.


Iya, santai. Setelah berhasil membuatku jantungan karena muncul tiba-tiba.


Aku memberi tatapan membunuh padanya, "Kamu—"


Senja mengusap mukanya kasar, "Lah, kumat lagi. Gue bilang pake gue-elo."


Aku berdeham singkat, "Lo kenapa balik lagi?"


"Ha? Gue kan bilang mau ambil mie ayam. Tadi lo belom sempet makan. Liat tuh muka pucet banget," katanya menunjuk mukaku dengan dagu.


Aku mengalihkan atensi pada cermin di depan lemari. Ah, pucet juga, ya. Pantes lemes dari tadi.


"Mbak Sari mana?" tanya pemuda ini.


"Ha? Mbak Sari?"


"Iya, penjaga UKS sinii.." sepertinya Senja sedang gemas karena aku tidak tahu apa-apa.


"Oh, nggak tau. Dari tadi nggak ada orang."


"Oh, oke. Sekarang, duduk," suara bariton itu lebih rendah dan tegas dari sebelumnya. Membuatku seketika duduk di tepi ranjang dengan patuh.


"Makan," katanya. Senja mendorong kecil nakas itu ke arahku.


Aku menatap lautan kuah itu penuh antusias. Membayangkan mie kenyalnya menyatu dengan lautan HCl—entahlah aku hanya pernah membacanya tanpa minat di perpustakaan—di lambungku.


Tunggu sebentar.


"Senja.."


"Ya?" suaranya menjadi lebih heran dari biasanya.


"Ak—gue nggak bisa make sumpit."


"Loh? Bukannya biasanya lo ... ah, sudahlah ... bentar gue ambilin di kantin. Jangan ke mana-mana. Awas lo."


Sempat-sempatnya dia mengancamku di saat-saat jiwa ini sedang lemah terhadap makanan. Ya, mana mungkin aku tega meninggalkan mie ayam terhormat ini(。・ω・。).


Aku mencoba menggunakan sepasang bambu ini. Hasilnya nihil. Entah mie yang mencuat ke sana, si bambu yang ke sini, atau dua bambu yang enggan disatukan.


Seperti aku dengannya. gg


"Ah, tau ah! Pake sendok teh juga, nih!"


"Berisik!"


Aku terloncat kecil ke belakang, "Eh, Bunda!"


Ha.


Haha.


Senja ini siapa, sih?


Sepupunya Roy Kiyoshi?


Sisi lain kuyang?


"Ngagetin mulu!" bentakku sembari menyambar garpu dari pergelangan tangannya.


"Lah, gue nyadarin lo dari tadi ngeracau mulu," katanya. Kemudian ia tampak berpikir, "Eh, biasanya lo, kan, emang nggak waras, Del."


Satu lemparan sumpit berhasil mengenai sasaran.


"Gue lagi makan ini," kataku.


"Iye, ampun, Ndoro," Senja meletakkan nampan besi berisi mie ayam di atas ranjang. Lalu menarik salah satu kursi yang ada.


"Itu punya siapa?" kataku menunjuk mie ayam di sampingku.


"Punya gue lah!"


"Lo juga makan?"


Senja mencibir sambil memisahkan sumpit bambu yang menempel, "Menurut lo? Gue duduk ngeliatin lo makan sambil ngiler gitu?"


Senja malah tertawa renyah dan melanjutkan acara makannya, "Dah, dah, makan."


Lalu hening.


Hanya ada suara garpu atau sendok yang mengenai mangkok kaca.


Sampai mangkok itu bersih, kami sama-sama diam. Hanya duduk berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain. Benar-benar tidak ada yang berani membuka percakapan.


Senja sibuk mencoret-coret angka pada salah satu halaman bukunya. Pemuda itu sesekali meminum es tehnya dan mengubah posisi duduknya.


Tak ada obrolan.


Atensiku juga beralih pada layar ponsel dalam kantongku. Apa ini punyaku? Dan berakhirlah aku yang sibuk memandangi layar HP.


Tak ada kontak fisik.


Aku mulai membuka segala media sosial yang kupunya. Cukup ramai juga. Kupikir 'aku' memiliki banyak teman maya.


Kami hanya duduk berdampingan dengan kesibukan masing-masing.


Tapi berdua.


Anehnya, aku menikmati ini.


Drrtt!! Drrtt!!


Mataku beralih pada nama yang tertera pada layar hape-ku,


Sekarkar: Woi lo katanya pingsan?


Sekarkar: Ini lo di mana? UKS apa pulang?


Sekarkar: Jawab kalo udah bangun!!


Aku terlonjak kaget, buru-buru bangun dan mengemasi peralatan makanku, "OH, YA! SEKARANG, KAN, MASIH DI SEKOLAH!"


