W A K T U

W A K T U
3 | Kesambet? Atau amnesia?



Edgar tengah tertidur pulas di sebelahku. Aku baru menyadari kalau pemuda mungil ini memiliki bulu mata yang lentik dan kulit yang halus.  Aku menghembuskan napas dan meringkuk di sampingnya.


Sepertinya aku harus tidur.


Aku harus cepat-cepat kembali pada kenyataan sebelum tenggelam lebih dalam di mimpi ini. Di masa lalu ini.


"Selamat malam, Edgar. Selamat tidur," kataku mengelus pucuk kepala anak itu, "...selamat tinggal."


.


.


.


TENG TENG TENG!!


Kumohon, aku baru bisa tidur dua jam yang lalu. Jangan bangunkan aku dulu.


Tunggu dulu.


Kenapa ada suara-suara orang mengobrol?


Kenapa ada suara musik?


Kenapa udaranya panas sekali?


Dan kasurku mendadak jadi sempit. Aku merasakan kasurku diguncang-guncang.


"Uh-huh...," aku menggerakkan tanganku, berusaha menyeka keringat.


"Edel?!" suara-suara itu sekarang memanggilku. Apa itu malaikat? Apa ini surga?


Aku membuka mata dengan super-duper-sangat-pelan. Aku masih sayang nyawa dan tidak sanggup jika tiba-tiba mendarat di surga.


Itu ... Raina?


"Huwaa ... Akhirnya lo bangun!" katanya riang menggoyang-goyangkan bahuku, "Sini, sini. Lo Edel yang asli, kan? Lo masih inget gue, kan? Tebak gue siapa? Itu siapa? Itu siapa?" katanya menunjuk beberapa orang yang memenuhi kamarku.


Tolong, saya baru bangun tidur. Oh, aku bahkan belum sempat benar-benar 'tidur'.


Aku mendongak, melongok ke arah pukul tiga. Di sana ada tiga perempuan yang berdesakan berebut standing fan. Ah, pantas saja kamarku mendadak sangat panas.


Aku mendelik ke arah mereka. Itu Nina, Fara, dan Zara. Ketiganya menunjukkan ceringan polos padaku.


Oh, tidak semudah itu, Ferguso.


Aku menggerakkan tangan kananku, membentuk sebuah isyarat mengusir, "Go, go!" kataku, "Menuh-menuhin kamar gue aja lo semua!"


"Ck, gue lupa kalo lo itu lagi waras, nyebelinnya tingkat dewa," cibir Senja di tepi jendela.


"Ck, lo itu juga paling pelit kalo giliran traktir di kantin," aku menatapnya nyalang. Cowok itu balas menatapku sengit.


Kadang suka heran, Senja itu fisiknya laki-laki, tapi kalau urusan debat bibirnya sebelas-duabelas sama ibu-ibu pasar.


Aku kembali memandang kamarku lekat-lekat. Ah, ini baru kamarku. Dengan dekorasi biru yang mendomimasi dan karpet luas membentang di tengah ruangan. Hanya ada satu kasur tanpa dipan di sudut ruang, lemari-lemari dan meja rendah yang menempel di dinding.


Sekali lagi. Ini baru kamarku.


Aku tersenyum lega. Menatap mentari di Minggu pagi ternyata se-menyenangkan ini.


Senja memainkan gawainya, asyik memotret langit. Zara, Fara, dan Nina kembali berebut standing fan. Aku kadang suka lupa kalau mereka kebal telinga.


Lalu, di samping kiriku ada dua gadis yang asyik menghambur-hamburkan kumpulan bonekaku sambil ketawa setan. Itu Lulu dan Alia, dua sejoli yang berkawan sejak SMP. Keduanya seakan tidak bisa dipisahkan. Meskipun ombak takdir dan lautan waktu mengguncangnya, mereka sepertinya tetap mengguncangkan boneka-bonekaku sambil ketawa setan.


Kok lama-lama serem, ya.


Dan terakhir, gadis tipis di sampingku. Ia bahkan lebih realistis disebut dengan kerangka biologi atau seonggok kayu daripada perempuan berumur enam belas tahun.


Dia Raina Arkana. Aku lebih suka memanggilnya 'Hujan'. Dia suka hujan dan hujan-hujanan. Aku kadang suka menemaninya bermain hujan saat Sabtu sore (jika hujan datang). Bukan apa-apa, aku hanya takut tubuhnya kabur terbawa angin jika hujan sedang lebat.


Lihatlah, tangannya seperti kayu yang diberi nyawa, "Ck, ck, ck," kataku.


"Apa?!" katanya sewot. Sepertinya dia tahu apa yang aku pikirkan. Hehe:)


"Ck, apa sih, Jan. Gue cuma bilang terima kasih. Kok malah sewot," aku melipat tanganku di dada.


"Gue tau lo ngeliatin tangan gue, kan? Baru aja bangun tidur, udah body shamming," Hujan mendengus keras-keras.


