W A K T U

W A K T U
10 | Fraktura Hepatica



.


.


Jam dinding di sana terus saja berbunyi, seperti sedang iseng mengerjaiku dengan mendentingkan jarum jam sebanyak sepuluh kali.


"Jan, udah jam sepuluh," rengekku.


Hujan menghela napas kasar, "Jan, jan, jan, emang gue Ojan apa?" ia menutup bukunya dan melirik kertas yang kupegang, "Udah selesai belum?"


Aku menggeleng lesu, "Kurang satu nomer doang, ih!"


"Kemaren siapa, ya, yang minta diajarin fisika-kimia-biologi sampe rengek-rengek nggak jelas. Terus giliran udah diajarin malah minta pulang," Hujan sudah nyinyir mode: on.


Aku mendecak sebal, "Hih, tapi ini kan udah malem. Otakku kebakaran," kataku menghentak-hentakkan kaki yang membuat Hujan panik sendiri.


"Heh, heh, diemm ... ini perpus bego," gadis itu menata kembali buku-bukunya lalu beranjak dari kursi, "Ayo, makan dulu."


Aku sontak berdiri, "YEEE!!"


"Aw, kok ditabok, sih?!" ringisku saat Hujan menghadiahiku dengan pukulan buju paket.


"Berisik, bodoh."


Sudah tiga hari semenjak aku terjebak dalam mimpi ini. Dan tiga hari pula aku menghabiskan seluruh waktuku mendekam di sini, perpustakaan kota, bersama Hujan dan tumpukan buku pelajaran. Gedung ini tidak pernah tutup (alias buka 24 jam) sehingga kami bisa pulang kapan saja.


Hujan awalnya menolak menjadi mentor dadakan, tapi setelah kuberi sogokan makan gratis tiap malam ia mengangguk setuju.


Sebenarnya, mimpi ini tidak buruk juga. Aku punya banyak teman yang baik dan terbuka tentang segala kisah. Aku juga tidak perlu khawatir tentang uang jajan atau apa pun itu. Bahkan, aku boleh pergi ke mana saja sampai malam seperti saat ini.


Masalahnya cuma dua.


Pertama, hidup di kelas XI IPA 3 itu berasa kayak di rimba. Kepalaku bisa-bisa botak biat mengejar kepintaran mereka.


DAN DITAMBAH LAGI AKU NGGAK MUDENG SEMUA MATERI PELAJARANNYA!


NGELIAT TULISAN ORIZA SATIVA AJA AKU BERASA BUTA ARAH DAN TUJUAN!


(Menangis dalam hati.jpg)


Kedua, tidak ada Edgar.


Sederhana memang, tapi rasanya tidak ada yang membangunkanmu setiap pagi dengan rengekan, tidak ada yang menjahilimu setiap siang, tidak ada yang menungguimu pulang sekolah setiap sore, dan tidak ada yang membuatmu seperti babysitter tiap malam itu seperti ... seperti aku sedang tidak hidup.


"Aku kangen Edgar," kataku tanpa sengaja.


Dan itu didengar oleh Hujan. Gadis itu menatapku dalam diam. Tangannya terangkat mengelus punggungku, "Kangennya besok aja, kita makan dulu."


Aku mengangguk lesu, "Keya nggak ikutan? Biasanya kalo ada traktiran barisnya paling depan."


"Lo pikir sekarang jam berapa?" Hujan mempercepat langkahnya, "Palingan udah tidur tu anak."


"Oh, iya."


Keya adalah teman kami dari SMP, kata Hujan. Pertama kali aku tidak sengaja bertemu dengannya di alun-alun kota setelah menggalang dana usaha untuk eskulku dan Hujan.


Sapaan pertamanya adalah: "Widiiih ... jadi SPG churros ya lo sekarang?"


Tentu saja aku mengernyitkan dahi, bingung. Ini siapa sok kenal banget?


Untung saja Hujan datang dan langsung mengusirku. Lalu, ia bercerita tentang lingkaran setan yang menghubungkan kami bertiga.


"Heh, kita mau ke mana lo ngelamun mulu," Hujan menjentikkan jarinya tepat di depanku, "Mie ayam Mang Didin? Kayak biasa?"


Aku manggut-manggut.


"Oh, ya. Katanya si Senja mau nyusul. Minta traktiran sekalian jemput kita pulang, udah kemaleman katanya," Hujan menunjukkan layar ponselnya.


Senja: Gue ikuttt


Senja: Jangan lupa traktirannya


Senja: Lo sama Edel nebeng gue aja, gue baru pulang basketan sama anak-anak. Kesian lo kemaleman.


"Cih," desisku, "Ya udah, serah dia lah. Gue juga bokek ntraktir kalian terus, sekalian nebeng."


