W A K T U

W A K T U
5 | Mimpi Panjang



"Edeeell!!" gadis itu masih berteriak heboh sambil berlari—sebenarnya tidak bisa disebut 'berlari' karena ia mendramatisasikan dengan reka slow motion.


Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang melelahkan.


Gadis berkuncir kuda yang duduk di mejaku buru-buru menarik bahuku ke depannya, "Denger," katanya.


"Siapa pun lo, nggak masalah. Mungkin lo cuma pura-pura kesambet atau kesmbet beneran. Gue, Nina," katanya menunjuk dirinya sendiri.


"Dia Ran," sekarang yang ditunjuk adalah Ranira yang alay.


"Terus, dia Sekar," telunjuknya mengarah ke perempuan dengan poni menutupi sebagian besar jidatnya. Terlihat kalem, walaupun tingkahnya tidak se-kalem tampilannya.


"Itu Fara, sebelahnya ada Lulu sama Alia," aku menoleh ke arah yang dituju Nina. Seorang perempuan yang sedang heboh menari dan dua orang yang bercakap-cakap (sepertinya membicarakanku yang mereka kira sedng kerasukan). Salah satunya adalah si pipi chubby yang tadi menggoyangkan kepalaku.


"Yang barusan pergi Zara sama Nia," ah, aku ingat. Salah satunya memakai jilbab.


"Terakhir, yang teriak-teriak itu, Rain. Lo biasanya manggil dia Hujan. Dia orang gila dari kelas sebelah. Nggak usah dianggep aja, nggak penting," Nina menyudahi wejangannya dengan melipat tangannya di depan dada dan melirik sinis ke arah Hujan.


"Ck, apa lo liat-liat? Iya, iya entar gue ganti kok kacamata lo kemaren!" Hujan langsung mengomel saat tiba di depan kami, "... padahal yang ngerusakin Senja juga," gerutunya pelan.


"Bodoamat! Yang penting lo harus ganti!"


"Iya, cerewet!"


Aku tertawa melihat kejadian ini. Selama tujuh tahun aku hidup, aku tidak pernah dihadapkan oleh kenyataan seperti yang santer di cerita-cerita, ketika dua atau tiga sahabatmu sibuk mengomel lucu.


Mimpi ini, tidak buruk juga.


"Napa lo ketawa? Kesambet, ya?" Hujan langsung menempelkan tangannya di dahiku, "Nggak panas padahal. Gila lo, ya,"


"Cieeee.. Yang baru ke luar negeri... Oleh-oleh buru!" Zara langsung menerobos ke depan Hujan.


"Iya, iya. Nggak sabaran banget, sih!" Hujan langsung berlari menuju kelasnya dan kembali dengan tangan mengangkat dua dus penuh.


Penduduk kelas kami langsung berteriak heboh. Yang (kurasa) tidak mengenal Hujan sekalipun.


Hujan menggerakkan kedua tangannya, bermaksud agar kelas diam kembali, "Tenang, tenang. Gue bagi semua, kok!"


Kelas pun bersorak.


Lalu, muncullah seorang laki-laki yang kerepotan mengangkat dus-dus yang kelewat tinggi dan hampir menghalangi pandangannya.


"Woi, Rain! Bawaan lo ini!" katanya protes.


"Tenang, entar lo juga dapet jatah, kok."


Aku hanya bisa memandangi kelas ini dari bangkuku. Aku bahkan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa saat pandangan Hujan dan Senja—laki-laki yang tadi protes dengan barang-barang Hujan—mengenai mataku, "Kenapa?" tanyaku.


Yang ditanyai malah saling pandang dan sama-sama memasang wajah yang tidak kalah bingungnya.


"Lo nggak pa-pa, kan?" lagi-lagi ada tangan terulur ke dahiku. Masalahnya, ini adalah tangan laki-laki. Menyentuh. Dahiku.


Aku buru-buru menepis tangannya, "A ... a—aku nggak pa-pa, oke. Aku nggak kejedot tiang atau apalah yang kalian bayangkan. A-aku cuma ...," sekarang aku tidak tahu harus membuat alibi apa.


"Aku?" kata Senja, mengernyitkan dahi, "Sejak kapan lo sok imut pake kata-kata 'aku?"


"Hah? Terus?"


"'Gue', bukan 'aku'!"


"Oke, gu-gue tadi salah sarapan kayaknya. Ma-mau ke kantin?"


"Call!" Ran cepat-cepat menarik tanganku keluar kelas, "Cepetan!"


Aku cuma bisa menurut dan hanya menurut. Aku melihat ke belakang. Ada sekumpulan orang yang mengikutiku. Itu Senja, Hujan, dan antek-anteknya.