Senja tiba-tiba merangkak ke arah kami, tangannya bersidekap di depan dada, "Oh, anak muda. Sesungguhnya yang namanya body shamming itu tidak baik. Ck ... ck... ck," katanya sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


Ceklek!


Suara pintu dibuka membuat kami otomatis mengatupkan bibir dan melihat siapa yang datang.


Bunda tersenyum membawa nampan berisi roti tangkup dan selai. Kemudian, wanita paruh baya yang suka tersenyum itu berbalik keluar kamar.


Sosok bunda yang pergi memunculkan tiga perempuan—Ran, Sekar, dan Nia—yang kesusahan membawa nampan-nampan berisi camilan, sosis bakar (aromanya yang pekat membuatku bisa menebak-nebak dari jarak lima meter), dan susu coklat.


"Woi, cepetan! Tangan gue mahal, ya!" Nia menaruh nampan sosis bakar di tengah karpet. Semua orang buru-buru mengitarinya.


"Eh," Ran menepuk pundakku, "Lo bangun dari kapan?"


Aku tersenyum, "Dari tadi,"


"Percuma gue nanya ke elo," lalu kami tertawa.


"Nah!" Sekar mengacungkan roti tangkupnya tinggi-tinggi, "Saatnya makan-makan!"


Kami mencomot satu per satu makanan itu dan menyisakan piring-piring kotor yang harus dicuci.


Mataku tertuju pada salah satu nampan di atas karpet.


Susu coklat.


Aku memandang sekeliling, tidak ada Edgar di sini.


Karena memang seharusnya tidak ada.


Aku kembali menarik selimut dan meringkuk di atas kasur. Semoga saja mataku tidak basah saat ini. Edgar dan segala yang ia bawa dari gelas susu coklatnya, aku rindu.


"Eh, eh? Del? Lo kenapa woi?" Hujan menepuk-nepuk punggungku, menenangkan (padahal ia sendiri sedang panik inside), "Jangan kumat lagi, woe!"


Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menampar kuat-kuat imajinasiku yang masih tertinggal dalam mimpi itu, "Nggak, nggak pa-pa. Nggak usah lebay,"


Aku mendongak. Sepuluh manusia yang ada di ruangan ini menatapku dengan tatapan khawatir-iba-takut dan seluruh perasaan yang membuatku tidak sanggup menatapnya balik.


Memang, aku kenapa?


"Nah, kalian nggak ke sini cuma buat sarapan gratis, kan?" kataku (yang sebenarnya hanya ditujukan untuk mengalihkan perhatian).


Entah kenapa, Senja, Hujan, dan Zara terbatuk-batuk hebat.


Aku ... tidak salah, kan?


Ran berdeham pelan, "Jadi ... Sekarang lo nggak ngerasa sesuatu, kayak lagi dikendaliin sesuatu, gitu?"


"Ha?"


Buset ... ngegas amat, mbak!


"Ha?"—lagi.


"T-tunggu. Ini kalian lagi ngomongin apa, sih? Iya, ini gue, Edelweis Alfa Sanjaya! Dan lo itu Nina Ninu yang suka tereak-tereak di kelas kayak Jafar di Aladdin! Puas lo!" aku balas menunjuk-nunjuk mukanya, "Ck, dikira gue kesambet setan apa?"


"Jadi ... lo nggak inget tentang kemarin?" Alia bertanya dengan hati-hati.


"Kemarin?" aku mengerutkan kening.


"Kemarin lo gila," Senja mengangkat bahu, tidak peduli banyak.


Kerutan di dahiku semakin dalam. Gila? Hell! Yang benar saja! Kemarin, kan, aku ...


"Sekarang ... tanggal berapa?" tanyaku ragu-ragu. Oh, siapa pun kumohon katakan bahwa kemarin hanyalah mimpi.


"Sepuluh, kan? Kenapa?"


"Oh," aku berusaha untuk mendesah lega.


TAPI INI GUE PANIK INSIDE!


TERAKHIR KALI AKU BERMIMPI ITU TANGGAL DELAPAN! SIAPA YANG BERANI-BERANINYA MEMAKAI JIWA DAN RAGAKU SEMBARANGAN KEMARIN?


"Tapi, Del, kamu beneran nggak kesambet, kan?"


"Kesambet apa, sih?" suaraku mungkin terdengar ragu-ragu.


Kalau tanggal sembilan aku masih di dunia 'mimpi', aku tidur seharian penuh?!


"Kamu sama sekali nggak inget jalan ke kelas, nggak inget siapa aja temenmu, bahkan kamu nggak paham semua materinya," Lulu bersidekap di depan dada.


"Hah?!"


"Dan itu bukan pertama kali,"


Tunggu.


SEBENARNYA INI KENAPA?!!


.


.


.


[Author POV.]