"MANG DEDEN!"


Baru sampai di depan kedai, Hujan sudah teriak-teriak sambil melambaikan tangan sok akrab kepada Mang Didin, "Biasa, ya!"


"Siap, Jan!" Mang Didin mengacungkan jempolnya, "Eh, Edel nggak ikut?"


Aku yang sibuk mencari tempat duduk segera menoleh dan melambaikan tangan, "DI SINI, MANG!"


Mbak Putri, anak dari Mang Didin, yang sibuk mengelapi gelas-gelas hanya menatapku jengah. Mungkin batinnya berbicara: "Yah, pelanggan-pelanggan barbar datang".


Dua mangkuk keramik bercat ayam jago dengan kuah mengkilat itu datang di atas meja. Hujan mendudukkan dirinya dan bersiap untuk makan.


"Sika—"


"TUNGGU DULU WOE!" suara Senja muncul dari arah depan, mengundang beberapa orang yang melihatnya jengah. Laki-laki itu menoleh ke arah gerobak, "Mang, tambah satu lagi. Minumnya teh anget aja. Jangan es,"


Kemudian ia berjalan ke arah kami, "Wassap gaes! Kenapa ngeliatin gitu? Kangen sama wajah tampan gue, ya?" Senja memainkan alisnya naik-turun.


"OHOOK! OHOOKKK!!"


"Idih, geli."


"Nggak sudi gue kangen sama lo."


Untungnya, pesanan Senja cepat datang. Itu membantu mencegahnya untuk bicara lagi.


.


.


.


"Uh ...," aku merutuki otakku yang terlalu lemah dan payah dalam hal menyerap ilmu.


"Fokus, fokus," aku menampar pipiku sendiri dan berusaha memelototi buku tebal sambil mendikte setiap kalimat yang ada di sana.


"Ligamen merupakan jaringan ikat fibrosa yang berfungsi mencegah pergerakan sendi secara—"


"Edelweis?" suara bariton itu terasa familiar. Aku melongok ke arah sumber suara, "Aku boleh duduk di sini, kan?"


Itu Elang.


"Boleh, ini kan tempat umum."


Pemuda itu terkekeh pelan, "Iya juga, ya."


Aku tersenyum singkat sebelum kembali fokus kepada buku, "Ini tulang rawan hialin," tunjukku pada salah satu gambar, "Warnanya agak bening, kebiruan, dan mengilap."


"Ekhem."


Hampir saja aku terjungkal jika kursi yang kududuki tidak cukup kuat. Aku melirik ke arah Elang, merasa kesal atas usahanya mengagetiku.


Tapi aku malah tertegun. Laki-laki itu rupanya menatapku daritadi. Aku cukup terkejut, ternyata manik mata milik Elang lebih berwarna kecoklatan daripada hitam.


Matanya indah juga.


Aku segera menggeleng cepat dan memegangi kepalaku dengan kedua tangan. Saat kulirik, ternyata Elang juga sama terkejutnya denganku. Pemuda itu mengerjap-erjap sambil sesekali berdeham canggung.


"Kenapa deham terus? Keganggu aku dikte materi?" tanyaku.


Ia menggeleng, "Udah daritadi di sini?"


"Iya."


"Kamu tau sekarang masih jam setengah tujuh."


"Aku sampe sekolah jam enam."


"Segitu ambisnya sampe bela-belain belajar di perpus jam enam?"


"Ng-nggak gitu ...," kataku entah kenapa jadi menciut.


Elang tertawa, "Kalo aku ajarin, mau?"


Aku langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali, "MAU LAH!"


"Sstt ... ini perpus," katanya menempelkan jari telunjuk di depan bibir, "Siniin bukunya."


Dan kami menghabiskan pagi yang serius dengan buku tebal dan tumpukan materi biologi.


Sampai kami saling diam saat keluar perpustakaan. Tidak ada obrolan yang tercipta. Kami berjalan menuju kelas dengan pikiran masing-masing dalam kepala.


Tapi berdua.


ASTAGA BARUSAN ITU APA?


"Makasih," cicitku kala kami tiba di ambang pintu kelas.


Elang tersenyum tipis, "Hmm, sama-sama."


Lalu, bel masuk berbunyi dan habislah kebersamaan kami yang mengagumkan itu.


Hari itu, pandanganku tak pernah lepas dari arah pukul dua. Tempat punggung Elang berada. Dan setiap aku ingin mengenyahkan segala pikiran tak masuk akal itu, punggung itu berbalik dan mata itu kembali menatapku.


Haha, aku tenggelam lagi.


.


.


.


"Gimana ulangannya tadi," Zara masih saja menggodaku habis-habisan karena sekelas melihatku datang bersamaan dengan Elang dan senyumannya.