Ini mau makan di kantin apa mau tawuran? batinku.


Akan tetapi, hari ini menyenangkan. Biasanya aku selalu makan di kantin sendirian, tapi hari ini? Kami ber-sebelas sibuk memenuhi bangku kantin sampai berdesak-desakan.


"Minggir lu!"


"Elo yang minggir!"


"Ck, menuh-menuhin tempat aja!"


"Lo bilang apa?!"


"Woi, gue udah dipojokkan, ya! Dikit lagi jatoh!"


"Gue belom dapet tempat!"


Begitu saja terus sampai bel kembali berdenting.


Aku mendengus, "Ini kalian mau makan apa mau tawuran?"


Senja dan Hujan berbinar-binar, seakan menemukan serpihan yang mereka cari-cari dari diriku.


"A-apa?" aku melirik curiga ke arah mereka. Gelagatnya tidak bisa diterka.


Senja meraih tanganku, "Akhirnyaaa!!! Lo balik, Del!"


"Hah?"


"Akhirnya nada bicara lo balik lagi!"


Semua yang ada di sekitarku bersorak riang. Ran mengusap matanya, seakan terharu melihatku. Senja dan Hujan tertawa gila.


Sial.


Mereka benar-benar mengiraku kerasukan.


"Y-ya ... gu-gue emang Edel, kan," aku menggaruk tengkuk, merasa janggal ketika mengucapkan kata 'gue'.


Rasanya tidak nyaman.


Namun, ini lebih aman daripada mereka terus-terusan  menganggapku suatu jin jahat yang menguasai tubuh Edel.


Sekar memelukku erat. B-e-r-l-e-b-i-h-a-n.


"Yeheett!! Harus dirayakan! Ayo makann!" Lulu mendekat menuju etalase. Begitu juga seluruh pasukan tawur yang lainnya.


Aku mendengus, "Belnya udah bunyi, btw."


.


.


.


Jika aku bisa mendeskripsikan hari ini sebagai satu kata, hari ini: melelahkan.


Memalukan.


Menjengkelkan.


Dan, menyenangkan.


Sialnya, guru-guru sangat hobi memboyongku ke depan papan tulis dengan permasalahan-permasalahan tak gutuk.


Bayangkan, ada orang jatuh dari lantai tiga gedung nggak ditolongin malah dihitung kecepatannya.


Bahkan, Pak Nugroho—guru Bahasa Indonesia—melihatku sambil terheran-heran, "Kamu itu biasanya langsung bisa jawab kok malah plonga-plongo di situ," katanya.


Aku diam saja.


Aku lelah, dan sekarang tidak bisa pulang. Aku tak pernah pulang sendiri selama ini dan tiba-tiba saja Zara mengajakku menaiki bis kota.


"Kok gimana, sih, Dek? Kamu, kan, biasanya emang naek BRT. Ayo, ah, cepet!" katanya menggeretku masuk ke dalam bis biru itu.


Dan, jadilah aku sendirian di halte ini memainkan google maps untuk mencari rute tercepat menuju rumahku—yang kutahu tentunya.


Tapi, nihil.


Aku tidak punya bakat membaca peta sama sekali. Tolong, siapa pun. Apakah aku bisa pulang? Aku bahkan tidak mengerti rute angkot jurusan rumahku.


"Edelweis?"


Aku mendongak ke arah sumber suara. Seorang pemuda berseragam SMA yang sama denganku membuka helm fullface-nya. Ia mendekatiku, "Ngapain sendirian? Udah mau maghrib, loh," katanya.


Aku berdiri. Perlu mendongak lebih tinggi untuk menyamai tingginya. "E ... lang?" aku mengenalnya. Ia laki-laki yang selalu dibanggakan setiap guru di kelas. Siswa ter-kalem dan terpintar di kelas kami.


"Ka-kamu ngapain?"


Ia tersenyum heran, sebelum terkekeh ringan, "Kamu? Ah, ternyata beneran lagi kesambet. Aku tadi habis latian. Emang kamu nggak latian? Tadi si Tera nyariin kamu padahal. Kabur?"


"Hah? Latian apa?"


"Drama Bahasa Indonesia. Kamu peran utama katanya,"


"Hah? Hahahahaha...," aku tertawa hambar. Tolong bangunkan aku dari mimpi ini, ratapku dalam hati.


"A-aku nggak tau," kataku cepat-cepat saat Elang kembali menatapku heran, "Kamu mau pulang, kan? Udah sana pulang," kataku agak mendorong tas ranselnya.