"Ya lo kira ini di mana? Hutan? Pantai?" Senja dengan tenang menutup bukunya, "Napa lo buru-buru?"


"Udah bel belum?"


"Santae, Rosalinda. Gue udah bikinin surat BK. Dah gue taruh di kelas lo. Dah, dah, siniin aja mangkoknya," Senja mengibas-ngibaskan tangan agar aku mendekat.


Pemuda itu mengambil alih nampan besi dari tanganku dan menyusun mangkok dan gelasnya bersama. Ia sempat tersenyum padaku sebelum pergi, "Dah, tidur! Awas lo macem-macem, gue balik ke kelas dulu. Nggak baik cowok sama cewek berduaan di sini."


Aku berdeham, "Cepetan balik sono!" aku mengibaskan tangan kananku, mengusir.


.


.


.


Aku mengendap-endap melewati lorong-lorong kelas yang sepi di jam pelajaran menuju—aku tak tahu ke mana tujuanku.


Tepat saat aku berbalik, sebuah ruangan sepi terbuka lebar. Aku mencoba membaca penanda di atas pintunya, "Perpustakaan!" bisikku.


Getaran dari ponsel di tanganku mencegahku untuk berlari menuju perpustakaan.


Hujan: Woe lo ke mana?


Hujan: Tadi si Senja balik ke perpus lo udah nggak ada.


Aku mengusap wajahku kasar. Aku harus jawab apa? 'Gue emang ngehindarin tu cowok' gitu?


Edelweis: Gue bolos:"3


Hujan: Ha? Lo? Sejak kapan?


Hujan: Ck, yaudah di mana? Ntar gue samperin.


Aku buru-buru menjawab chat yang masuk sebelum...


Hujan: tanpa Senja. Gue sendirian.


"Heh!"


Aku hampir saja menjerit jika lupa sedang berada di perpustakaan. Aku melirik ke samping, Raina sudah cengengesan menyengir kuda, "Ngapain lo di sini?" tanyanya.


"Raina?"


Gadis itu menghela napas pelan, "Maksud gue lo itu biasanya anti bolos-bolos club, waktu sakit aja lo nggak mau ke UKS apa pulang gitu, lo ndekem aja di dalem kelas, udah kayak penunggu kelas. Tapi lo tiba-tiba bolos aja. Untung ke perpus, gue nggak begitu kaget. Kalo ke kantin apa ke mana gitu mungkin gue udah jantungan," katanya tanpa jeda.


Aku terkekeh pelan, "Napas dulu napas ... ngomong satu-satu, udah kayak pidato reuni tau nggak, sih?"


"Oke, lo ... kesambet lagi, ya?" tanya Raina, "Tadi lo manggil gue Raina, bukan Hujan."


Iya. Gue kesambet.


"Ck, nggak jelas."


Hujan tertawa renyah.


Aku menggeser salah satu buku, "Ajarin gue ini," kataku, msnunjuk salah satu topik pembelajaran.


Hujan mengerutkan dahinya, "Gue? Maksud lo, lo nanya gue?"


Aku mengangguk.


"Emm ... waktu itu aja gue yang nanya elo, Del ...," jawabnya kikuk, "Lo kenapa, sih? Kesambet, kan? Hayo ngaku!"


Aku berusaha menghindari tatapannya. Aku ingin bilang 'Ini cuma mimpi! Aku empat jam yang lalu baru saja kena bola terus tiba-tiba ke sini lagi!'


"Emm ... lo pernah nggak mimpi panjanggg banget trrus lo lupa sama apa pun itu, sama pelajaran, sama makanan yang tadi lo makan, sama apa pun itu," kataku akhirnya.


Hujan menggeleng pelan.


"Tapi lo percaya nggak gue barusan gitu?" aku berusaha menatapnya. Menjauhkan keraguan yang berusaha ia cari-cari dalam mataku.


Hujan berdecak, "Harusnya gue nggak kaget lo se-random ini. Sini bukunya, gue ajarin."


Mataku berbinar menatap gadis di sebelahku, "Huwaaa Hujannn!!!"


Hujan tersenyum, "Sst, ini perpus," bisiknya. Lalu ia menggeser buku itu ke tengah-tengah kami, "Jadi, ini polarisasi cahaya."


Ia mengeluarkan buku dari tas yang ia bawa, membuka halaman yang paling belakang, menggambar garis-garis asing.


"Polarisasi cahaya itu terserapnya sebagian arah getar gelombang cahaya dan terjadi karena pemantulan dan pembiasan."


"Jadi, ya, kalo digambarin kayak nyabang gitu. Sinar pantul terpolarisasi sempurna, sinar bias terpolarisasi sebagian."