Dan Senja sialan yang melapor dari TKP mengatakan ia melihatku belajar bersama Elang.


Ulangi, b-e-l-a-j-a-r-b-e-r-s-a-m-a-E-l-a-n-g.


Aku hampir tersedak air liurku sendiri saat kata itu berputar-putar di kepala seperti kaset rusak. Mengakibatkan beberapa komplikasi seperti pusing berkunang-kunang, paru-paru kemasukan suatu gas yang terlampau asing dari segala sisi, dan perut yang tiba-tiba terisi puluhan kupu-kupu yang beterbangan.


"Cieee.. Edel-Elang asique," Fara sudah joged-joged heboh di depan kelas.


Lain lagi dengan Ran yang menghayati lagu romantis sambil berputar-putar di depanku. Saking menghayatinya, aku sampai tidak tahu apa yang sedang ia nyanyikan.


Yang lainnya menjadi tim hore dan bertepuk tangan pada setiap aksi.


Aku menatap mereka satu per satu, "Gue nggak ada apa-apa ya sama dia!" kataku mencoba lebih tegas dan lebih yakin dari yang ada di pikiranku.


"Eh, eh, tapi tadi kata Senja kalian pake aku-kamu!! Waw ... mau dong dipanggil gitu sama Elang," Zara sudah menggila karena efek halu-nya.


"Au, ah. Capek ngomong sma kalian," kataku melenggang keluar kelas.


Dan pemuda itu ada di sana.


Bersama dengan sesosok gadis cantik beruraian sebahu. Aku buru-buru bersembunyi di balik pilar sambil berusaha mendengar suara mereka.


"Heh," kata si gadis, "Coba aja kalo kamu nggak sok alim di sini, udah aku pacarin. Polos banget sih, jadi orang."


Elang tertawa, "Lah? Kan Kakak pacar aku."


HAH?


"Nih, yang bersih ya, Kak."


HAH?


Aku segera berbalik ke dalam kelas setenang mungkin. Walau jadinya bahuku sedikit bergetar dengan cairan bening yang mendesak keluar dari dalam mata.


"Huwaaa ...," aku berlari memeluk Ran," Au, ah. Dia udah punya pacar," isakku sepelan mungkin.


"HAH?!"


"Tau darimana lo?"


"Ta-tadi ketemu ... pa, pacarnya."


"Di mana?"


"Lorong depan."


"Nggak pa-pa," Ran mengusap-usap punggungku, "Namanya jatuh cinta. Kita harus punya keberanian. Buat terbang, juga buat jatuh."


Aku memukul pelan lengannya, "AKU NGGAK SUKA SAMA DIA, YA!"


"Ups," kataku dengan mata melebar. Karena mata Elang juga melebar saat aku meneriakkan kalimat barusan di ambang pintu.


Setelah hari itu, aku mencoba menghindari satu manusia yang menyebalkan dan selalu memasang riak muka tanpa dosa nyengir di depanku saat mata kami bertemu: Elang.


Walau aku juga menyadari segalanya telah berubah.


Aroma perpustakaan; ambang pintu kelas; dan lorong depan saat kenangan itu melintas.


Semuanya menjadi berbeda.


Dan aku menyukainya.


.


.


.


Aku kembali menghabiskan banyak waktu di dalam perpustakaan. Intinya, setiap hari: perpustakaan. Pagi, saat istirahat, saat pulang sekolah, malam hari jika tak ada tugas, hari Minggu, semuanya perpustakaan.


Kadang aku sampai ingin muntah atom karena terlalu banyak materi yang harus kukejar.


Mulai dari ikatan antar unsur, gaya tarik-menarik magnet, hormon-hormon dalam tubuh, sampai tokoh-tokoh pahlawan pada serangan sebelum kemerdekaan.


(ingin tepar.jpg)


"Edel?" Senja melongokkan kepalanya tepat di depanku, "Masih di sini? Gue kira lo udah mabok kimia tadi siang."


"Iya, mabok. Tapi gimana lagi, kepala gue botak ngikutin kepinteran kalian semua."


"Hahahaha, lo aja stres kayak gitu. Apalagi di kelas gue *****, gue udah angkat tangan sama nilai gue."


"Ck, nilai lo bagus ya. Nggak usah merendah untuk meroket."


"Eh, ngaca! Nilai lo juga bagus tapi lo masih aja belajar mati-matian kayak gini."


"Lah, lo juga buktinya di sini kok."


Senja merogoh hape-nya, menunjukkan layarnya ke depanku, "Hujan nggak bisa dateng. Jadi yang ngajarin lo kali ini gue," katanya santai kembali mengantongi ponsel pintar miliknya, "Walaupun kayaknya lo udah nggak butuh diajarin."