Tunggu. Apa aku terkesan mengusir pemuda tampan ini?


"Oh," dia mengerjap, seperti menyadari sesuatu. Kemudian pemuda itu tersenyum samar sebelum berbalik menuju motornya, "Duluan. Oh, itu ada angkot. Nggak naik?"


Aku mematung di tempat. Aku tidak tahu jalan pulang.


Aku tidak tahu kemana angkot akan membawaku pergi.


Dan ada Elang yang membawa motor.


"Elang!" teriakku saat ia baru saja menghidupkan motornya. Laki-laki itu menoleh ke arahku. Aku berlari kecil mendekat ke sisi motornya, "Emm ... kamu mau nolongin aku nggak?"


Tolong, ini sangat canggung. Tapi satu-satunya yang harus dilakukan sebelum aku benar-benar tidak bisa pulang.


"Apa?" ia mematikan motornya.


"A-aku nggak tau jalan pulang," cicitku sembari memainkan ujung tas.


"Sudah kuduga," katanya santai, "Kalo kamu kesambet pasti nggak inget apa-apa,"


Aku melebarkan mata. Menunggu-nunggu kalimat selanjutnya.


"... Makanya aku ke sini," lirih pemuda itu sembari memberikan helm kepadaku, "Nih, pake. Mending 50.000 buat nge-date daripada kena tilang."


Aku mengernyitkan dahi. Ternyata, laki-laki paling kalem di kelas bisa random juga ternyata. Benar kata Nia, di kelas kami itu tidak ada yang normal.


Aku meraih helm itu, "Makasih," kataku dengan senyum selebar mungkin. Elang adalah malaikat penolong yang dikirim lewat tangan-tangan Tuhan, "Aku nggak tau mau pulang gimana kalo kamu nggak muncul,"


"Jalan rumahmu apa?" tanya Elang. Suaranya agak teredam angin yang semakin dingin.


"Emm ... Jalan Werkudara. Daerah perumahan Danau Indah," kataku agak kencang supaya ia dengar.


Motor melaju kencang menembus keramaian jalanan saat senja. Langit barat berbinar-binar, puluhan burung walet merangkak pulang menuju matahari.


Aku menatap sungai di tepi jalan. Sungai itu. Di sungai kecil itu, tempat seharusnya aku menghabiskan waktuku untuk berjalan ringan dengan Edgar dan ayah.


Tapi sekarang?


Aku sendirian tidak bisa pulang ... dan di depanku berdiri seorang pemuda yang tengah tersenyum samar ke arahku.


"Kenapa?" tanyaku.


Elang mengangkat bahu, "Nggak. Cuma penasaran aja hari ini kamu pake panggilan 'aku-kamu', terus lupa jalan pulang, terus tiba-tiba suruh berenti di sini."


Aku melirik ke arahnya, "Kalo kamu mau pulang nggak pa-pa, kalo kamu mau pake panggilan 'elo-gue' juga nggak pa-pa."


Elang cuma diam. Pemuda itu malah berjalan ke tepi sungai lalu duduk di sana.


"Kenapa diem di sana? Sini," Elang melambaikan tangannya, lalu menepuk-nepuk rumput di sampingnya.


Aku masih berdiam diri. Tidak. Ini tidak baik. Bayangkan, bagaimana bisa kau menyukai seseorang yang hanya dalam mimpi?


Hari mulai petang, "A-aku harus pulang." kataku cepat, "Kmu juga harus pulang."


Elang mengernyitkan dahi. Laki-laki itu berdiri sambil menepuk-nepuk rumput di bokongnya.


"Maaf," kataku. Aku harus segera pergi dari sini, "Nggak usah dianter. Aku tau jalan pulang dari sini, kok."


.


.


.


Aku merebahkan diri di atas kasur. Hari ini sangat melelahkan. Terlalu banyak serangan perasaan yang datang.


Mulai dari Edgar, panggilan 'gue-elo', materi pelajaran yang terlalu fantastis, ingatan-ingatan yang tidak pernah kulakukan, Senja dan Hujan, dan terakhir ... Elang.


"Edel?" Bunda muncul dari balik pintu, "Makan dulu."


"Iya. Nanti," kataku. Aku kembali merebahkan diri sembari menarik selimut lebih tinggi.


"Awas kalo kamu ketiduran lagi," bunda menghilang dan pintu tertutup.


Benar saja, aku ketiduran.


Setelah itu aku tidak mendengar apa-apa lagi. Selamat datang mimpi, selamat datang kenyataan.


Aku merindukan Edgar.


🐾🐾🐾


Tbc.


Maaf, baru update. Hehe:)


Salam kenal dari Elang.