Aku menggaruk kepalaku walau tak gatal. Dia bicara apa pula ini? Aku menoleh pada gambar yang ia buat, "Apa ini?" tanyaku menunjuk slah satu lambang. Apa pula itu ιp? ι? r?


"Itu bacanya iota. Lambang sudut. ι sama dengan ιp yang di sinar pantul. ι itu sudut datang. Terus ιp itu sudut polarisasi. Nah, ιp itu sama dengan theta," jelasnya sambil menggambar lambang 'θ'.


"Hah?"


"Iya. Theta ... ihhh ini lambang udah lejen banget buat sudut, sodaranya alfa, beta, sama gamma."


"Hah?"


"Jangan jadi kang keong. Pokoknya gitu. Trrus kita pake hukum Snellius kalo n¹ sin ι sama dengan n² sin r."


"Sin?"


"Iya. Trigonometriii ...," kata Hujan, gemas, "Lo juga lupa?"


"Gini aja, bisa ulangin semua pelajaran dari awal nggak? Pake bahasa anak TK,"


"Itu sama aja kayak gue ngajarin lho setebel Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tau nggak?"


Aku meringis kecil, sepertinya salah bicara lagi.


"Ck, ya udah. Kita balik lagi ke masalah gaya sama massa. Apa besaran pokok sekalian?"


"Terserah."


"Trigonometri dulu aja, ya. Itu banyak keluar soalnya."


Aku mengangguk.


Hujan mulai mengambar segitiga dengan lambang siku-siku di salah satu sudutnya, "Jadi ada segitiga siku-siku. Harus siku-siku, nggak boleh lancip, nggak boleh tumpul. Siku-siku, inget?"


Aku mengangguk.


"Kayak ngajarin anak TK beneran, sumpah."


Padahal aku, kan, sudah SD.


Hujan kembali menggambar theta. "Terus pertama sin. Sin itu hasil dari depannya theta dibagi sudut miring. Paham?"


Nah, ini baru paham beneran. Aku mengangguk.


Sampai dering bel berikutnya lalu bel kembali, kami masih berkutat dengan angka-angka dan lambang-lambang yang baru kupelajari.


Juga dengan sosoknya yang ternyata lebih dewasa dari yang kuduga.


Aku masih bertanya-tanya bagaimana ia bisa bolos dan lolos dari pelajaran. Saat kutanya ia hanya menjawab,


"Gue bukan lo yang anti bolos-bolos club. Udah, ah. Kalo gue bocorin entar lo bolos terus yang ada."


Cara Hujan untuk keluar dari kelas saat pelajaran masih menjadi misteri.


Tugas hari ini hanya tersisa :




Membuat alibi pada orang-orang di kelasku mengapa aku pingsan dan mengapa aku membolos.




Tidak ada Edgar di rumah. Jadi, aku harus mempersiapkan mental nanti.




Jalan pulang. Aku harus ingat jalan pulang atau berurusan dengan orang asing di jalan yang belum tentu baik, atau kembali bertemu Elang.




Setelahnya aku cuma berpegang pada kerja takdir yang lapisan mimpi yang terlalu nyata ini.


Mimpi ini ... tidak terlalu buruk.


🍁🍁🍁


Di lain tempat, saat Edelweis sibuk mengelilingi UKS.


"Sial, sial. Apaan tadi itu??" racau seorang pemuda yang tengah berjalan menuju kantin. Tangannya sibuk menutupi muka yang lebih merah dari biasanya, "Nggak, nggak. Senja, nggak."


"Tapi tadi bilang aku-akuann!! Butuh akuaa ...," Senja mengibas-ngibaskan tangannya di udara lalu memegang kepalanya sendiri dengan dua tangan, "Nggak, nggak. Dia itu cuma kesambet kayak kemaren."


"Tapi manis bangett uwuu ...," langkah pemuda itu menjadi lebih ringan, mengabaikan beberapa tatapan geli dari sekitarnya.


"Eh, bentar," kata Senja pada dirinya sendiri.


Ia merogoh ponsel dari dalm kantong celananya, membuka kunci layar hape dan mengirimkan sesuatu.


Jan Hujan Di Atas Genteng


Heh|


Si Edel pingsan, di uks|


Kesambet lagi *****|


|Pingsan napa?


|Lagi?


|Yaudah jagain dulu


|Ntar gue nyusul


Hmm|


|Awas lo macem-macem


Mana bisa macem-macem, orangnya kayak harimau pms|


Setelah itu Senja kembali bersenandung ria menuju UKS.


🐾🐾🐾


Tbc.


Maaf lama post-nya:"( belum nemu ilham dari kemaren:"(


Luv ya!