Aku mendengus sebal, "Terus kalo gitu kenapa lo ke sini?"


Elang menyunggingkan salah satu ujung bibirnya, "Traktiran dong."


"Heh—"


"Gue juga sekalian pengen ketemu sama lo."


Kalimat itu sukses membuatku kembali mengatupkan bibir dan mematung di tempat, "Ehm," aku menarik ujung hidungku, "Ngapain, Bambang? Kan udah ketemu tiap hari di sekolah."


"Gatau kangen aja," ujar Senja kelewat santai, "AW—ADOH INI KENAPA KEPALA GUE DIPUKUL SIH?!"


Aku segera membekap mulutnya yang tidak pernah tahu tempat itu, "Sstt ... ini perpuskot bego. Bukan perpus sekolah uang penjaganya bisa lo ajak bercanda,"


Aku meringis kala beberapa pasang mata melirik kami, merasa terganggu, "Maaf," kataku.


Aku melepas tanganku dari bibir Senja dan segera menata kembali bukuku, "Udah, daripada ribut cabut aja mending. Habitat lo kan di hutan, bukan di perpus."


Senja menarik senyum paksanya, "Hmm ... makasih pujiannya."


"Sama-sama. Udah cepetan katanya mau traktiran."


Senja meraih kunci motornya, "Tapi gue nggak mau mie ayam. Bosen."


Lalu tangannya meraih lenganku dan menggeretku keluar perpustakaan.


Diseret.


Bukan digenggam.


Aku menabok punggung Senja, "Kenapa di sini? Ini kan restoran! Gue cuma bawa gocap!"


Tolong, ya, Tuan Muda Senja, saya ini sedang dalam masa krisis ekonomi dan Anda membawa saya ke tempat mewah seperti restoran di depan ini?!


Senja tertawa renyah, "Gue yang traktir."


Mataku sontak berbinar, "Bener, ya?! Bener lho?! Ucapan tidak dapat ditarik kembali!"


Senja manggut-manggut tanpa minat, "Ya, ya, serah lo." dan meninggalkanku yang sudah loncat-loncat kesetanan.


Hari ini adalah hari yang panjang. Terlalu banyak serangan perasaan yang tidak dapat dihindari akibatnya dalam jangka waktu yang tidak diketahui.


Sampai aku merebahkan diri di atas kasur, beristirahat sejenak akan tuntutan dunia.


Aku melirik ke arah pintu kamar.


Tidak ada ketukan.


Tidak ada gumaman kecil seorang anak.


Tidak ada rengekan yang memintaku menyanyikan lagu "Nina Bobo".


Tidak ada Edgar.


Aku ingin cepat-cepat bangun dari mimpi ini.


Memangnya ini mimpi?


Bagaimana jika ini semua bukan mimpi?


Lalu apa yang terjadi pada kehidupanku yang seharusnya?


Mati sejenak, atau terus berlangsung?


Aku bangkit dari tidur dan menyalakan lampu kamar.


"Dear, siapa saja ....


🍁🍁🍁


Pada suatu pagi ...


Seorang pemuda tengah asyik memainkan kunci motornya di tengah lorong.


"Eh, Edel!" panggilnya saat ia melihat sesosok gadis berkuncir kuda yang lewat di ujung lorong.


Sayang, gadis itu tak mendengarnya.


Tidak habis akal, ia mengikuti gadis yang ia panggil Edel sampai langkahnya menuju dalam perpustakaan.


Pemuda itu memlih tempat duduk yang cukup jauh dari si gadis duduk. Kadang ia ikut tertawa melihat cara si gadis belajar.


"Barbar banget ***** belajarnya."


"Ya, itu kepala digeleng-gelengin ilmunya malah keluar lagi dong."


"Hahaha, ngakak."


Sampai ia melihat jam di jarum tangan miliknya. Ia segera bangkit dan meninggalkan tasnya di sana.


"Woi, Senja!"


Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara, "Eh, si bocel."


"Enak aja! Gue punya nama, ya! Zara! Z-a-r-a!"


"Iya, bocel."


"Ck, mau ke mana lo?"


"Kantin. Duluan, ya!"


Pemuda itu bergegas membeli beberapa bungkus roti dan dua kotak susu dan cepat-cepat kembali ke perpustakaan.


Tapi langkahnya berhenti mendengar si gadis sudah ketawa-ketiwi dengan pria tampan di sampingnya.


Senja:


Heh temen lo udah pacaran?


Senja:


mantap bener dah udah ngebucin di perpus


Hujan:


??


Senja:


Lo mau susu nggak? Sama roti gue ada banyak


Hujan:


Oh


Hujan:


Lo patah hati


Senja:


Brisik.


🐾🐾🐾


Tbc.


huwaaa berikan aku inspirasi:"(