Seorang gadis dengan kuncir kuda berjalan mendekati gerbang putih itu ragu-ragu. Maju selangkah, mundur dua langkah. Maju perlahan, mundur berlari.


Begitu terus sampai punggungnya menabrak seorang pemuda.


"Loh? Edel? Ngapain lo maju-mundur-maju-mundur gitu? Lo bukan Syahrini," celetuk pemuda itu.


Edelweis hanya meringis kecil. Berharap laki-laki ini segera pergi meninggalkannya, "Se—nja?" katanya mengeja tanda pengenal pada seragam pemuda itu.


"Ck, apa sih lo," katanya yang kemudian segera merangkul pundak Edel menuju gedung sekolah.


Huwaa sok deket banget ini orang, batin Edelweis. Gadis ini hanya menampilkan senyumnya tanpa banyak bicara.


"Busett ... Tumben lo diem. Biasanya udah pidato panjang-lebar pagi-pagi," Senja melepas rangkulannya, "Lo udah sarapan? Mau ke kantin?" kali ini suaranya lebih rendah dan dalam.


Edelweis buru-buru menunduk. Entah kenapa ia merasa jantungnya sangat payah memompa darah saat ini, "Ng-nggak, kok. Eh, maksudnya udah,"


Senja tertawa, "Gue tau lo kejedot tiang listrik tadi,"


Edelweis mengerutkan dahinya, sok tahu sekali, Tuan ini.


"Eittss...," tangan kanan Senja buru-buru mendorong jidat Edel yang berusaha masuk ke kelasnya, "Kelas lo di samping, bukan di sini,"


Edel mengerjap sesaat, "Oh, di—"


"Sana," kata Senja dengan tangan kiri yang menunjuk plang kelas bertuliskan 'XI IPA 3'.


"Oke, makasih,"


Senja masih menatap punggung gadis yang berjalan kikuk melewati koridor kelas XI sampai Edel memasuki kelas yang seharusnya. Pemuda itu hanya berharap semoga Edel tidak mengetuk pintu terlebih dulu lalu membungkuk dan mengucapkan, "Permisi, saya Edelweis. Kelas saya benar di sini, kan?"


Senja menggeleng dan terkekeh pelan, "Ck, apa sih, Del," gumamnya tanpa sadar.


"Edelll!!" Fara melambaikan kedua tangannya secara berlebihan, "Sini, sini!"


Edel tersenyum kikuk, segera mendekat dan menaruh tasnya di bangku terdekat.


Fara buru-buru mangambil tas Edel, "Ck, lo itu duduknya di sana," katanya sambil menunjuk bangku pojok paling depan, "Sini, kan, tempatnya si Thea,"


Edel hanya mengangguk (pura-pura) paham, "Oh, oke,"


Gadis itu berlalu menuju kursi yang ditunjuk, menaruh tas, lalu tertidur.


"Dia kenapa?" bisik Nia menyenggol lengan Sekar. Sekar menggeleng dengan bahu terangkat.


Hari itu adalah hari yang paling membingungkan bagi Edel. Sekolah yang asing, teman-teman yang terlalu dekat, dan pelajaran yang seakan berasal dari teori aneh di suatu negeri di ujung galaksi.


Pandangan Bu Tuti menyapu ruangan itu, dan terhenti pada gadis yang sedang sibuk mencorat-coret kertas kosong, "Edel,"


Tentu, Edel terkejut hebat saat tahu-tahu namanya dipanggil siang ini. Gadi itu langsung berdiri, "I-iya, Bu," matanya melebar, mengerjap-ngerjap cepat.


Bu Tuti tersenyum, "Kamu dapat nilai yang lumayan baik ulangan kemarin. Mungkin kamu sekarang menyepelekan Ibu, ya."


Demi Neptunus, Edel tidak pernah berbuat segala sesuatu yang berhubungan dengan kata 'Menyepelekan Guru'.


Akan tetapi, gadis itu menunduk dalam, "Maaf, Bu."


Bu Tuti kembali tersenyum, "Sekarang kerjakan soal yang ada di papn tulis,"


Edelweis mendelik. Ragu-ragu ia berjalan menuju papan tulis, mengambil spidol, dan menggambar garis di sana.


Ia berkutat dengan deretan angka dan variabel yang menyusun sebuah rumus. Tapi, gadis itu melihatnya sebagai suatu gambar abstrak yang dikirim dari planet asing.


Sebelum gadis itu menoleh ke arah Bu Tuti, atau siapa pun yang bisa menolongnya saat ini.


"Ini ... apa, ya?"


🐾🐾🐾


Tbc.


Salam kenal dari Raina, Ran, Sekar, Nia, Zara, Fara, Nina, Alia, Lulu, dan Thea.


Ada yang bingung dengan tokohnya? Mau dikasih visual, tyda? :v


Salam dari kelas XI IPA 3 yang selalu ramai, kembaran dari pasar malam tiap minggu,


Lara.